
"saat ini aku tau apa yang kamu rasakan dulu, syam. Pasti sakit sekali melihat orang yang kita cintai dimiliki oleh orang lain. Terlebih orang itu adalah orang terdekat kita. Sepertinya ini karma untukku." Ucap Ihsan sambil menatap lapangan luas.
"ini pelajaran untuk kamu, san. Agar kamu tidak sembarang melepas orang yang sudah ada dalam genggamanmu." Ucap Asyam yang duduk di samping Ihsan.
Duduk diatas rumput, menikmati sejuknya udara pagi. Tak hanya memanjakan mata tapi juga menyejukkan fikiran dan hati.
"kamu tau betapa kuat setan akan menggoda seseorang yang akan menuju pada kebaikan. Pernikahan adalah ibadah yang paling lama, didalamnya banyak menyimpan bermacam kebaikan. Jika ujian sebelum pernikahan tidak dapat kamu lalui, bagaimana dengan setelahnya." Jelas Asyam.
"percayalah, san. Suatu saat kamu akan mendapatkan gadis yang juga akan menyenangkan hatimu, yang baik untuk dirimu. Allah sebaik-baiknya perencana. Kamu hanya butuh waktu untuk menerima masalalu. Waktu adalah obat penyembuh luka." Lanjutnya.
"aku ngga menyangka hubunganku dengan asma bisa seburuk ini, dan semua berawal dari lamaran itu. Awalnya aku hanya menyayanginya layaknya adik, peduli dengannya karena sudah bersama sejak kecil. Tapi semua rasa itu berubah saat ia menerima lamaran abi." Jelas Ihsan.
"diriku terasa hancur dengan kondisi hatiku yang seperti ini. Mungkin juga sama seperti asma, saat aku melepasnya." Ucap Ihsan.
"hayolah semangat lagi, kita ini sedang bersiap untuk acara besar, kamu juga baru saja mengambil alih tugas asma. Saat ini fokuskan seluruh fikiran mu untuk kegiatan santri dan kuatkan hatimu." Ucap Asyam.
"eh iya, aku lupa mau menanyakan. Apa boleh ainun ikut mengajar bersama kita ?" Tanya Asyam.
"ainun ?" Tanya Ihsan.
"ah iya kamu belum mengenalnya ya. Dia temannya asma, sekaligus anaknya bos ditempatku bekerja. Sekarang dia juga sedang belajar mengaji denganku." Jelas Asyam.
"kalau begitu, coba kamu bicarakan dengan asma. Kalau dia menganalnya pasti dia lebih tau baiknya. Kalau asma memperbolehkan, aku setuju." Jelas Ihsan.
Menjelang jam makan siang, Papa Hanif dan Farhan duduk menunggu hidangan di meja makan. Mama, Asma dan pembantu dirumahnya menyiapkan makanan bersama. Tiba-tiba bel rumah berbunyi menandakan ada tamu yang datang. Pembatu itu meminta izin untuk membukakan pintu.
Tak lama, ia masuk bersama dengan seorang wanita dan lelaki yang sudah dikenal dirumah Farhan.
"siang, tante." Ucap Xena membawa plastik berisikan box kue.
"hallo, xena. Wah ada nathan juga, sudah lama tente ngga ketemu kamu. Pas sekali kita lagi pada mau makan siang. Ayo kita makan bareng." Ucap Mama.
Mama Fara, Xena dan juga Nathan berjalan bersama menuju meja makan. Papa Hanif dan Farhan menatap Xena bersamaan. Mama yang mendapati keanehan diraut wajah keduanya, mempersilahkan Xena untuk duduk disampingnya, begitu pun dengan Nathan yang duduk disamping Xena.
"asma mana, ma ?" Tanya Farhan.
"tadi dia lagi ngambil teko air di dapur, ko belum balik ya." Ucap Mama sambil melihat kearah dapur.
"nah itu, dia. Ayo asma kita makan sama-sama." Ucap Mama.
__ADS_1
"sini sayang." Ucap Farhan menyiapkan kursi disampingnya.
Asma tersenyum menerima perlakuan dari Farhan, begitupun Papa Hanif yang melihatnya. Xena menarik sedikit bibirnya, tersenyum sinis sambil menatap Asma.
"Xena sendokin ya, tante." Ucap Xena mengambil centong nasi.
"ya, boleh." Sahut Mama sambil menyodorkan piring.
"farhan mau aku sendokin sekalian?" Tanya Xena.
