KETIKA RINDU BERBALUT DOA

KETIKA RINDU BERBALUT DOA
Episode 17 - Liburan


__ADS_3

Asyam, Salwa dan Liya tengah menunggu kedatangan Asma di teras masjid. Tak lama, mobil pun masuk ke halaman masjid yang menandakan kedatangan Asma. Semua pun turun dari mobil, termasuk juga Ihsan yang ikut dengan mobil Ustadz Hasan. Semua pun berkumpul.


"ayah, asma berangkat dulu ya." Ucap Asma.


"kamu naik motor sama aku asma, liya sama bang asyam." Jelas Salwa.


"lhoo, kamu tidak ikut, san ?" Tanya ustadz Hasan.


"tidak, abi." Jawab Ihsan.


"kamu ikut saja, jagain asma. Bawa mobil abi, biar semua naik mobil saja." Jelas ustadz Hasan.


Ihsan tak bisa menolaknya. Dan akhirnya, Ihsan ikut memesan tiket kereta bersama. Asyam duduk di depan bersama dengan Ihsan. Asma, Salwa dan Liya duduk berdampingan dibelakang.


Perjalanan hening, tak ada yang berbicara. Suasanya menjadi tegang dan canggung. Ihsan yang masih menyimpan rasa tidak enak hati kepada Asyam dan Asna. Salwa yang sedang merasa bahagia menghabiskan malam bersama Asyam dan bisa semakin dekat dengan Liya. Asyam yang masih menyimpan rasa sakit atas kabar khitbah dari Asma. Liya yang tak tau harus bersikap seperti apa terhadap orang-orang yang baru di kenalnya dan Asma yang masih memikirkan jalan cerita Tuhan yang di tulis untuknya.


Matanya terus menatap keluar jendela, menikmati warna-warni lampu di pinggir jalan, pejalan kaki dan orang-orang yang masih mencari nafkah untuk keluarga. Semua orang mempunyai ceritanya sendiri, beban yang harus dipikul, rasa bahagia, sedih, kecewa dan semua rasa dengan porsi yang berbeda-beda. Tetapi Asma percaya, semua telah Allah bagikan dengan kemampuan masing-masing. Dan dirinya saat ini, Allah lebih tau bahwa dirinya mampu. Mobil telah berhenti dan masuk dalam area parkir. Tiba-tiba ada yang mengetuk kaca, memecah lamunannya.


"asma.." suaranya samar dari luar kaca.


Asma pun membuka pintu dan turun dari mobil.


"kamu kenapa ?" Tanya Salwa.


"ngga apa-apa, terbawa suasana saja." Jawabnya.


"yasudah, ayo kita pesan tiketnya." Ucap Asyam.


Asma membeli beberapa botol minuman. Salwa dan Liya memesan tiket, sedangkan Asyam dan Ihsan berdiri bersama menunggu Salwa dan Liya.


"san, ada hal serius yang ingin aku tanyakan." ucap Asyam.


"apa itu, syam ?" Tanya Ihsan.


"aku mendengar, bahwa asma sudah ada yang melamar." Ucap Asyam.


Ihsan terkejut dan langsung menatapnya.


"dari siapa kabar itu kau dengar ?" Tanya Ihsan.


"Asma sendiri yang mengatakannya. Tapi dia tidak memberitahu siapa lelaki itu." Jelas Asyam.


"sebelum aku beritahu siapa lelaki itu, aku ingin berpesan padamu." Ucap Ihsan.


"asma pernah berkata : Meskipun ini bukan kehendakku, tetapi ini sudah menjadi kehendak Allah. Allah telah menuliskan kejadian ini jauh sebelum apa yang kita rencanakan.” Jelas Ihsan.


"jadi apapun yang terjadi jangan buat  tali persahabatan dan persaudaraan ini renggang. kamu belum memilikinya dan lelaki itu pun tidak merebutnya darimu. Dan, asma yang akan memutuskan kemana arah jalan cerita cintanya." Lanjut Ihsan.


"jadi siapa lelaki itu ?"


