
"ya, memang ngga mudah. Apalagi saat itu mba benar-benar harus menerimanya. Baru tahu namanya, tidak tahu bagaimana dia. Butuh waktu untuk mba bisa menerima. Tentu saja dengan kerja sama dengan dokter farhan saat itu." Jelasnya.
"dia sabar, dia mengerti bahwa kita harus berkenalan dulu sebelum masuk ke tahap yang lebih dalam. Dia sabar menanti mba untuk bisa menerima dia. Dia berusaha memperlakukan mba untuk meluluhkan hati mba. Dia tidak pernah memaksa apapun sampai benar-benar mba bisa menerimanya." Jelasnya lagi.
"tapi seperti yang kita tahu, sebagai sepasang suami istri kita punya hak dan kewajiban. Mba menjalankan itu, begitupun dengan dia. Pada hak dan kewajiban di tahap-tahap awal. Meskipun rasanya masih kaku dan malu. Tapi Alhamdulillah usaha kebaikannya kepada mba tidak hanya diawal, tapi hingga saat ini dia benar-benar menunjukkan rasa cintanya." Ucap Asma sambil menatap Farhan dari kejauhan.
"lalu, apa yang membuat mba asma jatuh cinta dengan dokter farhan ?" Tanya Liya.
Farhan yang sedang berbincang dengan Ihsan dan Asyam menoleh ke tenda Akhwat untuk melihat siapa yang sedang duduk didalamnya. Saat mengetahui keberadaan istrinya, ia langsung bangkit dan melangkah, menghampiri sang istri.
"Jarak." Jawabnya.
"jarak yang memisahkan, menghadirkan rindu yang menyadarkan mba, kalau mba telah jatuh cinta kepada dia." Ucap Asma.
"sayang.." Sapa Farhan.
"ada liya dan salwa." Ucap Farhan.
"iya dokter."
"kamu belum makan kan ? kamu kan harus minum vitamin. Ayo kita makan dulu." Ajak Farhan sambil mengulurkan tangan.
Asma menerima uluran tangan Farhan dan bangun perlahan karena perut yang semakin membesar.
"salwa, liya, aku tinggal dulu ya." Ucap Asma.
"iya. Hati-hati, mba asma." Ucap Liya.
"kalau ada waktu luang, cari aku ya." Ucap Salwa dengan senyuman.
"ya." Balasnya.
Ihsan dan tim yang lain menyiapkan keperluan untuk acara selanjutnya, yaitu berenang. Waktu bebas untuk bermain dihari terakhir bertafakur alam. Memberi kebebasan dan waktu istirahat untuk para santri dan juga pengajar setelah melalui acara dua hari.
"ngga ikut turun ?" Tanya Asma yang menghampiri Salwa yang duduk di tikar di pinggir kolam.
"ngga. Lagi halangan." Jawabnya.
__ADS_1
"dimana dokter farhan ?" Tanya Salwa.
"tuh." Jawab Asma sambil menunjuk kearah suaminya yang sedang berjalan diair mendekati Ihsan dan yang lain.
"hatimu pasti sudah tenang ya, asma. Kamu sudah menemukan kebahagiaanmu." Ucap Salwa sambil memandang lurus kedepan.
"setiap orang pasti punya kebahagiaan yang dirasa, salwa. Hanya berbeda subjeknya." Ucap Asma.
"kalau saat ini kamu merasa tidak bahagia. Itu karena kamu hanya melihat kebahagiaan dari satu sisi saja dan menutup sisi yang lain." Lanjut Asma.
"kebahagiaan bukan hanya tentang cinta kepada lawan jenis, menemukan pasangan dan menikah. Kamu hidup dengan orang tua yang masih lengkap, itu kebahagiaan. Kamu bisa tidur dan makan dengan tenang, kamu dikelilingi teman-teman yang sholeh, adik-adik yang ceria, kamu pasti bahagia akan hal itu. Hanya saja kamu sedang memfokuskan kebahagiaanmu pada cinta dihatimu, sehingga bahagia-bahagia yang lain tak terasa." Jelas Asma.
"jadi.. ada masalah apa ?" Tanya Asma.
"bang asyam." Jawabnya.
"hem ? kenapa ?" Tanyanya lagi.
"disaat aku jauh, dia malah berusaha mendekat." Jawabnya.
"bahkan bukan hanya sekedar mendekat. Dia berharap lebih dari itu. Dia ingin mengenalku lebih dari sekedar rekan kerjanya." Jelas Salwa.
"salwa.. ini harus cepat-cepat kita proses." Tegas Asma.
