
Sesak, itu yang pertamakali dirasanya. Telepon yang digenggamnya jatuh hingga tangga terakhir, tubuhnya lemas diatas tangga sambil menggenggam besi-besi kecil disisi tangga. Bunda Zulfah yang mendapati telepon yang tergeletak di lantai, terkejut dan langsung mengambilnya. Lalu berlari kecil menghampiri Raina yang menangis tersedu di tangga.
"astaghfirullah, raina kamu kenapa ?" Tanya Bunda Zulfah khawatir.
"abang.. " Ucapnya dalam pelukan Bunda bersama tangis.
"abang kecelakaan. Bang ihsan kecelakaan bunda. Raina takut, raina ga mau abang kenapa-kenapa." Jelasnya dengan tangis yang semakin menjadi.
"Innalillahi wa innailaihi rooji'un." Ucap Bunda Zulfah, memeluk Raina erat.
"kabari ummi dan abi ya, nanti kita susul kesana. Bunda kasih tau asma dulu." Jelas Bunda yang bergerak ingin bengkit.
"jangan bunda, jangan kasih tau asma. jangan kasih tau ya, bunda. Raina takut asma ga bisa terima kabar ini. kita lihat kondisi bang ihsan dulu ya, bunda. jangan kasih tau asma." Pinta Raina sambil menggenggam lengan Bunda.
"iya, iya , sudah. Bunda tidak kasih asma." Balas Bunda Zulfah.
"kita turun ya, kabari kedua orang tuamu, biar nanti abi yang akan antar kamu kerumah sakit." Jelas Bunda Zulfah.
Syahrul dan ZIdan melanjutkan obrolannya di penjual es kelapa muda. Teriknya panas siang ini memang sayang sekali jika dilewatkan tanpa segelas es kelapa muda yang menyegarkan tenggorokan. Lumayan juga untuk menyegarkan hati yang sedang gelisah, sambil melihat orang-orang yang berlalu lalang.
"ayo lanjutkan lagi ceritamu. Mantanmu masih menginginkanmu, lalu.. ?" Ucap Zidan.
"iya, jadi dia mantan yang dulu ku lepas karena hijrahku. Memang tidak ada masalah yang membuat kita pisah, selain bapaknya yang melarang hubungan kami, lantaran aku yang masih belum punya kerjaan tetap." Jelas Syahrul.
"berarti bapaknya tidak suka denganmu ?" Tanya Zidan sambil menikmati kelapa didalam mulutnya.
"bukan, bukan tidak suka. Bapaknya baik, hanya saja saat itu tidak meerestui saja hubungan kami. Bapaknya tetap bersikap baik padaku, tidak ada sikap yang buruk dari keluarganya terhadapku. Hanya beliau menginginkan yang terbaik untuk putrinya." Jelasnya.
"terus sekarang dia mau menikah ?" Tanya Zidan.
"sepertinya. Kabarnya dia dijodohkan, tapi aku belum tau pasti juga. Nanti aku coba bertanya pada asma, mungkin mereka masih berkomunikasi." Jawab Syahrul.
"aku hanya takut, kalau dia tidak bersama dengan lelaki yang baik." Ucap Syahrul yang pandangannya lurus kedepan.
"terus menurutmu kamu lelaki yang baik ?." Tanya Zidan.
"bukan.."
"jangan takabur kamu, rul." Lanjutnya.
"aku tidak takabur dan bukan itu maksudku." Balas Syahrul.
"terus apa ?"
"ah sudahlah." Ucap Syahrul yang langsung berdiri dan menuang sisa es kelapa digelasnya kepada gelas Zidan dan langsung meninggalkannya.
"hey.. ko pergi ? hey.. aku hanya bercanda." Ucap Zidan.
"syahrul.. tunggu, "
"bang, makasih." Ucap Zidan yang menyusul Syahrul.
__ADS_1
Salva, Silvia, Sulton, Hamid dan Liya sedang mempersiapkan lembar soal untuk ujian semester untuk para santri di pengajian. Semua Fokus pada tugas masing-masing, hingga semua kericuhan didalam kepala berakhir saat makanan datang.
"ini dia yang ditunggu-tunggu." Ucap Sulton.
"Tau, hamid lama nih." Canda Salva.
"antri tau." Sahutnya.
"yasudah dibereskan dulu berkas-berkasnya, dipinggirkan. Kita isi tenaga dulu." Ucap Liya.
"ko tumben ka asma ga kesini ya." Ucap Salva.
"mungkin lagi sibuk kali. Memang ada perlu apa ?" Tanya Liya.
"ngga ada si, seru ajah gitu kalau ada ka asma." Jawab Salva.
Liya hanya membalas dengan senyuman. Memang benar, Asma mempunyai power yang tak dimiliki teman-teman yang lainnya. Energi positif, kedamaian yang dirasa saat berada didekatnya sangat tersalurkan oleh orang-orang disekitarnya.
"assalamuálaikum.." Ucap suara ceria yang memecah gema diruang sekretariat.
"wa'alaikumussalam.."
"wah .. lagi pada makan-makan nih.." Ucap Salwa yang tiba-tiba datang.
"yah ka salwa telat nih." Sahut Salva.
"ada ka asma ga ?" Tanya Salwa.
"hmm.. yasudah. Aku mau kasih kertas soal aku aja, buat santri-santri ulangan." Ucap Salwa.
