KETIKA RINDU BERBALUT DOA

KETIKA RINDU BERBALUT DOA
Episode 41 - Surat Cinta dari sahabat


__ADS_3

Saat pagi, Asma mendapat surat yang ditujukan untuknya. Bunda memberikannya saat Asma menemuinya didapur.


"ada surat untuk kamu, bunda taruh diatas meja." Ucap Bunda Zulfah.


Mendengar kata surat membuat Asma mengingat masa lalu yang membuatnya terpuruk. Luka hati saat itu masih basah, masih terasa perih jika mengingatnya. Perihal surat, yang membuat luka dan menghancurkan semua. Meski dapat menutupinya dengan senyum di wajah, namun hati tak dapat dihindari dari luka yang pedih. Hati yang selama ini dijaganya, hancur sebelum sempat ia merasakan cinta. Bahkan bahagia yang baru ingin dimulainya, hanyut bersama air mata.


...asma, aku tuliskan surat ini karena tak sempat berjumpa denganmu. Terima kasih atas waktu dan hal berharga yang pernah kamu berikan dalam hidupku....


Tangan Asma bergetar saat membaca bagian awal surat yang diterimanya. Sakit menyerang dibagian kepalanya, lemas menyerang keseluruh tubuhnya.


"ah..." Desahnya sambil memegangi kepalanya.


Air mata yang menggenang, mengalir begitu saja. Wajah segar saat menyapa pagi, hilang berganti dengan pucat. Surat yang digenggamnya terlepas.


"asma.." Ucap Bunda Zulfah khawatir.


"sayang, kamu kenapa ? kalau kamu sakit bilang sama bunda. Kita kekamar ya." Ucap Bunda Zulfah berusaha memapahnya kekamar tamu yang ditempati Farhan.


Asma terbaring lemas dikasur, sambil memejamkan mata.


"asma, kamu yakin ngga apa-apa ?" Tanya Bunda Zulfah.


"iya, bunda. Asma cuma butuh istirahat saja." Jawabnya.


"bunda buatkan susu hangat sama roti untuk kamu dan farhan. Nanti dimakan ya." Jelas Bunda Zulfah.


"suratnya, bunda taruh disini ya." Lanjut Bunda Zulfah sambil menaruh surat diatas meja, berdampingan dengan nampan.


"bunda kedapur lagi ya, kamu istirahat." Ucap Bunda Zulfah.


"Aku ngga nyangka akan setrauma ini. Padahal aku berusaha untuk melewati itu semampuku. Aku kira aku sudah lepas, aku kira luka itu sudah sembuh." Batinnya.


Matanya kembali terpejam hingga terlelap.


Asyam bersiap, merapihkan diri untuk kembali memulai aktifitasnya. Hati yang dulu dipenuhi rasa untuk Asma, telah terkikis oleh waktu. Mungkin masih tersisa sedikit, namun melepasnya dengan keikhlasan adalah jalan terbaik untuk menemukan dan memulai cinta yang baru.


"le, ada kiriman tuh untuk kamu." Ucap Bu Nurlela dengan senyuman.


"kiriman apa lagi toh, bu ?" Tanya Asyam sambil merapihkan rambut.


"ya diliat itu dimeja makan." Jawab Bu Nurlela.


"kayanya bang asyam mulai banyak fans nya nih bu'e." Ledek Liya.


Asyam hanya tersenyum mendengar ibu dan adiknya yang hampir setiap hari menjodoh-jodohkannya dengan gadis disebelah rumah. Asyam melangkah keluar dengan tas selempang yang telah siap menemaninya dalam bekerja.


"dari dia lagi ?" Tanya Asyam saat sampai dimeja makan.

__ADS_1


"ya emang mau dari siapa lagi sih, mas ?" Ledek Liya sambil menyuap nasi.


"semangat bertugas bang asyam." Tulisan yang tertera pada kotak makan untuk Asyam.


"semangat, mas." Ledeknya lagi.


"kamu yang bawa saja ya." Ucap Asyam.


"ndak boleh gitu, mas. Rejeki tu jangan ditolak." Ucap Liya.


"kamu juga menolak rejeki barusan." Balas Asyam.


"pemberian dari orang itu jangan diberikan kepada orang lain lagi mas." Ucap Liya.


"ndak ada salahnya kan kamu makan. Orang dia sudah baik-baik buatkan kamu bekal ko." Lanjut Bu Nurlela.


"semakin asyam menerima, semakin dia berfikir asyam memberinya harapan." Ucap Asyam.


"yasudahlah, aku bawa. Biar nanti aku yang bicara dengan dia." Lanjut Asyam memasukkan kotak makan kedalam tasnya.


