
Hatinya hancur mendapat perlakuan tak biasa dari Farhan. Untuk pertama kalinya, didepan banyak orang yang memperhatikan, Farhan menegaskan hubungannya dengan Xena. Tak seperti kabar yang selama ini beredar. Membawa Asma ketempat dimana banyak mata yang melihat, untuk mempublikasikan status dirinya yang tak lagi sendiri, ternyata tak membuat perubahan. Pernyataan cinta tetap didapatinya dari para wanita dikampusnya, malah bahkan mungkin sampai melukai hati Asma.
"saya minta maaf." Ucap Farhan sebelum melajukan mobilnya.
Asma hanya terdiam dan menggunakan seat belt.
"maaf karna saya ngga bisa melindungi kamu dari omongan mereka. Maaf karena saya... ternyata tempat saya mengajar ngga senyaman tempat kamu mengajar." Jelas Farhan.
"kita jalan-jalan ya, supaya mood kamu membaik." Ucap Farhan.
"terserah kamu, mas. Saya ikut saja." Sahut Asma.
Farhan memutuskan untuk membawa Asma berkeliling mall terdekat. Sekedar untuk makan dan berbelanja keperluan yang dibutuhkan. Syukurlah, Asma begitu riang saat memilih barang-barang yang diinginkannya. Tas, baju, buku dan juga barang-barang yang Farhan butuhkan. Mereka semakin akrab layaknya teman, Farhan tak keberatan, begitu pun cukup nyaman untuk dilakukan bersama dengan Asma.
Malam kembali datang dengan gelap dan cahaya rembulan yang dimiliknya. Farhan dan Asma bersiap untuk mengistirahatkan tubuhnya. Farhan masih duduk bersandar dengan sesuatu yang difikirkannya.
"kamu ngga tidur ?" Tanya Asma yang hendak berbaring.
"asma... ada yang ingin saya sampaikan." Ucapnya.
Asma menegakkan tubuhnya dan menatap Farhan.
"sebenarnya tadi sore, saya mendapat pesan. Surat tugas untuk menjadi relawan korban gempa di bagian timur. Saya bingung menyampaikannya ke kamu." Jelas Farhan.
"kapan, mas ? berapa lama ?" Tanya Asma.
"besok pagi saya harus berangkat. Masih belum tau pastinya berapa lama. Mungkin dua minggu atau lebih jika diperpanjang." Jelas Farhan.
"kamu sudah siapin keperluan yang mau dibawa ?" Tanya Asma.
Farhan terdiam.
"kamu ngga sedih aku mau pergi ?" Tanya Farhan.
"itu sudah menjadi tugas kamu, mas. Aku sebagai istri bisa apa ? kalau bukan menerima dan mendukung karir suamiku." Jelas Asma.
Farhan terlihat murung dan langsung membaringkan tubuhnya, membelakangi Asma.
Sepertiga malam menjadi malam yang tenang bagi hati untuk mengadu kepada Sang Pencipta. Sudah menjadi rutinitas yang biasa Asma lakukan sebelum dirinya menjadi seorang istri. Duduk dan menengadah kedua tangannya untuk meminta. Dia-lah tempat sebaik-baiknya mengadu dan memohon pertolongan. Dia-lah penetap terbaik atas segala rencana yang diinginkan.
Hanya Dia yang tau bagaimana keadaan hati Asma sebenarnya. Sedih dan bahagia, hanya Dia yang tau kebenarannya, hanya Dia yang tau seberapa pas, perasaan yang dirasa oleh Asma.
Asma membiarkan Farhan beristirahat untuk menyiapkan tubuhnya untuk bertugas. Sambil menunggu Adzan subuh, Asma kedapur untuk membuat sarapan. Didapur yang semegah ini, dirinya dapat bebas mengkreasikan makanan yang ingin dihidangkan. Asma membuat kue kering untuk menemani Farhan bertugas. Hadiah kecil yang ia berikan pertama kali untuk sang suami.
__ADS_1
Pagi menjelang keberangkatan. Ayah hanif, Mama Fara dan Asma mengantar Farhan kedepan pintu untuk menemui Xena dan Nathan yang menjemputnya. Asma memberikan tas kecil berisikan dua kotak makan kue kering yang dibuatnya.
"semoga kue ini bisa menggantikan aku untuk menemani kamu bertugas ya." Ucap Asma dengan senyuman.
"terima kasih, ya. Saya akan kabarin kamu kalau sudah sampai." Balas Farhan.
"ma, pa, farhan berangkat ya. Titip Asma." Ucap Farhan sambil menyalami kedua orang tua nya.
"hati-hati ya, mas." Pesan Asma sambil mencium tangan Farhan.
Xena memberikan senyum sinis kepada Asma, seolah menyampaikan kemenangan ada dipihaknya. Farhan kini bertugas bersamanya dan akan banyak menghabiskan waktu bersama.
