
Setelah melewati hari yang penuh warna-warni emosi jiwa. Waktu belum memihak pada kedamaian yang diharapkan. Semua memori hari itu masih tersimpan, hangat dalam ingatan, seolah baru kemarin kejadian.
Bagi Salwa yang sedang meyakinkan hati, rasa cemas kini muncul lagi. Goyah, tak bisa dipisahkan dan ditahan lagi. Bimbang, penuh perhitungan dalam penentuan. Mengobati luka saja, belum selesai. Namun masalah, muncul menambah beban. Bagi Salwa, rasanya ketenangan seakan menghilang saat dia menghadirkan cinta untuk lawan jenisnya.
"akhir pekan, mas ada kesibukan apa ?" Tanya Liya di teras rumah sambil memetik sayuran ditemani Asyam.
"belum tau." Jawabnya singkat.
"mas lagi memikirkan sesuatu ya ?" Tanya Liya.
Bukan menjawab pertanyaannya, pandangan Asyam malah mengarah kerumah Salwa. Gadis yang diharapkannya, muncul didepan mata. Liya yang memperhatikan sang kaka, mengikuti arah pandangan Asyam.
"apa mas asyam lagi kepikiran sama mba salwa ? sebnarnya ada apa sih?" Bisik Liya dalam hatinya.
"mas.." Panggil Liya, menyadarkan.
"sebentar, dek." Ucap Asyam.
Asyam bangkit dan berniat menghampiri Salwa yang asik berjalan sambil membenarkan tas yang menyangkut dibahunya. Kuning, warna jilbab pilihannya yang cerah. Sambil berharap harinya juga akan secerah pekaian yang dikenakannya.
"salwa.." Sapa Asyam yang tiba didekat Salwa.
"baru saja berharap, warna cerah ini bisa mengalihkan kegelisahanku. Kenapa dia malah muncul dihadapanku." Gumamnya dalam hati.
Salwa hanya berhenti tak membalas.
"emm.. akhir pekan ini, apa kamu ada kesibukan ?" Tanya Asyam.
"ada ! adaaa bangeeet. Saking sibuknya aku sampe ngga bisa menikmati hariku dengan tenang." Balasnya dalam hati.
"ngga tau." Jawabnya ketus.
"kalau boleh, saya minta waktu luang untuk mengobrol." Pinta Asyam.
"ah.. bukan berdua. Nanti saya akan ajak liya." Jelas Asyam.
"abang lupa ya dengan permintaan saya ?" Tanya Salwa.
"jangan ganggu saya, jangan muncul dihadapan saya dengan sengaja dan jangan mencari-cari urusan dengan saya." Tegasnya sambil mempraktikkan dengan jarinya.
"sampai kapan ?" Tanya Asyam.
"kalau begitu, sampai kapan saya harus menunggu ? supaya saya bisa meluluhkan hatimu dengan usaha saya ?" Tanya Asyam.
"selama-lamanya ! tunggulah dengan lama tanpa bosan. Seperti saya yang berusaha lama untuk meluluhkan hati abang dan luka yang saya rasa hingga sekarang." Jawabnya dalam hati.
"abang. Saya mohon maaf, saya rasa saya sedang sangat sangat kacau. Jadi tolong jangan ganggu saya dulu." Pintanya.
__ADS_1
"maaf, assalamu'alaikum." Ucap Salwa, meninggalkan.
"sal... "
"apa aku harus lebih bersabar ? mungkin ini yang salwa rasakan dulu saat saya menolaknya dengan kasar. Ya Allah, balasan ini sungguh nyata ku rasa." Bisik Asyam dalam hatinya.
"mas." Panggil Liya dengan lembut tepat dibelakang Asyam.
"mas ngga apa-apa ?" Tanya Liya.
"ah.. iya." Jawabnya.
"mas ada masalah ya sama mba salwa ?" Tanya Liya.
"ngga ko. Sepertinya mas salah waktu. Perasaan salwa lagi kurang baik." Jelas Asyam.
"mas masuk dulu ya." Ucap Asyam sambil menepuk bahu sang adik.
Farhan duduk dengan gelisah sambil menyetir. Ditemani sang istri yang setia duduk disampingnya.
"kamu benar mau kesana sekarang ?" Tanya Farhan.
"iya, mas." Jawabnya.
"kamu jangan panik gitu dong. Aku ngga apa-apa." Ucap Asma meyakinkan.
"iya, mas." Jawab Asma dengan senyuman.
Ainun yang meminta Asma bertemu, telah menunggu diruang tamu sambil memeluk bantal.
