
Selesai dari tugasnya, Farhan mengajak Asma berjalan-jalan ditaman. Sambil menikmati segelas kopi ditangan masing-masing.
Suasana sore hari yang menyenangkan, hembus angin yang menyegarkan. Bau dedaunan yang menenangkan. Ini kali pertama Asma dan Farhan berjalan bersama, di ruang lepas, menikmati indahnya pacaran layaknya orang-orang.
Berjalan bersama sambil bergandeng tangan, melempar senyum kebahagiaan. Hari yang selalu ditunggu untuk bisa saling merasa dan menerima. Hati bersih yang terluka, masih takut untuk kembali menerima cinta. Namun dia hadir dengan segala bahagia, seolah menjadi obat ketakutannya tentang cinta.
"kita duduk disitu yuk." Pinta Asma saat melihat sebuah bangku.
"kopinya diminum." Ucap Farhan sambil meneguk segelas kopi yang masih terasa hangat.
"iya." Sahut Asma, mengikuti.
"aku merasakan sesuatu hal yang paling bahagia dalam kehidupan aku." Ucap Farhan.
"hmm ?" Asma memandangnya.
"sesuatu yang selama ini ingin aku rasa. Memang benar kata orang, ini sangat membahagiakan."
"apa itu ?" Tanya Asma.
"memiliki seorang kekasih." Jawabnya sambil tersenyum dan menatap Asma.
"ternyata benar, cinta itu memang indah." Ucapnya.
Asma tersenyum malu sambil menundukkan pandangannya.
"katanya, kalau sudah menikah boleh saling bertatapan. Katanya, memandangnya pun mendapat pahala." Ledek Farhan.
Asma tersenyum, mengangkat pandangannya.
"setiap malam, aku selalu memandangimu tidur dengan nyenyak." Balasnya.
"wajah tampan yang banyak diidam-idamkan. Tapi aku bisa dengan puas memandanginya setiap malam. Wajah yang lelah karena bekerja seharian untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang suami. Wajah yang teduh setiap kali aku pandangi, rasanya menyejukkan." Bisik Asma sambil memainkan jari telunjuknya dari dahi hingga bibir Farhan.
"bisakah kamu merayuku ketika dirumah saja." Bisiknya ditelinga Asma.
"itu ujian yang harus kamu lewati, mas." Ucap Asma yang langsung bangkit dan tersenyum meninggalkan Farhan.
Farhan mengusap wajahnya sambil tersenyum memandangi sang isteri yang terus berjalan sambil sesekali menoleh melempar senyuman. Tak disangka, saat dia membuka mata dari komanya seperti matahari yang bersinar terang. Keberadaanya selalu membuka jalan, menyinari kegelapan.
"aku punya hadiah untuk kamu." Ucap Farhan sambil memasang sabuk pada tubuhnya didalam mobil.
"bukankah jalan-jalan ditaman itu hadiah untukku ?" Tanya Asma.
__ADS_1
"adalagi. Kamu tutup mata nih." Perintahnya sambil memberikan sleep mask kepada Asma.
"harus ?" Tanyanya.
"harus dong, biar surprice." Jawab Farhan yang mulai menyetir.
Dengan tenang Asma menyandarkan punggungnya. Dengan mata yang tertutup, dia tetap menikmati perjalanan sambil mengingat hal-hal yang membuatnya senang hari ini. Bibirnya tak dapat membohongi perasaan hati, senyuman itu tertangkap oleh pandangan Farhan yang sesekali memperhatikan isterinya saat sedang menyetir.
"seneng ya ?" Tanya Farhan sambil menggenggam tangan Asma.
Asma hanya membalasnya dengan senyuman yang semakin merekah.
"semoga kejutan yang aku persiapkan, bisa menambah kebahagiaan kamu hari ini ya." Ucap Farhan.
Sesampainya disebuah gedung mewah bertingkat. Farhan membawa Asma turun dan membiarkan mobilnya diurus oleh petugas valet. Perlahan Farhan membawa Asma memasuki loby yang luas menuju lift. Menunggu pintu lift terbuka dan masuk bersama dengan Asma.
"mas kita dimana sih ? mau ngapain ?" Tanya Asma yang mulai penasaran.
"tunggu ajah, sebentar lagi." Jawab Farhan yang membawa Asma keluar dari lift.
Sebuah pintu bertuliskan 160, menjadi tujuan akhir yang menyimpan kejutan Farhan untuk Asma. Perlahan ia membuka pintu dan membawa Asma masuk menuju jendela kaca yang luas yang memperlihatkan keindahan kota beserta kerlip warna lampu yang indah.
