KETIKA RINDU BERBALUT DOA

KETIKA RINDU BERBALUT DOA
Episode 21 - Percayaku


__ADS_3

Hari berganti hari, selembar kertas yang ditemukan Asyam diruang secretariat masi ditangannya dan menyimpan segala tanya dihatinya. Inisial didalam surat yang melambangkan huruf A kecil dalam tulisan sambung, membuatnya semakin yakin, kertas itu dijatuhkan Asma untuk dirinya. Entah langkah mana yang harus dipilih, menemui Asma atau langsung mengatakan dengan lantang kepada Ihsan. Mungkin ini hari yang pas untuk bertemu dengannya. Memperjelas semua hal yang masih terlihat semu, menemukan jawaban atas segala tanya yang berkumpul tanpa jawaban.


Asyam melangkahkan kakinya menuju masjid, khususnya ruang sekretariat yang saat ini sedang dilangsungkan pengambilan buah tangan oleh para remaja. Sesampainya disana, ia hanya menemukan Syahrul dan Zidan yang sedang berbincang didalam. Terlihat hanya sisa beberapa kantong yang belum diambil oleh pemiliknya.


“asslamuálaikum..” Ucap Asyam.


“wa’alaikumussalam..”


“sudah selesai ?” Tanya Asyam.


“sudah sih, bang. Tinggal punya Abang, bang ihsan dan asma saja yang belum di ambil.” Jelas Syahrul.


“bang asyam, sekarang sedang ada kerjaan tidak ?” Tanya Syahrul.


“tidak sih. Ada apa ?”Asyam balik bertanya.


“mmh, saya dan zidan ada urusan. Boleh minta tolong jaga disini ? barang kali bang ihsan atau asma ingin mengambil.” Jelas Syahrul.


“iya. Saya juga ingin ketemu ihsan disini.” Balas Asyam.


“maakasih ya bang asyam.” Ucap Syahrul.


“kalau gitu, saya dan syahrul pamit ya, bang.” Lanjut Zidan


“Assalamu’alaikum.”


“wa’alaikumussalam.”


Ihsan yang sedang dalam perjalanan bersama Raina menuju rumah Asma, mendapati pesan pada ponselnya. Dipintanya Raina membacakan pesan yang masuk entah dari siapa.


“dari bang asyam, minta ketemuan di sekretariat katanya.” Jelas Raina.


“yasudah sebentar lagi kita sampai.” Ucap Ihsan.


Ihsan telah memarkirkan mobilnya dihalaman rumah Asma. Kedatangannya disambut oleh Ustadz Hasan yang sedang duduk di teras bersama Bunda Zulfah. Kegembiraan terlukis di wajah Bunda Zulfah menerima pelukan dari Raina.


“Asma dimana bunda ?” Tanya Raina.


“ada dikamar, sana masuk.” Jawab Bunda Zulfah.


“Ihsan ada perlu juga kan ? mau fitting baju ?” Tanya Bunda memastikan.


“iya, bunda. Tapi ihsan mau temuin asyam dulu, sepertinya asyam ada perlu dengan ihsan.” Jelas Ihsan.


“yasudah, sana temui dulu. Jangan lama-lama nanti ada yang rindu.” Ledek Ustadz Hasan.


“ayaah..” Sahut Bunda Zulfah dengan senyuman.


Ihsan pun tersenyum malu.


Asyam berdiri diambang pintu, menantikan kedatangan Ihsan. Hatinya sudah menggebu, semua rasa tercampur menjadi satu. Dzikir terus menghiasi kedua bibirnya, agar hati tetap pada jalur kewarasannya dan Allah lindungi dari syetan yang mengganggu tindakannya. Salam pun terdengar, senyum yang merekah disampaikannya. Keduanya masuk dan duduk bersama. Detak jantung semakin kencang, suhu tubuh tak beraturan, keringat juga mulai bercucuran. Entah harus memulai dari mana, entah bagamana harus meluruskan agar terhindar dari kesalah pahaman.


