
Hari berlalu penuh dengan pertimbangan. Bimbang, lagi-lagi menyelimuti hati Salwa. Rasa takut turut menghantui dengan berbagai macam hal yang belum pasti. Namun hati masih ingin terus memiliki. Tak ingin sakit untuk yang kedua kali karna mengabaikan hal yang dinanti.
Satu langkah yang diayunkan, membuka pintu harapan yang menjadi impian. Bersanding dalam kebahagian dan saling menggenggam dalam ikatan. Kerinduan yang dulu kutumpuk dalam setiap doa, telah sampai pada Sang Pencipta. Terkabulnya doa adalah obat dari segala sakit yang dirasa.
Tiga hari, tepat dimalam ini, Salwa memberikan jawabannya. Diteras Masjid menghalang Asyam dan Liya yang hendak berjalan keluar.
"Saya tunggu mas malam ini dirumah saya." Ucap Salwa diteras masjid sebelum pulang.
"maksudnya ?"
"Orang tua yang mas minta untuk bertemu sedang menunggu." Jawabnya.
"saya pamit ya, mas. Saya rasa sudah cukup jelas. Sampai bertemu dirumah. Assalamu'alaikum." Ucap Salwa.
"wa'alaikumussalam."
"dek, mas ndak salah dengar kan ?" Ucap Asyam sambil menatap kepergian Salwa.
"ndak, mas. Masya Allah. Liya ikut senang mas." Ucap Liya dengan bahagia.
"ayo cepet pulang, kita bilang sama bu'e." Ajak Liya.
Asyam bergegas menuju kendaraannya dan siap melaju. Dengan hati yang bahagia dan juga penuh harapan. Dengan wajah yang bahagia, Ia sampaikan kepada Bu Nurlela tentang niat hatinya memilih Salwa sebagai pujaan hatinya. Dengan haru, Bu Nurlela memeluk Asyam berlinang air mata bahagia.
Malam yang sunyi menambah ketenangan dalam pertemuan dua keluarga. Tak sama seperti malam yang sunyi, didalam hatinya terasa sangat ramai. Apalagi detak jantung yang merdu dengan debarannya, begitulah Asyam dengan segala rasa dihatinya malam ini.
Salwa duduk diapit oleh kedua orang tuanya. Putri semata wayang yang sangat disayang, yang telah lebih dari 20 tahun menemani dan memberi banyak warna didalam rumah yang hanya diisi oleh dua orang yang saling mencinta.
"Silahkan dinikmati hidangannya. Kita jadikan obrolan malam ini terasa ringan dan renyah agar terasa nikmat tanpa ketegangan dan kalut." Ucap Pak Habibi, mencairkan suasana.
Ada cangkir-cangkir mungil yang berisikan air yang gelap namun terasa lembut dan manis. Kue bolu dengan perpaduan warna kuning dan hijau yang cerah menambah keindahan yang memanjakan mata.
"Terima kasih, pak, bu. Maaf jadi merepotkan malam-malam." Ucap Bu Nurlela.
"Ngga apa-apa, bu. Kami yang meminta nak asyam datang malam ini." Ucap Bu Rana.
"Jujur, saya baru tahu tadi saat asyam dan liya pulang dari mengajar." Ucap Bu Nurlela.
"Ngga apa-apa, bu'e. Salwa yang baru memberitahu tadi sepulang mengajar." Ucap Salwa.
__ADS_1
"Maaf, kalau membuat bu'e kaget." Lanjut Salwa.
"Pak, boleh saya sampaikan niat saya ? dan juga tujuan saya." Ucap Asyam.
"Silahkan." Ucap Pak Habibi dengan senyum yang membuat Asyam tenang.
"Saya.. emhh.. tujuan saya meminta bertemu dengan bapak dan ibu, untuk meminta izin atas niat saya ingin menjalin hubungan yang lebih serius dengan putri bapak dan ibu." Ucapnya.
"Jika diizinkan, saya meminta waktu satu bulan untuk tahu lebih tentang pribadi salwa. Sebelum menentukan proses selanjutnya, kalau saya dan salwa merasa cocok untuk melanjutkan." Jelasnya.
Pak Habibi meresponnya dengan senyuman yang menggambarkan kesukaan dirinya terhadap Asyam. Bu Rana pun tersenyum sambil menggenggam tangan Salwa sambil menatap Salwa yang masih tertunduk.
