KETIKA RINDU BERBALUT DOA

KETIKA RINDU BERBALUT DOA
Epiode 48 - Jatuh Cinta


__ADS_3

...Aku mulai memikirkanmu tanpa kusadari...


...Aku mulai mengingat setiap hal kecil yang ku lakukan bersama denganmu...


...Jarak yang kau cipta saat ini mengajarkan ku tentang rindu...


...Rindu ku yang hadir karena mengharap kehadiranmu...


...Rindu yang tak pernah kurasa...


...Rindu yang hanya bisa kusalurkan lewat doa...


...agar Tuhan mengirimmu kembali padaku...


...-asma fitriyah hasanah-...


Asma menuliskannya disebuah buku yang selalu dibawanya. Buku catatan yang selalu dibawa untuk mencatat segala sesuatu. Dan ini kali pertamanya selembar kertas dalam bukunya mencatat tentang isi hatinya.


Farhan tiba disepertiga malam, tepat dimana Asma melangsungkan shalat malamnya. Doa yang dipintanya tentang rindu yang dirasa, Tuhan kabulkan langsung dihadapannya. Farhan menatapnya dengan senyuman sambil bersandar dipintu kamar, Asma terkejut melihatnya saat selesai mengusap wajahnya.


"mas farhan." Ucap Asma yang langsung berdiri menatap Farhan.


"masih merindukanku ?" Tanyanya dengan senyuman tepat dihadapan Asma, begitu dekat.


"Allah telah mengabulkan doa saya karena menghadirkanmu kembali." Jawabnya.


"katakan sekali lagi dihadapanku." Pintanya.


Jantungnya berdegub kencang, tangannya mulai terasa dingin, kakinya terasa lemas. Tatapan Farhan yang tajam namun penuh dengan cinta dan kasih sayang, membuat Asma tak dapat mengandalikan rasa dalam hatinya.


"saya merindukanmu, mas. Sangat merindukanmu." Ucapnya sambil menatap mata Farhan.


Farhan tersenyum dan langsung memeluk tubuh Asma. Dengan hati yang senang Farhan bersyukur karena Tuhan memberikan waktu yang cepat untuk Asma jatuh cinta dan menerima kehadirannya. Farhan mengecup kepala Asma dengan penuh rasa dalam hatinya.


"kenapa kamu pulang ? rasanya terlalu cepat dari waktu tugas yang kamu jelaskan saat itu." Ucap Asma.


"karena ada seseorang yang merindukanku. Itu lebih penting bagiku saat ini." Jawab Farhan dengan senyum yang membuat jantung Asma semakin berdetak kencang.


"saya buatkan teh hangat, kamu tunggu disini." Ucap Asma sambil melepas mukenahnya.


Sebelum jantungnya berdetak lebih kencang dan membuatnya kesulitan untuk bernafas. Sebelum sikapnya menghancur suasana, Asma memilih untuk pergi dan menenangkan.


Sambil membuka kemejanya, Farhan mendekat ke kasur dan menemukan buku catatan Asma yang masih terbuka. Farhan mengambil dan membacanya. Perasaan yang baru saja diungkapkan Asma melalui tulisan, perasaan yang mungkin saja tertahan dan sulit terucap oleh lisan.


Setidaknya saat ini Farhan akan memulai kehidupanya bersama dengan Asma dengan rasa yang sama. Meski begitu, Farhan takkan berhenti berusaha untuk membuat Asma semakin jatuh cinta padanya.

__ADS_1


"mas.." Ucap Asma membawa secangkir teh.


Farhan menoleh sambil tersenyum dan masih menggenggam buku catatan milik Asma.


"mas farhan." Ucap Asma saat menyadari buku itu dipegang oleh suaminya.


Asma dengan cepat menaruh secangkir teh dimeja dan meraih buku itu dari tangan Farhan. Farhan yang melihat tingkahnya hanya dapt tersenyum. Farhan duduk ditepi kasur dan menikmati teh buatan Asma. Sedangkan Asma sibuk menyimpan bukunya kedalam tas.


"emang ada apa si dibukunya ? sampai ngga boleh dilihat sama suaminya." Ledek Farhan.


"ngga ada apa-apa, mas." Jawabnya sambil mendekat ke arah kasur.


"abis ini kamu istirahat ya, saya mau balik kedapur." Jelas Asma.


"saya mau ditemenin sama kamu. Kamu kan merindukan saya berhari-hari, masa rindunya hilang hanya dalam beberapa menit." Ucap Farhan memegang lengan Asma.


"Saya biasa kedapur setelah shalat malam. Kamu istirahat saja, masih ada waktu sebelum subuh." Jelas Asma melepaskan tangan Farhan.


