
Suara pintu terbuka keras karena dorongan gadis yang tiba-tiba masuk hingga tersungkur dilantai. Gadis dengan rambut terurai sebahu menggunakan celana jeans dan kaos, masuk meminta bantuan.
"tolong..."
Salwa, yang terkejut hingga hanndphonenya terlepas diatas bangku. Nadia dan Asma terkejut hingga mengangkat bahu.
"astaghfirullah.. ainun." Ucap Asma.
Nadia langsung membantu membangungkan. Asma keluar dari meja dan menghampiri. Ainun langsung memeluknya dan menangis.
"Asma tolongin aku. Cuma kamu yang bisa bantu untuk ngomong sama papa, ma." Ucap Ainun.
“ainun, tenang dulu ya. Nih kamu minum dulu.” Ucap Asma memberikan segelas air yang disiapkan oleh Nadia.
“ma, syahrul ada disini kan? Dia masih aktif mengajar disini kan, ma ?” Tanya Ainun.
Asma menoleh kearah Nadia yang juga menatap Asma.
“mmh.. ya, masih. Ada apa ?” Asma balik bertanya.
“ma, bantu aku untuk bisa balik lagi sama syahrul.” Pinta Ainun.
“mmh.. ainun, aku rasa ini bukan lagi masanya syahrul untuk hal-hal seperti itu.” Jelas Asma.
“oh iya, kamu kenapa lari-larian ?” Tanya Asma.
“aku kabur dari rumah.” Jawab Ainun sambil mengenggam gelas.
“kabur ? kenapa ?” Tanya Asma.
“papa memaksa aku untuk .... untuk dijodohkan dengan staff kerjanya. Dia terus-terusan memaksa aku untuk ketemu dengan lelaki itu dalam acara makan malam atau makan siang bersama. Papah marah karena aku selalu menolak.” Jelas Ainun.
“tapi ngga baik kalau kamu sampai kabur dari rumah. Lebih baik kamu izin dulu sama papah untuk menginap dirumah aku.” Saran Asma.
“yasudah, nanti aku telpon papah.” Sahut Ainun.
“maaf ya jadi bikin kalian kaget.” Ucap Ainun sambil menatap Salwa dan Nadia.
“oh iya, kenalin ini ainun. Ini Salwa dan ini Nadia.” Ucap Asma memperkenalkan.
Ainun menjulurkan tangan untuk bersalaman kepada Salwa dan Nadia secara bergantian.
Ainun Farzana, gadis cantik keturunan Medan. Rambut lurus sebahu yang membuatnya terlihat tomboy dengan setelan jeans dan sepatu kets yang digunakannya sehari-hari. Namun tak jarang juga dia dapat terlihat anggun saat menghadiri pesta-pesta. Ainun berteman dengan Asma saat kuliah dulu. Pak Renda, ayah Ainun menganal Asma saat ada tugas kelompok yang dikerjakan dirumah Ainun saat itu. Dari situlah, Pak Renda sangat menrestui pertemanan mereka karena menilai Asma dengan sikap baiknya. Dibanding dengan teman-teman lainnya, Pak Renda lebih mempercayai Asma untuk berada disisi Ainun. Karena sejak mengenal Asma, banyak sikap dan perilaku Ainun yang menunjukkan perubahan baik.
__ADS_1
Ainun bermalam dirumah Asma. Selasai membersihkan diri, Ainun banyak bercerita kepada Asma selepas masa kuliahnya saat itu. Hingga saat-saat setelah putus dengan Syahrul dan kembali pada masa kelam.
“ma, papah mau ngomong sama kamu.” Ucap Ainun menyodorkan handphone kepada Asma.
-via telepon-
Asma : Assalamu’alaikum, om.
Pak Renda : wa’alaikumussalam, asma. Lama tidak jumpa, bagaimana kabarmu ?
Asma : Alhamdulillah baik. Om sendiri bagaimana ?
Pak Renda : sama, om juga baik-baik saja. Asma, om titip ainun ya. Jangan dibolehkan dia pergi kemana-mana lagi, biarkan dia dirumahmu. Nanti om yang akan jemput kesana
Asma : mmh, insya Allah nanti biar asma yang antar ainun saja, om. Om ga perlu kesini, asma sekalian mau silaturrahmi juga ketemu tante.
Pak Renda : oh yasudah kalau gitu, om tunggu ya.
Ainun mendekat pada gaun pengantin Asma yang tergantung rapih berdampingan dengan setelan jas hitam milik Ihsan.
“kamu mau menikah, ma ? kapan ?” Tanya Ainun sambil memegang gaun itu.
“insya allah, kurang lebih dua minggu lagi.” Jawab Asma dengan senyuman.
Asma memberikan satu undangan kepada Ainun untuk mengundangnya.
“datang ya kalau ada waktu.” Ucap Asma.
“aku pasti datang. Boleh aku ajak papah dan mamah ?” Ucap Ainun.
“silahkan.” Jawab Asma sambil duduk di bibir kasur.
