KETIKA RINDU BERBALUT DOA

KETIKA RINDU BERBALUT DOA
Episode 11 - Tetangga Baru


__ADS_3

Siang itu, dibulan Syawal. Ada yang sedang berbahagia dirumah sederhana yang berdampingan dengan batas tembok setinggi dada. Tetangga baru telah datang mengisi rumah yang lama tak berpenghuni.


Salwa dan ibunya terlihat senang menerima kedatangan tetangga baru dan membantu membereskan beberapa barang yang dibawanya dari luar pintu. Setelahnya, Ibu Rana mempersilahkan tetangga barunya untuk bertamu kerumah untuk sekedar memberi salam hangat pertemanan di lingkungannya dengan minum dan berbincang-bincang.


“mari .. mari , bu silahkan duduk.” Ucapnya dengan sopan dan ramah kepada Ibu Nurlela.


Seorang wanita tua yang memiliki tiga orang anak yang sangat menghomati dan menyayanginya. Abdullah Asyam, Aliyah Afifah dan Nuha Nur Husnina.


“ini bu, salwa buatkan minum. Silahkan diminum.” Ucap Salwa yang membawa nampan berisikan gelas-gelas minuman.


“trimakasih cah ayu ..” Ucap Bu Nurlela dengan senyum ramah nan hangat.


“sepertinya saat ramadhan kemarin saya pernah lihat kamu aktif bersama ustadz ihsan ya, kalau tidak salah.” Ucap Bu Rana.


“iya, bu. Saya temannya ihsan, yang ramadhan kemarin membantu ihsan di masjid.” Ucap Asyam.


“oohh gitu. Berarti sudah kenal salwa, putri ibu yaa ..” ucap Bu Rana dengan sedikit tawa.


“Alhamdulillah sudah, bu.” Sahut Asyam.


“dan dia adalah seorang pemuda yang pernah salwa ceritakan pada ibu dan bapa saat sahur waktu itu.” Bisik Salwa dalam hatinya.


Didalam jiwa, sesungguhnya sayap cinta takkan pernah patah. Kasih selalu disana , apabila ada cinta dihati yang sana pastilah ada juga cinta dihati yang sini. Sebab tangan yang satu takkan bisa bertepuk tanpa tangan yang lain.


Begitulah yang Salwa yakini bahwa cintanya pada Asyam akan terbalas atas keramahan Asyam juga keluarga kepadanya. Semakin hari semakin mendekat, Salwa berusaha mengakrabkan diri dengan kedua adik Asyam juga dengan Ibunya.


Di kamarnya, Asma sedang bersiap diri. Ia berdiri didepan cermin, untuk melihat penampilannya dengan gamis berwarna biru  muda, begitu pula jilbabnya dengan warna yang sama. Ia mengencangkan dan merapihkan jilbabnya, sehingga Ia nyaman dengan apa yang dikenakan. Pakaian yang benar menutupi seluruh tubuhnya secara syari’at, penampilan yang terbaik untuk mendapat keridhoan Allah. Asma pun melangkahkan kaki menuruni tangga dengan tas ransel yang digendongnya. Ustadz Hasan yang akan mengantar putrinya telah siap menunggu bersama istrinya diruang tamu.


“ayo ayah , kita berangkat.” Ucapnya dengan wajah yang ceria.


“subhanallah, wajahnya berseri-seri. Ceria sekali putri bunda, tidak ada cemas ataupun gelisah.” Ucap Ustadzah Zulfah.


“tidak bunda. Asma yakin , asma telah mendapat keridhoan dari kedua orang tua asma. Yang selalu mendoakan yang terbaik untuk putrinya. Karena ridho Allah terdapat pada keridhoan orang tua. Asma juga sudah berusaha semampu asma. Semoga Allah mempermudah dan meridhoi hafalan asma. Aamiin.” Jelasnya.


“aamiin ..”


“yasudah, ayo kita berangkat.” Ucap Ustadz Hasan.


Sesampainya didepan pintu, Asma dan Ustadz Hasan mengangkat kedua tangannya dan mengucap doa bersama dengan suara yang pelan.


Bismillahi tawakkaltu ‘alallahi laahaula walaaquwwata illabillah. Allahumma innii a’udzubika an adhilla au udholla, au azilla au uzalla, au udzhlima au udzhlama, au ajhala au yujhala ‘alayya.