"sini ka, biar liya terima, nanti kita urus kalau sudah selesai." Ucap Liya.
"okey.." Balas Salwa memberikan map cokelat kepada Liya.
Ba'da Ashar, Asma tersadar dari tidurnya. Rasa Sedih yang sempat hilang, kini kembali dirasanya. Kejadian tadi siang teringat kembali, membuat dirinya tak bersemangat. "memang benar, ada saja ujian menjelang pernikahan.". Asma mencoba menenangkan hati dan fikirannya dengan mandi dan berwudhu. Dengan tubuh yang pasrah beribadah kepada-Nya. Berserah diri, dan meminta segala yang terbaik untuk kehidupan yang dijalaninya. Kembali teringat, berapa lama Ia menginggalkan sahabatnya sendirian dirumanya. Asma keluar dari kamar, untuk mencari Raina. Namun yang ditemukan, kekosongan pada rumahnya. Jangankan Raina, Ia juga tak menemukan ayah dan bundanya. satu persatu ruangan dicarinya, tersisa satu kamar yang belum dibukanya.
"bunda.." Panggilnya sambil mengetuk pintu.
"masuk, nak." Sahut bunda dari dalam kamarnya.
Terlihat masih rapih dengan balutan mukenah dan duduk diatas sajadah. Asma menghampiri dan duduk dihadapannya.
"bunda, raina kemana ?" Tanya Asma.
"raina .. mmh.. tadi dia pamit pulang karena ada urusan diantar sama ayah." Jelas Bunda perlahan.
"Bang Ihsan juga ?" Tanya Asma.
"bang ihsan... kalau ihsan... "
"bunda kenapa sih ?" Tanya Asma.
__ADS_1
"kalau ihsan belum kesini lagi sejak pergi tadi." Jawab Bunda.
"hmm.. pantes sepi banget." Sahut Asma dengan nada yang bermanja.
"bunda, asma izin mau ke masjid ya. Mau urus keperluan ujian para santri." Jelas Asma.
"iya. hati-hati dijalan ya, sayang." Ucap Bunda Zulfah sambil mengecup kening Asma.
Bunda Zulfah sangat memikirkan perasaan Asma jika dia tau keadaan Ihsan yang sebenarnya. Bunda Zulfah telah menerima telepon tentang kabar Ihsan dirumah sakit, terjadi keretakan pada tulang leher dan patah pada tulang kakinya. Bunda Zulfah yang mendengarnya dari Ustadz Hasan sangat terkejut dan teriris hatinya. Tapi bagaimana pun, cepat atau lambat kabar ini juga akan terdengar oleh Asma. Bunda Zulfah hanya berharap Asma akan kuat menerimanya.
Dengan berat hati, Ustadz Hasan pamiit kepada Ustadz Rehan dan Ihsan. Hatinya juga sedih melihat calon menantunya yang terbaring lemah dan merasakan sakit disekujur tubuhnya.
"Ihsan, istirahat yang baik ya, nak. Dengarkan dan lakukan saran dari dokter untuk kesembuhanmu." Pesan Ustadz Hasan.
"terima kasih, abi. Ihsan mohon maaf sama abi, kalau ihsan ada salah. Sampaikan juga maaf ihsan kepada asma. Jangan bawa asma menemui ihsan, abi." Ucap Ihsan yang terbata-bata dengan balutan gips di leher dan kakinya.
Raina terisak, menangis dalam pelukan Ustadzah Asyha.
"jangan fikirkan apapun, istirahatlah dan cepat sembuh. Asma pasti akan senang dan bagaimanapun, kabar ini pasti akan sampai ketelinga asma. Abi tidak dapat menjamin apapun." Jelas Ustadz Hasan.
"kamu pasti sembuh, nak. abi akan usahakan semampu abi untuk kesembuhanmu." Ucap Ustadz Rehan, menyemangati.
"terima kasih, abi." Ucap Ihsan yang pandanganya masih lurus menatap langit-langit.
"abi antarkan ustadz hasan ke parkiran dulu ya." Ucap Ustadz Rehan.
Malam ini, pengajian anak-anak libur hingga 3 hari kedepan. Menjelang ujian, para santri diberikan waktu santai untuk mmneyegarkan fikiran ataupun belajar untuk mempersiapkan ujian. Asma yang berada di sekretarian ditemani oleh Salwa dan juga Nadia. Fokus pandangannya masi tertuju pada layar komputer. Salwa asik dengan gedgetnya, Nadia fokus membereskan map-map para guru yang berisikan soal-soal.
"tadi siang aku bertemu syahrul, ma." Ucap Nadia.
"ciee.." Ledek Salwa yang masih tetap memandangi layar handphonnya.
"apa sii.. diam kamu, ikut-ikut saja." Ucap Nadia.
"kenapa ?" Tanya Asma yang mengalikan pandanganya kepada Nadia.
"dia nyariin kamu." Jawab Nadia sambil menumpuk map.
"cemburu ?" Ledek Asma.
"hahahaaa.." Tawa Salwa.
"ko kamu jadi ikut-ikut salwa si,ma." Ucap Nadia.
"terus kenapa donk kalau dia nyariin aku ?" Tanya Asma.
"ada perlu katanya. Tapi aku ga tanya-tanya lagi." Jelas Nadia.
"tolooong..." Ucap seorang perempuan tersungkur dengan tas ranselnya, mengejutkan seisi ruangan.
Bersambung.....
__ADS_1