KETIKA RINDU BERBALUT DOA

KETIKA RINDU BERBALUT DOA
Episode 85 - Kesempatan Terakhir


__ADS_3

"enak ya ? aku baru nyobain. Buble nya sesuai banget, kenyal, manisnya pas." Ucap Asma.


"aku sering banget beli disitu karena rasanya yang sesuai sama selera aku." Ucap Salwa.


"oh, iya. Kamu ada perlu apa sama bang asyam ?" Tanya Salwa penasaran.


"kepo yaa ?" Ledek Asma.


"yaa.. abisnya kamu sampe nyamperin kerumah. Kayanya penting banget." Ucap Salwa sambil memutar-mutar sedotan.


"aku cuma nyampein amanat dari seseorang." Jawabnya.


"kamu gimana kelanjutannya dengan bang asyam ?" Tanya Asma.


"belum ada kelanjutannya. " Jawabnya.


"waktu itu sih, dia pengen ngobrol kalau aku ada waktu luang. Dia mau jelasin tentang kejadian ainun itu." Jelas Salwa.


"tapi aku tolak." Ungkapnya.


"kenapa ?" Tanya Asma.


"saat dia minta untuk mengenal aku lebih, saat itu aku masih dalam pemulihan. Ditengah itu, malah ada kejadian yang ainun buat, disitu aku makin-makin ngga bisa buat berbaik hati sama bang asyam." Jelas Salwa.


"intinya, saat ini kamu sedang menata hati ? kamu sedang mencoba membangun perasaan suka kamu lagi terhadap dia ?" Tanya Asma.


"ya, begitu deh."


"kamu ngga benar-benar membenci dia kan ?" Tanya Asma.


"dalam proses penyembuhan luka hati, kamu kembali mendekat kepada Allah. Kamu benar mencoba mengikhlaskan kan, salwa ? bukan membencinya ?" Tanya Asma sambil memegang tangan Salwa.


"asma.. aku ngga tau, aku bingung. Rasanya tuh, semua mengalir begitu ajah. Sikap aku ke dia pun, seperti bukan aku yang mengendalikan. Tapi memang seperti sesuai dengan perasaan hati." Jelas Salwa.


"salwa, lebih baik kamu mendengarkan penjelasannya. Kalau kamu memang masih ingin bisa memiliki dia." Usul Asma.


"setelah itu, jika kamu dapat kedamaian dihati kamu. Kamu merasa lega, merasa tenang. Kamu bicarakan dengan orang tuamu, tentang dia. Kalau orang tuamu setuju, kamu katakan ke dia untuk meminta izin kepada orang tua mu untuk mengenal mu lebih." Jelas Asma.


"aku akan coba tenangkan hati aku hari ini, asma. Semoga aku bisa dengan tenang seperti bersikap kepada seorang teman. Agar semua berjalan dengan nyaman." Ucap Salwa.


"aku percaya, kamu bisa melalui ini, salwa. Kita bukan lagi gadis kecil yang polos, kita sudah dewasa, sudah bisa menentukan mana yang terbaik untuk diri kita." Ucap Asma.


Berbincang dengan Asma membuat Salwa banyak merenung dan mempertimbangkan. Selepas Asma pergi, Salwa kembali ke dalam kamar dan berdiam sambil memikirkan jalan yang terbaik untuk dirinya dan hubungan asmaranya.


Malamnya, Asyam duduk diteras rumah sambil menatap langit sambil berfikir dan bertanya, apakah yang dirasakannya saat ini adalah suatu hal yang benar ? Perasaan yang masih menjadi tanda tanya untuk dirinya sendiri. Perasaan yang tiba-tiba muncul seperti merasa kehilangan seseorang yang biasa muncul dihari-harinya. Apa dirinya memang benar ingin memilikinya, apa benar dia yang diinginkannya.


"mas, susunya." Ucap Liya sambil menaruh segelas susu disamping Asyam.


"makasih ya, dek." Ucapnya.


"lagi ada masalah ya mas ?" Tanya Liya.


"liya ngerasa akhir-akhir ini, mas tuh lesuh, kusut, suram gitu." Lanjut liya.

__ADS_1


"haha.."


"emhh.. mas cuma.. lagi bingung ajah." Jawabnya.


"mas lagi bingung sama perasaan mas. Mas cuma takut salah. Mas takut malah menyakiti seseorang." Jelasnya.


"mba salwa ?" Tanya Liya.


Asyam hanya membalasnya dengan lirikan kepada Liya.


"Mas, kita ngga akan pernah tau kalau kita ngga mencobanya toh ?"


"menurut liya, kalau memang mas merasa bahagia dengan kehadiran mba salwa, merasa dia bisa melengkapi sesuatu yang kurang dalam diri mas."


"perjuangkan!." Tegas Liya.


