
Tak semua luka selalu diartikan dengan kecewa. Salwa belajar darinya , luka yang membuatnya bertemu dengan bahagia. Sakit yang mengajarkannya untuk bangkit, sedih yang mengingatkannya untuk kembali.
Ternyata benar, kesedihan yang membuat diri mengingat kembali kepada-Nya, lebih baik. Dari pada bahagia yang membuatnya hanyut dan melupakan-Nya. Kini Salwa percaya karena merasakannya , betapa baik Tuhan kepadanya. Saat mendekatkan diri kepadaNya, apapun akan diberikan pada waktunya.
"Semua berjalan lancar ?" Tanya Asma sambil menyantap makanannya.
"Alhamdulillah." Jawabnya.
"bapak mengizinkan mas asyam untuk saling mengenal selama satu bulan." Jelasnya.
"semoga semua berjalan sesuai rencana ya. Aku harap kamu bahagia dengan cinta yang kamu harapkan." Ucap Asma.
"aamiin." Ucapnya.
"kalau diingat kembali, sudah lama sekali aku mengagumi dia. Saat pertama kali dia menginjakkan kaki di ruang sekretariat saat itu." Ucap Salwa.
"itu pertemuan keduaku dengannya setelah kecelakaan di jalan." Balas Asma.
"iya, ya.. Kamu lebih dulu bertemu dengannya." Ucap Salwa.
"aku juga terkejut saat bertemu lagi dengannya diruangan, secepat itu waktu mempertemukan kami lagi." Ucap Asma.
"asma.. Tapi... Apa ... Kamu masih menyimpan perasaan untuknya ?" Tanya Salwa dengan ragu.
"mungkin." Jawabnya dengan cepat.
Salwa tak menyangka dengan jawaban yang keluar dari mulut Asma. Rasanya tak bisa berkata apa-apa , selain menunjukkan wajahnya yang kaget dan tubuhnya yang membeku.
"kenapa ?" Tanya Asma dengan senyuman.
"asma... Kamu yaa.." Ucap Salwa yang tersadar dengan candaan Asma.
"lagian, pertanyaan kamu ada-ada saja. Mana mungkin aku masih menyimpan rasa untuknya." Ucap Asma.
"kamu kan tau , aku pernah d lamar bang ihsan , aku merasakan sakit , kecewa , bagaimana bisa aku masih mempertahankan perasaan aku saat aku telah di lamar oleh seseorang. Dan lagi , saat ini aku sudah menjadi istri orang. Aku lebih memilih belajar mencintai suamiku daripada mempertahankan perasaan yang bukan milikku." Jelas Asma.
"kamu harus belajar untuk tenang. Terlebih, bang asyam juga banyak dikagumi wanita. Jangan terbawa suasana. Harus percaya diri dalam situasi apapun." Ucap Asma.
"terima kasih ya, asma. Aku selalu tenang setelah mendengar ucapanmu." Ucap Salwa.
Asma hanya membalasnya dengan senyuman.
"kamu mau lansung pulang ?" Tanya Salwa.
"ngga. Aku ada perlu, mau ketempatnya mas farhan." Jawab Asma.
"diantar supir kan ?" Tanya Salwa.
"aku bawa mobil sendiri." Jawabnya.
"kamu mau aku antar pulang dulu ?" Tanya Asma.
"ngga usah, nanti kamu capek di jalan. Lagi pula aku ada janji sama liya, mau liat-liat pakaian." Jelas Salwa.
"lancar ya.. " Ucap Asma sambil mengelus lengan Salwa.
"terima kasih ya."
"aku duluan yaa." Ucap Asma melangkah menuju mobilnya.
Dengan hati yang senang Asma melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat Farhan bertugas. Sebelum sampai, Asma mampir kesalah satu tempat makan untuk membeli makanan untuk Farhan makan siang. Langkah kakinya masih diiringi dengan senyuman diwajahnya, sebelum sampai didepan pintu ruangan Farhan dan mendengar suara perempuan dari dalam ruangannya.
"apa susahnya sih bersikap seperti biasa, seperti awal kita berteman ?. Apa susahnya menerima kebaikan aku ? Aku cuma ngunjungin kamu untuk bawain makanan ini." Jelasnya.
Tangan Asma masih mengambang untuk mengetuk. Sebelum akhirnya suster membuka pintu untuk bertemu dengan Farhan.
__ADS_1
"dokter.. "
"asma.. "
Asma hanya membalas dengan senyuman, juga dengan dada yang terasa sesak.
"Ini laporan pasien yang harus dicek, dokter." Ucap suster sambil memberikan beberapa map kepada Farhan.
"terima kasih."
"baik, saya permisi dokter."
Asma masuk dengan memberikan senyuman kepada suster yang menyapanya dengan senyuman.
"assalamu'alaikum." Ucap Asma yang langsung dihampiri Farhan dan mendaratkan kecupan dikening Asma.
"wa'alaikumussalam."
Wanita yang ada di dalam, hanya bisa menatap kemesraan keduanya sambil memegang plastik berisikan makanan yang dibawanya.
"saya bawa makanan buat kamu." Ucap Asma.
"xena.. Mau makan sama-sama ?" Ucap Asma menawarkan.