"ngga usah, biar istri saya yang melayani saya." Jawab Farhan.
"sayang, tolong sendokin nasi aku." Ucap Farhan manja sambil mengangkat piring dihadapan Asma.
Asma tersenyum kecil melihat tingkahnya begitupun dengan Mama dan Papa. Asma bangkit dan meraih sendok nasi yang dipegang oleh Xena.
"papa, piringnya. Biar asma sendokin." Pinta Asma sehabis menyiapkan nasi untuk Farhan.
Dengan senyum Papa Hanif menyodorkan piringnya kepada Asma. Asma melanjutkan mengambilkan lauk untuk Papa dan juga Farhan. Hanya Mama yang sibuk dilayani oleh Xena. Nathan sedari tadi memperhatikan Asma diam-diam dari lirikan matanya.
Setelah makan, mereka berkumpul diruang tamu. Xena menyuguhkan kue yang dibawanya tadi bersama Nathan. Pie buah kesukaan Mama Fara.
"lo lagi libur ?" Tanya Farhan kepada Nathan.
"gue ambil cuti setelah laporan tugas selesai. Ngga ada pasien khusus juga yang gue tanganin." Jelasnya sambil menikmati jeruk ditangannya.
"Farhan, ayo cuti bareng biar kita bisa liburan bareng lagi." Ucap Xena dengan wajah yang gembira.
"ayolah kapan-kapan." Ucap Nathan.
"oke, gue usahain." Balas Farhan sambil menggenggam tangan Asma.
"asma, papa ingin main kerumah kamu. Ada yang ingin papa bicarakan dengan ayahmu. Kamu mau ikut ?" Tanya Papa Hanif.
"sekarang ?" Tanya Asma.
"mas..."
"pa, emang ngga bisa nanti ? Agak sorean kan bisa biar asma sekalian mengajar." Ucap Farhan.
__ADS_1
"papa butuh sama asma juga, kalau asma mengajar dia ngga bisa ngobrol sama papa juga." Jelas Papa Hanif.
"ngga apa-apa, mas. Asma berangkat sama papa saja. Mas kan sedang ada tamu." Ucap Asma.
"hati-hati ya." Ucap Farhan yang langsung menarik kepala Asma, lembut dan mencium keningnya.
Asma terdiam menerima perlakuan Farhan.
"ayo, nak kita berangkat." Ucap Papa menyadarkan.
"ma, papa pergi dulu ya." Ucap Papa kepada Mama.
Suasanya dirumah terasa lebih bersahabat. Meskipun Farhan tetap dingin kepada Xena, tak memperdulikan apapun yang Xena bicarakan dengan Mama ataupun menanggapi ucapannya kepada Farhan.
Asma dengan tenang duduk bersebelahan dengan Papa, menikmati jalanan yang lancar saat itu. Sesekali Asma menatap keluar jendela, melihat mobiln yang sama-sama melaju, gedung tinggi yang berbaris, pejalan kaki yang berlalulalang.
"asma." Panggil Papa sambil melirik dan tersenyum kepada menantunya.
"ya, pa ?" Sahutnya.
"Papa akan selalu ada dipihakmu dan farhan. Berlakulah dengan berani karena kamu adalah menantu papa dan orang yang berhak didalam rumah itu." Jelas Papa.
"papa bersyukur karena merestui farhan yang memilihmu sebagai pendamping hidupnya." Lanjut Papa.
"asma juga bersyukur memiliki keluarga seperti mama dan papa, juga mas farhan yang begitu baik terhadap asma." Balas Asma.
"coba kamu jelaskan kepada papa tentang tempat kamu mengajar, para pengajar, upahnya, tempatnya, semuanya secara lengkap." Pinta Papa.
Asma menuruti permintaan Papa dan menceritakan semua sepanjang perjalanannya. Asma menunjukkan aula masjid tempatnya mengajar ketika telah sampai.
Memasuki waktu Ashar, Papa Hanif memutuskan untuk berjama'ah dimasjid sebelum bertamu kerumah menantunya. Tak disangka, Ia langsung dipertemukan dengan Ustadz Hasan saat menaiki tangga masjid. Mereka bersalaman dan menuju tempat shalat bersama.
Asma menunggu diruang sekretariat sambil menyiapkan keperluannya untuk mengajar. Dan kembali menunggu Papa Hanif diteras masjid saat tau para jama'ah telah bubar.
.
.
.
__ADS_1
.... . . Bersambung . . ....