KETIKA RINDU BERBALUT DOA

KETIKA RINDU BERBALUT DOA
Episode 65 - Ikhlas Berlapang dada


__ADS_3

Pagi kembali menyapa insan yang masih diberi nikmat untuk bernafas. Kembali menjalani aktifitas di akhir pekan yang membahagiakan. Ihsan memilih mengunjungi kedua orang tuanya disalah satu kota yang dikenal dengan kota hujan. Rasa rindu kepada sang adik juga menjadi keinginan utamanya untuk kembali pulang.


Salwa menikmati paginya dengan secangkir teh di teras rumahnya. Sambil duduk dan melihat lembaran yang semalam diberikan oleh Asyam. Tak lama, makhluk kecil nan lucu menghampirinya dan menyapa.


"mba salwa." Ucapnya dengan senyuman.


"hey, nuha.. " Balasnya sambil mengelus pipi Nuha.


"nih kue bolu dari mas asyam. " Ucap Nuha sambil mengarahkan pandangannya kepada sang kaka yang menunggu didepan rumah.


Asyam melempar senyuman saat mata Salwa memandang kearahnya.


"sampaikan terima kasih ya sama mas asyam-nya nuha. Kue nya mau mba salwa makan untuk teman minum teh. " Ucap Salwa kepada Nuha.


Nuha hanya memanggutkan kepala dengan wajahnya gembira dan langsung berlari kearah Asyam, lalu membisikan titipan pesan dari Salwa. Asyam langsung mengangkat tubuhnya dan kembali menatap Salwa, memanggutkan kepala sebagai isyarat pamit untuk kembali masuk kedalam rumah.


"ya Allah, kali ini kuatkan hatiku agar tidak goyah atas apapun sikapnya terhadapku. Kutitipkan rasa dihatiku kepadaMu jika Kau takdirkan dia untukku." Doa Salwa dalam hatinya.


Mengingat rasa sakit atas penolakan cintanya, Salwa tak ingin mengobati luka yang sama untuk kedua kalinya. Kali ini dirinya hanya akan pasrah dengan ketetapan Allah atas jodohnya, meski akan tetap terasa sakit jika melihatnya bersanding dengan yang lain. Sakit sedikit, sakit yang disebabkan karena pernah ada cinta untuk dirinya.


Menjalani hari-hari dengan menyayangi diri sendiri. Melaksanakan tugas dan kewajibannya ditempat kerja dan mengajar, berteman dengan orang-orang yang bertamu dalam kehidupannya dan juga memperbaiki diri dari waktu ke waktu.


Benar kata Asma, menyayangi diri sendiri lebih dulu agar dapat menghujani cinta untuk orang yang dicinta. Kita harus bahagia karena rasa cinta. Cintai diri sendiri untuk bahagia, agar dapat mencintai dengan bahagia.


"mas.. hari ini kamu masuk kerja ?" Tanya Asma.


"iya. Maaf ya hari ini aku ngga bisa nemenin weekend kamu. " Jawab Farhan sambil memegang kepala Asma.


"aku .. boleh ikut kamu ngga ? nemenin di ruangan ?" Tanya Asma sambil merapihkan kerah baju Farhan.


"yakin mau ? ngga bosen ?" Tanya Farhan.


"iya. Boleh ya ?" Pinta Asma.


"iya sayang. Hari ini aku sebentar doang ko. Aku mau cek pasien-pasien ku. Kalau ngga ada pasien baru, aku pulang. " Jelasnya.


"yuk.. " Ucap Asma sambil membawa tasnya.

__ADS_1


Farhan merangkulnya keluar kamar untuk menuju garasi dan berpamitan dengan Papa dan Mama.


Ihsan menghabiskan waktu bersama sang adik sambil berjalan-jalan dan makan bersama. Disalah satu cafe, Ihsan berbincang dengan sang adik sambil minikmati cemilan yang dipesannya.


"jadi bagaimana ta'aruf mu itu ?" Tanya Ihsan.


"raina belum cocok bang." Jawabnya.


"batal lagi ?" Tanya Ihsan yang dibalas anggukan oleh Raina.


"bagaimana hubungan abang dengan asma ?" Tanya Raina.


"ya.. seperti itu.. " Balas Ihsan sambil menikmati minumannya.


"abang.. Berhenti mengharapkan sesuatu yang ngga mungkin bisa kita miliki. Dulu, meskipun terasa tidak mungkin, tapi asma masih sendiri. Saat ini dia sudah menjadi milik orang lain." Jelas Raina.


