
"aku berharap Allah menghadirkan cinta dihatiku untukmu, agar aku dapat berdamai dengan masa lalu tanpa takut akan menggangguku." Bisik Asma dalam hatinya sambil berbincang dengan Farhan ditelepon.
-via telephone-
Asma : kapan kamu pulang, mas ?
Farhan : aku akan pulang jika kamu merindukanku.
Asma : aku merindukanmu, mas.
Farhan : aku ingin mendengarnya langsung dihadapanku. Tunggu aku pulang.
Pagi menjadi awal baru bagi Asma setelah badai kesedihan melandanya kemarin. Mama dan Papa yang sangat menyayanginya, menyambut kedatangannya dengan hangat di meja makan.
"sini sayang.." Ucap Mama Fara dengan senyuman ramahnya mengajak Asma sarapan.
"maaf ya, ma, pa. Asma terlambat." Ucap Asma.
"ngga ada terlambat-terlambatan. Ayo cepat dimakan, habis ini kita pergi, papa akan ajak kalian jalan-jalan." Ucap Papa Hanif, semangat.
"Terima kasih, ya Allah. Kau masih mengkaruniai kebahagiaan dalam hidupku. Mertua yang sangat menyayangiku, meskipun belum sama sekali mengenal diriku, mereka begitu sangat menerimaku." Batinnya.
Mereka bersiap untuk pergi, Papa Hanif memimpin menuju mobil dihalaman. Mama Fara dan Asma begitu bahagia menjalani hari ini. Mama Fara duduk didepan bersama dengan Papa Hanif, Asma duduk seorang diri dibelakang sambil membaca Al Qur'an dan menikmati hembusan angin dari jendela yang sedikit dibukanya.
Tanpa sepengetahuan Asma, Mama Fara memanggil Farhan via video. Mama mengarahkan kamera kepada Asma yang terlihat begitu teduh saat membaca Al Qur'an. Mama dan Farhan saling tersenyum bahagia, begitupun Papa Hanif yang juga tersenyum tanpa melepas fokus dalam mengemudi.
"asma.." Panggilnya.
"mas farhan ? apa aku benar-benar merindukannya, sampai saat membaca al qur'an pun suaranya terdengar jelas ditelingaku." Bisiknya dalam hati.
"istriku..."
Asma mengangkat pandangannya dan menemukan ponsel yang muncul dari kursi Mama.
"nih kamu pegang." Ucap Mama memberikan dengan senyum bahagianya.
Melihat anak semata wayangnya yang begitu bahagia mendapat istri seperti Asma.
-via video call-
__ADS_1
Asma : ada apa mas ?
Farhan : saya mau menyapa seseorang yang sudah mulai bisa merindukan saya.
Asma : (tersenyum) bagaimana keadaan para korban disana ?
Farhan : alhamdulillah semua teratasi dengan baik. Saya akan mengurus kepulangan beberapa hari lagi ya, jadi tunggu saya.
Xena : Farhan, ayo makan. Aku udah siapin makanan buat kamu. Kamu lagi video call ya. Hai asma, farhannya aku pinjem dulu yaa kita mau makan dulu sebelum tugas.
"ma, ini handphone-nya. Mas farhan mau pamit." Ucap Asma memberikan ponsel kepada Mama tanpa memperdulikan Xena.
Farhan sangat marah dengan kelancangan Xena yang menganggap dirinya berhak berlaku apapun terhadap Farhan dan keluarganya.
"saya ngga suka ya sama sikap kamu yang seenaknya begitu." Tegas Farhan.
"farhan, aku kan cuma ngingetin kamu untuk makan dan aku cuma mau menyapa supaya akrab dengan istri kamu." Ucap Xena.
"ngga perlu, xena." Ucapnya lalu pergi meninggalkan Xena.
Xena terlihat kesal dan sangat marah dengan sikap dingin Farhan terhadapnya.
Mama Fara, Papa Hanif dan Asma telah sampai disebuah Mall besar. Dengan gembira mereka melangkah sambil tertawa. Beberapa paper bag telah menyangkut ditangan masing-masing. Setelah lelah berkeliling, mereka memutuskan untuk mencari tempat makan yang enak dan nyaman untuk dikunjungi.
"ayo, dimakan. Habis ini papa akan ajak kalian ke pantai, sambil melihat matahari terbenam." Ucap Papa Hanif.
