KETIKA RINDU BERBALUT DOA

KETIKA RINDU BERBALUT DOA
Episode 20 - Sepucuk Surat


__ADS_3

Jakarta, menyambut kedatangan mereka. Tak disangka saat masuk kehalaman masjid, Asma disambut oleh keluarganya dan juga keluarga Ihsan yang datang tanpa berkabar.


Saat yang lain berhambur kedalam aula masjid, ada yang berbaring ada pula yang duduk. Asma dan Ihsan memilih untuk lebih dulu menghampiri kedua orang tuanya. Asma langsung mendapat pelukan dari ustadzah Asyha saat menyalaminya. Tangis tumpah membasahi pipi ustadzah Asyha sambil mengucap syukur dan takbir. Gadis yang sangat diingininya untuk menjadi menantunya, Allah bukakan pintu pertama untuk dapat memilikinya. Kedua pipinya diciumi oleh ustadzah Asyha yang tak dapat membendung kebahagiaannya.


"nak, malam ini kita menginap dirumah ustadz hasan." Ucap ustadz Rehan kepada Ihsan.


Asma dan Raina saling merangkul bahagia.


"abii, ihsan sama asma selesain urusan dulu dengan teman-teman nanti baru kita pulang." Jelas Ihsan.


"kita tunggu dirumah ya." Ucap ustadz Hasan sambil menepuk bahu Ihsan.


Waktu menunjukkan pukul 12 malam. Raina menemani Ihsan dan Asma bertemu dengan teman-teman remaja.


"dus nya disimpan disekretariat saja, sudah malam. Besok baru kita bongkar. Syahrul, Zidan tolong dibawa ya. Yang lain boleh langsung pulang. yang laki-laki kalau bisa dampingin yang perempuan sampai kerumah, untuk jaga-jaga saja." Jelas Ihsan.


"siap bang.."


"syam, aku duluan ya.." Ucap Ihsan sambil bersalaman dengan Asyam.


Malam ini menjadi malam yang tenang untuk beristirahat. Rasa dihati terkalahkan dengan lelahnya tubuh. Tentang rasa, kita tutup untuk sementara sambil menunggu semesta berbicara tentang kabar-kabar baru.


Pagi ini menjadi pagi bahagia bagi kedua keluarga, Ihsan dan Asma. Sarapan di satu meja yang sama. Hingga berlanjut keruang tamu untuk membicarakan persiapan pesta pernikahan Asma dan Ihsan. Ustadz Rehan dan Ustadz Hasan duduk bersama mencatat kerabat-kerabat yang akan mereka undang. Ummi Asyha dan Bunda Zulfah, duduk membahas hidangan, pelaminan dan yang lainnya. Ihsan, Asma dan Raina hanya memandangi mereka dengan penuh bahagia.


"kita bahas yang lain yuk, di taman belakang." Ajak Asma.


"kalian duluan, aku ambil laptop dulu di atas." Ucap Asma.


"bang, asma benar menerima lamaran abang ?" Tanya Raina saat memasuki halaman belakang.


"seperti yang kamu lihat." Jawabnya.


"Abang bilang asma menyukai bang asyam, begitupun sebaliknya." Ungkap Raina.


"Allah Maha membolak-balikkan hati. Jangan kamu ragukan keputusan sahabatmu itu, abang sendiri mengenalnya dengan baik, masa kamu tidak." Jelas Ihsan dengan senyuman.


Tanpa sengaja Asma mendengar dari balik pintu. Hatinya tenang ketika Ihsan penuh rasa percaya kepadanya.


"nah, sekarang kita list teman-teman bang ihsan dan asma yang akan di undang. Raina juga kalau mau mengundang sahabat dekat." Ucap Asma sambil melangkah dan duduk di sebelah Raina.


"teman-teman kita kan sama, ma." Ucap Raina.


"oh iya, bang ihsan. siang ini aku ada mau lihat-lihat undangan ditemannya bang asyam, ditemani sama liya." Jelas Asma.


