KETIKA RINDU BERBALUT DOA

KETIKA RINDU BERBALUT DOA
Episode 38 - Keluarga Baru


__ADS_3

Setelah menghabiskan malam yang panjang bersama sahabat, pagi kembali menyapa untuk memulai hari. Sejak subuh tadi, Asma dan Ainun tengah membantu Bunda Zulfah membuat sarapan. Beberapa kali mereka bolak-balik untuk menaruh makanan diatas meja.


"asma, kamu buatkan teh ya untuk ayah sama farhan." Ucap Bunda Zulfah.


"bunda yang antar kan ?" Tanya Asma.


"yaa kamu dong sayang, masa bunda yang antar." Balas Bunda Zulfah.


Ainun hanya tersenyum sambil mengelap piring.


Asma berjalan kedepan membawa nampan yang berisikan dua cangkir teh beralaskan piring kecil.


"alhamdulillah. Teman ngobrol kita sudah sampai nih." Ucap Ustadz Hasan.


"kamu minum teh kan?" Tanya Ustadz Hasan kepada Farhan sambil menaruh cangkir teh untuk Farhan.


"minum, ayah." Jawabnya.


"asma.. maafkan jika ayah berbuat salah kepadamu." Ucap Ustadz Hasan kepada Asma sambil menggenggam lengannya.


"asma masuk kedalam ya, yah." Ucap Asma yang langsung meninggalkan.


"ayah.. tidak apa jika asma masih belum menerima saya, biar saya yang akan berusaha untuk meluluhkan hatinya." Ucap Farhan.


"saya harap dia dapat menjadi istri yang baik untukmu, farhan." Ucap Ustadz Hasan sambil meneguk teh dalam cangkirnya.


"seiring berjalannya waktu, ayah." Balas Farhan yang ikut meneguk secangkir teh.


Tak mudah menggantikan sebuah nama yang telah lama terukir dihati. Sekalipun mengikisnya, hanya akan meninggalkan luka yang bekasnya akan mengingatkan tentang sakit yang dirasa. Mungkin lebih baik menyimpannya dalam bingkai kenangan, yang sewaktu-waktu jika mengingatnya akan menimbulkan senyuman, bukan air mata.


"ka.." Sapa seorang gadis yang telah rapi dengan busana muslim yang dikenakannya.


"liya..." Balasnya, yang sejak tadi melamun dibangku taman sambil menunggu kedatangannya.


"maaf ya aku lama." Ucap Liya.


"ngga apa-apa." Jawab Kirei.


"yaudh yuk, kita jalan." Ucap Kirei yang bangkit dan meraih tangan Liya untuk digenggamnya.


Sampailah mereka disalah satu cafe tempat biasa Kirei dan Asma berkumpul, cafe yang juga pernah didatangi Liya bersama dengan Asyam.


"Cinta bertepuk sebelah tangan itu... memang menyakitkan ya, li. Semakin aku kuat untuk menghapus, malah semakin sulit untuk aku lupakan." Jelas Kirei yang melamun sambil memainkan sedotan.


"cinta kaka bukan bertepuk sebelah tangan. Dulu kalian memang saling suka kan ? mungkin memang sudah masanya hati beristirahat dari cinta yang salah, ka. Lebih baik saat ini melepaskan dari pada mengulur waktu dan membuat kenangan lebih dalam." Balas Liya.


"aku dengar, ka asyam suka dengan asma. Tapi bukannya asma sudah punya calon ?" Tanya Kirei.


"sama seperti kaka, hatinya harus beristirahat. Bukan karena cinta yang salah, tapi mencintai diwaktu yang salah. Mas asyam juga berusaha untuk melepas dan melupakan. Menerima dengan lapang dada dan mengikhlaskan itu lebih menyenangkan, daripada terus hanyut dalam kesedihan." Jelas Liya.


"oh iya, apa asma sudah kembali kerumah ?" Tanya Kirei.

__ADS_1


"alhamdulillah sudah, ka. Kemarin juga dia sudah datang mengajar." Jawab Liya.


"mmh.. kalau gitu aku harus ketemu sama dia sekalian pamit." Ucap Kirei.


"pamit ?" Ucap Liya, terkejut.


"oh.. iya aku lupa, aku juga mau menyampaikan ke kamu. Aku mau pamit, mungkin minggu depan aku sudah berangkat kejepang. Ayah kembali ditugaskan disana." Jelas Kirei.


"mau saya temani ke rumah ka asma ?" Tanya Liya.


"mmhh... boleh." Jawab Kirei.


