
Nadia merangkul Asma dan mendapat balasan pelukan darinya. Isak tangisnya terdengar. Entah kabar tentang apalagi yang didapatinya. Nadia mengelus punggungnya untuk menenangkan. Salwa dan Salva saling menatap, seolah bertanya apa yang terjadi. Mereka memutuskan untuk ikut menghampiri keluar, diikuti dengan Syahrul, Zidan dan Sulton yang juga sedang berada di aula. Asyam pun ikut mendekat.
“ma, kamu kenapa ?” Tanya Salwa.
Asma mulai menghapus air matanya dan berusaha menenangkan diri dengan menarik nafas.
“ah, maaf. Aku ngga apa-apa, aku cuma kaget ajah.” Jawab Asma.
“nih handphone kamu.” Ucap Syahrul sambil memberikan.
“makasih.” Ucap Asma.
“maaf ya aku ngga bisa lanjut. Aku pulang dulu.” Ucap Asma.
“mau aku anter ?” Tanya Nadia.
“ngga usah, nad. Kamu kan masih ada tugas.” Jawab Asma.
Asma berlari menuju rumah. Sambil sesekali menyeka air matanya yang tak dapat tertahan lagi. Bunda yang sedang duduk di bangku depan terkejut melihat putrinya yang berlari melewatinya. Asma berlari menaiki tangga menuju kamar, dibukanya pintu kamar dan langsung dikuncinya. Sambil bersandar dipintu, Asma menatap sepasang gaun pengantin putih yang berdiri diujung kasurnya. Dengan bibir yang bergetar menahan segala rasa didalam dada. Air mata yang tak henti mengalir membasahi wajahnya. Masih terdengar jelas suara Ihsan yang berbicara kepadanya melalui telephone.
“asma, melihat kondisi abang yang masih dalam proses penyembuhan dan membutuhkan waktu lama. Aku membebaskanmu dari khitbah ku, jika kamu ingin menerima lamaran dari laki-laki lain. Aku tidak ingin membebani kamu dengan kondisi abang.”
Asma berjalan menghampiri gaun yang berdiri sejajar dan mendorongnya, sambil kembali menangis tersedu-sedu hingga terjatuh dan bersandar pada kasur.
“asma .. asma .. buka pintunya sayang. Asma, ceritakan masalahmu pada bunda, nak.” Teriak Bunda Zulfah sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar Asma.
Bunda Zulfah langsung menghubungi Ustadz Rehan melalui telepon genggamnya.
“ayah.. ayah pulanglah dulu, sepertinya asma sedang ada masalah. Bunda takut asma kenapa-kenapa, bunda dengar ada barang-barang jatuh di dalam kamar. Asma mengunci diri dikamar.” Jelas Bunda Zulfah.
Sementara itu, Nadia dan teman-teman lainnya kembali berkumpul di aula melanjutkan tugas sekaligus membicarakan tentang keadaan Asma.
“apa ada sangkut pautnya bang asyam dengan kejadian asma tadi ?” Tanya Salwa.
“saya kurang tau juga sih. Obrolan saya dengan asma sudah selesai karena dia mendapat telfon.” Jelas Asyam.
“kita doakan saja semoga urusan asma diberi kemudahan untuk menyelesaikannya.” Ucap Nadia sambil mengetik di laptop.
“eh iya, aku bikin kue tadi. Kalian cobain deh.” Ucap Salwa sambil mengeluarkan toples kecil dari dalam tasnya.
“bang asyam, ayo dicobain.” Ucapnya sambil menyodorkan toples kearah Asyam.
__ADS_1
“kaka buat sendiri kuenya ? enak ka kejunya berasa banget.” Ucap Salva sambil menyantap.
“iya aku buat sendiri.” Jawab Salwa.
“gimana bang asyam, enak ngga ?” Tanya Salwa.
“mmh.. ya, enak.” Balasnya.
“serius ? nanti aku buatkan lagi ya ? nanti aku antar kerumah.” Ucap Salwa, gembira.
“tidak usah.” Tolaknya sambil tersenyum.
“ngga apa-apa, biar bu’e dan nuha juga nyobain nanti.” Lanjut Salwa.
Nadia hanya tersenyum melihat tingkah laku Salwa dan kembali mengarahkan pandangannya ke layar monitor.
Ihsan masih harus berbaring di kasur tempat tidurnya. Raina tetap setia mendampingi dan meninggalkan kegiatan kegiatannya. Dalam hatinya tersimpan rindu, merindukan penjagaan sang kaka yang begitu siaga terhadapnya. Merindukan kegembiraan saat bermain bersama, berlibur dan bercerita ataupun melakukan kegiatan bersama. Dalam hatinya tersimpan harapan yang begitu besar untuk kesembuhan sang kaka. Ummi Asyha dan Ustadz Rehan masuk kamar, menemui Ihsan. Ustadz Rehan duduk di kursi dan Ummi Asyha duduk di bibir kasur mendekati Ihsan.
“nak, persiapan pernikahan mu itu sudah hampir selesai. Undangan juga sudah ada yang dibagikan. Apa tidak sebaiknya kamu melangsungkan pernikahan dulu dengan Asma, baru kita berangkat keluar negeri untuk penyembuhanmu ?” Jelas Ummi Asyha.
