KETIKA RINDU BERBALUT DOA

KETIKA RINDU BERBALUT DOA
Episode 36 - Kembalinya Asma


__ADS_3

"saya terima nikah dan kawinnya asma fitriyah hasanah binti hasan dengan mas kawin tersebut tunai." Ucapnya.


"alhamdulillah..."


"barakallah..."


Ijab qobul yang dilangsungkan dengan khidmad dan sederhana telah terlaksana diruang kecil khas wangi rumah sakit itu. Asma kini telah sah menjadi istri dari dokter muda Farhan Safaraz. Dengan mas kawin seperangkat perhiasan berupa, cincin, gelang dan kalung dihadiahkan untuk Asma. Wanita pertama yang berhasil membuka pintu hatinya. Dengan di pandu para orang tua, Farhan dengan lembut meraih tangan Asma, menggenggam dan menciumnya. Dengan melafalkan basmalah dalam hatinya, Farhan mencium kening Asma dengan linang air mata. Tetesnya yang tanpa sengaja jatuh dikelopak mata Asma, membuat keajaiban dihari penuh bahagia itu. Asma membuka mata sambil menarik nafas dalam.


"allahu akbaar... asmaa.." Ucap Bunda Zulfah histeris.


"panggilkan suster." Ucap Farhan.


Ustadz Hasan yang menemukan suster saat membuka pintu kamar langsung memintanya untuk masuk.


"suster, tolong anak saya.. ada dokter farhan didalam." Ucapnya panik.


"ambilkan peralatan diruang kerja saya." Perintah Farhan saat suster memasuki ruangan.


Farhan menangani pasien yang kini telah resmi menjadi istrinya. Dihari yang bahagia, kesadaran Asma adalah hadiah yang tak tergantikan.


"saya mohon maaf, mungkin kita semua bisa tunggu diluar. Untuk kedua orang tua asma mungkin bisa ikut keruangan saya." Ucap Farhan yang langsung meninggalkan.


Ustadz Hasan, Bunda Zulfah, Mama Fara dan Papa Hanif duduk di sofa dalam ruang kerja Farhan.


"untuk saat ini, biarkan asma pulih sampai kondisinya stabil. Jangan beritahu tentang pernikahan ini. Saya khawatir akan mengganggu fikirannya dan membuatnya hilang kesadaran lagi." Jelas Farhan.


"jadi.. kita merahasiakannya dulu dari asma ?" Tanya Bunda Zulfah.


"baiknya seperti itu. Ibu dan bapak rawatlah asma, berikan dia hal-hal yang membuat dia bahagia, senang, untuk mengembalikan kondisinya. Jika kondisinya membaik, kita akan bicarakan lagi tentang identitas saya sebagai suaminya." Jelas Farhan.


"baiklah dokter farhan kalau begitu, saya kembali keruangan untuk melihat asma." Ucap Bunda Zulfah.


Satu minggu berlalu, Asma telah kembali kerumah dan menempati kamarnya. Gaun pernikahannya dengan Ihsan telah disingkirkan. Nafasnya tertarik panjang menghirup udara khas kamar miliknya. Kembali ia pandangi bingkai foto diatas meja yang melukis kebersamaan dirinya dan para remaja masjid. Asma melirik jam yang melingkar ditangannya yang menunjukkan pukul empat sore.


Nadia, Salwa dan Liya telah berada diruang sekretariat untuk menyiapkan perlengkapan mengajar.


"assalamu'alaikum."


Suaranya halus terdengar.


"wa'alaikumussalam."


Pintu semakin terbuka lebar dan memperlihatkan jelas seseorang yang datang.


"asma.." Ucap Nadia dengan suara yang kecil.

__ADS_1


"asma..." Teriak Salwa dan memeluknya.


Nadia pun ikut menghampiri dan memeluknya.


"kapan kamu pulang, ma ?" Tanya Nadia.


"baru siang tadi." Jawab Asma yang kini duduk diantara Nadia dan Salwa.


"Liya ikut mengajar ?" Tanya Asma.


"iya, mba asma." Jawab Liya.


"liya bantu aku pegang kelompok kamu, ma. Aku ngga bisa nanganin sendirian." Jelas Nadia.


"nanti saya berhenti, mba kalau mba asma sudah siap kembali ngajar." Ucap Liya.


"Jangan." Tolak Asma.


"kenapa harus berhenti. Saya bisa carikan kelompok lain untuk kamu nanti. Kita akan diskusikan lagi." Jelas Asma.


"asma, maaf nih aku mau tanya." Ucap Salwa.


"tanya apa, sal ?" Tanya Asma.


"mmh... pernikahan kamu sama bang ihsan gimana ?" Tanya Salwa.


