KETIKA RINDU BERBALUT DOA

KETIKA RINDU BERBALUT DOA
Episode 53 - Cinta dan Luka


__ADS_3

Asma dengan lantang menjelaskan didalam ruang sekretariat. Secara jelas dan terperinci. Dihadapan teman-temannya yang duduk, Ia berdiri sambil mencoret-coret di papan tulis dengan spidolnya.


Salwa aktif mencatat, semua pun juga siap dengan alat tulisnya.


"jadi saya akan berikan waktu 2 hari untuk kalian memikirkan dan menyiapkan usulan, pertanyaan, ataupun pendapat kalian dalam hal ini. Dimalam ke tiga kita akan adakan pertemuan lagi. Untuk membahas dan memutuskan, menerima atau menolak program ini." Jelas Asma.


"saya harap malam berikutnya bang ihsan siap untuk memimpin." Ucap Asma sambil mengarah kepadanya.


Semua bersiap untuk pulang, secara bergantian menaruh peralatan mengajar dan mengambil tas di loker. Asma, Nadia dan Salwa duduk bersama dibangku sambil menunggu.


"aku seneng loh, ayah dan mertuamu mau membantu memajukan pendidikan Al Qur'an yang kamu dirikan ini asma. Aku sebagai bagian dari pengajar ikut bangga dan bahagia." Ucap Salwa.


"semoga semua lancar ya, asma. Pasti bakal keren banget." Ucap Nadia.


"kita sama-sama berdoa ya, semoga Allah beri jalan terbaik untuk kita semua." Ucap Asma.


Ada seseorang yang sedang gelisah menunggu kekasih hatinya muncul. Sambil memainkan jemari diatas setir mobil dan sesekali melihat jarum jam yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam.


Akhirnya dia memutuskan untuk membuka pintu dan menghampiri sang istri yang masih berada didalam, meskipun terlihat beberapa orang telah keluar dari ruangan.


Baru saja Farhan membuka pintu, Asma telah terlihat keluar bersama dengan Salwa dan Nadia. Masih terlihat jelas senyum manis yang terlukis dibibir Asma sambil menunggu Nadia mengunci pintu.


Habis sudah anak tangga dituruninya, Asyam siap menaiki motornya bersama dengan Liya. Salwa dan Nadia berpamitan sambil melambaikan tangan dan menjauh. Tinggal Asma dan Ihsan yang masih berdiri bersamaan, Ihsan berdiri tegak di anak tangga terakhir.


Melihat Asma yang berbalik menghadap Ihsan, menyulut api dalam hati Farhan. Tapi dia berusaha menahan karena Asma lah yang ingin memulai pembicaraan.


"asma harap abang bisa memisahkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Asma ngga mau hari ini terulang. Semoga abang lebih siap untuk memimpin rapat lusa." Jelas Asma.


"asma pamit, assalamu'alaikum." Ucapnya.


"wa'alaikumussalam."


Dengan hati yang sakit dan membuat nafas terasa terhimpit, Ihsan hanya dapat memandangi kepergiaan Asma bersama dengan lelaki lain. Farhan yang turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Asma, memperlihatkan keharmonisan rumah tangganya.


Membanggakan, betapa beruntungnya dia memiliki wanita yang banyak diinginkan oleh para lelaki. Wanita yang anggun dan cantik parasnya. Lembut dan santun perilakunya.


"maaf ya, hari ini saya terlambat lagi." Ucap Asma.

__ADS_1


"tadi papa dan ayah diskusi untuk merubah lokasi dan sistem pengajaran saya di masjid. Jadi malam ini saya sampaikan ke teman-teman yang lain." Jelas Asma.


"kamu mulai banyak bicara ya ? sudah mulai berani dengan saya ?" Ucap Farhan yang membuat Asma terkejut dan mengerutkan dahinya.


"saya ada berbuat salah lagi ya sama kamu ? saya hanya menjelaskan supaya..."


"saya suka kamu, asma. Saya suka, kamu yang mulai banyak mengeluarkan kata dihadapan saya." Ucap Farhan perlahan sambil sesekali melirik kearah Asma.


Asma terdiam malu dan memalingkan wajahnya menatap keluar jendela. Ada hangat yang terasa di telapak tangannya. Hangat yang menghilangkan dingin yang menyelimuti tangannya. Karena saat ini hatinya sedang berdebar, suhu tubuhnya tak karuan, mimik wajahnya tak dapat dikendalikan. Ingin rasanya mengungkapkan perasaan yang sesunggugnya. Tapi malu masih menyelimuti dirinya.