"bang ihsan, bang asyam. minumannya." ucap Asma memberikan satu botol kepada Ihsan dan kepada Asyam.


"kenapa mukanya pada tegang ?" Tanya Asma.


"kalian lucu deh." ucap Asma yang tiba-tiba tertawa.


Ihsan pun tersenyum menemukan kembali keceriaan diwajah Asma. Begitu pula dengan Asyam yang tersenyum malu.


"Alhamdulillah, akhirnya kita bisa dapat yang satu gerbong. huffhh .." Ucap Salwa sambil mengibas-ngibas lembaran tiket.

__ADS_1


"kalian lagi pada ngobrolin apa? qo kayanya seru banget sampe asma ketawa gituh." Ucap Salwa.


"ngga ada apa-apa, salwa." ucap Ihsan.


"yasudah yuk, kita pulang sudah malam." Ucap Asyam.


Setelah memarkirkan mobil dihalam masjid. Ihsan memberikan kunci mobil kepada Asma.


"Asma, ayo aku antar." Ucap Salwa.


"bang ihsan ...." ucap Asma.


"tidak apa, nanti aku pulang sendiri." Ucap Ihsan.


"asma duluan ya, bang. assalamu'alaikum." ucap Asma.


"wa'alaikumsalam warohmatullah."


"san, aku duluan ya.." ucap Asyam mengendarai motornya bersama Liya.


Dalam perjalanan pulang, Asyam menceritakan kepada sang adik tentang isi hatinya, tentang perempuan yang telah memikat hatinya, menggaggu fikirannya dan mengguncang hati dengan keteduhannya. Liya pun mengungkap dirinya juga menyukai Asma sebagai sosok kaka. Wajahnya cantik, sikapnya anggun, tutur katanya lembut, senyumnya teduh.


"yah, kalau bukan jodoh ndak bisa dipaksa, dek." Ucap Asyam.


"siapa mas lelaki yang melamarnya ?" Tanya Liya.


"mas belum tau." Jawab Asyam.


"mas ndak boleh berlarut dalam kesedihan lho mas. mba asma itu kan belum menjadi siapa-siapanya mas." Jelas Liya.


"iya, liya. mas ngerti." Sahut Asyam dengan senyuman.


Pagi hari, para remaja telah berkumpul diparkiran stasiun dengan barang bawaan masing-masing. Janjii tempat berkumpul, langsung di stasiun kereta. Ihsan dan Asma telah sampai lebih dulu, masih ada waktu untuknya berbincang berdua.


"asma.."


"hmm .. ?" Sahut Asma yang langsung menoleh menghadap Ihsan.


"kamu memberitahu asyam tentang lamaran abi ?" Tanya Ihsan.


"iya. waktu itu aku bertemu dengan kirei dan bang asyam ditaman. sepertinya mereka bertengkar karena perasaan. aku jujur tentang perasaanku padanya." Jelas Asma.


"kamu akan menolak lamaran abi untukku ?" Tanya Ihsan.


"asma kan bilang akan menjawabnya saat di jogja, ini kan belum sampai jogja." Canda Asma dengan senyuman.


Tak lama, Nadia, Syahrul, Zidan dan beberapa remaja laki lainnya menghampiri.


"assalamu'alaikum.." sapanya bersamaan.


"wa'alaikumussalam.." sahut Ihsan dan Asma.


"baru berdua nih bang ihsan ?" Tanya Nadia.


"iya nih." Jawabnya.


"dapat perjalanan jam berapa ?" Tanya Nadia.


"insya allah jam 7." Jawab Asma.

__ADS_1


"mm.. ini sudah jam 6. harusnya kita standby di dalam." Ucap Nadia.


"tinggal, bang asyam, salwa, liya dan kirei." Sahut Asma.


"itu mereka." Ucap Syahrul.


"lhoo.. bang asyam bawa adiknya ?" Tegas Nadia.


Asma pun bangkit dari duduknya.


"Nuha ikut, bang ?" Tanya Nadia.


