KETIKA RINDU BERBALUT DOA

KETIKA RINDU BERBALUT DOA
Episode 45 - Merindukanmu


__ADS_3

"zidan, aku izin untuk hari ini." Ucap Asma yang langsung berlari pergi.


"ahlan wa sahlan, bang ihsan." Ucap Nadia dengan senyuman.


"terima kasih, nad." Balasnya.


"duduklah, bang ihsan. Kaya tamu saja deh." Ledek Nadia mencairkan suasana.


"kita semua kerepotan loh saat bang ihsan dan asma ngga ada." Ceplos Syahrul.


"asma ? asma juga tidak ada ?" Tanya Ihsan.


Nadia langsung menatap Syahrul. Syahrul menoleh kearahnya lalu menatap Zidan dan kembali memandang Ihsan.


"mh.."


"jawab, rul." Pintanya.


"Asma sempat tidak mengajar, karena... karena dia koma. Sekitar satu mingguan." Jawab Syahrul ragu.


"koma ?" Tanya Ihsan.


"astaghfirullah." Ucap Ihsan sambil mengusap wajahnya.


"sekarang keadaannya baik-baik saja, bang ihsan. Jangan terlalu difikirkan." Ucap Nadia dengan santai, menenangkan.


"assalamu'alaikum." Ucap seorang lelaki yang baru saja datang.


"wa'alaikumussalam."


"masya allah, ihsan. Kamu sudah kembali." Ucap Asyam yang langsung menghampiri ihsan.


"alhamdulillah. Baru kemarin." Jawabnya sambil berpelukan dengan Asyam.


"wah kamu harus menginap dirumahku, kita harus menghabiskan malam yang panjang. Aku rindu sekali berbincang denganmu." Ucap Asyam.


"kamu saja yang menginap di kost-an ku. Barang-barangku masih disana. Besok aku ingin mengurus semua biaya dengan ibu kost." Jelas Ihsan dengan senyuman.


"baiklah." Sahut Asyam dengan semangat.


"loh, asma mana tumben belum datang?" Tanya Asyam.


"barusan dia izin ada urusan." Jawab Nadia.

__ADS_1


"oh iya, san. Ada yang ingin aku sampaikan mengenai surat pada saat itu." Ucap Asyam.


"Aku minta maaf, sangat sangat mohon maaf, san. Aku telah membuat mu meragukan asma, aku telah merusak hubunganmu dengan asma. Surat itu ternyata bukan milik asma, tapi milik syahrul yang saat itu terjatuh dan aku menemukannya disaat asma meninggalkan ruangan. Jadi aku fikir surat itu miliknya." Jelas Asyam.


"sudahlah, aku sudah melupakan semua itu. Aku ingin memulai dengan lembaran baru." Sahut Ihsan.


"maaf yaa, bang ihsan. Saya juga ikut merasa bersalah." Lanjut Syahrul.


"sudahlah jangan terlalu difikirkan." Sahutnya dengan senyuman.


"syahrul, nanti tolong buatkan catatan tugas-tugas yang harus aku selesaikan ya." Perintahnya.


"baik, bang ihsan." Ucap Syahrul.


"yuk kita mengajar." Ucap Ihsan sambil bangkit dari duduknya.


Ihsan dengan semangat bergegas untuk mengajar dihari pertamanya setelah kesembuhannya. Asyam dan teman-teman yang lainpun ikut bersemangat dan dengan penuh rasa bahagia mengajar bersama.


Ada hati yang saat ini harus dikuatkan. Tidak menutup kemungkinan bahwa masa lalu bisa saja menyapanya dimasa yang akan datang. Mungkin belum cukup mengeringkan luka yang basah dalam waktu yang singkat. Kenangan masih teringat jelas dalam fikiran, terputar begitu saja ketika melihat sosoknya. Rasa sakit yang berhasil disimpannya, kini kembali menyapa dengan senangnya.


Andai saja, hangatnya pelukan suami dapat dirasanya disaat seperti ini. Kehadiran yang disia-disiakan saat ada, kini sangat dirindukan Asma. Farhan yang beberapa hari ini menjadi alasan senyum bahagianya, kini sangat dirindukan Asma. Sosok hangat suami yang dulu belum mampu diterimanya, kini Asma sangat membutuhkannya.


Didalam kamar yang luas, Asma masih duduk ditepi kasur sambil menghabiskan tetes air mata yang masih mengalir membasahi pipi. Ingin rasanya menjadi seperti dirinya yang dulu, diri yang kuat, hati yang hanya mengenal cinta kepada Allah dan kedua orang tuanya.