"siap ya.. aku buka tutup matanya." Ucap Farhan sambil membuka sleep mask yang dikenakan Asma.
"bismillahirrohmanirrohiim." Ucap Asma.
"masya allah.." Ucapnya yang menemukan indahnya kota pada malam itu.
Asma menatap Farhan dan berbalik melihat sekeliling. Dinner table dengan keindahan lilin dan vas bunga, juga hidangannya. Kasur dengan taburan bunga mawar berbentuk hati.
"wedding cake untuk pernikahan kita." Ucap Farhan sambil membawa kue ditangnnya.
Kue berukuran sedang. Tidak besar juga tidak terlalu kecil, tapi cukup untuk dinikmati berdua. Berwarna putih bersih dengan hiasan mutiara dan patung pernikahan.
"mas.. aku terharu. Aku bahagia." Ucap Asma menerima kue pemberian Farhan.
Farhan berjalan menuju laci meja dan mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah dengan hiasan pita berwarna silver. Farhan membukanya dihadapan Asma. Memperlihatkan sederetan perhiasan berwarna putih. Kalung berliontin mutiara, gelang dan sepasang cincin.
"mas.. " Asma tak kuasa membendung air matanya.
Kue yang dipegangnya, dilepas diatas meja. Dirinya menghampiri Farhan dan memeluknya.
"jangan nangis dong, aku ngga jadi bikin kamu bahagia deh kalo kamu nangis." Ucap Farhan.
__ADS_1
"ini karena aku terlalu bahagia, mas. Aku bersyukur Allah menghadirkan kamu dalam hidupku. Allah jadikan kamu hadiah saat aku membuka mata. Allah ganti lukaku dengan bahagia." Ucapnya dalam tangisan.
"terima kasih ya, karena sudah menerimaku." Ucap Farhan.
"aku yang berterima kasih, karena kamu telah menerima aku. Bahkan memilih aku dalam kekuranganku saat itu." Ucap Asma sambil menatap Farhan.
"Allah lebih tau apa yang paling dibutuhkan hambaNya." Ucap Farhan dan mencium kening Asma.
Ada saat dimana luka harus mengalah untuk bahagia yang ingin dirasa. Berpura-pura telah sembuh meskipun tetap meninggalkan bekas. Tak selalu bahagia harus menunggu hingga luka sembuh. Karena terkadang bahagia bisa menjadi obat untuk luka yang enggan sirna.
"Ada luka yang masih harus aku rawat, namun bersamamu aku lupa tentang sakit yang aku rasa. Mungkinkah ini adalah awal kesembuhan hati untukku kembali mencintai. Membangun cinta yang kuat bersamamu." Asma.
Farhan meletakkan kotak diatas meja untuk memakaikan cincin dijemari Asma, begitupun Asma yang juga memakaikan cincin dijari Farhan.
"apa abang harus secepatnya menemukan pengganti asma supaya bisa terlepas dari perasaan ini ?" Tanya Ihsan kepada sang adik yang kini sedang menikmati malam dibalkon kamar.
"sebaiknya abang beristirahat supaya abang benar-benar tulus mencintai pasangan abang nanti." Jawabnya.
"ngga perlu terburu-buru bang. Menikah itu bukan perlombaan dan cinta itu bukan permainan." Jelas Raina.
"meskipun ada yang bilang, untuk menyembuhkan luka karena ditinggalkan cinta yaitu menemukan cinta yang baru. Tapi bukankah itu jadi seperti pelampiasan ?" Ucapnya.
"abang harus melakukan apa ya, supaya bisa fokus dan profesional. Supaya perasaan ini tidak mengganggu." Tanya Ihsan.
"obatnya hanya satu, bang."
"apa ?" Tanya Ihsan.
"kembali kepada Allah. Perbanyak berinteraksi dengan ayat-ayatNya." Jawab Raina.
Ihsan menatap sang adik dengan penuh kebanggaan dan rasa bahagia.
"semoga Allah mengirimkan jodoh terbaik untukmu, rai." Ucap Ihsan sambil mengusap kepala sang adik.
Jika takdir ini datang dariNya, maka jalan kembali hanyalah kepadaNya. Bukan takdir yang tak sesuai, tapi menerima dengan hati yang menyesuaikan akan terasa lebih nyaman. Mengubah jalur tujuan sesuai dengan apa yang telah ditakdirkan. Berdiskusi dengan doa agar Allah tunjukkan jalan yang diRidhoiNya.
.
.
.
.
__ADS_1
...~Bersambung~...