KETIKA RINDU BERBALUT DOA

KETIKA RINDU BERBALUT DOA
Episode 75 - Calon Isteri


__ADS_3

Lembaran masa lalu yang rapih tersimpan, terbongkar lagi. Nama yang pernah layu ditaman, kini akan merekah kembali. Ternyata pencarian tak henti pada saat itu, dia harus mulai mencari lagi. Kehilangan untuk yang kedua kali, membuatnya semakin ingin memiliki. Kemantapan hati saat ini, membuatnya yakin akan dapat memiliki. Sejauh apapun, tak menghalangi nama yang telah lama disandingi. Ihsan bertekad mencarinya lagi.


"jadi, abang tidak benar-benar mencintai Asma ?" Tanya Raina saat mengobrol dengan Ihsan di balkon kamar, malam hari.


"sebelum dia menjadi calon isteri ku. Aku sudah punya pilihanku sendiri." Jawabnya.


"setelah itu, aku fokuskan hati dan fikiranku untuk belajar mencintai Asma. Benar-benar aku arahkan perasaanku agar keluar dari jalur, perasaan seorang kaka kepada adiknya." Jelas Ihsan.


"Saat ini, aku ingin mencarinya lagi. Dia perempuan yang aku pilih dengan hatiku sendiri." Ucap Ihsan.


"oh, ya ? siapa ?" Tanya Raina.


"kamu pernah mengenalnya sesaat. Kita pernah bermain bersama." Jawab Ihsan.


"saat aku tau dia sudah memantapkan hatinya untuk berhijab, aku memutuskan untuk memilihnya." Jelas Ihsan.


Raina berharap, bahagia akan memihak kepada kakanya saat ini. Tentang luka yang masih diobati dan semangat yang telah berkobar lagi. Semoga usahanya kali ini akan serupa dengan hasilnya nanti.


"maaf ya, aku mengganggu istirahatmu." Ucap Raina sambil meneguk secangkir teh yang disuguhi Asma di saung belakang rumahnya.


"ngga apa-apa, rai. Hari ini, hari pertamaku akan beraktifitas lagi." Jelas Asma.


"nanti aku antar ke masjid ya, sekalian aku mau bertemu bang ihsan." Ucap Raina.


"okey." Sahut Asma.


"kamu ingat teman mainmu dengan bang ihsan, si gadis jepang ?" Tanya Raina.


"kirei ?"


"hem.."


"kenapa ?" Tanya Asma.


"kamu tau dimana dia sekarang ?" Tanya Raina.


"dia sudah kembali kejepang. Dia menitipkan surat.. emh.. setelah aku koma." Jelas Asma.


"ada apa ?" Tanya Asma lagi.


"kamu ngga ada kontaknya ?" Tanya Raina.


"dia belum menghubungiku lagi." Jawab Asma.


"bantu aku temukan dia, ya asma." Pinta Raina.


"ada apa ? bagaimana aku bisa bantu kamu tanpa tau duduk permasalahannya." Ucap Asma.

__ADS_1


"dia seseorang yang diinginkan abang untuk menjadi isterinya. Seseorang yang lebih dulu dia inginkan sebelum kamu." Jawab Raina.


Asma tak memikirkan tentang hal itu. Rasanya terkejut, membuat jantung berdetak lebih cepat. Rahasia yang selama ini tak diketahuinya, bahkan saat dirinya menjadi calon isterinya. Rasa sakit akan tuduhan kepadanya dimasalalu, tumbuh kembali. Curiga terhadapnya, menuduh tanpa bukti. Namun dirinya juga memiliki orang yang dicintai.


"asma.. "


"dia.. dia benar-benar tega." Ucap Asma.


"asma.. aku.. "


"kamu ingatkan, batapa dulu dia mencurigai aku ? rasa tidak percayanya, tuduhannya kepadaku ?" Ucap Asma.


"dia sendiripun menyimpan satu nama dihatinya tanpaku tahu." Ucap Asma.


"tapi asma.. saat itu, dia benar-benar berusaha untuk mencintaimu." Jelas Raina.


"apa kamu fikir aku, tidak ? apa kamu fikir aku bermain-main dengan hal sakral itu ?" Tanyanya.


"tapi.. asma.. "


"sudah. Itu masa lalu. Aku tidak ingin menimbulkan rasa sakitnya lagi. Bagiku itu luka yang sangat perih." Ucap Asma.


"Aku akan coba cari keberadaannya." Ucap Asma sambil menatap lurus kedepan.