"Bapak kira nak asyam ini mau langsung melamar anak saya." Ledeknya.
"maunya seperti itu, pak." Tegasnya.
"hahaha.." Tawa Pak Habibi.
"Bapak izinkan kalau kalian ingin saling mengenal. Tentu dengan batasan yang telah ditentukan, pasti kalian mengerti maksud bapak ya ?" Ucap Pak Habibi.
"Dan .. Kalau kalian sudah merasa sudah cocok sebelum satu bulan, silahkan tetapkan tanggal pertemuan berikutnya." Ucap Pak Habibi.
"nggih, pak. Matur nuwun. Terima kasih banyak, pak, bu." Ucap Bu Nurlela sambil mengatupkan kedua telapak tangannya dihadapan wajahnya.
Asyam pun memeluknya, ia tahu ibunya pasti akan meneteskan air mata meskipun bahagia yang dirasanya. Sambil tersenyum dan mengarahkan pandangannya kepada Salwa, ia mengucap syukur didalam hatinya. Tatapanya terbalas dengan Salwa yang mengangkat pandangannya dan tersenyum malu. Pak Habibi pun ikut merangkul Salwa yang berada dalam pelukan sang ibu.
Rasa suka yang dipendamnya sendiri di dalam hati, kecewa dengan harapan yang tak pasti. Kembali mengingat Allah, bahwa Dialah pemilik segalanya, bahkan hati seseorang yang dicintainya. Memang benar, ketika kita mengikhlaskan dan mengubah tempat untuk berharap, mengadukan semua kepada Allah dengan hati yang lapang, Allah berikan jalan yang tak terduga bahkan lebih indah dari yang diharapkan.
Begitulah kecewa yang didapat saat menaruh harap kepada selain-Nya. Ketika menginginkan sesuatu, maka mintalah kepada yang benar-benar memiliki. Dia akan memberi sesuatu yang terbaik untuk kita miliki.
Dari rasa cintanya, Salwa banyak belajar untuk selalu menghadirkan Allah dalam setiap urusannya. Tak hanya mendapatkan apa yang diinginkan, namun juga ketenangan disetiap perjalanannya dalam menanti kado terindah dari-Nya.
Siang harinya, Salwa mengajak Asma bertemu di kafe biasanya. Tempatnya memulai obrolan dengan Asyam dan menemukan alur cerita yang indah. Ditempat ini, bahkan dikursi ini tempatnya berbincang beberapa hari lalu.
"assalamu'alaikum."
"wa'alaikumussalam." Jawabnya, memecah lamunan.
"udah nunggu lama ya ?" Tanya Asma sambil duduk dihadapan Salwa.
__ADS_1
"ngga."
"maaf ya, aku tadi nunggu mas farhan. Mas Farhan mau antar sekalian dia berangkar kerja." Jelas Asma.
"ngga apa-apa, asma."
"ada apa ?" Tanya Asma.
"emang kalau ngajak ketemu harus ada apa-apa ?" Tanya Salwa.
"yaa.. ngga sih. Kali gituh ada sesuatu yang mau kamu ceritain." Ucap Asma.
"aku mau traktir kamu makan." Ucap Salwa.
"dalam rangka apa ?" Tanya Asma.
"emang kalau teraktir makan harus ada sesuatu juga ?" Tanya Salwa.
"yaa... ngga juga sih." Jawab Asma.
"bener nih ngga ada apa-apa ?" Tanya Asma.
"kalau kamu bohong, aku beneran ngga mau dengerin nih." Ucap Asma.
"bener ngga mau denger ? bener ngga mau tau ?" Ledek Salwa.
"mau." Ucap Asma antusias.
"yaudah pesen dulu makanannya. Kasian calon keponakanku nanti lapar." Ucap Salwa sambil tersenyum.
Sambil menunggu pesanan datang, Salwa menceritakan keputusannya untuk menerima Asyam. Dia menceritakan pertemuan keluarganya dengan keluarga Asyam semalam. Suasana yang menegangkan, kakudan berubah menjadi lebih hangat.
Ternyata seindah itu, saat laki-laki yang diinginkan meminta izin untuk mendekati kita. Indahnya, saat kita menyadari bahwa diri ini begitu berharga.
.
.
.
__ADS_1
...- Bersambung.......