
Gadis itu melangkah membukakan pintu, menyambut kedatangannya sebagai pengajar untuknya. Dengan balutan hijab pasmina dan gamis berwarna biru yang menambah kecantikannya, cerah dan anggun. Itulah yang Asyam rasa saat melihatnya muncul dari balik pintu.
"masya allah..."
"aneh ya bang ?" Tanyanya.
"cantik." Jawabnya.
Yang membuat Ainun tersenyum malu.
"silahkan masuk bang asyam." Ucapnya.
"aku tinggal ambil al qur'an dan buku dulu ya sebentar." Ucapnya.
Ainun meninggalkan Asyam untuk mengambil keperluannya. Tak lama Ainun kembali dengan tas yang disangkutkan kebahu dan membawa nampan berisikan dua cangkir minuman.
"pakai repot-repot."
"ngga ko, bang asyam." Ucap Ainun.
Kegiatan belajar-mengajar telah berlangsung. Asma, Syahrul, Zidan, Salwa, Nadia dan Liya berjalan keluar aula.
"Nadia nanti tolong atur rapat untuk pembagian rapot dan jalan-jalan santri ya. Kita bentuk kepanitiaan dalam satu pertemuan. Kalau bisa saat libur mengajar, kita rapat dari pagi atau siang saja, sampai selesai." Jelas Asma.
"okeh." Sahut Nadia.
"yang lain, nanti disiapkan saja masukan atau usulan yang mau disampaikan." Lanjut Asma.
"aku pamit pulang ya, maaf ngga bisa lama-lama sudah ditunggu." Ucap Asma dengan senyuman.
"iya tau deh yang sudah ada yang nungguin." Ledek Salwa.
Farhan berdiri di sisi pintu untuk membukakan pintu untuk Asma.
Hari-hari dilalui Asma dengan hal-hal baru. Melihat seseorang yang tidur disampingnya saat membuka mata, menyiapkan sarapan untuk suami dan kedua mertuanya, melatih hati untuk dapat menerima Farhan sebagai suami yang harus dicintai sebagaimana mestinya.
Kegiatan belajar-mengajar berlangsung seperti biasa disetiap sore, para pengajar, aktif sekaligus mempersiapkan acara yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Hari libur santri telah ditetapkan, pertemuan panjang dihari itu telah dilaksanakan, berbagai usulan telah diputuskan, tanggal-tanggal kegiatan telah ditetapkan. Semua sibuk mempersiapkan, tak terkecuali Asma yang juga larut dalam tugas dan tanggung jawabnya menggantikan Ihsan sebagai pimpinan Taman Pengajian Al Qur'an.
Disela-sela mengerjakan laporan dimeja kerjanya, Asma kembali teringat masa-masa kerjanya bersama Ihsan diruang ini, juga dengan teman-teman yang lainnya. Kenangan yang memutar masa-masa indah saat Ihsan dan Asma masih berteman seperti biasanya dari sejak kecil. Mengapa hari itu harus terjadi, saat lamaran diberikan kepadanya. Mengapa juga harus ia terima lamaran itu hingga merubah semua. Perubahan baik yang ia inginkan malah menjadi hancur berantakan. Tak hanya keretakan pertemanannya dengan Ihsan, namun juga hingga meretakkan hatinya yang rapuh yang telah lama ia jaga.
Entah bagaimana pertemuan pertama setelah lama berpisah, dengan perpisahan yang menyedihkan dan menyakitkan.
Satu bulan berlalu, Asyam menikmati profesi barunya sebagai guru privat seorang gadis. Anak dari atasan ditempatnya bekerja. Mengenalkan islam lebih dalam dan mengajarkan betapa mulia dirinya sebagai seorang wanita. Perlahan Ainun mulai memahami, banyak kemajuan yang dibuatnya selama belajar bersama Asyam. Pertemanannya semakin dekat, semakin erat. Cara pengenalan diri yang mereka jalani memang tanpa paksaan. Kedua orang tua Ainun yang dulu memaksanya mengenal Asyam, kini menyerahkan sepenuhnya kepada dua insan yang akan terlibat. Tentang hati yang diselimuti cinta memang bukan perkara mudah meski dengan cara memaksa. Hari yang akan dilewati sebagai pasangan bukan hanya hitungan jari. Saling menerima dengan hati adalah jalan terbaik untuk memulai suatu hubungan. Biar lagi takdir yang akan bekerja untuk keduanya.
Asyam mempersiapkan diri untuk berangkat bekerja, tepat dimana saat Salwa hendak mengantar bekal untuk lelaki pujaannya. Di ambang pintu, mereka bertemu. Dua bola matanya saling beradu, menatap satu sama lain.
__ADS_1
"bang asyam." Ucap Salwa dengan gembira.
Asyam mengabaikannya dan melanjutkan langkahnya.
"bang..."
Asyam terhenti dan menoleh kepadanya.
"mmh.. aku... buatin sarapan... untuk bang asyam." Ucap Salwa sambil mengulurkan tangannya yang menggenggam kotak bekal.