Farhan yang mengetahui kondisi Asma saat kembali dari masjid bersama Ustadz Hasan, Langsung menemaninya didalam kamar. Sebelum itu Farhan kembali ke kamar Asma untuk mengambil buku yang belum selesai dibacanya semalam. Farhan duduk bersandar disamping Asma yang masi terpejam. Tangannya mengarah pada kepala Asma dan mengelusnya perlahan sambil menatapnya. Ternyata sentuhannya membuat mata Asma terbuka dan membuatnya terkejut sehingga menarik tangannya dengan cepat.


"Maaf." Ucap Farhan salah tingkah.


Asma tersenyum.


"bukunya terbalik." Ucap Asma sambil berusaha duduk dan bersandar.


"kamu belum sarapan ?" Tanya Asma saat melihat dua gelas susu yang masih penuh dan roti yang masih utuh tak tersentuh.


"kamu mau sarapan ? yuk bareng." Ucap Farhan yang langsung turun dari kasur.


Farhan duduk di bibir kasur dekat dengan Asma dan memberikan segelas susu juga roti untuk Asma. Perlahan mereka sarapan dengan malu-malu, sesekali saling menatap hingga tatapan mereka bertemu satu sama lain.


"ini surat dari siapa ?" Tanya Farhan sambil mengambil kertas disamping nampan.


Asma mengulurkan tangan kirinya, tanda ia meminta surat yang dipegang Farhan.


...*aku pamit, aku harus ikut keluarga ku pindah ke jepang. Aku berharap waktu akan mengatur pertemuan kita selanjutnya dan aku berharap akan menemukan sosok seperti dirimu dinegeri sakura yang akan membuatku menjadi wanita yang tangguh dan lebih dalam mengenal islam. Tiada yang lebih indah dari menemukan sahabat yang membuat kita semakin dekat dengan Tuhan....


...aku akan selalu merindukanmu....


...-Kirei*-...


"kirei, dia sahabatku. Dia pamit karena akan kembali kejepang." Jawabnya setelah membaca surat dari Kirei.


"kenapa kamu bisa sampai pingsan ?" Tanyanya.

__ADS_1


"saya ngga pingsan." Jawabnya.


"entahlah, sepertinya saya memiliki trauma dengan surat. Saya mengalami hal yang buruk karena surat, saya sendiri ngga menyangka efeknya akan seperti ini." Jelasnya.


"mau kamu menceritakannya pada saya ?" Tanya Farhan.


"mungkin tidak saat ini." Jawabnya sambil menghabiskan sepotong roti terakhir.


"saya berharap kesehatanmu, sekuat dirimu yang terlihat dari luar. Dan hati yang kuat agar tidak mudah terluka." Ucap Farhan.


"sayangnya hati ini sudah terluka, mas dan rasanya sakit. Aku berharap, Allah mengirimmu untuk menyembuhkan lukaku." Batinnya.


Sore hari, Asma kembali mengajar. Asma datang lebih awal bersama dengan Farhan. Sepertinya bubur ayam akan menjadi makanan favorit Farhan saat berkunjung dan menemani Asma sebelum mengajar. Dibawanya dua mangkuk bubur ayam untuknya dan Asma.


"Terima kasih." Ucap Asma.


"kamu bener udah ngga apa-apa ? jangan maksain loh, saya ngga mau kamu kenapa-kenapa." Ucap Farhan.


"iya, kalau merasa ngga enak, nanti saya istirahat." Balas Asma.


Tak lama Syahrul datang bersama dengan Zidan dan mengunjungi sekretariat karena pintu yang terbuka.


"hoalah, ada asma dan dokter farhan toh." Ucap Syahrul.


Asma menyambut dengan senyuman. Bubur yang dimakannya telah habis. Dan kini dirinya kembali duduk didepan layar komputer.


"iya nih, ngga apa-apa kan saya mampir lagi." Ucap Farhan dengan senyuman.


"ngga apa-apa dong, mau ikut bergabung sama kita untuk mengajar juga ngga apa-apa." Canda Syahrul.


"oh iya, tadi bang asyam izin nih tidak bisa hadir. Ada keperluan katanya." Ucap Zidan.


"siapa lagi yang tidak hadir hari ini ?" Tanya Asma.


"sudah sepertinya, bang asyam saja. Samaaa... Salwa... mmh.. izin telat." Ucap Zidan sambil mengecek handphonnya.


"salwa ya.. mmhh.. nanti biar liya yang gantikan dia dikelompoknya." Jelas Asma.


Asyam memenuhi janji temunya hari ini, dirumah megah milik seorang gadis yang tak lama ini dikenalnya. Gadis, yang kedua orang tuanya memintanya untuk diajarkan mengaji dan mengenal ajaran islam lebih dalam lagi.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2