KETIKA RINDU BERBALUT DOA

KETIKA RINDU BERBALUT DOA
Episode 64 - Goyah


__ADS_3

"assalamu'alaikum.. " Ucap seorang gadis yang masuk kedalam ruang sekretariat.


"wa'alaikumussalam warahmatullah wabarokatuh." Jawab kedua pemuda yang ada didalamnya.


"asma belum datang ?" Tanya Nadia.


"memang dia mau kesini siang ini ?" Tanya Ihsan.


"tadi si bilangnya begitu." Jawab Nadia.


"mungkin masih dijalan." Sahut Asyam.


"yasudah kamu disini saja, sekalian kita bahas sama-sama untuk gedung baru." Ucap Ihsan.


"oke.. aku ambil berkasnya dulu." Ucap Nadia menuju loker dan duduk bersama dengan Asyam, berjauhan.


"yang ini siapa yang bertanggung jawab ?" Tanya Asyam sambil melihat lembaran-lembaran kertas.


"ini mah tugasnya salwa. Setelah ka silvi keluar kan keuangan dipegang sama salwa." Jelas Nadia.


"iya.. ya.. " Sahut Asyam.


"hari ini salwa datang kan ?" Tanya Asyam.


"belum ada kabar sih." Jawab Nadia.


"Assalamu'alaikum.* Ucap Seorang gadis dari balik pintu yang dibukanya.


" wa'alaikumussalam.. "


"akhirnya datang juga." Ucap Nadia yang menunggu kedatangan Asma.


"maaf ya lama." Ucap Asma.


"aku beliin minuman nih buat kalian." Ucap Asma menaruh diatas meja.


Asma berjalan menuju loker untuk mengambil berkas yang disimpannya. Nadia membagikan minuman yang dibawa oleh Asma.


"wah masih ada lebihnya nih dua." Ucap Nadia.


"yasudah untuk nanti yang datang lebih dulu." Balas Asma sambil membuka laptop.


"jadi tepatnya kita akan resmikan kapan, asma ?" Tanya Ihsan.


"ngga buru-buru sih, bang. Kita siapkan dengan matang hingga selesai, supaya hasilnya maksimal. Ruangan di gedung pun juga harus kita siapkan. Akhir tahun pun tidak apa-apa. Yang terpenting adalah kesiapan kita." Jelas Asma.


"Asma serahkan pada abang sebagai pemimpin.Nanti kita akan diskusikan dan pilih yang terbaik." Lanjut Asma.


Hingga Adzan Ashar berkumandang, mereka melepas fokus yang ditujukan pada tugas-tugas dan memenuhi kewajibannya sebagai seorang muslim untuk melaksanakan shalat.Ihsan, Asyam menuju ke tempat wudhu dan menuju ke lantai atas untuk melaksanakan shalat. Syahrul, Zidan pun turut ada didalamnya dan bertemu. Asma, Nadia juga melaksanakan shalat ashar berjama'ah.


Salwa masih sibuk dengan pekerjaan dikantornya. Hingga tersadar dengan suara pesan masuk di ponselnya.


hari ini kamu mengajar ?


-asyam-


"bang asyam.. " Bisiknya.


sepertinya hari ini saya izin karena harus lembur di kantor. apa ada keperluan ?

__ADS_1


-salwa-


Asyam terdiam membaca balasan dari Salwa dan melanjutkan langkahnya menuju ruang sekretariat. Salwa pun menyimpan ponselnya saat tak didapati lagi balasan dari Asyam dan menerima ajakan temannya untuk shalat bersama.


Asma dan teman-teman yang lain melanjutkan aktifitasnya sebagai pengajar. Membimbing anak kecil selayaknya seorang kakak. Membagi tawa bahagia dan keceriaan disetiap pertemuannya. Waktu belajar yang sangat dinantikan karena perasaan nyaman dan menyenangkan. Belajar memang membutuhkan kenyaman bukan hanya ketenangan yang dipenuhi tekanan, yang membuat anak merasa takut dan bosan.


Asma selalu mengingatkan agar menciptakan suasanya belajar yang menyenangkan. Agar tercipta kedekatan antara murid dan sang pengajar, bukan hanya sekedar ketakutan terhadap pengajar. Suasanya yang nyaman, rasa hati yany bahagia, membuat anak mudah dalam menerima pembelajaran yang diberikan.


Sepulang dari mengajar, Asma menunggu Farhan untuk menjemputnya. Sambil duduk di tangga, ia membuka Al Qur'an untuk dibacanya.


"asma.. " Sapa Nadia.


"iya.. " Sahutnya stelah menyelesaikan ayat yang dibaca.


"ngga pulang ?" Tanya Nadia.


"nunggu mas farhan." Jawabnya.


"mhh.. mau nunggu dirumahku ?" Tanya Nadia.


"ngga apa-apa, aku disini saja." Jawabnya.


