KETIKA RINDU BERBALUT DOA

KETIKA RINDU BERBALUT DOA
Episode 14 - Cemburu


__ADS_3

Begitulah cinta. Cinta itu indah. Karena Ia  bekerja dalam ruang kehidupan yang luas. Dan pekerjaannya adalah memberi, memberi apa yang diperlukan oleh orang-orang yang dicintai untuk tumbuh menjadi lebih baik dan berbahagia karenanya. Begitulah cinta yang tumbuh dalam hati Ustadz Hasan kepada istrinya dan juga anaknya. Ia memberikaan suatu yang terbaik untuk orang yang dicintainya untuk tumbuh dengan baik. Perekonomian yang cukup juga tak lupa menjadikan dirinya juga istri dan anaknya menjadi seorang yang ahli ibadah.


Tibalah pagi , untuk pertemuan Asma dengan Ihsan. Asma berpamitan dan meminta izin kepada ayah dan bundanya untuk melaksanakan dhuha di masjid sekaligus bertemu dengan Ihsan. Dengan memeluk mukenahnya didada, Asma menemui ayah dan bundanya yang sedang duduk di  saung belakang rumah.


“ayah, bunda .. asma izin mau dhuha dimasjid sekaligus ada keperluan dengan bang ihsan dimasjid.” Ucap Asma.


“mau ayah antar ?” Tanya ustadz Hasan.


“biar asma sendiri saja, ayah. Masih pagi udaranya masih sejuk, asma mau jalan kaki saja.” Jelas Asma.


“yasudah, hati-hati ya, sayang.” Ucap Ustadzah Zulfah.


“iya , bunda. Assalamu’alaikum.” Ucap Asma.


“wa’alaikumussalam ..”


Pagi yang cerah dengan udara yang sejuk, angin tak hentinya berhembus tenang menyapa setiap insan. Langit yang putih membiru , menambah kecantikan pagi ini. Seorang gadis cantik sedang menyapu teras rumahnya, dengan gamis merah dan kerudung hitam. Wajahnya tampak ceria dengan ditemani si kecil Nuha yang berumur delapan tahun, yang kini menduduki bangku Sekolah Dasar (SD).


“nuha sudah sarapan belum ?” Tanya Salwa yang sedang menyapu.


“sudah makan pisang goreng buatan bu’e tadi sama minum teh manis.” Jawabnya yang sedang duduk di bangku sambil membaca buku cerita.


“nanti sarapan bareng mba salwa yuk. Nanti mba buatin nasi goreng. Nuha mau ga ?” ucap Salwa.


“mau .. nuha suka nasi goreng yang kecapnya banyak.” Ucap Nuha.


“berarti nuha ga suka nasi goreng yang pedas yaa , kalau gitu sama seperti mba.” Ucap Salwa sambil tersenyum.


“kita masuk yuk .” Ajak Salwa sambil merangkul Nuha.


Langkah kakinya mulai memasuki halaman masjid. Sesampainya diteras masjid, Ia bertemu dengan seorang pemuda yang sedang tenang membaca Al-Qur’an. Pemuda itu mulai mengangkat pandangannya ketika dirasakannya ada seorang yang terhenti di samping kanannya.


“asma ..” ucpanya.


“bang asyam ! assalamu’alaikum ..” ucap Asma.


“wa’alaikumussalam warohmatullah .. “ Jawabnya sambil menegakkan kakinya untuk berdiri.


“tumben ke masjid pagi-pagi , mau dhuha dimasjid ?” tanya Asyam.


“iya. Ada keperluan juga dengan seseorang.” Jawab Asma.


“dengan ihsan ?” tanya Asyam.


“iya.” Jawabnya singkat dan tertunduk.


“ada di atas, sedang dhuha.” Ungkapnya.


“kalau gitu, saya keatas dulu. Assalamu’alaikum.” Ucap Asma yang berlalu meninggalkan Asyam.


“wa’alaikumussalam warohmatullah.”


