
Nadia berkunjung kerumah Asma. Namun berkali-kali pintu diketuknya tak ada balasan dari pemilik rumah didalam. Baru saja dibalikkannya badan untuk melangkah pergi, namun mobil berwarna putih berhenti digerbang rumah Asma. Ummi Asyha turun dari mobil, Nadia melangnkah menghampiri.
“ummi asyha..” Ucapnya sambil menyalami tangannya.
“hai, assalamu’alaikum.” Ucap Ummi Asyha.
“wa’alaikumussalam.”
“hai, nadia.” Ucap Raina yang ikut turun menyapa.
“hai, rai.” Balasnya
“asmanya ada ?” Tanya Raina.
“sepertinya ngga ada, rai. Aku sudah dari tadi mengetuk, ngga ada yang nyaut.” Jelas Nadia.
“hmm.. aku juga dari semalam menghubungi, tapi kayanya nomornya ngga aktif.” Jelas Raina.
“iya, sama. Makanya aku berkunjung kesini.” Balas Nadia.
“abi, abi coba hubungin ustadz hasan. Sepertinya mereka sedang tidak ada dirumah.” Ucap Ummi Asyha yang menghampiri sang suami.
Salwa dengan hati yang gembira sedang membuat kue didapur ditemani oleh putri kecil yang kini menjadi kesayangannya, Nuha. Bu Rana yang mengintip sang putri dari kejauhan, ikut merasa senang.
Semenjak kehadiran tetangga baru disamping rumahnya, Bu Rana merasa Salwa sangat senang menerimanya. Salwa jadi sering menghabiskan waktu dirumah dan wajah yang penuh dengan kegembiraan itu sering ditunjukkannya.
“nah ini mba salwa masukkan kedalam oven dulu ya.” Ucap Salwa sambil menunjukkan loyang yang dipegangnya.
“nuha masukkan ke toples ya kue yang ini ?” Tanya Nuha sambil mendekati kue yang sudah matang.
“iya, hati-hati ya. Kalau masih panas jangan dulu dimasukkan ya.” Jelas Salwa sambil mencuci tangan.
“kamu buat kue apa, nak ?” Tanya Bu Rana yang akhirnya mendekati.
“ibu. Ini loh, bu kue keju yang kemarin salwa buat. Salwa buat lagi untuk nuha dan keluarga dirumah.” Jelas Salwa.
“Alhamdulillah.”
“nuha suka ?” Tanya Bu Rana.
“suka.” Jawab Nuha, malu. Sambil memasukkan kue kedalam toples.
“kalau kue buatan kamu ini enak, apa kamu tidak ada niatan untuk dijadikan usaha, nak. Seperti anak-anak muda sekarang yang berjualan pakai handphone itu.” Jelas Bu Rana.
“hmm.. salwa belum kepikiran si, bu. Tapi nanti salwa coba pikirkan lagi deh. Makasih ya, bu sarannya.” Sahut Salwa.
“mba salwa, sudah.” Ucap Nuha memberitahu.
“oke.. tunggu ini matang dulu ya, baru nanti kita kerumah kamu.” Balas Salwa.
__ADS_1
Setelah mendapat kabar dari Ustadz Hasan, Ustadz Rehan beserta keluarga dan juga Nadia berangkat menuju rumah sakit. Mereka berjalan memasuki rumah sakit, mencari ruang rawat yang ditempati Asma. Ustadz Hasan menunggu didepan pintu agar mudah ditemui. Ustadz Rehan menyalami Ustadz Hasan dan berlanjut masuk kedalam kamar untuk menjenguk Asma. Nadia dan Raina langsung mendekat pada ranjang Asma dan menyalami Bunda Zulfah.
“tadi nadia kerumah, bunda. Tapi ngga ada orang.” Ucap Nadia,
“iya, bunda sama ayah dari semalam disini.” Sahur Bunda Zulfah.
“asma dibawa dirawat dari semalam bunda ?” Tanya Nadia.
“iya, sejak pulang dari masjid asma nangis ngga keluar dari kamar. Pintu kamar juga dikunci, pas ayah sampe rumah langsung di buka paksa sama ayah. Asma sudah tidak sadar, kita tunggu sampai malam, belum juga sadar makanya langsung kita bawa untuk dapat penanganan.”Jelas Bunda Zulfah yang juga didengarkan oleh Ustadz Rehan dan Ummi Asyha.
“mungkin, baiknya kita bicarakan diluar, bagaimana ?” Usul Ustadz Rehan.
“Baik.” Sahut Ustadz Hasan.
“permisi.” Ucap Seorang suster yang diikuti oleh seorang dokter.
“permisi bu, pak. Pasien akan ada pengecekan lanjut oleh dokter farhan, mohon bapak, ibu tunggu diluar.” Jelas sang suster.
“Farhan.” Ucap Ummi Asyha.
“tante, om. Ko ada disini ?” Tanya Farhan.
“kita lagi jenguk.” Ucap Ustadz Rehan.