Sore itu, Asma berpamitan dengan Ayah dan Bunda untuk kembali kerumah Farhan. Asma berusaha memfokuskan pandangannya saat mengendarai mobil. Dia berusaha berkonsentrasi agar rasa didalam hatinya tidak mengendalikan fikirannya. Dan berakhir sampai dengan selamat dikediaman Farhan.


Kamar yang dulu terasa dingin karena tak ada cinta dalam hatinya untuk Farhan. Kini menjadi kamar yang hangat meskipun ditempati seorang diri. Bayang-bayang bersama dengan Farhan mulai bermunculan membuat senyuman dibibirnya. Asma melangkah menuju lemari Farhan, melihat baju yang tergantung rapih. Disentuhkan sebagian pakaian Farhan yang penuh warna. Ditariknya perlahan hingga menyentuh pipi dan diciumnya. Tidak ada satupun foto didinding kamarnya. Bahkan foto kecil dimeja pun tidak ada. Padahal sangat ingin Ia melihat lukisan Farhan didinding saat ini.


Sepulang mengajar, Asyam pulang bersama Ihsan dengan mengendarai motor. Kesalah pahaman yang membuat mereka tanpa sengaja berpisah dalam waktu yang lama. Malam ini menjadi malam pelepas rindu untuk kedua sahabat.


Kamar yang dulu menjadi tempat mereka bermalam, menghabiskan waktu beribadah, bertukar fikiran, beristirahat, kini dapat dirasakan kembali.


"Kamu benar tidak marah padaku, san ?" Tanyanya untuk yang kesekian kali, sambil melepas sepatu.


"sudah berapa kali kamu menanyakan itu ? aku bosan menjawabnya berulang kali." Jawab Ihsan dengan senyum, sambil melepas baju kokonya.


"aku pinjam bajumu." Ucap Asyam.


"ambil saja dilemari." Sahut Ihsan yang telah menggunakan kaos putih dalaman baju koko tadi.


Ihsan berbaring di tempat tidur sambil menunggu Asyam berganti baju. Dilihatnya layar handphone, photo undangan atas nama dirinya dan Asma, gaun pengantin Asma, jas putih untuk akad nikah, dekorasi ruangan, semua masih disimpannya.


Asyam melihatnya saat keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


"Ya Allah, apa itu gambar persiapan pernikahannya dengan Asma. Bagaimana kalau dia tau asma telah menikah dengan lelaki lain." Bisik Asyam dalam hatinya.


"san..." Panggilnya.


"ya..." Sahutnya sambil menoleh.


"mmh.. bagaimana kabarmu ? pengobatanmu berjalan lancar?" Tanya Asyam, mengalihkan.


"alhamdulillah, seperti yang kau lihat, aku bisa kembali berada diantara kalian." Jawab Ihsan.


"kalau aku tau, aku pasti akan mengunjungimu. Tapi saat itu, aku takut bertemu denganmu. Hingga sampai hari dimana aku menemukan kebenaran tentang surat itu, aku menunggu kedatanganmu." Jelas Asyam.


"bisakah kita lupakan masalah dimasa lalu. Mau dibahas seperti apapun, tidak akan mengembalikan waktu dan tidak merubah apapun." Jelas Ihsan.


"gimana kalau kita cari makan diluar ? sudah lama tidak makan bersama sambil menikmati malam." Usul Asyam.


"ayuk." Ucap Ihsan menyetujui dengan gembira.


...Rasanya cukup lama berbaring dikasur rumah sakit, sampai akhirnya harus meninggalkan tanah air hanya untuk pengobatan agar aku dapat sembuh kembali....


...Banyak yang aku lewatkan disini, kegiatanku, makan malam bersama sahabatku dan juga kisah cintaku yang aku tinggal dengan tega....


...Semoga kamu masih tetap sama, agar aku bisa dengan benar mencintaimu seutuhnya. Asma aku berjanji tidak akan membuatmu bersedih lagi. Aku akan mencari waktu untuk bisa bertemu denganmu dan memulai semua dengan lembaran baru....


...-Ihsan safaraz-...


"Aku berharap Allah menghadirkan cinta dihatiku untukmu, agar aku dapat berdamai dengan masa lalu tanpa takut akan menggangguku." Bisik Asma dalam hatinya sambil berbincang dengan Farhan ditelepon.


-via telephone-


Asma : kapan kamu pulang, mas ?


Farhan : aku akan pulang jika kamu merindukanku.


asma : (hening)


.


.


.


.... . . Bersambung . . ....

__ADS_1


__ADS_2