KETIKA RINDU BERBALUT DOA

KETIKA RINDU BERBALUT DOA
Episode 33 - Kasih Ibu


__ADS_3

"bang asyam.." Sapa Ainun.


"ainun, ko kamu ada disini ?" Tanya Asyam.


"iya, bang. Kebetulan tadi ainun lewat sini, jadi sekalian mampir." Jawab Ainun.


"wah tapi saya mau mengajar." Ucap Asyam.


"ngga apa-apa, bang. Saya cuma mau menyampaikan salam dari papa. Papa mengundang bang asyam untuk makan malam." Jelas Ainun.


"kapan ?" Tanya Asyam.


"hari sabtu, bang." Jawab Ainun.


"baiklah, insya allah saya datang. Sepertinya sih ngga ada kegiatan." Ucap Asyam.


"ka asyam.. ayoo ngaji." Ucap dua laki-laki kecil yang merengek dikedua lengan Asyam.


"iya ayo, kita udah siap nih." Lanjut bocah laki-laki yang satu.


"wah, maaf ya ainun saya harus masuk." Ucap Asyam.


"iya, bang asyam. Saya pamit ya. Assalamu'alaikum." Ucap Ainun.


"wa'alaikumussalam."


Asyam melangkahkan kaki kedalam didampingi kedua bocah kecil yang nampak bahagia menyambut dirinya. Telah siap beberapa lingkaran dengan diisi oleh para pengajar masing-masing. Setiap lingkaran berisi sesuai dengan tingkat kelas. Kecuali SMP dan SMA, jumlah mereka memang tidak sebanyak anak-anak. Biasanya Nadia mengajar santri SMP dan Asma mengajar santri SMA. Tapi tidak jarang juga mereka menggabungkan kelompok jika salah satunya tidak dapat hadir mengajar. Seperti saat ini, saat Asma terbaring koma dirumah sakit. Banyak doa yang terucap untuk asma, terlebih dari para santri yang merindukan kehadirannya.


Sepulang dari kerja, Ustadz Hasan langsung menemui sang istri dirumah sakit. Tak sabar juga Ia ingin mengetahui kabar sang putri. Berharap keajaiban menghampiri putri kesayangannya saat lelahnya Ia bekerja.


Rasa rindu menghantui saat-saat Asma menyambutnya selepas dari lelahnya dunia luar. Rumah yang menjadi tempat ternyaman untuk pulang. Rumah yang didalam ada hangatnya penyambutan, rumah yang didalam nya ada orang yang menunggu kehadirannya. Saat ini menjadi rumah yang sunyi, sepi, tiada canda dan tawa. Jangankan tentang canda, tawa, senyum pun tak ada karena saat ini rumah itu tak berpenghuni.

__ADS_1


Ustadz Hasan dan Bunda Zulfah lebih banyak menghabiskan waktu dengan sang putri di rumah sakit. Meski dapat berjaga secara bergantian, namun untuk apa dirumah sendiri. Rumah yang nampaknya terlihat hangat, namun terasa dingin tanpa kehadiran keluarga yang menghangatkan. Rumah sakit yang terlihat dingin, namun nyatanya lebih menghangatkan karna kehadiran sosok orang-orang terkasih.


Meski ujian ini datang karena rasa sayang dari Tuhan, namun rasanya ingin cepat juga ujian ini berlalu berganti dengan Kasih Sayang Tuhan dengan cara lainnya.


"ayah, diminum dulu teh nya." Ucap Bunda Zulfah menyuguhkan secangkir teh kepada Ustadz Hasan yang sedang duduk di sofa sambil memandangi Asma.


"kapan ya, bund kita bisa dengar suara asma lagi ? ayah rindu sekali." Ungkapnya dengan kesedihan.


"kita semua juga menginginkan, yah. Yang bisa kita lakukan hanya sabar dan terus berdoa." Sahut Bunda Zulfah.


"tadi sore teman-teman dari masjid menjenguk asma. Mereka pun rindu." Lanjut Bunda Zulfah.


"ayah." Panggilnya sambil memegang lengan Ustadz Hasan.


"ada apa, bunda ?" Tanya Ustadz Hasan sambil menaruh secangkir teh.


"mmh, ayah masih ingat tentang dokter farhan yang menanyakan asma kan ?" Ucap Bunda Zulfah.


"maksudnya ?" Tanya Ustadz Hasan.


"atas dasar apa ayah harus mempertimbangkannya ?" Ustadz Hasan balik bertanya.


"yah, yang bunda amati, jemari asma itu selalu merespon dengan sentuhan dokter farhan. Mungkin saja itu bertanda kalau asma membuka hati dan menerimanya." Jelas Bunda Zulfah.


