KETIKA RINDU BERBALUT DOA

KETIKA RINDU BERBALUT DOA
Episode 15 - Undangan


__ADS_3

Terulur rapi jilbab yang dikenakan dikepalanya. Matanya fokus kepada cermin dihadapannya. Niat hati bersilaturrahmi kerumah Asma yang diketahuinya tak ada kegiatan pada hari ini.


Dikendarainya motor matic yang telah terparkir didepan rumahnya menuju rumah Asma yang menghabiskan waktu 5 menit perjalanannya.


“assalamu’alaikum .. “ ucapnya didepan pintu rumah Asma.


“wa’alaikumsalam ,, “ ucap seorang wanita dari dalam rumah.


“eeeh ..  ada si eneng .. cari putri cantiknya bunda yaah ?” tanya Bunda.


“hehe .. iya bunda.” Jawabnya.


“yaudah ke kamarnya ajah. Kayanya si lagi baca Al-Qur’an tadi.” Jelas Bunda sambil mempersilahkan masuk.


"Salwa naik ya bunda.." Ucap Salwa.


Salwa pun menaiki tangga menuju kamar Asma, sedangkan Bunda kembali ke dapur membuat minuman.


“assalamu’alaikum asma ..” ucapnya.


“wa’alaikumussalam .. masuk salwa ga dikunci.” Sahut Asma sambil melipat mukenanya.


“haiiiii … “ sapanya dengan ceria dan berjalan menuju Asma lalu memeluknya.


“sehatkah ukhti salwa ?” tanyanya bercanda.


“ahh kamu nih, ngeledek aku saja.” Balasnya.


“ada apa seneng banget nampaknya ?” tanya Asma dengan senyuman sambil memeluk mukena di atas kasur.


“biasa saja.” Jawabnya.


“dengar-dengar, sudah ada yang melamar yaa ..” ucap Salwa.


“ahh kabar dari siapa itu ?” tanya Asma sambil menaruh mukena kedalam lemari.


“jujur laaah ..” Ucap Salwa.


“sudahlah , ga usah dibahas. Kita jadikan ke toko buku ?” tanya Asma.


“jadii ituuuu .. haha” balas Salwa.


"oh iya, kamu ingat Kirei ?" Tanya Asma sambil menutup pintu kamarnya.


"Kirei ..?? ooh yang dulu pernah gabung jadi anggota remas ya ?" Salwa balik bertanya.


"iya .. nanti kita ketemu dia yaa, aku sudah janjian sama dia di cafe dekat toko buku."Jelas Asma.


"lhoo , pada mau kemana ?" Tanya Bunda sambil membawa nampan minuman.


"kita mau ketoko bukku, bunda."Jawab Asma berdiri di samping bunda.


"bunda sudah buatkan minum dan kue lhoo." ucap Bunda dengan wajah sedihnya.

__ADS_1


"Bunda bisa saja deh, yasudah salwa cicipin deh."sahut Salwa.


"sini, bun. biar asma yang bawa keruang depan." ucap Asma yang dibalas senyuman oleh bunda.


        Dalam perjalanan awal menuju toko buku, kedua gadis ini bertemu dengan Asyam yang juga mengendarai motor dengan berlawan arah. Motornya hendak mengarah gerbang masjid, tempat dimana biasa diadakan perkumpulan remaja.


“assalamu’alaikum .. “ ucap Asma dan Salwa begitu ramah pada Asyam.


“wa’alaikumussalam warohmatullah ..”


“mau kemana bang asyam ?” tanya Salwa.


“mau nemuin bang ihsan disekretariat.” Jawabnya.


“ada hal pentingkah ?” tanyanya lagi.


“ngga juga, Hanya mau membahas agenda nanti malam. Kalian juga jangan lupa siapkan laporan masing-masing ya." Jelas Asyam.


“yaudah bang asyam, silahkan ditemuin bang ihsannya. Kita pamit dulu.” Ucap Asma.


“assalamu’alaikum ..”


“wa’alaikumussalam ..” jawab Asyam.


"kamu nih, gangguin saja orang lagi pdkt juga." Bisik Salwa yang ada di belakang Asma.


Sedari situ, Asma pun mulai menyadari tak hanya dirinya saja yang menyimpan rasa terhadap Asyam. Lelaki yang menarik hati dan perhatiannya, ternyata banyak didamba-dambakan wanita. Lelaki yang di harap-harapkannya, banyak pula yang menginginkannya.


Mungkinkah ini jawaban dari Tuhan atas kecemburuan dalam hatinya. Bahwa Tuhan telah mengirimkan laki-laki lain yang lebih dapat menjaga hatinya dari api kecemburuan dalam hatinya.


"asma .." Panggil Salwa.


Asma pun menoleh dengan tangan yang masih memegang buku tersebut.


"Liya .." Sapa Salwa.


"Maaf .." Ucap Asma kepada Liya.


"kamu suka baca buku juga?' Tanya Salwa.


"Iya mba .." Jawabnya.


"asma .. kenalin, ini liya adiknya bang asyam." Jelas Salwa.