"iya, tidak mau ditinggal." Jawab Asyam.


"ndak apa-apa mba, kalau nanti tidak dapat tiket, biar pakai tiket liya." Jelas Liya.


"saya coba pesan lagi ya tiketnya." ucap Asma yang langsung berjalan dan meninggalkan barang-barang dan disusul oleh Ihsan.


Tiket yang mereka inginkan berhasil didapat meski berbeda tempat duduk tetapi masih dalam gerbong yang sama. Semua asik pada kesibukan masing-masing dalam menikmati perjalanan. Ada yang mendengarkan musik, membaca buku, tidur, membaca Al Qur'an , mengobrol, dan lainnya.


Sampailah mereka dipenginapan. Memang sengaja Ihsan mengusulkan untuk menyewa penginapan karena tidak ingin merepotkan keluarga Silvi untuk menyambut mereka. Semua langsung mandi dan berganti pakaian.  Dua buah mobil pribadi telah menunggu mereka di halaman parkir. Ada 2 kamar putri dan 2 kamar putra, semua disesuaikan.


"ayo-ayo cepat, nanti kemalaman." Perintah Ihsan.


"ayoo, dimuat-muatin biar ngga bolak-balik." Ucap Nadia.


Kembali mereka melakukan perjalanan. Kali ini dengan rasa bahagia untuk berjumpa dengan teman lama. Saat mobil sampai, mata para tamu undangan mengarah kepada mereka. Tamu-tamu kota yang tak kalah indah dengan gadis-gadis di desa, dan pemuda-pemuda yang juga tak kalah gagahnya. Asma dan yang lainnya menaruh hormat kepada tamu-tamu undangan  pemilik desa ini, disalaminya satu persatu yang mereka lewati untuk menuju pelaminan.


"ka silvii.. barakallahulak." Ucap Asma.


semua mengangkat tangan saat Ihsan memimpin doa untuk si pengantin.


"Barakallahulaka wabaraka'alaika wajama'abainakuma fiikhoiir. (semoga Allah memberkahimu, memberi keberkahan atasmu, dan semoga Allah mempersatukan kalian berdua dalam kebaikan." Ucap Ihsan dan di-aamiin-kan oleh semua.


Tiba saatnya makan-makan yang sangat ditunggu-tunggu. Mencicipi hidangan khas Yogyakarta. Makan, berbincang, saling sapa dengan keluarga, hingga akhirnya sesi photo bersama tiba sekaligus berpamitan untuk kembali ke penginapan.


Salwa dan Asma menikmati kebersamaan dibalkon kamar, sambil menikmati langit malam. Menatap kerlip bintang yang terhampar luas. Tiupan angin yang menyapu wajah dan mengibar kain yang membalut kepalanya. Senyum bahagia terlukis dimasing-masing wajah mereka.


“asma , boleh aku bertanya ?” Ucapnya.


“mau menanyakan tentang apa, sal ?” Tanya Asma.


“seseorang yang kini membuat aku jatuh cinta.” Jawabnya sambil menatap pada balkon samping kamarnya.


“apa masalahnya ?” Tanya Asma.


“aku harus berbuat apa ?” Tanya Salwa.


“kamu tidak harus berbuat apa-apa, selain mendoakannya.” Jawab Asma.


Salwa mengalihkan pandangannya untuk menatap Asma yang kini tatapannya lurus kedepan.


“itu yang aku lakukan ketika aku mencintai seseorang dan ketika aku merindukan sosok dirinya.” Jelas Asma sambil menoleh ke balkon yang sejak tadi dipandangi oleh Salwa.


Ditemukannya dua lelaki yang baru saja muncul dari balik pintu. Tatapan mereka beradu, Asma, Ihsan, Salwa dan Asyam.


“sudah pukul Sembilan, lebih baik kita istirahat." Ucap Asma sambil melangkah masuk kedalam kamar.


“baik ..” Sahut Salwa yang melempar senyum dan anggukan kepala kepada Asyam dan Ihsan.

__ADS_1


Bersambung .....


__ADS_2