"maaf ya , aku ngga bisa nemenin." Ucap Nadia.


"ngga apa-apa, nad. Mas farhan ngga lama ko. " Sahut Asma dengan senyuman.


"aku duluan ya." Ucap Nadia.


"iya, hati-hati dijalan. " Ucap Asma.


Baru saja Asma ingin kembali membuka Al Qur'annya, Ihsan datang menghampiri.


"belum. Masih menunggu mas farhan. " Jawabnya.


"abang juga kenapa belum pulang ? " Tanya Asma.


"mastiin tempat shalat kosong dulu karena mau dikunci dan lampu mau dimatikan. " Jelasnya.


"mau abang temenin ?" Tanya Ihsan.


"ngga usah, bang. " Asma menolak dan tanpa sengaja bangun dari duduknya.


"sebentar lagi mas farhan sampai." Jawab Asma.


"abang pulang duluan saja." Ucap Asma mengatur ekspresi wajahnya.


"oke. Abang duluan ya." Ucap Ihsan.


Asma hanya memanggutkan kepalanya dengan menundukkan pandangannya. Asma tidak ingin Farhan salah faham akan kebersamaannya dengan Ihsan. Meskipun dengan alasan pekerjaan dalam mengajar. Asma lebih ingin menunggunya sendiri atau jika kedatangannya Farhan masih lama, Asma akan menunggu dirumah orang tuanya.


...Tak mudah menjaga rasa percaya orang lain kepada kita. Namun akan lebih sulit jika memperbaiki kepercayaan yang telah gugur. Bahkan sekalipun percaya, rasanya akan tetap ada keraguan didalamnya....


"sayang.. " Sapa seorang lelaki yang menghampiri Asma yang sedang menambah catatan didalam bukunya.


"mas farhan." Balasnya.


"serius banget, sampe ngga tau aku dateng. " Ucapnya.


"lagi asik nulis. " Ucap Asma dengan wajah yang bahagia.

__ADS_1


"ayo pulang." Ajak Farhan sambil mengulurkan tangannya.


"mas. Kita makan dipinggiran yuk, aku laper. " Pinta Asma sambil menerima uluran tangan Asma.


"ayoo.. apapun yang istriku mau, aku penuhi malam ini. " Balas Farhan.


Asma membalasnya dengan senyuman sambil menggandeng tangan Farhan dengan bahagia.


"mas.. udah dong, liya ngantuk nih. " Ucap seorang gadis yang sedang duduk di teras bersama sang kaka.


"tunggu sebentar lagi. Biasanya kamu juga tidur malam. " Balas Asyam kepada adiknya.


"ya kan tapi ini lagi ngga biasa. Liya lagi mengantuk lebih cepat ini maaass.. " Rengek Liya.


"nah itu dia orangnya tiba. " Ucap Asyam saat menemukan Salwa yang berjalan menuju rumahnya.


"jadi dari tadi nungguin mba salwa. " Bisiknya.


"salwa... " Panggilnya.


"bang asyam. " Balasnya.


"maaf saya mengganggu malam-malam. " Ucap Asyam gugup.


"ngga apa-apa, bang. Ada apa ? " Tanya Salwa.


"ini ada tugas yang harus kamu selesaikan untuk dilaporkan nanti. Saya sudah rangkumkan sih di dalam. Semoga kamu bisa mengerti." Ucap Asyam terbata-bata.


"kalau ada yang ngga faham.. bisa tanyakan ke saya.. atau ke asma juga ngga apa-apa. " Jelasnya lagi.


"iya.. " Balas Salwa sambil memegang berkas yang diberikan Asyam.


Bukan tak ingin membalas lebih, namun Salwa pun bingung dengan sikap Asyam malam ini yang berhadapan langsung dengannya. Setelah berhari-hari menghindar dan berbicara ketus terhadap Salwa.


"baru pulang ?" Tanya Asyam.


"iya.. "


"malem banget. " Ucapnya.


"iya hari ini lembur, ada kerjaan lebih. " Balas Salwa dengan senyum yang kaku karena bingung.


"yasudah, masuk istirahat. " Ucap Asyam.


"iya, bang asyam juga. " Balasnya.


"terima kasih ya, sudah dibawakan tugasku. " Ucap Salwa.


"ya.. sama-sama. " Balas Asyam.


Entah kenapa tak seperti biasanya, yang bahagia jika bertemu dengan Asyam. Lelahnya hari ini sepertinya mengalahkan perasaan cintanya yang mulai layu. Salwa memandangi lembaran-lembaran kertas yang diberikan Asyam dan mengingat kejadian yang baru saja dialaminya. Wajah Asyam yang malu, sikapnya yang kaku, lidahnya yang kelu. Asyam yang tak ramah dengannya, seperti es batu yang mencair karena panas.


.


.


.


...-Bersambung-...

__ADS_1


__ADS_2