...(Dengan menyebut nama Allah. Aku berserah diri kepada Allah. ...


...Tidak ada daya dan upaya melainkan dari Allah. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu agar jangan sampai tersesat atau disesatkan, tergelincir atau digelincirkan, berbuat zalim atau dizalimi, dan membodohi atau dibodohi.) ...


...HR.Abu Dawud dan At-Thirmidzi...


“kalau begitu, kami berangkat dulu ya .. baik-baik dirumah. Assalamu’alaikum.” Ucap Ustadz Hasan kepada Istrinya lalu melangkah menuju mobil setelah Istrinya mencium tangannya.


“wa’alaikumussalam warohmatullah.” Ucap Ustadzah Zulfah dengan senyuman.


“asma juga pamit ya, bunda. Do’akan kelancaran hafalan asma ya.” Ucap Asma sambil mencium tangan Bundanya.


“iya sayang. Berikan yang terbaik untuk kami.” Ucap Ustadzah sambil mencium kening Asma.


“assalamu’alaikum, bunda.” Ucap Asma yang langsung berjalan menghampiri sang ayah didalam mobil.


“wa’alaikumussalam warohmatullah.” Jawabnya.

__ADS_1


Sementara itu, Salwa asik bermain dengan Nuha dikamarnya. Setelah selesai bertamu, Salwa menahan Nuha untuk kembali pulang bersama ibu dan sang kaka. Ia membujuk Nuha untuk tetap bermain dirumahnya. Hingga Akhirnya Nuha terbaring dikasur, tempat tidur Salwa dengan wajah ceria. Sambil berceritadan bercanda.


“nuha senang ga tinggal di Jakarta ?” Tanya Salwa.


“mmhh… seneng, asalkan nuha bersama mba liya, mas asyam dan bu’e.” Jelas Nuha.


“mhh.. nuha senang kenal dengan mba salwa ?” Tanyanya lagi.


“seneng, mba.” Jawabnya.


“mba salwa dan mas asyam punya banyak teman, yang cantik dan baik hati. Nanti kalau ada kesempatan, mba salwa kenalkan sama nuha ya.” Ucap Salwa.


“iya, mba.” Sahut Nuha.


“besok kita sarapan bareng ya, nanti mba salwa buatkan nasi goreng. Besok pagi nuha main lagi ke rumah mba salwa ya.” Ucap Salwa yang hanya ditanggapi senyuman dan anggukan kepala oleh nuha.


“yasudah, sekarang nuha istirahat dikamar mba salwa.” Ucap Salwa sambil mengelus kepala nuha yang terbalut hijab.


Memasuki waktu Ashar, Asma menyegerakan sholat ashar selepas sidang hafalannya tahap ke dua untuk juz 11 sampai juz 20. Asma Fitriyah dinyatakan lulus dan mendapat izin melanjutkan hafalannya menuju lima juz selanjutnya sebelum memulai sidang ke-3nya. Setelah sholat Asma langsung berjalan menumui ayahnya yang menunggu di ruang tamu.


“ka ika, asma pamit pulang ya.” Ucap Asma kepada penjaga meja tamu.


“iya, asma. Lulus hafalannya ?” Tanyanya.


“Alhamdulillah, ka.” Jawabnya.


“berarti besok mulai hafalan digedung ini ? tidak di gedung cabang lagi kan?” Tanya Ika.


“iya, ka.” Jawab Asma.


“asma pamit ya, ka. Assalamu’alaikum.” Ucap Asma.


“wa’alaikumussalam.” Sahutnya.


Pagi hari. Janji Salwa membuatkan sarapan nasi goreng kepada si kecil Nuha, terlaksana. Kini mereka makan bersama di meja makan. Salwa tersenyum melihat Nuha yang lahap menyantap masakannya.


“nuha ? mas asyam sama mba liya ada dirumah ?” Tanya Salwa.


“kalau mba liya ada sama bu’e dirumah. Kalau mas asyam dari malam dia ndak tidur dirumah.” Jelas Nuha.


“memang mas asyam kemana ?” Tanya Bu Rana yang sedang mencuci sayuran.


“nuha ndak tau, bude. Semalem nuha sudah tidur.” Jawab Nuha.


“hmm .. “gumamnya.