Pagi menjadi pembuka hari yang dinanti para pemuda-pemudi. Asma mengajak Ainun kembali ke sekretariat. Setelah menceritakan sepanjang malam dengan Asma. Ainun menemukan setitik cahaya ditengah kegelapannya. Kegelisahan dan kekesalan yang setiap hari dirasanya, hari ini mulai terhapus. Memang berada didekatnya sangat menyejukkan, menatapnya, memandangnya, mendengar suara, tak dapat dipungkiri dia memeng memiliki kekuatan untuk mengalihkan seseorang. Asma, entah apa yang telah kamu lakukan, entah apa yang kamu miliki, kamu laksana penyejuk ditengah padang pasir yang gersang, kamu laksana cahaya ditengah kegelapan.
“sayhrul..” Ucap Ainun yang menemukan Syahrul sedang mengepel teras masjid.
“Ainun.” Balasnya, terkejut.
“kamu.. “
“mmh.. aku pinjam jilbabnya asma ko.” Selak Ainun yang tersipu malu.
“sudah selesai, rul ?” Tanya lelaki yang tiba-tiba menghampiri.
__ADS_1
“sudah bang.” Jawab Syahrul.
“lho, ada asma.” Ucap Asyam.
“iya, bang. Kalau gitu, asma pamit ya mau ke atas.” Ucap Asma sambil menunjuk ruang sekretariat.
Raina, masih mendampingi Ihsan sambil membaca Al Qur’an. Dalam hati masih tersimpan kesedihan yang mendalam atas musibah yang menimpa sang kaka. Begitupun dengan masalah hubungan sang kaka dengan sahabatnya. Kesalah pahaman yang sampai saat ini belum terselesaikan. Bergantian dengan kedua orang tuanya, Raina menjaga sang kaka. Melatih Ihsan untuk duduk, terapi berjalan, melangkah secara perlahan. Semua upaya dilakukan untuk kemajuan kesembuhan Ihsan. Ustadz Rehan masih berusaha mencari bantuan teman-teman terdekat untuk kesembuhan sang putra. Ustadz Rehan dan Ustadzah Asyha datang untuk bergantian dengan Raina. Dengan membawa beberapa rantang berisikan makanan.
“gimana keadaanmu, nak ? apa lebih baik ?” Tanya Ummi Asyha.
“Alhamdulillah ummi, ihsan lebih baik dari sebelumnya dalam berbicara. Rasa sakit juga mulai berkurang saat berlatih duduk, tadi.” Jelas Ihsan dengan posisi setengah duduk.
“abang harus sembuh, sebentar lagi kan hari pernikahan abang. Raina sedih kalau abang begini, kasihan juga asma pasti dia juga akan sedih.” Ucap Raina.
“benar, nak. Kamu harus semangat menyambut kesembuhan kamu. Kamu harus berfikir positif dan mintalah selalu kepada Allah untuk kesembuhanmu.” Jelas Ummi Asyha.
“ummi, abi. Bagaimana jika pernikahan ihsan dengan asma tidak dilangsungkan ?” Tanyanya yang membuat terkejut kedua orang tuanya.
Ustadz Rehan dan Ustadzah Asyha saling menatap mendengar perkataan putranya.
“atas dasar apa kamu berkata seperti itu ?” Tanya Ustadz Rehan.
“ummi, apa yang akan ummi lakukan jika yang datang melamar ummi adalah seseorang yang tidak ummi cintai ?” tanya Ihsan.
"nak, kamu pasti tahu kita hanya berencana dan Allah yang menentukannya. Jika hal itu terjadi pada ummi,
ummi hanya percaya Allah Maha Mengetahui mana yang terbaik untuk ummi.” Jelas Ummi Asyha.
“apa yang sebenarnya terjadi antara kamu dengan asma ?” Tanya Ustadz Rehan.
“abi, bang ihsan menuduh asma mengirim surat dan mencintai lelaki lain.” Selak Raina.
“aku tidak menuduhnya.” Ucap Ihsan.
“abang tidak punya bukti apapun untuk ditunjukkan kepada asma, bang. Dan abang tidak berbicara jelas kepada
asma. Saat raina ragu akan keputusan asma, abang meyakinkan rai. Sekarang kenapa abang begitu mudah terhasut omongan orang.” Ucap Raina Kesal.
Ustadzah Ashya bangkit dan merangkul Raina yang larut dalam emosinya. Hari ini menjadi hari yang menegangkan. Raina menceritakan apa yang terjadi dikamar saat itu, begitupun dengan Ihsan yang menceritakan
tentang pertemuannya dengan Asyam saat itu. Sebelum akhirnya dia mengalami kecelakaan karena ketidak waspadaannya.
Memang terkadang cinta dapat menyebabkan badai yang membuat ketenangan kapal menjadi terganggu. Karenanya dapat mengacau semua fikiran dan mencampur adukkan rasa. Memang indah, tapi jika tidak dapat mengendalikannya, siap-siap diterjang oleh ombak ditengah badai.
__ADS_1
Bersambung.....