“ada perlu apa ?” Tanya Ihsan dengan raut wajah yang terlihat bahagia.

__ADS_1


“mmhh .. begini.. mmhh..”


“ada apa sebenarnya ? kenapa kelihatannya sulit sekali menyampaikannya kepadaku.” Ucap Ihsan.


“aku bingung harus mulai dari mana.” Jawabnya.


“ya kalau mulai itu dari awal dong, syam.” Canda Ihsan.


“mmh.. jadi, beberapa hari yang lalu aku berada diruangan ini dengan asma.”


“mhh.. bukan.. bukan. Maksud ku, bukan hanya aku. Aku dan syahrul juga ada nadia, lalu asma menyusul masuk.” Jelas Asyam yang gugup dan gelisah.


“hayolah, sampaikan dengan benar. Langsung saja ke intinya.” Ucap Ihsan yang berusaha menenangkan sahabatnya.


“tinggalkan asma yang tidak mencintaimu.” Tegas Asyam yang mengangkat pandanganya, menatap Ihsan dengan tajam.


“apa maksudmu, syam ?” Ihsan masih bersabar menghadapinya.


“jangan memaksakan hatinya karena paksaan kedua orang tua kalian, san.” Balas Asyam.


“apa yang kau tau tentang asma ? katakana padaku!” Tanya Ihsan.


“dia mencintaiku, sampai kapanpun dia hanya ingin menikah denganku. Kalau pun tidak menikah denganku hatinya akan tetap mencintaiku.” Jelasnya.


“dari mana kau tau semua itu ?” Tanya Ihsan yang mulai merasakan tekanan dalam hatinya.


“dia menjatuhkan surat ini saat dia meninggalkan ruangan ini.” Jawabnya sambil menunjukkan lipatan kertas dihadapan Ihsan.


Ihsan masih menatap Asyam, namun tanganya mengarah untuk mengambil kertas yang ditunjukkannya. Dibukanya perlahan, rasa penasaran dalam hati akan isi dari surat tersebut.


Aku ingin kamu tau, kamu akan selalu ada dalam hatiku


Aku berharap aku dan kamu dapat menjadi “KITA”


Dimasa yang akan datang


***                                                a-***


“tidak ada lagi diantara kita yang berinisial A selain asma.” Lanjut Asyam.


Ihsan mengembalikan kertas itu tanpa berkata apapun. Sekali lagi dia tatap mata Asyam dengan tatapan yang berbeda. Ihsan pun melangkah meninggalkan Asyam. Langkah kakinya cepat menuruni satu persatu anak tangga.


“san.. ihsan..” Panggil Asyam yang tak dihiraukan oleh Ihsan.


Hatinya terbakar cemburu, kesal dan amarah menjadi satu. Bimbang yang beberapa saat lalu dirasa, telah hilang saat mendengar kata yang begitu yakin terlontar dari bibirnya. Rasa bahagia yang baru saja dirasa kini hancur. Bunga-bunga yang menghiasi hati kini mulai layu. Ihsan berusaha mengatur nafas dan raut wajahnya untuk masuk ke rumah Asma dan menemuinya di kamar untuk fitting baju pengantin.


Suara ketukan pintu terdengar. Asma yang sedang berdiri didepan kaca menoleh kearah pintu, begitupun Raina yang sedang memegang gaun di atas kasur. Wajah lesuhnya terlihat, tak dapat disembunyikan. Senyum yang  merekah pada bibir Asma mulai memudar saat mendapati wajah Ihsan.


"bang ihsan, cepat sini. Cobain bajunya." Ucap Raina dengan gembira.


"abang kenapa ? apa ada masalah ?" Tanya Asma mendekat sambil mengangkat gaun yang dikenakan.


Ihsan menatapnya, hatinya mulai menerka-nerka, prasangka buruk mulai merajalela. Seolah Asma telah mengetahui namun pura-pura bertanya, mengikuti alur cerita.

__ADS_1


"kamu sudah yakin akan mengenakan gaun itu ?" Tanyanya.