"yasudah silahkan." Sahutnya.


"abang juga ada perlu sore ini, jadi tidak bisa menemani." Ucap Ihsan.


"ga apa-apa, lagipula kan aku perginya sama liya, tidak ada laki-lakinya." Sahut Asma.

__ADS_1


Persiapan sedikit-demi sedikit telah diurus. Asma, Ihsan dan Raina hanyut dalam keseruan bersama. Ternyata se-menyenangkan ini mempersiapkan pesta pernikahan. Terlebih jika menikah dengan orang yang menjadi pilihan hati.


Liya merapihkan diri didalam kamar, menyiapkan keperluan yang harus dibawa untuk pergi bersama Asma. Entah mengapa hatinya selalu senang setiap kali ingin betemu dengannya. Gadis yang saat ini sangat diidolakannya. Mulai dari kecantikannya, anggun, tutur kata yang lembut, sikapnya yang penyayang, ceria, hampir saja kekurangan itu tak terlihat dalam dirinya. Liya mengendarai motornya menuju rumah Asma.


"ayah.. asma berangkat yaa, mau lihat undangan." Ucap Asma berpamitan kepada kedua orang tuanya dan juga orang tua Ihsan.


“mau ayah antar ?” Tanya Ayah.


“ngga usah, yah. Asma sama liya, adiknya bang asyam." Jelas Asma.


"kenapa tidak diantar ihsan." Ledek Ustadz Rehan


"bang ihsan ada keperluan, lagi pula ngga enak ahh, belum sah." Canda Asma sambil tersenyum.


“asma, souvenir siapa yang akan pesan ?” tanya Ummi Asyha


"insya allah, asma sama bang ihsan mau pesan dari jogja. Waktu liburan, sempat lihat-lihat souvenir, sudah minta kontak penjualnya juga. Nanti asma diskusikan lagi dengan bang ihsan." Jelas Asma.


"asma pamit yaa.. sepertinya liya sudah didepan." Ucap Asma.


"assalamuálaikum."


"wa'alaikumussalam..


Tak disangkanya langit tak mendukung perjalanannya siang ini. Sesampainya ditempat percetakan, hujan turun deras. Liya dan Asma menungggu diruang tunggu. Disamping wajah cemasnya Liya akan turunnya hujan. Asma nampaknya bahagia menerima nikmat Allah disiang ini. Bibir nya sedikit tersenyum sambil menatap luar yang terhalang dinding kaca yang bening.


“Alhamdulillah , allahumma shoyyibannaafi’aan. Mungkin inilah isyaratMu yang mengingati kami untuk beristirahat


“mba asma ko terlihat senang? hujannya cukup deras, mba. pasti akan lama dan menghambat kita pulang.” Ungkap Lia.


“Mba menganggap ini hal baik yang Allah kasih. Mungkin hari ini tanpa kita sadar tubuh kita lelah dan butuh istirahat, jadi anggaplah hujan ini sebagai tanda bahwa Allah menginginkan kita beristirahat dari tugas-tugas kita hari ini.” Jelas Asma.


“hmm .. gitu toh , mba.” Sahut Liya.


“subhanallah , kalau saja mas asyam lebih dulu melamarnya pasti bu'e sangat senang memiliki menantu seperti mba asma.” Batinnya.


"assalamuálaikum.." Seorang lelaki masuk kedalam ruangan.


"wa'alaikumussam warahmatullah.."


"liya ya, adiknya asyam.." Sapanya


"iya kang, saya liya. ini mba asma yang akan memesan undangan." Jelas Liya memperkenalkan Asma.


"ayo ayo duduk saja, kita lanjut sambil duduk." Ucap Kang Ridho, teman Asyam si pemilik percetakan


"nah mba asma, ini saya ada pilihan undangan sesuai dengan budget yang liya beritahu ke saya. Boleh dilihat-lihat dulu." Jelas Kang Ridho sambil memberikan beberapa undangan yang tersusun rapi dalam map berbentuk buku.