“oh iya, san kenalkan ini keponakan saya, namanya farhan. Dia anak kaka saya.” Jelas Ustadz Rehan.
Farhan menyalami Ustadz Hasan dan juga Bunda Zulfah.
“ya, silahkan.” Sahut Bunda Zulfah.
“bun, ayah duluan ya sama ustadz rehan.” Ucap Ustadz Hasan yang menyusul Ustadz Rehan dan Ummi Asyha.
“iya, ayah nanti bunda nyusul.” Balas Bunda Zulfah.
“ibu, nanti ketemu dokter farhan jam empat sore untuk konsultasi ya. Ini surat dan antriannya.” Jelas suster.
“terima kasih, suster.”
“saya pamit ya, bu.” Ucap Farhan.
“terima kasih, dokter.” Jawabnya.
“nadia, raina, bunda minta tolong untuk jaga asma sebentar ya. Bunda mau nyusul ayah.” Ucap Bunda Zulfah.
“iya bunda, raina sama nadia jagain asma.” Balas Raina.
Perasaan hati Asyam lagi-lagi dirundung gelisah. Surat yang ditemukannya, surat yang diyakininya adalah milik Asma ternyata salah. Surat yang dikiranya teruntuk dirinya ternyata salah tujuan. Hatinya lagi-lagi bertanya, milik siapa dan diperuntukkan untuk siapa surat itu. Diambang pintu rumahnya dia melamun, memikirkan rencana untuk mengetahui pemilik surat itu. Hingga lamunannya tersadar oleh sentuhan sang adik.
“mas..” Ucap Liya menepuk bahu Asyam.
__ADS_1
“eh, kamu dek ngagetin saja.” Balasnya.
“yeh, lagian ngapain sih mas didepan pintu, ngalangin jalan tau.” Ucap Liya.
“ikut mas yuk.” Ajak Asyam.
“kemana ?” Tanya Liya.
“jalan-jalan ajah, ngobrol, ngopi.” Jawab Asyam.
“ciee.. mau jadi anak gaul nih, yang nongkrong-nongkrong di café.” Ledek Liya.
“ngga gitu juga. Mas cuma pengen cerita saja sama kamu. Kali saja kamu bisa memberikan solusi buat mas.” Jelas Asyam.
“okeh, deh. Liya ambil tas dulu ya, sekalian izin sama bu’e.” Ucap Liya.
Salwa datang menggandeng tangan Nuha dengan gembira. Satu tangan Nuha memeluk toples berisikan kue kering untuk dirumahnya. Salwa terhenti saat bertemu dengan Asyam didepan pintu. Lamunannya terpecah saat Liya datang dari dalam rumah.
“eh ada mba salwa.” Ucap Liya menggandeng lengan Asyam.
“sudah izin dengan bu’e ?” Tanya Asyam.
“sudah.” Jawab Liya.
“mas asyam sama mba liya mau pergi ?” Tanya Nuha.
“iya, mas asyam sedang ada urusan. Mas asyam titip bu’e ya, nuha jagain bu’e dulu.” Ucap Asyam dengan lembut sambil memegang kepala Nuha dan merunduk sejajar dengannya.
“nanti nuha dibelikan cokelat ya kalau sudah pulang.” Pintanya.
“mmh.. oke, tapi yang kecil saja ya.” Balas Asyam.
“ndak boleh banyak-banyak makan cokelatnya.” Lanjut Liya dengan senyuman.
“okey.” Balas Nuha gembira.
Salwa terpanah melihat keteduhan keluarga lelaki pujaannya. Rasa semakin tumbuh didalam hatinya. Keinginan semakin kuat untuk memilikinya. Usaha demi usaha akan dia lakukan demi untuk masuk kedalam keluarga yang diinginkannya.
“mba.. mba salwa.” Ucap Liya memecah lamunannya yang sedang menatap Asyam.
“eh, iya. Haduh, maaf.” Ucap Salwa tersenyum malu.
“saya tinggal ya, mba. Saya mau berangkat dengan mas asyam.” Ucap Liya sambil mengenakan helm.
"oh iya, hati-hati dijalan ya." Ucap Salwa.
Liya hanya membalas dengan senyuman. Asyam dan Liya meninggalkan rumah untuk mencari tempat berbincang.
Ustadz Rehan dan Ustadz Hasan masih berada di kantin rumah sakit untuk mendiskusikan pernikahan kedua putra-putrinya. Semua kisah yang terjadi diantara keduanya di ceritakan demi meminimalkan kesalahfahaman dan dapat menemukan jalan yang terbaik untuk keduanya.
__ADS_1
Ustadz Rehan pun bingung dengan berbagai pilihan didalam kepalanya. Ustadz Hasan merasa kecewa dengan sikap yang dilakukan oleh Ihsan, putra yang selama ini telah dianggap seperti anak oleh dirinya. Seperti bukan Ihsan yang dikenalnya. Kedewasaan yang selama ini dilihatnya, entah kemana perginya atau mungkin memang ini telah menjadi jalan-Nya. Jalan terbaik untuk keduanya.
Bersambung .....