Farhan hanya tersenyum melihat Asma menjauh. Tingkah lucunya terlihat karena bingung tidak dapat menutupi perasaannya.


"ternyata kepergianku tidak sia-sia. Memang jarak adalah alasan untuk rindu bertamu dan disaat itulah cinta ikut berlabuh." Batin Farhan sambil menikmati teh yang masih tersisa.


Pagi hari milik Ihsan dihabiskan untuk melepas rindu kepada tempat yang lama ditinggalkannya. Ruang sekretariat, masjid yang biasa digunakan untuk shalat sunnahnya. Asyam pun ikut menjadi bagian dari paginya. Ihsan dan Asyam sama-sama menyelesaikan tugas disekretariat sambil bercerita. Tentang santri dan para pengajar yang lama tak di jumpainya, tentang kecelakaan dan tentang pengobatannya hingga kembali ke jakarta.


"untuk acara santri, kita sudah rapat dan putuskan akan diadakan satu bulan lagi. Kamu setuju ?" Tanya Asyam sambil mengecek lembar laporan.


"siapa penanggung jawabnya ?" Tanya Ihsan.


"asma." Jawab Asyam, ragu untuk memberitahu.


"asma ? kenapa tidak laki-laki saja ?" Tanya Ihsan.


"... mhh.. itu.. tidak ada yang mau, tidak ada yang berani untuk tanggung jawab kegiatan ini." Jelas Asyam.


"termasuk kamu ?" Tanyanya lagi yang kini mengalihkan pandangannya kepada Asyam.


"ya ? oh, aku.. aku belum berpengalaman untuk ini, san. Aku takut tidak maksimal saja." Jelas Asyam.


Ihsan menarik nafas dan menghela nafas sambil bersandar.


"kita ini kerja sama-sama, syam. Kenapa untuk acara besar ini kamu biarkan Asma yang memegangnya." Ucap Ihsan.


"berikan semua berkas di map kegiatan itu padaku, nanti akan aku bicarakan dengan Asma." Pinta Ihsan.


Ihsan melihat catatan kepanitiaan yang tertulis di kertas.

__ADS_1


...Ketua pelaksana : Asma...


...Sekretaris : Nadia...


...Bendahara : Salwa...


...Acara : Syahrul...


"kamu masuk dibagian apa ?" Tanya Ihsan.


"acara bersama syahrul dan Zidan." Jawabnya.


Xena dan Nathan kembali bersama dari perjalanan tugasnya. Xena dengan senang hati menyiapkan buah tangan untuk kedua orang tua Farhan.


Setelah berdandan dengan rapi dan cantik, Xena melajukan mobilnya kerumah Farhan. Sepatu high heels, dress berwarna lavender selutut, warna tas yang senada dipilihnya. Rambut hitam panjang tergerai menambah keanggunannya.


Sesampainya dirumah Farhan, pembantu wanita menyambutnya dan mempersilahkan menunggu di ruang tamu. Farhan, Asma dan Mama Fara yang berada di saung dekat kolam sedang asik bercerita. Mama Fara yang mendapat laporan atas kedatangan Xena langsung menyuruh agar Xena bergabung besamanya di saung.


"hallo, tante." Sapa Xena dengan senyuman sambil menenteng paper bag berukuran besar.


"hai, ayo sini bergabung." Ucap Mama Fara.


Xena menyalami Mama Fara sambil saling menempelkan pipi kanan dan kiri, bergantian.


"gimana tugas kamu disana ?" Tanya Mama Fara.


"lancar, tante. Pengalaman baru buat xena saat ini. Apalagi bisa tugas bareng lagi sama farhan, nathan juga senang." Jelas Xena.


"iya, ya nathan. Apa kabar dia ? sudah lama tidak main kesini." Tanya Mama Fara.


"nathan baik, tante. Kapan-kapan kalau kesini aku ajak dia." Jawab Xena.


"oh iya, aku beli oleh-oleh buat tante sama om." Ucap Xena sambil memberikan.


"waw, terima kasih. Tante jadi ngga enak, ngerepotin." Ucap Mama Fara.


"ngga tante. Tante tuh udah kaya mama buat xena. Xena kan ngga ada orang tua, keluarga pun jauh. Tante, om, farhan, itu udah seperti keluarga buat xena." Jelas Xena.


Farhan tak peduli dengan apa yang Xena ucapkan. Tenggakan secangkir teh adalah bentuk pengabaiannya. Asma hanya tertunduk mendengar kata-kata manisnya.


.


.


.

__ADS_1


.


.... . . BERSAMBUNG . . ....


__ADS_2