Sesampainya Asma diatas, Ia melihat Ihsan yang sedang mengusap wajahnya dengan kedua tangannya dan hendak melangkah kearahnya. Namun setelah matanya terbuka dan melihat keberadaan Asma di seberangnya kakinya berhenti dengan mata yang menatap wanita yang telah dikhitbahnya. Asmapun juga ikut memandang sejenak dan kembali mengalihkan pandangannya ke lantai. Ihsan memberanikan diri untuk semakin dekat dihadapan Asma.


“assalamu’alaikum ..” ucap Ihsan.


“wa’alaikumussalam ..” jawabnya dengan arah mata yang tertunduk.


“mau sholat dhuha ?” tanya Ihsan yang hanya dijawab anggukan kepala oleh Asma.


“yasudah, sholat dulu. Aku tunggu dibawah.” Ucap Ihsan.

__ADS_1


Asma pun berjalan meninggalkan Ihsan menuju ruang sholat wanita yang dibatasi oleh kain besar. Sedangkan Ihsan kembali menuruni tangga untuk menjumpai sahabatnya, Asyam yang berada di teras masjid.


“sepertinya kamu kehilangan wajah ceriamu setelah hari itu. Apa aku membawa kesedihan bagimu, peri kecilku.” (bisik Ihsan dalam batinnya saat menuruni tangga).


Dijumpai sahabatnya yang sedang duduk tenang dengan memegang Al Qur’an yang sedang dibacanya. Dengan senyum diwajahnya, Ihsan melangkah mendekat dan duduk disamping Asyam.


“shodaqollahul’adziim ..” ucap Asyam.


“sudah ketemu dengan Asma ?” tanya Asyam.


“sudah, dia lagi sholat.” Jawab Ihsan.


“ada keperluan ya ? sampai asma kemasjid pagi-pagi.” Tanya Asyam.


“iya .. “ jawabnya singkat.


“rasanya aku ga tega kalau harus menceritakan yang sebenarnya. Sudahlah , lagi pula belum tentu asma menerima lamaran abi untukku.” Bisik Ihsan dalam hatinya.


“kenapa diam, san ?” tanya Asyam.


“ah, tidak apa-apa.” Jawabnya.


“bang ihsan ..” panggil seorang wanita dari arah belakang.


Ihsan dan Asyam pun menoleh memenuhi panggilan dari arah belakang. Ditemuinya seorang wanita yang berdiri dengan memeluk mukenah yang menatap kearah Ihsan. Ihsan pun berdiri dan menghampirinya.


“syam, aku tinggal dulu ya.” Ucap Ihsan.


“ya, silahkan.” Balas Asyam.


Ihsan pun mengajak Asma menuju sekretariat masjid. Merekapun duduk di sofa dengan berjauhan. Ihsan bingung melihat sikap Asma terhadapnya, yang sejak berbicara tadi tidak pernah mau menatapnya, wajahnya selalu disembunyikan.


“insya allah baik, bang.” Jawabnya.


“asma marah sama abang ?” tanyanya lagi.


“atas dasar apa asma marah sama abang.” Ungkap Asma.


“apa .. lamaran abi kemarin mengganggu fikiranmu ?” tanya Ihsan.


“sudah pasti. Semoga saja Allah memberi kemudahan bagi asma untuk memberi keputusan yang terbaik.” Ucap Asma.


“sudah diputuskan ?” tanyanya lagi.


“belum.” Jawab Asma.


“abang minta maaf. Jujur, abang sama sekali tidak mengetahui tentang ini. Kedatangan umi dan abi kemarin, yang  abang tau hanya untuk silaturrahim tanpa ada tujuan lain. Abi dan ummi sama sekali belum membicarakan hal ini dengan abang. Abang mohon maaf, ini bukan kehendak abang.” Jelas Ihsan.


“Meskipun ini bukan kehendak abang, tetapi ini sudah menjadi kehendak Allah. Asma yakin  Allah telah menuliskan kejadian ini jauh sebelum ummi dan abi rencanakan.” Ucap Asma dengan tatapan tajam kepada Ihsan.


“abi dan ummi tidak salah dalam hal ini. Ridho Allah terletak pada ridho orang tua. Bismillah, semoga Allah meridhoi.” (ucap Ihsan dalam hatinya).