Xena tak membalas dan hanya menatapnya dengan kesal, lalu pergi meninggalkan.
"saya.. Bicara sebentar ya dengan xena ?" izinnya.
"asma.. Ngga usah." Perintah Farhan sambil menahan lengan Asma.
Belum saja Asma mengeluarkan kata-kata, Farhan langsung menyelaknya.
"kamu ngga usah berurusan dengan dia. Biar dia jadi urusan saya." Ucapnya.
"insya allah , Allah selalu melindungi kita ya , mas."
"saya berharap , kita bisa bahagia dengan pernikahan ini." Ucap Asma.
"saya tentu sangat bahagia, asma. Maaf karena memintamu dengan paksa." Ucap Farhan.
"kamu sama sekali tidak memaksaku, mas. Terima kasih telah memberiku waktu dan telah sabar menunggu." Balas Asma.
"dimakan yuk, nanti keburu dingin." Ajak Asma.
Farhan mengaggukkan kepala dan duduk di sofa untuk menyantap makanan bersama dengan Asma.
Ada hati yang masih dengan sabar menunggu, dengan tenang menantikan jawaban yang entah kapan kan datang. Menyimpan rasa dengan ketidakpastian, pasti takkan terasa tenang. Mengharap setiap harapan akan sesuai dengan yang diinginkan. Namun menyimpan dengan pasrah, takkan menimbulkan luka yang dalam. Karena percaya apa yang ditetapkan untuknya akan terjadi sebagaimana mestinya. Dan sesuatu yang bukan untuknya akan menjauh mengikuti alur yang sebenarnya.
Nadia menghabiskan waktu siangnya dengan merapihkan ruang pengajar dan menyelesaikan tugas-tugasnga, sambil menunggu waktu mengajar disore hari.
"Ya Allah, aku berharap hatiku akan tenang seperti biasanya. Aku tidak ingin terganggu dengan perasaan yang belum tentu akan menjadi milikku. Aku memasrahkan segala rasaku kepadaMu, karena Engkau Sang pemilik hati, Engkau tahu bagaimana baiknya untukku." Bisik Nadia dalam hatinya.
Tiba-tiba saja pintu terbuka tanpa suara yang menyapa. Nadia terkejut mendapati dia yang sejak tadi mengganggu fikirannya.
"ada kamu ? Assalamu'alaikum." Ucapnya.
"wa'alaikumussalam."
Syahrul langsung melangkahkan kakinya menuju loker. Nadia mengatur nafas dan detak jantungnya yang berdegub tak beraturan dan semakin kencang.
"astaghfirullahal'adziim.." Bisiknya sambil tertunduk memegangi dada.
"tumben siang-siang gini ada disini ?" Tanya Syahrul sambil menutup pintu loker.
Nadia tak menanggapi dan masih tertunduk sambil berdzikir.
__ADS_1
"nad.. " Ucap Syahrul memasukkan beberapa kertas kedalam tas.
"nad.." Panggilnya lagi sambil menghampiri dengan khawatir.
"nad.. Kamu sakit ?" Tanya Syahrul berdiri di belakang komputer.
Nadia pun tersadar dan lagsung mengangkat pandangannya.
"ya ?" Tanyanya.
"kamu sakit ?" Tanya Syahrul lagi.
"ngg.. gaa.." jawabnya gugup.
"ah .. Tadi .. Cuma .. Kaget ajah." Jelas Nadia sambil tersenyum.
"maaf yaa. Aku kira ngga ada orang didalam." ucap Syahrul.
"ngga apa-apa." Balas Nadia.
"ada apa kesini siang-siang?" Tanya Nadia.
"ada yang perlu diambil. Ini mau balik kerja lagi." Jawab Syahrul.
"hati-hati." Ucap Nadia, malu dan langsung menatap kembali kayar komputer di hadapannya.
Syahrul berjalan mengambil tas dan berjalan keluar ruangan.
Asma duduk disofa menunggu dokter Farhan menyelesaikan tugasnya sambil memainkan ponsel. Dia teringat kepada Kirei yang belum dihubunginya.
"bang ihsan pasti menunggu kabar tentang kirei. Emailku belum dibalas. Sebaiknya aku menghubunginya" Ucap Asma dalam hatinya sambil mencari kartu nama didalam tasnya.
"mas. Asma izin keluar ya, mau menelpon seseorang." Ucap Asma.
"ngga disini ajah ? Memangnya aku ngga boleh tau ?" Tanya Farhan.
"ngga gitu, mas. Aku mau ke halaman, supaya lebih tenang ajah." Jelas Asma.
"ya, sudah. Jangan lama-lama yaa." Ucap Farhan.
"iya, sayang." Jawab Asma.
Asma duduk dibangku taman, dekat pohon yang rindang. Angin yang berhembus menemaninya menunggu jawaban dari kirei.
Asma : kirei.. Assalamualaikum. Ini aku, asma.
Kirei : ....
Asma : aku ada perlu dengan mu. Bisakah kita bertemu ? Aku ikut waktu luangmu, kabari aku ya.
Kirei : ....
Asma : terima kasih, kirei.
"alhamdulillah." Ucap Asma dengan bahagia.
"hai.. " Ucap seorang lelaki yang membuatnya terkejut.
.
.
.
...-Bersambung-...
__ADS_1