KETIKA RINDU BERBALUT DOA

KETIKA RINDU BERBALUT DOA
Episode 69 - Tekad


__ADS_3

Bukan hal mudah membuat hati percaya bahwa kamu benar-benar mencintai. Ditengah kegelisahan, kamu menegaskan tentang isi hati yang tidak ada aku didalamnya. Namun dalam ketenangan, kamu mengusik dengan sikap yang meyakinkan seolah kamu menerima keberadaanku.


Malam hari Asyam menemui Salwa dihalaman rumah, dengan maksud memberikan berkas yang Nadia titipkan.


"ada lagi, bang asyam ?" Tanya Salwa.


"ngga. Mhh.. kamu.. sudah tidak mengajar.. beberapa hari ini." Ucapnya, gugup.


"saya sudah sampaikan kepada zidan yang menjadi penanggung jawab kehadiran pengajar." Jelasnya.


"oh, yasudah. Kalau begitu, saya pamit pulang." Ucap Asyam.


"silahkan." Balasnya.


Asyam membalikkan badan dan melangkahkan kaki untuk kembali kerumah. Salwa pun langsung meninggalkan tanpa menunggu Asyam. Sebelum membuka pintu, Asyam sempatkan sekali menoleh kearah Salwa. Namun tak lagi ditemukan sosok yang ingin dilihatnya. Tak sedikit pun tatapan Salwa tinggalkan untuk Asyam pada malam itu.


"ada apa sebenarnya dengan hatiku ? seperti selalu ada yang menarikku untuk mendekat pada salwa." Asyam.


Entah rasa bersalah atau memang hati yang mulai tertarik pada sosok yang dicari. Saat hati telah menemukan namun tak bisa memiliki, bukankah hati akan mulai mencari pengganti. Asma adalah cinta pada pandangan pertama yang pernah Asyam rasakan. Namun tak bisa Asyam miliki.


Tok.. tok.. tok..


"ya sebentar." Asyam bergegas membuka pintu yang masih terkunci.


Gadis cantik didepan pintu rumahnya menjadi penyambut pagi untuk dirinya. Terlukis wajah yang bahagia dan senyum yang merekah saat menemukan Salwa dihadapannya.


"bu'e ada, bang asyam ?" Tanyanya yang memecah lamunan Asyam.


"ya, ada." Jawabnya.


"eh.. cah ayu." Ucap Bu Nurlela menghampiri.


"bu, ada titipan dari ibu." Ucap Salwa yang memberikan Susunan rantang kepada Bu Nurlela.


"apa ini ?" Tanya Bu Nurlela dengan senang.


"Opor sama gorengan." Jawab Salwa.


"makasih loh, nak. Ngerepotin pagi-pagi." Ucap Bu Nurlela.


"kamu yang masak ?" Tanya Bu Nurlela.


"ibu yang masak." Jawab Salwa.


"bohong, pasti kamu yang masak kan ?" Ucap Bu Nurlela membuat Salwa tersenyum malu.


"Asyam tuh suka banget sama masakan kamu. Enak katanya." Ucap Bu Nurlela yang membuat Salwa mengangkat pandangannya kepada Asyam.


"ibu.. " Ucap Asyam, malu.

__ADS_1


"saya pamit pulang ya, bu. Mau berangkat kerja." Ucap Salwa.


"terima kasih, ya." Ucap Asyam.


Salwa membalasnya dengan anggukan.


"jadi orang itu jangan galak-galak, jangan ngejahatin orang yang baik sama kamu." Ucap Bu Nurlela sambil menata rantang diatas meja.


"iya, bu." Jawab Asyam.


"dari mba salwa ya, bu ?" Tanya Liya sambil mengambil gorengan.


"mba salwa itu baik, masakannya enak." Ucap Nuha sambil memakan gorengan.


"tuh, adik-adikmu saja pada suka." Ucap Bu Nurlela.


"kapan ? bu'e tuh sudah semakin tua loh, pengen liat anak-anak bu'e nikah, pengen punya cucu." Ucap Bu Nurlela.


Asyam hanya terdiam, tertunduk sambil menikmati sarapan paginya. Semakin merelakan Asma, semakin Asyam memikirkan kembali tentang seseorang yang akan menetap dihati. Belum ada gadis yang benar-benar dapat menggerakkan hatinya untuk bertekad.


Sambil berjalan santai menuju tempat kerjanya, Asyam memikirkan perkataan sang ibu. Jodoh memang menjadi rahasia Allah, tapi bukan berarti hanya diam menanti. Usaha harus tetap dikerahkan agar mendapat hasil maksimal, namun tak boleh adanya pemaksaan. Doa yang harus terus dipanjatkan, usaha yang harus dimaksimalkan, dan mental yang mesti harus disiapkan.