"saya liya, mba." Ucap Liya sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.


"saya asma." Balas Asma dengan senyuman.


"masya allah, senyumannya .. sejuk sekali dipandang." Batin Liya.


"kamu ada keperluan lain tidak sehabis ini ?" Tanya Asma.


"ngga ada, mba. Habis ini saya mau langsung pulang."Jelas Liya.

__ADS_1


"mmhh.. kalau ngga ada kegiatan, ikut kita kumpul ajah." Usul Asma.


"iya liya, ngga apa-apa." Lanjut Salwa.


"yasudah, mba kalau gitu liya ikut."Sahut Liya, malu.


Mereka pun berkumpul dalam satu meja, tentunya tidak ada lagi yang tidak saling kenal. Terutama untuk Kirei yang baru saja kembali dari Jepang menyelesaikan study-nya.


Kirei adalah teman main Liya saat didesa dan juga teman Asma dan Salwa saat dikota. Kirei yang ditau Liya pernah memiliki rasa terhadap kakanya saat sekolah dulu. Bukan hal baru lagi bagi Asma mengetahui perasaan-perasaan orang terhadap lelaki pujaannya. Bukan pula hal yang menyakitkan lagi mengetahui ketertarikan perempuan-perempuan terhadap lelaki pilihannya saat ini.


"jadi kirei dan bang asyam ini dulu berteman di desa ?" Tanya Salwa yang semakin tertarik pada cerita masa lalu Asyam saat didesanya.


"iya, mba salwa. jadi ka kirei ini kaka kelas ku disekolah SMP pas SMA ternyata sama, liya ketemu pas lagi ka kirei lagi reuni sama temen-temen seangkatannya. Akhirnya kita deket dan ka kirei sering main kerumahku." Jelas Liya.


"wah dunia sempit yaa, dari ujung ke ujung ajah bisa ketemu ditengah-tengah. sambung menyambung pula. hahaha .."Lanjut Salwa.


"asma, kamu sudah punya pacar ?"Tanya Kirei.


"kamu kan tau, sejak lulus sekolah aku memutuskan untuk tidak pacaran." Jawab Asma.


"lalu sekarang kamu ingin menikah ?" Tanya Kirei.


"siapa sih yang tidak ingin menikah, kirei. semua juga ingin, aku pun ingin." Jawabnya.


"asma, ceritalah .. siapa sih yang melamar kamu ? aku penasaran dengar cerita ibu-ibu." Ungkit Salwa.


Asma pun terdiam menatapnya sambil menyedot segelas minuman yang digenggamnya.


Malam tiba, mengumpulkan muda-mudi di halaman masjid tercinta. Kesejukan anginnya melengkapi perasaan-perasaan senang dalam hati. Malam yang menjadi saksi kuatnya persaudaraan ini. Hanya malam santai berselimut obrolan ringan. Silvi yang menjadi pemilik acara ini.


"alhamdulillah.. terima kasih buat temen-temen yang menyempatkan hadir. Sebelumnya ka silvi makasih banget buat temen-temen semua atas pengalaman yang kaka rasa. kaka ga tau disana nanti kaka bakal dapet temen-temen seperti kalian lagi atau ngga, tapi yang pasti.. insya allah kaka akan terus mengemban dakwah ini dimanapun kaka berada." Jelas Silvi.


"jadi sedih nih suasanya." Ucap Ihsan, mencairkan suasana.


"iya ya bang ? aduh maaf maaf , haha." Lanjut Silvi.


"yaudah deh, ka silvi langsung ajah, kaka mau bagiin undangan untuk kalian. insya allah bulan depan kaka akan menikah, sudah pada tau kan ya, haha.. Mudah-mudahan kalian semua bisa hadir." Ucap SIlvi.


"insya allah ahdir lah ka, kan sekalian agenda Rihlah-nya ReMas." ucap Salwa.


"berarti habis nikah akan menetap disana ka silvi ?" Tanya Ihsan.


"Iya nih bang ihsan. tapi tenang, aku bawa pengganti qo.. dua sekaligus, adek-adek ku. hehe." Jelas Silvi.


"Akhirnya bergabung juga, Silvia dan Salva." Ucap Asma.


"iya ka asma." Sahut Salva.


"nah, jadi untuk menghemat pendanaan, kita pulang-pergi naik kereta ya untuk ke jogja. Tadi saya sudah melihat laporan dari ka silvi. setelah ini keuangan ReMas akan di urus oleh Asma. untuk tiket nanti akan di urus oleh asyam, salwa dan nadia." Jelas Ihsan.


"oh iya, nanti aku akan share di grup untuk nama-nama yang akan ikut, tolong diisi ya. Dan ini yang sudah benar-benar ikut, karna kita akan pesan tiket jadi ga bisa cancel." Jelas Nadia.


Malam semakin larut, angin terus berhembus, menembus sela-sela kesunyian malam.

__ADS_1


"semakin aku melupakanmu, semakin ingin ku tahu semua tentang dirimu." Bisik Asma dalam hatinya, sambil menarik selimut, menutupi tubuhnya.


Bersambung .....


__ADS_2