Hari yang selama ini dihindari akhirnya tiba. Waktu tak berhenti sesuai dengan yang kita inginkan, maka hal terbaik hanyalah menyiapkan. Ini pertemuan pertama setelah Asma sadar dari koma, pertemuan pertama bagi Asma menemui sang mertua. Entah bagaimana dan seperti apa sikap mertua terhadapnya. Saat putranya menikahi gadis yang bahkan belum dikenalnya, terlebih saat sedang diambang antara hidup dan mati. Hanya karena gerakan tangan, Ayah dan Bunda menerima lamarannya. Entah apa yang membuat kedua orang tua Farhan menyetujuinya.


"assalamu'alaikum, mah.." Ucap Farhan menemui sang ibu yang sedang bersiap diruang makan.


"wa'alaikumussalam." Sahutnya dengan gembira.


"kamu... ngapain kamu disini ?" Tanya Farhan saat menemukan seorang gadis yang bukan bagian dari keluarganya ikut hadir menyambut dirinya.


"farhan.. jangan begitu. Ini kan bukan yang pertama kali xena kesini." Ucap Mama Fara.


"ini bukan waktu yang tepat, ma untuk dia main kesini." Ucap Farhan.


"mas.. ngga apa-apa." Ucap Asma sambil menyentuh lengan Farhan.


Untuk pertama kalinya Farhan mendengar panggilan itu dari mulut Asma. Bukan perasaan kesal yang menyelimuti hatinya, malah berubah menjadi rasa bahagia.


"selamat datang dirumah baru, sayang." Ucap Mama Fara.


"kenalin, ini xena sahabat farhan. Mama minta maaf ya, kalau kehadirannya mengganggu kamu." Ucap Mama Fara.


"asma ngga merasa keganggu." Sahut Asma dengan senyuman.


"senang berkenalan dengan sahabat mas farhan. Saya asma, istrinya mas farhan." Ucap Asma memperkenalkan kepada Xena.


Wajah Xena berubah menjadi muram, hatinya terasa kesal.


"tante, xena ambil nasi dulu ya kedapur." Ucap Xena.


"iya." Sahut Mama Fara.


"kamu istirahat dulu sana dikamar farhan." Ucap Mama Fara.


"mama sudah selesai ? ngga ada yang perlu asma bantu ?" Tanya Asma.


"ngga apa-apa kamu istirahat saja. Sebentar lagi mama selesai ko." Jelas Mama Fara.


"ayo asma." Ajak Farhan.


Asma dan Farhan berjalan berdampingan menuju kamar Farhan dilantai atas.

__ADS_1


"kamu yakin, saya boleh masuk ke kamar kamu ?" Tanya Asma saat tiba didepan pintu kamar Farhan.


"kenapa ngga ? kamu istriku." Jawabnya.


Farhan membuka pintu dan mempersilahkan Asma masuk kedalam. Asma memperhatikan sekeliling, barang-barang yang tersusun rapih. Nuansa kamar yang elegan, hitam dan putih.


"perlu saya rubah ?" Tanya Farhan.


"ada yang kamu ngga suka ?" Tanyanya lagi.


"kenapa harus dirubah ? kenapa harus tanya kesukaanku ? ini kan kamar kamu." Jelasnya.


"saat aku menikahi seorang gadis, kamar ini telah menjadi milikku dan istriku." Tegasnya berhadapan dengan Asma.


"apapun itu, bukankah lebih baik aku diskusikan bersama dengan istriku ?" Tanyanya.


Asma menelan ludah dan menarik nafas sambil melangkah mundur dan berjalan kearah pintu menuju balkon kamar.


"boleh saya buka ini ?" Tanya Asma.


Tanpa menjawab, Farhan langsung membukakan pintu dari balik tubuh Asma. Sambil terengah Asma melangkah dan menikmati pemandangan dari balkon kamar yang berbentuk setengah lingkaran.


"pemandangan yang indah." Ucap Asma.


"kamu suka ?" Tanya Farhan.


"kenapa selalu bertanya itu ?" Asma balik bertanya.


"aku hanya ingin kamu merasa nyaman, karena ini akan menjadi tempat tinggalmu saat ini." Jelas Farhan.


"boleh saya minta sesuatu ?" Tanya Asma menghadap Farhan.


"katakan..." Balas Farhan.


Meski bumi itu luas, bukan tidak mungkin untuk mempertemukan..


bahkan sekalipun kita berseberangan jauh diujung pandang..


jika nama telah tertulis, takdir akan bekerja dengan caranya untuk menyatukan kita meski tanpa alasan...


.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2