"tapi aku masih ngga yakin dan aku ngga mau nerima dia begitu ajah." Ucap Salwa.
"jadi kamu mau main tarik ulur disaat ada lelaki sholeh yang ingin serius sama kamu ? kamu mau membiarkan orang yang dulu kamu perjuangkan, terlepas begitu saja ?" Tanya Asma.
"salwa ? kamu ingat kan apa yang pernah aku bilang ? ketika kamu mengejar dia, Allah jauhkan dia dari kamu. Ketika kamu kembali kepada Allah, meminta kepada Allah, Allah datangkan dia untuk kamu." Jelas Asma.
"apa kamu ngga bisa melihat situasi ini sebagai jawaban yang Allah kirimkan untuk kamu ?" Tanya Asma.
Salwa terdiam dan berfikir. Mencerna kata demi kata yang di ucapkan oleh sahabatnya. Memang terkadang jawaban-jawaban yang dikirim Tuhan tidak mudah dilihat langsung oleh penerima. Butuh waktu untuk sadar dan mengerti apa yang sebenarnya sedang dialami. Butuh waktu tenang untuk mengingat dan meresapi setiap kejadian yang dialami.
Waktu berwisata, liburan yang diadakan kali ini telah usai. Waktu pulang telah tiba. Perpisahan kepada keindahan kota bandung telah tersampaikan. Semoga waktu masih mengizinkan untuk kembali berpijak, meninggalkan jejak kenangan yang indah.
Dalam perjalanan pulang yang melelahkan, Salwa tetap terjaga ditengah teman-teman dan para santri yang telah terlelap dalam bangku masing-masing. Asma yang tidur bersandar di bahu Farhan dan Farhan yang membalasnya dengan kepala yang menempel dikepala Asma. Ihsan yang terlelap sambil bersandar dijendela dan Asyam yang duduk tenang sambil membaca Al Qur'an disamping Ihsan.
__ADS_1
"Ya Allah tolong beri aku kecondongan hati pada apa yang harus aku pilih. Menerimanya atau melepaskan. Haruskah aku kembali menata hati untuk orang yang pernah mengahancurkan perasaan dalam hatiku, padahal perasaan itu untuk dirinya." Batin Salwa yang duduk dikursi belakang sambil melihat Asyam dari sela-sela kursi.
Jarak semakin dekat dengan tujuan. Para santri yang tertidur dibangunkan untuk mengemas barang masing-masing. Hari bahagia di alam lepas telah berakhir dan kembali kepada aktifitas sehari-hari.
Malam ini menjadi penutup untuk memulai aktifitas esok hari. Semoga keindagan alam tetap membekas dan membuat semangat menjalani hari-hari selanjutnya.
Masih banyak nikmat yang harus disyukuri daripada beban yang terus dikeluhi. Masih banyak bahagia yang bisa dirasa daripada mengizinkan kegelisahan menyusup kedalam hati.
"kamu pulang kemana ?" Tanya Ihsan kepada Farhan.
"sepertinya menginap dirumah asma saja. Kasihan kalau dia harus merasakan perjalanan lagi." Jelas Farhan.
"san, duluan yaa." Ucap Asyam yang sudah siap pergi dengan motor bersama liya.
"iya, hati-hati." Balasnya.
"kalau gitu, aku duluan ya." Ucap Farhan.
"ya."
"terima kasih, ya." Ucap Ihsan.
"berterima kasih terus. Kapan-kapan kamu harus mentraktirku makan untuk berterima kasih." Ledek Farhan sambil memukul pelan lengan Ihsan.
"oke, baiklah." Balasnya tertawa.
"bang ihsan kita duluan ya." Ucap Asma sambil menggandeng lengan Farhan.
"ya, hati-hati."
Terbesit dihati, kerinduan yang dinanti. Kapan akan bertemu dengan sang pujaan hati. Menjadi penyejuk ditengah gersang dan lelahnya hari. Menjadi tempat bersandar yang menenangkan. Menemukan keteduhan wajahnya yang akan menyapa disetiap hari.
"Ya Allah, semoga dia adalah seseorang yang Kau tetapkan untukku. Sejauh apapun jarak yang tercipta saat ini, kita masih dibumi yang sama, beratapkan langit yang sama. Tak ada yang tak mungkin atas kehendakmu. Jarak ini akan mendekat dan kembali mempertemukan. Itu yang aku harapkan. Dan Kerinduan ini yang selalu aku susun menjadi tangga doa agar sampai kepadaMu." Ihsan.
.
.
__ADS_1
.
...~Bersambung~...