“bang ihsan kenapa diam ?” tanya Asma yang menyadarkan lamunan Ihsan.


“ngga , asma. Ngga apa-apa.” Ucapnya.


“kalau sudah tidak ada yang dibicarakan, asma pamit pulang.” Ucap Asma.


“hmm .. yasudah. Kalau begitu, hati-hati. Salam buat ustadz hasan dan bunda zulfah.” Ucap Ihsan.


“insya allah disampaikan.” Sahut Asma.

__ADS_1


Saat hendak mengenakan sandal, Asma masih menemukan Asyam didekatnya. Namun ia ditemani oleh seorang gadis. Yang awalnya, Asma menatap dengan perasaan yang memanas. Namun ternyata dia adalah gadis yang juga dikenalnya dan menjadi teman bermain saat kecilnya.


"Asma..."


"Kirei .."


Kirei Shaqueena, dia adalah gadis keturunan jepang yang tinggall di jakarta beberapa tahun lalu. Ia sempat menjadi bagian dari anggota remaja masjid arrohman pada saat itu. Dengan Asma, Ihsan dan Raina sudah pasti Kirei mengenalnya.


"masya allah kirei, aku pangling, aku bener-bener ga ngenalin kamu." Ucap Asma dalam pelukan Kirei.


"Alhamdulillah aku masi bisa ketemu kamu disini. aku cuma punya satu tempat tujuan supaya aku bisa ketemu kamu, yaitu cuma dimasjid ini." Jelas Kirei sambil melepas pelukannya.


"oh iya, kenalin ini ka asyam. Kaka kelas yang dulu pernah aku ceritain." Ucap Kirei.


"kirei, aku sudah mengenalnya." Sahut Asma.


"kamu cerita apa sama asma ?" Tanya Asyam yang mendapat tatapan dari Asma.


"mmhh..."


"oh iya, aku .." ucap Asma.


"belum pada pulang .." Ucap seseorang sambil menghampiri.


"ini pasti bang ihsan." Ucap Kirei dengan ceria.


"abang, ini kirei. teman main kita dulu." jelas Asma.


"masya allah, sudah berhijab sekarang. mantaaab. masya allah, pangling lho." ucap Ihsan.


"makin cantik kan aku berhijab bang." canda Kirei dengan tawa.


"masya allah , cantik cantik cantik. semoga istiqomah." ucap Ihsan mengacungkan jempolnya.


"gimana kalo kita sarapan dulu, mumpung kumpul. Ada kirei juga baru dateng." Usul Ihsan.


"Boleh tuh, aku yang pesan ya. Kalian tunggu ajah." ucap KIrei penuh semangat.


"Aku ikut." Ucap Asma yang langsung mendapat genggaman tangan dari Kirei.


Mereka menyantap bubur bersama-sama, sambil bercerita, bernostalgia pada masa lalu. Akhirnya Asma bisa tersenyum dan tertawa, melupakan beban yang mengganggu sementara.


Sedikit-sedikit Ihsan mengintip, mencuri-curi untuk sekedar melihat senyumnya yang merekah. Begitupun dengan Asyam yang sesekali meliriknya.


"kamu, jadi melanjutkan kisahmu itu ?' Tanya Asma pada Kirei.


"tergantung orangnyalah, ma. yang penting aku sudah berikhtiar sesuai dengan apa yang dia inginkan dulu." Jelas Kirei.


"inget lho pesan ku, jangan berniat merubah diri karena seseorang, niatkanlah semua hanya karena dan untuk Allah." Tegas Asma.


"kalian ini pada ngomongin apa si ? pasti dulu kalian suka curhat yang abang ngga tau ya." Tanya Ihsan.


"gini lhoo bang, jadi dia ini punya kisah cintanya saat dia SMA dulu. Lelaki itu menginginkan dia berhijab ...."


"uhukk .. uhuuk .. uhuk ..."


"kamu ga apa-apa, syam ?" Tanya Ihsan sambil menepuk punggung Asyam, pelan.


Sambil meneguk air, Asyam menatap Asma dan juga dibalas tatapan oleh Asma.


Bersambung .....

__ADS_1


__ADS_2