KETIKA RINDU BERBALUT DOA

KETIKA RINDU BERBALUT DOA
Episode 31 - Bisikan Hati Ibu


__ADS_3

Bunda Zulfah sedari tadi menggenggami jemari Asma, berharap apa yang terjadi pada Dokter Farhan juga terjadi pada dirinya. Namun sayang, jemari itu tak bergerak lagi pada genggaman tangan sang bunda.


Hari berikutnya, dipagi yang sama dokter Irawati mengecek keadaan Asma. Namun tak seberuntung dokter Farhan yang menemukan perkembangan pada Asma. Bunda Zulfah kembali menggenggam tangan putrinya, sendiri, diruang yang dingin hanya bersama putri kesayangannya.


“Asma. Kalau asma dengar bunda, bunda rindu sekali dengan asma. Dengan keceriaanmu, bunda selalu ingin mendengar suaramu, nak. Kenapa kamu ngga pernah berbagi bebanmu dengan bunda, kenapa asma tanggung semua sendiri, sayang.” Bisik sang Bunda dengan tangis sambil menciumi punggung tangan Asma yang dingin.


Nadia, Asyam, Syahrul, Liya dan Salwa sedang berkumpul diruang sekretariat. Lagi-lagi untuk menyelesaikan tugas-tugasnya sebagai pengajar. Nadia duduk dilantai dengan laptop miliknya, Salwa memandangi layar komputer yang biasa digunakan Asma. Asyam dan Liya duduk berdampingan juga Syahrul yang duduk di bangku tamu.


“jadi bagaimana nih, aku bingung untuk pembagian rapot santri.” Ucap Syahrul sambil bersandar dan memelas.


“kamu kan wakilnya, rul. Jadi kamu harus bisa mengambil keputusan.” Sahut Salwa.


“ya ini juga lagi usaha, sal. Bantu ngeyakinin qe.” Balas Syahrul.


“kalo sama yang .. udah yakin ?” Ledek Salwa sambil mengisyaratkan kepala kearah Nadia.


“itu udah ngga bisa diganggu gugat.” Ucap Syahrul.


“hayolah, sal. Seriuuus.” Lanjut Syahrul.


“hahaaa..” Tawa Salwa.


“kalau memang kalian merasa belum siap, baiknya ditunda dulu saja.” Usul Asyam.


“iya, kalau bang ihsan belum juga masuk, paling ngga sampai asma masuk. Pengajian ini kan juga asma yang mendirikan, jadi dia pasti lebih berani untuk menentukannya nanti.” Jelas Nadia.


“oh iya, nanti sore kita jadi jenguk asma ?” Tanya Asyam.


“insya allah jadi, ba’da ashar. Karena waktu jenguknya sampai jam lima sore.” Jawab Nadia.


“dengar-dengar mba asma itu mau nikah dengan bang ihsan, terus pernikahannya bagaimana ?” Tanya Liya.


“mungkin ditunda, li.” Jawab Nadia.


“aku juga heran, kenapa bang ihsan ngga ada kabar ya ? terus juga waktu orang tuanya datang cuma sama raina, ngga ada bang ihsan.” Jelas Nadia.


“mungkin bang ihsan lagi dipingit.” Ucap Salwa.


“macem-macem saja makhluk satu ini kalau ngomong.” Lanjut Syahrul.


“emosi ajah abang yang satu ini.” Ledek Salwa.


“mba nadia ngga nanya ke raina kenapa bang ihsan ngga ada kabar ?” Tanya Liya.


“itu dia, aku lupa. Pas ketemu dia kita asik ngebahas asma dan entah kenapa ngga nyinggung-nyinggung ke bang ihsan.” Jelas Nadia.


“belum jodoh berarti.” Sahut Salwa.


“ya iyalah, jodohnya kan asma.” Sahut Syahrul.

__ADS_1


“iya iya sewot ajah yang punya calon.” Ledek Salwa.


Diwaktu luangnya, Bu Rana menyempatkan untuk mengunjungi tetangga di samping rumah. Bu Nurlela menemanu Bu Rana diruang tamu sambil membersihkan sayuran. Televisi yang menyala menambah keramaian perbincangan mereka hari ini. Nuha dengan pintar bermain dilantai sambil sesekali melihat film kartun yang dipilihnya.


“maaf ya, bu saya sambil membersihkan sayuran.” Ucap Bu Nurlela.


“ngga apa-apa, bu. Saya juga iseng ajah main, dari pada dirumah sendirian.” Balas Bu Rana.


“kesiangan saya ni masake, tadi nyuci baju dulu.” Ucap Bu Nurlela.


“anak udah pada gede mah masak kapan saja, makannya juga gampang. Nasi sambel pun jadi.” Ucap Bu Rana yang mengundang tawa.