Didalam kamar, Asma menatap layar monitor di meja kerjanya sambil mengirim sebuah pesan melalui email kepada Kirei. Sambil berharap, cara itu menjadi jalan menuju titik terang. Raina menunggu sambil melihat pemandangan dari balkon kamar Asma. Indah, menenangkan dan kesejukan udara dirasakannya.


"asma, sebagai sahabatmu. Aku bahagia atas kebahagiaan yang datang kepadamu dan akupun sakit atas kesedihan yang menyelimutimu. Aku berharap, dokter farhan adalah kebahagiaan sampai akhir untukmu." Raina.


"aku sudah coba kirim email ke kirei. Kita tunggu sampai dia membalas." Ucap Asma yang menghampiri Raina.


"terima kasih, asma." Ucapnya.


"aku pun berharap bang ihsan menemukan kebahagiaanya, seperti aku menemukan mas farhan dalam keterpurukanku saat itu." Ucap Asma.


"ya, aku pun begitu." Sahut Raina.


Sore hari sebelum jam mengajar dimulai, seperti biasa para pengajar telah berkumpul di ruangan. Salwa menemui Asyam dihalaman parkir untuk membahas pembuatan spanduk dan name tag para santri. Asyam melepas helmnya saat melihat Salwa mendekat kearahnya. Sambil duduk diatas motor, Asyam melempar senyum kepada Salwa yang semakin dekat kehadapannya.


"sibuk banget." Ucap Asyam yang melihat Salwa melihat lembar laporan sambil berjalan.


"jadi bagaimana ? Bisa disesuaikan dengan keinginan kita ?" Tanya Salwa.


"beres, bu bos. Semuanya aman." Sahut Asyam.


"tadi DP spanduknya pakai uang abang ?" Tanya Salwa.


"iya."

__ADS_1


"nanti kasih ke saya ya, notanya." Ucap Salwa.


"teruuus.. emmhh.. nah ini design name tag yang bang ihsan siapkan." Ucap Salwa sambil menunjukkan.


Bukan hanya melihat kedesign yang Salwa perlihatkan, Asyam mencuri pandang kearahnya. Sambil mendengarkan Salwa yang menjelaskan dengan detail.


"Salwa.. " Ucap Asyam memutus penjelasan Salwa sambil mengambil map yang dipegangnya.


Salwa terdiam, menatap Asyam sambil mundur selangkah untuk menjauh.


"malam itu, saya minta maaf atas sikap saya yang menyakitimu. Apa kamu memaafkannya ?" Tanya Asyam.


"apa sikap saya saat ini kurang jelas untuk menjawab pertanyaan abang ?" Salwa balik bertanya.


"ini jelas dua hal yang berbeda. Kamu bersikap seperti ini karena pekerjaan bukan benar-benar menjawab permintaan maaf saya." Jelasnya.


"ya.. yaa, abang benar. Sepertinya saya terlalu profesional untuk mencampuri urusan pekerjaan dengan urusan pribadi, terlebih jika itu berkaitan dengan hati." Ucap Salwa.


"Ah, sepertinya saya harus menjawabnya dengan jelas agar tidak terjadi kesalahpahaman lagi." Lanjut Salwa.


"saya memaafkan atas kesalahan yang abang lakukan terhadap saya. Saya juga minta maaf karena telah mencampuri urusan hati kedalam pekerjaan dan membuat tidak nyaman." Jelas Salwa.


"mari bekerja sama dengan nyaman, bang asyam." Ucap Salwa.


"ya ?" Asyam terkesima dengan ucapan Salwa yang diluar dugaannya.


"Saya rasa cukup jelas penjelasan tentang name tag dan spanduk tadi. Tolong diurus ya, bang asyam." Ucap Salwa yang langsung berbalik.


Salwa memberhentikan langkahnya saat melihat Asma dan Raina turun dari mobil bersamaan.


"asma.." Bisiknya.


"asma.." Sapanya, menghampiri.


Ada saat dimana cinta berhenti bekerja agar mereka merasa kehilangannya. Salwa menyimpannya rapih didalam hati, tidak menguburnya, juga tidak melupakannya. Hanya menempatkan pada posisi yang sebenarnya untuk saat ini, sebelum cinta itu benar-benar boleh diperlihatkan kepada dia yang dicinta.


Asyam yang semakin gelisah dibuatnya. Gadis yang dulu tak dipandangnya, kini menyita seluruh mata dan fikirannya. Gadis yang berubah dalam petikan jari itu berhasil menggerakkan hatinya.


.


.


.


.


...~Bersambung~...

__ADS_1


__ADS_2