“ihsan tidak bisa, mi membebankan ini kepada asma. Dia pantas mendapatkan yang terbaik dari ihsan. Dan belum tentu juga ihsan dapat disembuhkan. Kalau tidak, asma akan mendapat suami yang cacat sepeti ihsan.” Balas Ihsan.
“astaghfirullah, abang.” Ucap Raina.
“kamu ini kenapa, nak. Ummi lihat banyak perubahan darimu. Setelah lamaran, kamu jadi tidak setenang dulu. Bahkan kamu juga terbawa emosi saat menyelesaikan masalahmu.” Ungkap Ummi Asyha sambil menggenggam tangan Ihsan.
“raina rasa, bang ihsan udah benar-benar jatuh cinta, ummi sama asma. Bang ihsan terbakar api cemburu jadi begitu.” Ledek Raina.
“nak, waktu pernikahan mu satu minggu lagi. Abi harap, kamu akan memikirkan lagi dan memutuskan pilihan terbaik.” Ucap Ustadz Rehan sambil bangkit dan meninggalkan.
“Iya, abi.” Sahut Ihsan.
“tolong ya, nak. Difikirkan dengan baik. Ini juga menyangkut nama baik mu dan keluarga. Dan fikiran juga perasaan asma sebagai perempuan. Kamu juga bisa tanyakan hal itu pada adikmu jika hal ini terjadi pada dirinya. Kamu pasti akan tau bagaimana perasaan asma.” Jelas Ummi Asyha.
“iya, ummi.” Sahut Ihsan.
“ummi tinggal ya. Kamu ditemani sama raina.” Ucap Ummi Asyha melepas genggamannya pada tangan Ihsan.
Pintu kamar Asma berhasil dibuka, dengan kondisi Asma yang telah tergeletak dilantai sambil menggengam handphonenya dan gaun pengantin yang berantakan. Ustadz Hasan berusaha mendobrak pintu kamar Asma setelah tidak mendapat respon dan suara apapun dari dalam kamar Asma.
Malam harinya, Asma tak kunjung sadar dan langsungn dilarikan kerumah sakit untuk mendapat penanganan. Ustadz Hasan memesan kamar khusus agar Asma dapat beristirahat dengan tenang.
__ADS_1
“bunda tidur dulu sana, gantian biar ayah yang jaga.” Ucap Ustadz Rehan sambil merangkul bahu Bunda Zulfah.
“asma ada masalah apa ya, yah. Sampai-sampai dia seperti ini ?” Tanya Bunda Zulfah.
“nanti kita tanyakan kalau kondisi asma sudah membaik. Lebih baik kita sekarang istirahat.” Jelas Ustadz Hasan.
“ayah juga istirahat ya.” Pinta Bunda Zulfah.
“yasudah, kita istirahat sama-sama disofa.” Balas Ustadz Hasan.
Nadia yang sedari tadi selesai mengajar, masih memikirkan keadaan Asma yang tak kunjung memberi kabar. Perasaan gelisah juga dirasanya, memikirkan kembali masalah yang sedang dihadapi oleh Asma menjelang pernikahannya.
“apa besok pagi aku kerumahnya saja ya.” Bisik Nadia dalam hatinya.
Hingga mentari pagi menyapa, Asma tak kunjung menunjukkan perkembangan baik. Bunda Zulfah masih dengan hati yang gelisah. Tangan Ustadz Hasan tak lepas memberi kekuatan dengan merangkul sang istri. Dokter yang pagi ini berkunjung telah tiba dikamar Asma bersama perawat yang mendampingi.
“permisi.. selamat pagi, pak, bu.” Ucapnya.
“pagi, dok.” Sahut Ustadz Hasan.
“saya izin memeriksa putrinya ya, pak.” Ucapnya yang hendak meraih tangan Asma.
Bunda Zulfah langsung melayangkan tangannya menggenggam tangan sang putri. Mata keduanya beradu. Senyum manis sang dokter terlontar melihat reaksi sang ibu.
“maaf dokter, tapi biasanya anak saya diperiksa oleh dokter perempuan. Dokter irawati.” Ucap Bunda Zulfah.
“maaf, ibu. Dokter ira hari ini sedang tugas dirumah sakit lain, hari ini dokter farhan yang menggantikan.” Jelas sang perawat.
“tidak apa-apa, ibu. Jika saya tidak boleh menyentuh biar suster yang menggantikan.” Ucap Dokter Farhan dengan senyumannya.
“maaf, dokter. Terima kasih.” Ucap Bunda Zulfah.
Farhan hanya membalas dengan senyuman. Begitulah dia, lelaki tampan yang dikenal dengan keramahannya. Senyuman manis yang membuat hati wanita meringis. Dokter muda yang banyak dikagumi perempuan-perempuan di kampusnya bahkan juga dirumah sakit tempat bertugasnya.
Tidak semua hadiah terindah didapat dengan jalan yang mudah..
Tidak juga jalan yang mudah untuk dapat hadiah yang indah..
Perjalanan yang dihiasi dengan hati yang ikhlas adalah proses untuk menujunya..
Dan keindahan bukan hanya terletak pada hasil yang didapat..
__ADS_1
Tapi keindahan juga bisa terletak pada proses yang dijalankan..
Bersambung .....