Asma menunduk, memperhatikan gaun yang dikenakannya.


"ada yang salah kah dengan gaunnya ?" Asma balik bertanya.


"kamu sudah benar yakin dengan keputusanmu menerima lamaranku ?" Tanya Ihsan yang menundukkan pandangannya.


"abang nih kenapa sih ?" Ucap Raina.


"kamu diamlah."


"jawab pertanyaanku." Ucap Ihsan kepada Asma.


Asma merunduk, setengah duduk menghadap kepada Ihsan.


"jika asma tidak menginginkan, asma tidak akan menerimanya, bang. Pernikahan ini bukan bukanlah permainan." Jawab Asma menatap wajah Ihsan yang masih tertunduk.


"lantas kenapa kamu menantikan kehadirannya ? mengharapkan menjadi pendampingmu di masa yang akan datang. Itukah yang kamu maksud dengan menginginkan ?" Tegas Ihsan.


Dahinya mengkerut, berusaha mencerna setiap perkataan yang Ihsan lontarkan.


"apa yang abang maksud ? tuduhan apa yang abang tujukan kepada asma ?" Tanya Asma.


"kamu pasti lebih tau daripadaku, asma. Batalkan pernikahan ini jika kamu menginginkan dirinya." Ucap Ihsan.


"siapa yang bang ihsan maksud ?" Tanya Asma.


"bang asyam kah ?" Tanyanya lagi.


"kamu lebih tau jalan cerita ini dari pada aku, asma." Ucap Ihsan.


"aku akan menolak abang jika aku tidak menginginkan. Aku sudah yakin dengan keputusanku, aku sudah yakin dengan hatiku untuk menerima abang." Jelas Asma.


"kau tidak akan mengirimkan surat itu jika kamu benar-benar menginginkanku." Tegas Ihsan.


"surat ?" Asma berfikir dengan satu kata itu.


"surat apa yang abang maksud ? asma benar-benar tidak mengerti dengan percakapan ini bang." Pinta Asma.


"Jelaskan baik-baik pada asma bang, asma tidak pernah mengirimkan surat apapun kepada siapapun." Tegas Asma.


"kau fikirkan kembali baik-baik, jika kau menginginkannya aku siap melepasmu." Ucap Ihsan.


"aku pergi, ada urusan. assalamu'alaikum." Ucap Ihsan meninggalkan Asma dan Raina.


Masih jelas terlihat punggung yang meninggalkannya tersungkur sendiri, sambil menerima panggilan ditelpon genggamnya. Raina mendekati asma yang duduk dalam tangisan. Masih jelas terngiang suara Ihsan yang mengatakan akan melepaskannya, masih tak dapat dimengerti setiap kata yang sedari tadi diungkapkan. Apa yang sebenarnya terjadi, masalah apa dan kabar apa yang menyangkut dirinya yang Ihsan dapati.


"nanti aku akan bicarakan dengan abang, aku akan cari tau cerita yang sebenarnya. Kamu tenang ya." Ucap Raina sambil memeluk Asma.


Ihsan tak berbohong tentang urusannya. Hadiah yang disiapkannya untuk Asma mengalami sedikit masalah. Temannya memintanya untuk datang dan berdiskusi untuk merevisi. Masih dalam suasana hati yang kacau, entah harus bahagia, marah atau harus bersedih.


Raina membiarkan Asma tetrtidur di kamar untuk menenangkan hati dan fikirannya. Tak lama Raina keluar dari kamarnya, telepon Asma bergetar menandakan panggilan masuk. Telepon itu terus bergetar di atas meja dengan bertuliskan "Safaraz". Tak ada panggilan yang terjawab. Raina yang masih menuruni tangga, menerima panggilan masuk dari sang kaka. Wajahnya tersenyum senang, namun kabar yang tak mengenakkan yang didapatinya.

__ADS_1


"innalillahi..." Ucapnya sambil meneteskan air mata.


Bersambung....


__ADS_2