"boleh asma kirim photo ke calon suami saya, kang ?" tanya Asma sambil melihat-lihat.

__ADS_1


"silahkan, silahkan.." Sahut Kang Ridho.


Asma lanjut berdiskusi dengan Liya.memilih beberapa undangan dan mengirimnya kepada Ihsan. Liya sedang asyik berbincang dengan Kang Ridho, tentu banyak yang Kang Ridho tanya tentang keluarganya terutama dengan Asyam.


"Liya, kang ridho, saya terima telephone dulu ya.." Izin Asma.


-Via  Telephone-


Asma : Assalamu'alaikum, bang..


Ihsan  : wa'alaikumussalam. Asma, masi lama di percetakan ?


Asma : kurang tau sih, bang. tapi mungkin nunggu hujan reda.


Ihsan  : yasudah kalau gitu, tunggu abang jemput ya. untuk undangan pilih 2 warna saja, Pink Rose dan Silver. Pesan sesuai jumlah tamu undangan saja ya, asma atur.


Asma : baik, bang ihsan. Asma tunggu ya jemputannya (asma tersenyum bahagia)


Ada hati yang bahagia, ada pula hati yang bersedih. Syahrul menunggu santri-santri diteras masjid. Sekaligus meunggu seorang gadis yang berhasil menarik hati dan perhatiannya. Syahrul langsung berdiri saat melihatnya bersama dua perempuan kecil yang mendampinginya dengan ceria. Payung yang dipegang Nadia melindungi tubuh peri kecil yang memeluknya. Hujan memang masih turun meski tidak sederas sebelumnya.


"syahrul .."


"Nadia.." Balasnya.


dua peri kecil itu langsung masuk menginggalkan Nadia.


"oh iya, tadi asma bilang suruh cek kerdus titipannya ka silvi. kamu pegang kunci sekretariat ?"


"oh ada. biar aku bantu." Ucap Syahrul yang langsung meninggalkan Nadia.


Ihsan yang tadi berjanji menjemput Asma, telah sampai dengan mobil yang dikendarainya. Ihsan mengambil payung untuk digunakannya dan satu payung lagi untuk Asma. Asma dan Liya telah menunggu di pinggir toko setelah tau mobil Ihsan telah terparkir. Undangan telah selesai dipilih dan dipesan, hanya tinggal menunggu pengiriman kerumah setelah beberapa kali pengecekan nanti. Asma dan Liya duduk dikursi belakang. Mereka langsung menuju masjid untuk lanjut mengajar mengaji. Hujan mulai reda sesampainya dihalaman masjid.


"abang , asma ke sekretariat dulu ya. Liya langsung bantu ngajar ajah." Asma melangkah pergi, disusul oleh Liya.


Sesampainya di sekretariat, tak hanya Syahrul dan Nadia yang ia temui. Ada Asyam juga didalam sedang membuka dus yang tersisa.


"Asma.." Sapa Nadia.


Asma duduk di bangku bersama Nadia.


"Bang asyam, kalau kita tinggal tidak apa-apa ?" Tanya Asma.


"tidak apa, biar aku yang urus ini. Nanti malam biar bisa langsung dibagikan." Jelas Asyam.


"Kita liat kondisi dibawah dulu ya, nanti kalau kondusif kita balik lagi ke sini."Jelas Asma.


Asma dan Nadia bangkit dan beranjak pergi.


"Bang, aku ikut ke bawah ya, nanti aku kembali lagi." Ucap Syahrul membuka pintu.

__ADS_1


Asyam sendiri dalam ruangan, membereskan dan mengemas oleh-oleh yang diberikan Ka Silvi untuk para remaja. Tak disangka saat kakinya melangkah mendekat pintu, Ia menemukan sepucuk surat yang tergeletak dilantai. Hanya selembar kertas kecil yang dilipat. Pandangannya langsung keluar melihat gadis yang melangkah memasuki teras masjid dan kembali lagi memandangi surat ditangannya.


Bersambung .....


__ADS_2