Mulai hari ini, Asyam akan memantapkan hati tentang pujaan hati yang akan dicari.


"lagian, ngapain juga sih jauh-jauh mencari. Yang dekat juga ada." Ucap Nadia sambil melirik Salwa.


Nadia sedang menikmati bakso diwarung pinggir jalan bersama Salwa, Liya dan juga Asma.


"yaa.. Bukan berarti diburu-buru sih, mba. Tapi mungkin supaya mas asyam menyiapkan dan memikirkan gitu, mba." Jelas Liya.


"percaya deh, kakak mu itu pasti sudah memikirkan tentang itu. Pasti dia juga sedang menyiapkan." Ucap Asma.


Salwa langsung mengangkat pandangannya, seolah Asma mengetahui semua tentang Asyam daripada yang lainnya.


"dia cerita ya sama kamu ?" Tanya Nadia.


"untuk apa ? memang aku siapa ? sampai berhak tau segala urusannya." Balas Asma dengan senyuman.


"Liya sudah memikirkan untuk kearah sana ?" Tanya Asma.


"belum sih, mba." Jawabnya, malu.


"Menikah itu, bukan hanya sekedar memiliki pasangan, bukan hanya tentang hal-hal yang indah. Menikah itu, banyak lika-liku. Sekalipun kalian merasa bahwa pernikahan kalian dalam keadaan tenang. Ombak bisa datang kapan saja untuk menerjang." Jelas Asma sambil menatap makanannya.


"Jadi, sebaiknya mempersiapkan diri itu hal yang sangat penting dalam menyambut gerbang pernikahan. Karena disitulah awal dari kehidupan kalian yang sesungguhnya." Lanjutnya sambil menatap semua.


"mba, liya jadi takut." Ucap Liya.


"jangan takut dong. Allah selalu bersamamu." Ucap Asma dengan senyuman sambil menggenggam tangan Liya.

__ADS_1


"Salwa dan Nadia juga sepertinya sudah siap. Kamu bisa ajukan ke bang Asyam." Canda Asma.


"asmaaa... kamu tau hatiku sudah menyimpan sebuah nama." Ucap Nadia sambil menggenggam garpu ditangannya.


"haha.."


"kalau mba salwa bagaimana ?" Tanya Liya.


Salwa terdiam dan menatap Liya.


"salwa pasti akan membuka hati untuk orang yang datang memintanya." Ucap Asma mencairkan suasana.


"liya. Tanpa kamu bertanya kamu pasti juga sudah tau jawabannya." Ucap Salwa.


"tapi yang harus kamu tau, hati bukan tempat untuk sebuah permainan. Aku ngga akan menyakiti hatiku dengan luka yang sama untuk yang kedua kalinya." Tegasnya.


"harapanku untuk bisa dicintai oleh orang yang aku cinta, sudah aku kubur dalam-dalam. Aku ngga akan termakan oleh sikap manisnya yang tanpa kepastian." Jelasnya.


Liya terkejut mendengar penjelasan Salwa yang seolah meluapkan amarahnya yang telah tertahan. Asma merasa bersalah dengan ucapannya yang memicu ketegangan ditengah obrolan santai siang ini.


"mmh.. maaf ya. Aku ngga bermaksud." Ucap Asma, ragu sambil menatap Salwa yang tertunduk.


"mmh.. yaudah lanjut.. lanjut yuk makannya. Abis ini kita beli es biar adem. Hehe.." Ucap Nadia, gugup.


"maaf, ya. Mba Salwa." Ucap Liya yang langsung menyantap bakso.


Menanggapi suatu hal yang ingin dikubur dalam dan melupakan. Rasanya membuat sesak. Saat ingin melupakan, tapi seolah semesta tak mendukung melalui orang-orang disekitar. Entah ini menjadi jawaban atau hanya ujian untuk menggoyahkan.


Meskipun sejujurnya hati bertekad untuk mengikhlaskan bukan melupakan. Ikhlas dengan segala ketetapan yang entah akan membahagiakan atau menyakitkan. Menerima dengan lembaran baru atau melepaskan dengan sisa cinta yang masih tertanam. Hanya tinggal menunggu waktu untuk mendapatkan takdir yang dinantikan.


"uweekk.. "


"Asma ? kenapa ?" Tanya Nadia.


"ngga tau, tiba-tiba mual." Jawabnya.


"kamu lagi isi ya ?" Tanya Nadia.


"isi apanya. Aku masuk angin kali ya." Ucap Asma.


"aku pulang ajah ya habis ini. Ngga ikut kalian jalan lagi." Ucapnya.


"mau aku anter ?" Tanya Salwa.


"ngga usah, sal. Nanti aku minta jemput disini ajah." Jawabnya.


.


.

__ADS_1


.


...~Bersambung~...


__ADS_2