Ustadz Hasan terdiam.


"tadi sore dokter farhan memeriksa keadaan asma, hasilnya sama. Jemari asma bergerak lagi, bahkan lebih dari itu. Asma sempat membuka mata dan menarik nafas panjang, meskipun habis itu tidak sadarkan diri lagi. Tapi detak jantunganya kembali normal." Jelas Bunda zulfah.


"Allahu Akbar.." Ucap Ustadz Hasan.


"hal ini ngga terjadi pada ayah ataupun bunda kan ? entah ini sebuah tanda atau hanya kebetulan saja, yah. Jemari asma bergerak hanya kepada dokter farhan dan dokter farhan juga menanyakan tentang asma." Jelas Bunda Zulfah.

__ADS_1


"dia ngga mungkin ngga tau siapa asma kan, bund ? dia itu keponakannya ustadz rehan, mana mungkin hal sebesar ini keluarganya tidak tahu." Ucap Ustadz Hasan.


"mungkin saja, ayah. Mungkin farhan memang tidak tahu sosok asma, dia hanya sekedar tau nama asma sebagai calonnya ihsan." Balas Bunda Zulfah.


"yasudah, ayah istirahat dulu. Kalau mau makan, makanannya ada di meja. Bunda izin keluar sebentar ya.." Ucap Bunda Zulfah.


"oh iya, nanti malam kita diminta untuk keruangan dokter farhan." Lanjut Bunda Zulfah sebelum membuka pintu dan melangkah keluar.


"iyah." Sahut Ustadz Hasan.


Bunda Zulfah duduk dipinggir taman, sekedar menghirup udara segar untuk menenangkan fikiran. Hatinya begitu yakin untuk menghadirkan Farhan dalam hidup Asma. Namun keputusan yang akan diambil tanpa sepengetahuan Asma, akankan membuahkan hasil yang baik ? Akankah Asma akan setuju saat sadar dan menerima kehadiran Farhan yang sama sekali belum dikenalnya ?. Persiapan pernikahan yang sudah dilakukan jauh hari juga telah sampai didepan mata. Entah harus diapakan semua itu jika pernikahan tidak jadi digelar. Ingin marah, terlebih kepada calon pengantin pria. Namun kebahagiaan Asma lebih utama baginya. Lebih baik Bunda yang menanggung malu daripada harus mengorbankan kebahagiaan sang putri. Sangat kecewa, kesal, sedih, semua rasa bercampur saat. Ditambah dengan keadaan Asma yang masih terbaring lemah.


"kalau saja asma ada bersama bunda, bunda bisa melihat senyuman dan mendengar suara mu, bunda pasti akan lebih kuat menghadapi ini, nak. Tapi bunda rasa ini juga lebih baik dengan kamu yang ngga sadarkan diri, agar kamu tidak ikut menanggung dan merasakannya, sayang. Bunda yakin ini adalah jalan terbaik yang Allah tetapkan untuk asma. Bagaimanapun, asma tetaplah putri yang sangat bunda sayangi." (Bunda Zulfah).


Waktu terus berputar, jam menunjukkan pukul 20.00. Bunda Zulfah dan Ustadz Hasan telah menunggu panggilan di depan ruang Dokter Farhan. Duduk berdampingan, saling bergandeng tangan, seolah saling menguatkan. Tidak ada yang tahu di balik tubuh yang terlihat kuat terdapat hati yang sedang hancur, begitu rapuh dengan keadaan anak semata wayangnya.


"keluarga nona asma." Panggil suster.


Bunda Zulfah dan Ustadz Hasan duduk berhadapan dengan dokter Farhan. Hati sambil berharap agar mendapat kabar yang menyenangkan.


"selamat malam, pak, bu." Ucap Farhan.


"malam, dok." Balas Bunda Zulfah.


"saya ingin menyampaikan kondisi asma saat ini." Ucap Farhan.


Bunda Zulfah dan Ustadz Hasan saling menatap, dihati penuh tanya, kabar apakah yang akan disampaikan Farhan kepada mereka. Harapan kali ini akan kah hancur seperti sebelumnya, kabar saat ini akankah masi tetap sama seperti sebelumnya.


"bagaimana, dokter keadaan anak saya ?" Tanya Bunda Zulfah.


"apa tidak ada cara agar asma bisa sadar dari koma nya ?" Ustadz Hasan ikut membuka suara.

__ADS_1


Dokter Farhan diam menatap keduanya, dua wajah yang terlihat penuh harap akan kesembuhan sang putri.


Bersambung....


__ADS_2