"sebelumnya saya minta maaf jika perkataan saya menyakitimu. Tapi saya tidak pernah meminta untuk dibuatkan sarapan oleh kamu." Tegasnya.
"saya harap ini cukup jelas untuk kamu pahami, salwa." Lanjut Asyam yang langsung meninggalkan.
Liya dan Bu Nurlela yang tak sengaja memperhatikan dari dalam, berjalan keluar menghampiri Salwa.
"mba..."
Salwa hanya melirik dan langsung meninggalkan.
Asma dan Farhan sampai di kampus tempat dulu Farhan menuntut ilmu. Farhan yang tak hanya berprofesi sebagai dokter, juga menjadi asisten dosen dikampusnya jika dibutuhkan. Layaknya Farhan yang pernah beberapa kali menemani Asma mengajar, Asma pun ikut melihat kegiatan yang dijalankan oleh sang suami.
Rumor yang tersebar, bahwa Farhan banyak dikagumi mahasiswi ternyata benar adanya. Banyak mata yang memandang kearahnya dan memberi tatapan penuh cinta dan ingin memiliki, meski Farhan telah jelas menggenggam tangan Asma disetiap langkahnya.
Farhan terhenti oleh salah satu mahasiswi berambut panjang, yang cantik dan anggun menggunakan dress. Tangannya menggenggam box persegi berhiaskan pita merah. Dengan senyum manis, ia menyapa Farhan.
"mohon diterima, ka." Ucapnya sambil memberikan sekotak hadiah.
Farhan menoleh kepada Asma. Asma hanya membalasnya dengan senyuman.
"biar saya yang bawakan hadiahnya untuk mas farhan." Ucap Asma, mengambil dan membuat senyum sigadis itu menghilang.
"saya duluan ya, permisi." Ucap Farhan yang kembali melangkah bersama Asma.
Sesampainya diruangan para dosen. Farhan mendapat sambutan hangat. Dihari kedatangannya setelah merubah statusnya, Farhan mengenalkan Asma sebagai istrinya. Para dosen menyambut dengan bahagia, terkecuali beberapa staff perempuan yang mengincar untuk memiliki Farhan.
Farhan mulai memasuki kelas, setelah mengantar Asma keperpustakaan. Tak jarang Asma mendengar bisik-bisik para mahasiswi yang membicarakan tentang dirinya dan juga Farhan. Asma hanya tersenyum mendapati suaminya yang begitu banyak dikagumi banyak wanita dikampusnya.
"serasa punya suami artis." Bisiknya dalam hati.
"aku kira farhan bakal jadi sama xena. Keliatan banget ngga sih, xena berusaha banget supaya bisa dapetin farhan. Ngga nyangka jadinya sama orang lain."
"ngga tau deh sehancur apa perasaan xena. Mereka kan deket banget."
Keceriaan diwajah Asma menghilang berubah menjadi murung. Asma menutup bukunya yang baru saja dibuka.
__ADS_1
"aku kira perpustakaan tempat yang paling tenang."
Asma mengembalikan buku dan keluar perpustakaan untuk mencari musholah. Tak disangka akan bertemu dengannya disini tanpa Farhan. Mereka sama-sama terhenti dan saling bertatapan, hingga akhirnya memutuskan untuk melanjutkan langkah.
"kuat juga ya hati lo berani menginjakkan kaki disini." Ledeknya.
Asma hanya meliriknya tak membalas perkataannya.
"kalo orang ngomong tu dengerin, jangan maen kabur ajah." Ucapnya menarik lengan Asma.
Beberapa mahasiswa mulai memperhatikan.
"lepas." Ucap Asma dengan suara pelan.
"lo pikir lo siapa ? udah merasa jadi nyonya farhan ?" Ucapnya dengan senyuman sinisnya.
"asal lo tau, dipandangan mereka lo itu ngga lebih dari perusak hubungan orang. Ngerti lo ? ngga usah berlaga so anggun." Tegasnya.
"xena..." Teriak lelaki yang berlari menghampiri Asma dan membuang bunga-bunga serta coklat pemberian mahasiswi dikelas.
"ngapain kamu narik-narik lengan asma ?" Tanya Farhan dengan wajah marahnya.
"oh.. mhh.. aku.. cuma.. pegangin asma tadi mau jatoh." Jawabnya.
"kamu ngga apa-apa ?" Tanya Farhan yang hanya mendapat anggukan kepala dari Asma.
"kamu udah selesai ngajarnya ?" Tanya Asma.
"udah."
"aku mau pulang, aku ngga nyaman disini." Jelas Asma.
"yaudah kita pulang, aku pamit dulu ya sama dosen." Ucap Farhan yang langsung membawa Asma dengannya.
"ka, maaf coklat sama bunganya." Ucap mahasiswi dengan membawa coklat dan bunga bersama temanya.
"kalian kasih dia ajah. Dia yang biasa terima coklat dari kalian." Tegas Farhan.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....