"kita ngga akan pernah tau dia jodoh kita atau bukan, kalau kita sendiri ngga berusaha untuk mencarinya. Apapun keputusannya, yang terpenting adalah usaha kita kan mas ?" Ucap Liya.


"mas akan coba sekali lagi untuk bicara dengannya. Kalau dia setuju, kamu temani mas ya." Ucap Asyam.


"iya, mas." Balas Liya.


Asyam kembali ke kamar untuk beristirahat. Sebelum dirinya memejamkan mata, Asyam mengecek ponselnya yang sejak tadi ditinggalkannya dikamar.


ReMas Salwa Kanisa


"salwa.." Bisiknya.


..."Saya ada waktu besok, jam 3 sore. Dikafe Various Juices"...


"apa ini adalah jawaban ?" Tanyanya.


..."Trimakasih. Saya akan menunggu kamu disana."...


"Terimakasih Ya Allah, telah memberikan jalan untuk melepas kegelisahanku." Ucap Asyam sambil tersenyum.


Asma berbaring disamping Farhan yang hendak memejamkan mata.


"mas.."


"ya ? kenapa ? kamu lapar ? mau aku ambilin makanan ? atau ada yang kamu pengen ? biar aku pesen." Ucap Farhan.


Asma tertawa kecil sambil menggenggam tanga Farhan.


"kamu lucu deh." Ledek Asma.


"kamu kenapa ?" Tanya Farhan.


"emmh.. Besok, aku ada urusan dengan salwa. Boleh aku nemenin salwa ?" Tanya Asma.


"Urusan apa ? dimana ? inget ya, kamu ngga boleh capek-capek." Tanya Farhan.


"Salwa mau ketemu sama bang asyam di kafe VJ. Ada Liya juga, aku sama liya nemenin mereka dari jauh. Ada kesalah pahaman yang harus mereka jelaskan satu sama lain." Jelas Asma.

__ADS_1


"aku berharap, hubungan mereka ngga akan serumit saat ini, mas. Aku berharap, kalau mereka berjodoh, Allah permudah dan beri jalan terindah untuk mereka."


"aamiin. Istri aku ini selalu ingin yang terbaik untuk orang lain, sampai-sampai mengesampingkan urusannya sendiri." Ucap Farhan sambil mengelus kepala Asma.


"tidur, ya ? sudah malam." Ucap Farhan sambil mengecup kening Asma.


"selamat tidur ya, mas." Ucap Asma.


Farhan merapihkan selimut untuk Asma dan memeluknya sambil memejamkan mata.


Asyam menyambut paginya dengan bahagia, meskipun masih tersisa rasa takut dan juga gugup didalam hatinya. Kesempatan kali ini tak akan disiakannya. Pekerjaan diruangannya terasa ringan dikerjakan dengan hati yang bahagia, jam dinding yang selalu diperhatikannya, menanti jarum jam berpindah pada angka 2 yang menjadi jam pulang kerjanya hari ini.


Salwa dan Asma telah menunggu di kafe yang telah ditentukan. Semakin mendekati pertemuannya dengan Asyam, perasaan dihatinya semakin tak karuan.


"aku gugup banget. Kok malah jadi deg-degan ya ? tadi biasa ajah." Ucap Salwa sambil menggenggam tangan Asma yang berada dihadapannya.


"relax.. Ini cuma mau ngobrol biasa. Bukan mau ijab qobul." Ledek Asma.


"ih masih ajah bisa bercanda." Ucap Salwa.


"dia beneran dateng kan ?" Tanya Salwa.


Asma melihat kehadiran Asyam yang semakin mendekat.


"dateng ngga ya ? coba di telpon ajah lagi atau kirim pesan." Ucap Asma.


"ngga ! ngapain juga, kalau emang dia ngga dateng yaudah itu urusan dia yang nyia-nyiain kesempatan yang aku kasih. Itu artinya dia nambah-nambahin kekecewaan aku dan rasa kesel aku tau ngga." Ucap Salwa dengan wajah yang kesal sambil menatap keluar jendela.


"kalau saya datang, bagaimana ?" Ucap Asyam yang berada disamping Salwa.


"saya tinggal ya , bang asyam. Salwa, aku pindah tempat ya." Ucap Asma.


"ayo, liya." Ucap Asma sambil mengulurkan tangan kepada Liya.


Asma berpindah tiga meja dari meja yang Salwa dan Asyam tempati.


"jadi, apa jawaban untuk pertanyaan saya ?" Tanya Asyam yang hendak mencairkan suasana antara keduanya.


"Langsung ajah, apa yang mau abang sampaikan." Ucap Salwa.


"mh.."


"pertama, saya berterimakasih karna kamu memberikan saya kesempatan untuk menjelaskan. Bagi saya ini bisa menjadi kesempatan terakhir. Saya sendiri berharap bisa menyampaikan sebaik mungkin dan juga bisa menjadi waktu yang tepat untuk meluluhkan hati kamu." Jelasnya.


.


.


.


.


-Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2