"ko kamu diem ajah, ngomong lagi dong." Ledek Farhan sambil tersenyum dan meremas tangan Asma penuh kasih sayang.


"kita dinner yuk." Ajaknya.


"terserah kamu ajah. Kemanapun, asal bersama kamu." Jawab Asma yang memberanikan diri membalas genggaman Farhan.


Berbeda dengan Asma yang menghabiskan malam romantis bersama dengan suaminya, Salwa masih dalam kesedihannya. Kegalauannya masih setia menemani. Seberapa kuat bertahan, rasa yang tertanam berbulan-bulan tak dapat dihilangkannya dalam sekejap.


Pertemuan dengan Asyam, masih menimbulkan rasa didalam hatinya. Meski tak sebahagia dulu, meski sakit yang dirasanya. Saat ini, untuk menyapanya pun, takut. Masihkah Asyam mau menerima kehadiran Salwa dihadapannya. Bayang-bayang penolakan Asyam terhadap dirinya masih teringat jelas.


Asyam yang saat ini masih bersandar sambil menatap dinding kamar dan memeluk bantal. Masih menenangkan hati dari kekacauan rasa yang ditimbulkannya untuk Asma. Gadis cantik yang berhasil mencuri perhatiannya.


Mengistirahatkan hati dari cinta yang salah. Tenang dalam kesendirian lebih baik untuknya saat ini, daripada gelisah memikirkan hal yang tak pasti. Saat ini, karir mungkin lebih penting untuk dirinya dari pada menghadirkan cinta yang silih berganti.


Cinta kepada Allah adalah cinta yang hakiki dan tak terganti.


"mas, besok ada acara tidak ?" Tanya Liya yang membuka tirai kamarnya.


"belum tau. Ada apa memangnya ?" Asyam balik bertanya.


"nongkrong yuk, sambil bahas program tpa yang tadi." Jawab Liya.


"oke." Ucap Asyam menyetujui.


"mba liya." Sapa Nuha yang tiba-tiba datang menarik bajunya.


"kenapa nuha ?" Tanya Liya.

__ADS_1


"Nuha pengen ketemu sama mba asma yang waktu itu dong." Ucap Nuha penuh harapan.


Liya mengarahkan pandangannya kepada Asyam.


"nuha memangnya ada perlu apa ingin bertemu dengan mba asma ?" Tanya Asyam.


"mmhh.. nuha ingin kasih liat ke mba asma baju gamis yang mba asma belikan." Jawabnya.


"oh, kalau begitu minta mba liya fotokan saja, nanti mba liya kirim ke mba asma." Usul Asyam.


"ndak mauuu.. nuha maunya bertemu dengan mba asma." Ucap Nuha.


"yasudah, nanti biar mba liya kabari mba asma dulu ya. Kalau mba asma ada waktu biar bertemu dengan Nuha." Jelas Asyam.


"oke. Jangan lama-lama ya mba liya." Ucap Nuha dengan senyuman manja kepada Liya.


"yasudah, sekarang nuha bobo dulu ya, sudah malam." Ucap Liya.


Liya melempar senyum kepada sang kaka, seolah mengisyaratkan bahwa seorang anak kecil saja merasakan kenyamanan dengan Asma. Anak kecil yang jujur dan tulus. Tidak ada kebohongan dalam dirinya dalam mengungkapkan tentang hal yang dirasa.


Farhan membawa Asma pulang. Meninggalkan mobil dihalaman rumahnya yang luas. Berjalan masuk bersama sambil merangkul Asma. Terlihat penuh kebahagiaan diwajah keduanya.


Mendapatkan cinta dari orang yang dicintai, itulah nikmat yang saat ini Farhan rasakan. Tak butuh waktu lama untuk bisa merasakan kasih sayang dan perhatian dari perempuan yang dinikahinya.


Meski belum sepenuhnya, Asma masih terus belajar untuk dapat mencintai Farhan. Perhatiaan yang diberikan kepada Farhan adalah bentuk dari usahanya dalam menyempurnakan rasa didalam hatinya.


Sebuah kecupan mendarat dikening Asma sebagai pengantar tidur dari Farhan, suaminya.


"selamat tidur. Hadirkan saya dalam mimpimu ya." Ucap Farhan yang beradu mata dengan Asma.


.


.


.


...-Bersambung-...

__ADS_1


__ADS_2