"assalamu'alaikum."
"wa'alaikumussalam."
"silahkan masuk." Ucap Ainun yang berdiri mempersilahkan Asma dan Farhan duduk diruang tamu.
"maaf ya, aku meminta kamu kesini." Ucap Ainun.
"ngga apa-apa. Aku memang ada rencana untuk mengunjungimu, tapi kamu memintanya lebih dulu." Jelas Asma.
"ainun, tolong jaga sikap kamu kepada asma yang sedang hamil. Saya ngga mau kejadian itu terulang lagi." Tegas Farhan.
"mas.. " Ucap Asma sambil memegang tangan Farhan.
"maaf, dokter farhan. Maaf juga, asma. Saat itu emosiku memang sedang tidak terkontrol. Aku ngga akan menyakiti asma, aku janji." Ucap Ainun.
"kalau gitu, saya pamit."
__ADS_1
"sayang, aku berangkat kerja ya. Jaga diri baik-baik." Ucap Farhan sambil mengecup kening Asma.
"hati-hati ya." Ucap Asma sambil mencium tangan Farhan.
Asma dan Ainun memutuskan untuk berjalan-jalan ditaman terdekat. Taman yang indah, nyaman dan juga sejuk. Pohon rindang yang membuat teduh ditambah harum yang khas dari dedaunan.
"bagaimana kabarmu ?" Tanya Asma.
"sudah lebi baik." Jawab Ainun.
"sebenarnya, tidak juga sih. Aku masih sangat merindukan kehadiran papa, bayang-bayangnya masih teringat jelas." Ucap Ainun.
"kita duduk ajah yuk disitu. Takutnya kamu capek." Usul Ainun.
"yuk."
"Setelah kepergian papa, aku ngga nyangka akan mengingat semua hal yang pernah aku lakuin ke papa. Aku menyesal, ngga bisa jadi anak yang baik buat papa. Padahal papa selalu memikirkan dan berusaha memberikan yang terbaik buat aku." Ucapnya.
"dan saat papa ingin mengenalkan aku pada rekan kerjanya. Aku kabur dari rumah, aku buat papa marah. Sampai akhirnya aku bertemu kamu lagi dan aku memutuskan untuk berhijab."
"kenapa rasanya sesakit ini ? setiap hari, setiap malam, setiapada waktu luang, aku selalu mengingat papa. Dan.. rasanya sakit." Ucap Ainun sambil memukul-mukul dadanya, air matanya mulai tumpah.
"kalau saja saat itu aku terima perkenalan bang asyam dengan serius, mungkin saat ini dia sudah jadi milikku. Mungkin, papa juga akan senang dan tenang meninggalkan aku dengan seseorang yang siap menjaga aku dan mama."
"ainun, papa pasti akan lebih senang kalau kamu bisa membuktikannya. Kalau kamu menjadi lebih baik dan jadilah anak yang sholeh agar doamu menjadi teman dialam kubur papa." Ucap Asma.
"aku benar-benar menyesal. Rasanya sakit, asma. Bahkan aku belum sempat minta maaf sama papa. Papa pergi secara tiba-tiba, ngga ada tanda apapun." Lanjut Ainun sambil menangis.
"itulah pelajaran untuk kita semua, jangan menunda suatu hal yang baik. Tanpa kita sadar, terkadang kita merasa masih punya hari esok, begitupun dengan orang-orang yang kita temui." Ucap Asma.
"padahal, kematian tidak ada yang tau kapan datangnya." Lanjut Asma.
"asma, aku.. aku ingin minta tolong." Ucap Ainun.
"minta tolong ? minta tolong apa ?" Tanya Asma.
"aku ingin belajar mengaji. Aku ingin tetap belajar mengaji. Seperti yang kamu tau, bang asyam mengajari aku selagi masih ada papa." Jelasnya.
"aku mau minta tolong. Tolong katakan padanya, aku ingin dia mengajar lagi." Pinta Ainun menatap Asma sambil menggenggam kedua tangannya.
Bagai suara kilat yang kencang, saat itu Asma sangat terkejut dengan permintaan Ainun. Belum saja permintaannya untuk bergabung mengajar diproses, dia sudah meminta hal lain yang bagi Asma ini sangat berseberangan dengan prinsipnya. Kenapa harus Asyam, seorang laki-laki dewasa yang seharusnya Ainun menjaga diri darinya. Terlebih, mengingat kejadian saat Ainun meminta Asyam menikahinya. Asma merasa ragu untuk memenuhi keinginannya.
.
.
.
__ADS_1
...~Bersambung~...