"maksud kamu, kamu ga jadi nikah sama dia ? terus dia sekarang kemana ? dia ngga pernah keliatan loh, ma .. udah lama .. semenjak kalian nyiapin pernikahan itu." Tanya Salwa.


"kalo nanya tuh ya pelan-pelan, satu-satu." Ucap Nadia sambil menepuk kaki Salwa.


Asma tersenyum mendengarnya.


"sebelum aku masuk rumah sakit, bang ihsan memutuskan untuk pengobatan keluar negeri pasca kecelakaannya. Dia berniat untuk menunda pernikahannya. Tapi, takdir berkata lain.. aku ingin memberitahu kepada kalian, bismillahirrohmanirrohim, aku sudah menikah dengan laki-laki lain yang memang Allah takdirkan untukku." Jelas Asma.


"hah .. ?" Salwa.


"kamu serius asma ? siapa ?" Tanya Nadia.


"dia dokter yang menangani pemeriksaanku dirumah sakit." Jawab Asma.


"si dokter tampan, yang ala oppa korea itu ? ya ampuun asmaaa kamu beruntung bangeeettt.." Ucap Salwa.


"semoga... keberuntungan itu memihak padaku ya, sal." Ucapnya.


"kasihan mas asyam, kalau saja dia tau mba asma ndak jadi menikah ini kan peluang untuknya." (Liya).

__ADS_1


"mba, tadi mba asma bilang bang ihsan kecelakaan, kecelakaan apa dan lukanya gimana, mba ?" Tanya Liya.


"paling parah luka di bagian kakinya. Kita doakan saja ya, semoga bang ihsan lekas sembuh dan bisa bergabung bersama kita lagi." Jelas Asma.


"kapan kamu akan aktif mengajar lagi, ma ?" Tanya Nadia.


"insya allah sore ini aku bisa. Mungkin bantu-bantu." Jawab Asma.


"serius ? jangan maksain loh. Kalau memang belum bisa, ngga apa-apa." Ucap Nadia.


"insya allah ngga apa-apa, nad. Aku bantu kontrol saja dan menyelesaikan tugas yang tertunda." Jelas Asma.


"oke, janji yaa jangan maksain, kalau ngga kuat istirahat." Tegas Nadia.


"iya, nadiaaa." Sahut Asma dengan senyuman.


Asma berbincang dengan Nadia saat yang lain sedang melaksanakan shalat ashar dilantai atas. Asma menceritakan isi hatinya, yang terasa sesak dan sakit namun harus menerima apa yang telah ditakdirkan untuknya.


Mulai dari perasaannya yang tak sampai kepada Asyam. Batal menikah dengan Ihsan. Dan harus menerima pernikahan dengan laki-laki yang sama sekali tidak dikenalnya.


"dulu aku selalu iri melihatmu loh. Kamu cantik, dari keluarga yang berada, hafal al qur'an, dan mau menikah dengan seorang lelaki tampan penghafal qur'an pula. Aku merasa hidupmu lurus dengan jalan yang bahagia tanpa penghalang dan rintangan apapun." Ungkap Nadia.


"tapi ternyata.. Kamu punya kisah yang memilukan didalam ya, as. Dan itu sama sekali tidak kamu tampakkan. Kita hanya melihat kamu sebagai gadis cantik yang ceria." Lanjut Nadia.


"aku ini manusia, nad sama seperti kalian. Aku juga punya masalah, punya beban hidup sama seperti kalian. Hanya mungkin di tempat dan hal yang berbeda." Ucap Asma.


"hanya tinggal bagaimana kita menjalankannya, melaluinya, menyelesaikannya. Dan aku lebih memilih untuk memberikan diriku yang bahagia kepada orang lain, dari pada menunjukkan lelahku dalam memikul beban dalam hidupku." Lanjut Asma.


"jadi kamu bisa koma karena apa ?" Tanya Nadia.


"mungkin karena aku terkejut menerima kabar dari bang ihsan. Dan saat itu kondisiku mungkin sedang tidak baik." Jawab Asma yang mendapat anggukan kepala dari Nadia.


"banyak tugas yang tertunda karena ketidakhadiran kamu dan bang ihsan. Kita sangat merasa kehilangan, ma. Seperti tidak bisa apa-apa tanpa kamu dan bang ihsan." Jelas Nadia.


"siapa bilang ? buktinya kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung. Kalian itu punya kemampuan dan kekuatan masing-masing, kalian harus percaya itu. Dan gunakan itu untuk berani mengambil keputusan." Ucap Asma.


"Asma..." Teriak seorang lelaki sambil membuka pintu saat mendengar kabar, Asma telah kembali.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung.....


__ADS_2