Dengan salam sambil membuka pintu, Asyam melangkah menuju dapur, menemui ibunya.


“Liya sama nuha dimana , bu ?” Tanya Asyam.


“liya ada , lagi nyuci. Nuha lagi main sama salwa dirumahnya.” Jawab Bu Nurlela sambil membereskan piring yang habis dicuci.


“yasudah. Kamu makan dulu, bu’e sudah masak.” Ucap Bu Nurlela yang hanya dibalas senyuman


dan anggukan kepala oleh Asyam.


Sore hari, sekitar pukul 16.00 di teras rumah. Salwa sedang menyapu halaman. Tiba-tiba seorang pemuda dengan pakaian rapih melangkah keluar rumah, sambil membenarkan peci hitam dikepalanya.


“assalamu’alaikum, bang asyam.” Sapa Salwa dengan wajah yang ceria.

__ADS_1


“wa’alaikumussalam warohmatullah wabarokatuh .. “ Jawab Pemuda itu yang ternyata adalah Asyam.


“mau kemana rapi banget, bang asyam ?” Tanya Salwa.


“mas asyaaaam ..” Teriak seorang anak kecil yang berlari keluar rumah.


“nuha ..” Ucap Salwa.


“mba salwa. Mba salwa mau ikut ndak ? nuha sama mas asyam mau jalan-jalan ke taman.” Ungkap Nuha.


“mhh .. tapi mba salwa belum selesai nyapu halamannya , nuha.” Jelas Salwa.


“mhh .. mas , kita tungguin mba salwa ya. Nuha pengen mba salwa ikut.” Pinta Nuha sambil memegang lengan Asyam.


Asyam menatap Nuha yang lalu beralih kepada Salwa yang dibalas dengan tundukan malu. Asyam tak bisa menolak keinginan adiknya. Tapi sungguh dihatinya tidak menginginkan kalau Salwa harus ikut bersamanya. Khawatir menimbulkan fitnah bagi masyarakat yang melihatnya sedang berjalan dengan Salwa meski ditemani oleh sang adik. Asyam dan Nuha pun menunggu Salwa yang sedang didalam rumah.


“nuha .. mba salwa sudah siap.” Ucap Salwa dengan ceria.


Nuha pun menyambut dengan senyuman sambil berlari kecil dan menggandeng tangan Salwa.


“maaf ya, bang asyam jadi harus menunggu lama.” Ucap Salwa.


“iya, tidak apa-apa. Silahkan kalian jalan duluan, saya di belakang.” Balas Asyam sekaligus memberi perintah.


Mereka pun berjalan kaki menuju taman yang berada di perumahan dekat rumah Asma. Tak disangka sesampainya disana mereka bertemu dengan Nadia dan Silvi yang sedang jalan-jalan sore ditaman.


“assalamu’alaikum ..” Ucap Silvi.


“wa’alaikumussalam ..”


“lho, ada ka silvi juga sama nadia.” Ucap Salwa dengan gembira.


“iya nih. Ini siapa si kecil, cantik sekali ?” Tanya Silvi sambil memegang dagu Nuha.


“hayo , dijawab. Ka silvi tanya tuh.” Ucap Salwa pada Nuha.


“nuha, adiknya mas asyam.” Ucap Nuha, malu.


“ooh , adiknya mas asyam.” Sahut Silvi.


“oh iya, keluarga sudah datang, bang ? kapan sampai ?” Tanya Nadia.


“baru kemarin sampai.” Jawab Asyam.


“adiknya cuma  satu, bang asyam ?” Tanya Silvi.


“ada satu lagi, perempuan.” Jawab Asyam.


“alhamdulillah. Gabung dengan ReMas, bang Asyam. Jadi anggota kita bertambah lagi.” Usul Silvi.


“insya allah nanti disampaikan. Kalau dia setuju nanti saya kenalkan.” Ucap Asyam.


“lagi ada keperluan disini ?” Tanya Asyam.


“ga ada qo bang asyam, cuma jalan-jalan sore ajah.” Jawab Nadya.


“iya sekalian mau makan bubur ayam.” Lanjut Silvi.


“yasudah kalau begitu, kita makan sama-sama saja. Biar nanti saya yang bayar.” Ucap Asyam dengan senyuman.

__ADS_1


“wah, Alhamdulillah.”sahut bersama.


Bersambung .....


__ADS_2