"waah.. bener nih, pa ? waa mama seneng banget. Hari ini seperti hari spesial untuk keluarga kita, tapi sayangnya farhan ngga bisa ikut ya, pa." Ucap Mama Fara.
"papa ingin memberikan penyambutan untuk kedatangan asma. Kemarin-kemarin kan papa sibuk jadi tidak bisa jalan-jalan bersama. Yah, nanti kita adakan acara lagi, papa akan atur jadwal dengan farhan supaya bisa sama-sama." Jelas Papa.
"terima kasih ya, pa. Asma benar-benar bahagia bisa menjadi bagian dari keluarga papa dan mama." Ucap Asma.
"asma, kamu tau ? papa itu bukan orang yang mudah ramah dengan orang lain. Papa itu sama seperti farhan yang cuek dan dingin, apalagi terhadap perempuan. Mama yakin banget farhan itu nurunin papanya." Jelas Mama.
Asma hanya tertawa kecil mendengarnya. Papa tersenyum saat Mama melirik, menggodanya.
"makanya, mama tenang dan senang sekali papa bisa menerima kamu dan baik sama kamu. Karena dengan Xena papa ngga pernah bersikap seperti ini, meskipun xena itu sudah berkali-kali datang kerumah." Lanjut Mama.
"papa itu hanya akan menerima istri sah dari farhan." Ucap Papa.
__ADS_1
"pa ? saat mas farhan memutuskan untuk menikahi asma, apa yang membuat papa menyetujui ? padahal pasti papa tau asma sedang koma dan asma bukan seseorang yang mas farhan kenal." Tanya Asma.
"papa percaya, farhan tahu yang terbaik untuk dirinya. Tindakan yang dia ambil saat itu pasti karena dia merasakan sesuatu pada hatinya. Papa tidak bisa memaksa farhan untuk menikahi gadis pilihan papa jika hatinya tidak menerimanya." Jelas Papa.
"iya, asma. Saat itu mama juga sudah menasehatinya. Tapi farhan telah yakin pada pilihannya, mama dukung keputusannya. Karena pernikahan ini dia yang menjalani, jadi kami menyerahkan sepenuhnya kepada farhan." Ucap Mama.
"Tuhan mengabulkan doa kami. Kami mendapat menantu yang luar biasa." Ucap Mama Fara.
Terlukis kebahagiaan diwajah keduanya. Asma layaknya seorang putri yang mereka dambakan. Putri yang mereka harapkan. Mama Fara tak lagi merasa kesepian, meski terkadang Asma sering keluar untuk kegiatannya.
Sore itu pantai yang dikunjungi tak begitu ramai pengunjung, bisa terhitung dengan jari. muda-mudi yang sedang jatuh cinta, lebih mendominasi. Diselembar tikar, Papa, Mama dan Asma menikmati senja disore hari. Ditemani sebutir kelapa muda yang menambah kenikmatan sore ini.
Mama, papa, menikmati kelapa berdua, seolah bernostalgia saat mereka muda. Rasa bahagia mereka seperti tersalur dalam diri Asma.
"suasananya pas sekali kalau kamu kesini dengan farhan. Tuh lihat, semua pasangan muda." Ucap Papa.
"habis ini papa akan kasih kejutan untuk kalian." Lanjut Papa.
"jangan repot-repot, pa. Asma dan mas farhan merasa bahagia bisa berada bersama mama dan papa." Ucap Asma.
"kalian ngga boleh menolak apa yang ingin kami berikan." Ucap Mama dengan senyuman.
Asma tersenyum malu. Allah begitu baik menghadirkan mereka dalam hidup Asma. Nikmat yang tak semua orang dapat merasakannya, kasih sayang mertua layaknya orang tua kandung.
"Tuhan buat aku menjadi manusia yang tak lupa bersyukur atas nikmat-Mu. Kebahagiaan ini, orang-orang baik disekelilingku." Batin Asma.
"Asma belum datang ?" Tanya Ihsan saat bertemu dengan Nadia yang ingin masuk kedalam aula.
"dia izin hari ini, sedang ada acara." Jawab Nadia.
"tumben, ngga biasanya." Ucap Ihsan.
"saya masuk dulu ya, bang." Ucap Nadia menghindari, agar Ihsan tak banyak bertanya padanya.
.
.
.
__ADS_1
.... . . Bersambung . . ....