"iya, abang tau. " Balasnya.


"tapi kamu tau kan, menghapusnya tak semudah saat menghadirkannya. " Lanjut Ihsan.


Raina hanya terdiam menatap Ihsan yang dimatanya masih menyimpan banyak harapan bersama Asma. Ketidakmungkinan yang masih selalu ia paksakan. Jalan takdir yang masih terus dilawannya. Meski sekalipun dia berkata akan melepasnya dengan ikhlas. Namun tak semudah lidah yang tak bertulang, tentu hati akan merasakan beratnya kehilangan.


Farhan sampai diruangannya. Lagi-lagi ia menemukan kotak dimeja kerjanya. Tangannya langsung menghampiri dan menyentuhnya. Asma masih asik melihat-lihat ruang kerja sang suami sambil menaruh tasnya di sofa.


Dengan cepat Farhan berjalan, membuka pintu dan melihat kesekeliling. Asma bingung dengan sikap sang suami dan menghampiri.


"mas.. " Ucap Asma sambil memegang bahu Farhan.


"ada apa ?" Tanya Asma.


Farhan tak menjawab dan hanya menatap kotak itu penuh kekesalan.


"kenapa, mas ?" Tanya Asma yang ikut memegang kotak itu dan berpindah ketangannya.


Farhan meninggalkan Asma dan bersandar disofa. Asma mengikutinya dan perlahan membuka tutup kotak berwarna coklat berhias pita merah muda. Asma mengambil kertas dan membacanya.


...Biar aku yang berusaha dan terus menghujani mu dengan cinta....

__ADS_1


Dilihatnya lagi isi kotak dibalik kertas itu. Ada sekotak salad buah yang tersusun dengan indah didalam kotak transparan.


"dari penggemar kamu ya.." Ucap Asma tanpa beban, menatap sang suami.


Farhan menatapnya dengan terkejut, mendapati Asma yang begitu tenang tanpa cemburu.


"seenteng itu kamu bertanya, asma." Ucap Farhan mengangkat punggungnya yang menempel pada sofa.


Asma berpindah duduk disamping suaminya sambil menunjukkan senyumnya yang menenangkan.


"mas.. dia kan kirim makanan ini untuk kamu. Makanan kan salah satu rejeki. Masa iya aku ngga seneng sih suami aku dapet rejeki. " Balas Asma.


"asma. Ini rejeki dari orang yang berniat ngga baik sama hubungan kita." Ucap Farhan sambil menatap Asma.


"dari Xena kan ?" Tanya Asma.


Farhan hanya menatapnya, tak membalas dengan kata.


"xena, biar aku yang urus ya kalau dia masih mengganggu kamu. Yang penting kamu jangan memberikan celah sedikitpun untuk dia dekat dengan kamu. " Jelas Asma.


Asma lalu merentangkan tangannya untuk Farhan masuk kedalam pelukannya yang menenangkan.


"makasih ya sayang, kamu selalu menjadi istri yang menyejukkan dan selalu memberi aku ketenangan. " Ucap Farhan.


"yaudh, sekarang kamu bertugas dulu. Aku mau kemusholah ya. Nanti kalau sudah mau pulang, kabarin aku ya. " Jelas Asma mengelus kedua pipi sang suami.


Farhan pun mendaratkan kecupan dikening Asma dengan perasaan yang bahagia. Farhan berterima kasih pada tempat ini yang telah mempertemukan dia dengan Asma yang dulu terbaring lemah, namun terasa penuh cinta.


Asyam mengerjakan tugasnya didalam kamar dengan fikiran yang kacau. Hati yang gelisah dan fikiran yang selalu teringat dengan perlakuannya terhadap Salwa. Bagaimana perempuan itu menanggung malu terhadap sikapnya. Bayang-bayang itu terus mengganggu sejak Asyam bertekad untuk memperlakukan Salwa dengan baik layaknya teman-teman yang lainnya.


Dengan suasana hati yang kacau, Asyam keluar kamar menuju teras untuk mencari kesegaran. Namun nyatanya yang ditemukan adalah sosok gadis yang mengganggu fikirannya, yang dengan anggun sedang menjemur pakaian.


Matanya tak dapat melepas pandangan kepada sosok Salwa yang sempat dibencinya. Gadis cantik yang hanya mengikuti perasaan dalam hatinya. Bagaimana bisa ia menyakiti perasaan orang yang mencintainya, yang dengan tulus memberikan cinta pada sosok yang baru dikenalnya.


.


.

__ADS_1


.


...~Bersambung~...


__ADS_2