“kecuali untuk sikecil nuha ini baru special.” Lanjut Bu Rana dengan tawa.


“ini kue buatan salwa ya ?” Tanya Bu Rana sambil menerawang toples yang diangkatnya.


“iya waktu itu salwa bawakan bareng sama nuha.” Jawab Bu Nurlela.


“enak loh ini kuenya. Memangnya ngga dijual dibawakan kesini banyak-banyak ?” Tanya Bu Nurlela.


“untuk saat ini sih belum, bu. Tapi saya sudah sarankan untuk coba bisnis kue, nanti salwa akan fikirkan lagi katanya.” Jelas Bu Rana.


“ini loh kalau memang mau, saya juga baru beberapa hari jualan di pasar. Jajanan kue-kue gitu kalo pagi, kalau memang salwa mau boleh nanti titip sama saya.” Jelas Bu Nurlela.


“bu nur jualan kue ? buka warung di pasar ?” Tanya Bu Rana.


"yasudah kalau begitu nanti coba saya bicarakan lagi sama salwa ya, bu." Ucap Bu Rana bahagia.


"assalamu'alaikum." Ucap seorang lelaki yang tiba-tiba masuk.


"wa'alaikumussalam."


"eh ada bu rana." Ucap Asyam.


"iya nih, saya ngga ada temen dirumah jadi main sama ibu kamu deh." Sahutnya.


"iya, bu ngga apa-apa. Saya malah seneng bu'e jadi ada temen ngobrol." Balas Asyam.


"assalamu'alaikum." Ucap seorang perempuan yang tiba-tiba datang.


"wa'alaikumussalam." Jawab Asyam.


"abang, ada ibu ku ngga ?" Tanya Salwa.


"ada tuh didalam sedang ngobrol dengan ibu saya." Jawab Asyam.


Asyam melangkahkan kaki kedalam kamar untuk mengambil kunci motor. Salwa mendekati Bu Rana untuk meminta izin.


"bu, salwa mau jenguk asma dulu ya dirumah sakit." Ucapnya.

__ADS_1


"asma sakit ?" Tanya Bu Rana.


"asma koma, bu." Jawab Salwa.


"innalillahi." Ucap Bu Rana dan Bu Nurlela berbarengan.


"Ya Allah ko bisa ?" Tanya Bu Rana.


"salwa juga ngga tau, bu. Mungkin asma capek atau terlalu banyak tekanan." Jelas Salwa.


"eh eh iki asma yang mana toh ?" Tanya Bu Nurlela.


"itu bu putrinya ustadz hasan dan bu zulfah." Jawab Bu Rana.


"asma pernah kesini ko, bu. Waktu kirei dan aku main, terus tiba-tiba asma datang, cuma dia ngga masuk." Jelas Salwa.


"oh, yang itu. Oh itu putrine bu zulfah toh. Lah aku baru tau." Ucap Bu Nurlela.


"bu, asyam pamit ya mau jenguk asma juga." Ucap Asyam menyalami Bu Nurlela dan Bu Rana.


"oh kamu mau jenguk juga ? bareng sama salwa ?" Tanya Bu Nurlela.


"iya, bareng. Tapi pakai motor sendiri-sendiri." Jawab Asyam.


"hoo, bu'e kira boncengan." Sahut Bu Nurlela.


"ya ngga lah, bu. Ngga enak di liat tetangga." Ucap Asyam sambil tersenyum.


"pengennya sih gitu, bu. siapa yang ngga mau dibonceng sama mas asyam." Batin Salwa.


"ya kalo gitu cepetanlah, biar enak diliat tetangga." Ledeknya lagi.


"bu'e nih apa sih." Sahut Asyam dengan senyum.


"asyam berangkat ya, bu. asslamu'alaikum." Ucap Asyam yang melangkah keluar melewati Salwa.


"wa'alaikumussalam."


"salwa juga berangkat ya, bu. assalamu'alaikum." Ucap Salwa sambil menyalami Bu Nurlela dan Bu Rana.


"wa'alaikumussalam."


"sepertinya salwa menaruh hati pada asyam. Memang akhir-akhir ini sikapnya sedikit berubah semenjak kehadiran asyam dan keluarga dirumah ini." Batin Bu Rana.


"semoga saja kalian benar-benar berjodoh. Yang satu cantik, yang satu tampan, sama-sama anak yang baik sama orang tua." Batin Bu Nurlela.


-aku terus mencari ketenangan dalam hati.. sampai aku menemukanmu yang meredam kegelisahan didalam hati.. dan aku akan berhenti mencari saat aku benar-benar memiliki, dirimu- (salwa kanisa ajiba)


Bersambung .....

__ADS_1


__ADS_2