Selepas kepergian Farhan, Asma melakukan aktifitasnya seperti biasa. Sesekali ia menginap dirumah Bunda dan Ayah. Beberapa hari berlalu, Farhan masi selalu mengirim pesan kepada Asma juga mengirim foto-foto dirinya bersama korban yang dibantunya. Asma yang kini melihat foto Farhan tersenyum bahagia, duduk didepan layar komputer sambil mengerjalan tugas.
"senyum senyum ajah, emang di hp nya ada apa sih ?" Ledek Nadia yang sedang membereskan rak buku.
"ngga ada apa-apa, nad." Jawabnya tersenyum malu.
"salwa sudah beberapa hari ini tidak hadir ya ?" Tanya Asma saat melihat map absen.
"iya, aku kira kamu tau." Jawab Nadia.
"aku juga baru sadar pas liat absennya." Ucap Asma.
"coba nanti kamu tanya zidan deh." Usul Nadia.
Selesai kegiatan belajar mengajar, Asma mendekati Zidan yang sedang berbincang ditangga dengan Syahrul.
"asma.. ada apa ?" Tanya Syahrul.
"aku mau tanya sesuatu sama zidan." Jawab Asma.
"mengenai absen salwa yang tanpa keterangan. Kamu tau kenapa ?" Tanya Asma.
"aku juga kurang tau, hanya menerima saja tanpa menanyakan alasannya." Jelas Zidan.
Asma terdiam sejenak, sebelum akhirnya memutuskan untuk meninggalkan dan melangkah menuju rumah Salwa seorang diri.
Diketuknya pintu rumah yang terlihat sunyi meski lampu ruangan tetap menyala.
"assalamu'alaikum." Salam Asma bersama dengan ketukan pintu.
Bu Rana muncul dari balik pintu, menyambut Asma dengan senyum dan pelukan. Mempersilahkan Asma masuk dengan ramah. Menyuguhkan minuman dan cemilan dengan kehangatan. Bu Rana memanggil Salwa untuk menemui Asma diruang tamu. Bu Rana sangat yakin kehadiran Asma membawa dampak baik bagi putrinya. Bu Rana yakin, Asma dapat mengungkap apa yang sedang terjadi pada diri putri semata wayangnya. Bu Rana meninggalkan Asma dan Salwa untuk berbincang.
__ADS_1
"kamu ngapain malem-malem kesini ?" Tanya Salwa yang duduk bersebelahan dengan Asma.
"aku khawatir denganmu, salwa. " Jawabnya.
"kenapa ?" Tanya Asma.
Salwa hanya terdiam.
"maaf, aku baru sadar kalau kamu tidak masuk tanpa memberi alasan. Maaf karena aku terlalu sibuk dengan urusanku sampai lupa dengan sahabatku." Jelasnya.
Salwa masih terdiam sambil tertunduk.
"ada apa ?" Tanya Asma sambil meraih tangan Salwa.
"aku bingung harus menceritakannya dari mana." Jawabnya.
"mau jalan-jalan keluar denganku ? atau menginap dirumahku ?" Tanya Asma.
Salwa memutuskan untuk menginap dirumah Asma dan meminta izin kepada kedua orang tuanya.
Diatas kasur nyaman milik Asma, Salwa menceritakan setiap desir perasaannya kepada Asyam sejak pertama kali melihatnya. Itu artinya sama dengan saat Asma bertemu dengan Asyam. Perasaan yang semakin dalam saat Asyam tinggal disamping rumahnya. Perasaan yang semakin melekat saat dapat berdekatan dan menjalin hubungan dengan keluarganya.
"dia menolak bekal darimu ?" Tanya Asma.
"hmm." Jawabnya.
"salwa, aku tidak menyalahkan perasaan yang terjadi pada hatimu. Tapi aku sangat menyalahkan tindakan yang kamu lakukan terhadapnya. Kamu seorang muslimah yang harus menjaga kehormatanmu, salwa." Jelas Asma.
"aku ngga tau cara apa lagi supaya dia tau perasaanku, asma. Aku sangat.. sangat.. menyukai dia. Melihatnya saja aku senang, apalagi saat tau dia akan tinggal bersebelahan denganku. Aku bertemu dia setiap hari, aku mengenal dan dekat dengan keluarganya... perasaanku semakin dalam, asma." Jelasnya sambil menangis.
Asma terdiam, memikirkan apa yang harus dikatakan lagi kepada sahabatnya.
Berdiam untuk membuatnya tenang hanya akan membuatnya semakin larut dalam memikirkan tentang lelaki itu. Berdebat dengannya akan merusak persahabatan dengannya jika tidak menemukan titik terang.
?
?
?
?
?
__ADS_1
Bersambung....