
Sesampainya Nadia dan teman-teman dirumah sakit untuk menjenguk Asma. Nadia langsung menghubungi Bunda Zulfah agar menjemputnya dilorong dekat kamar rawat Asma.
“Bunda..” Ucap Salwa yang menghampiri langkah Bunda Zulfah dan memeluknya.
Teman-teman pun menyusul Salwa untuk mendekat.
“assalamu’alaikum, bunda.” Ucap Nadia.
“wa’alaikumussalam.” Jawab Bunda.
“ini nak asyam yak yang waktu itu sahur dirumah bunda ?” Tanya Bunda Zulfah dengan senyuman.
“iya, bunda benar. Ini adik saya sudah sampai di Jakarta, namanya Liya.” Jelas Asyam yang disusul dengan Liya yang menyalami Bunda Zulfah.
“masya allah, cantiknya. Waktu itu bunda hanya dengar nama kamu dari asma.” Ucap Bunda dengan senyuman.
“yuk, kita masuk.” Ucap Bunda Zulfah.
Bunda Zulfah memimpin jalan untuk menuju kamar arawat Asma. Sesampainya mereka langsung mendekat dan mangelilingi kasur yang ditempati Asma.
“asma masih belum sadar, bunda ? atau mungkin ada perkembangan ?” Tanya Salwa.
“Alhamdulillah, kemarin jemari nya sempat bergerak, hanya sebentar. Dan setelah itu belum ada perkembangan lain lagi.” Jelas Bunda Zulfah.
“kalau begitu sama-sama kita berdoa untuk kesembuhan dan keselamatan asma, agar asma bisa kembali sadar dan sehat seperti sebelumnya. Al fatihah.” Ucap Asyam.
Semua tertunduk dengan khusyu melafalkan surotul Fatihah ditambah dengan doa dari masing-masing. Keadaan hening, membuat Bunda Zulfah terharu dan kembali meneteskan air mata. Betapa bahagia dia memiliki seorang putri yang sangat dicintai dan disayangi oleh teman-temannya. Bahkan disaat ketidaksadaraannya, banyak para sahabat yang peduli dengan dirinya.
“ya allah, berikanlah kesempatan kepada asma untuk hidup kembali. Untuk dia berdakwah dijalanmu, agar dia dapat mencapai target yang telah dia siapkan. Beri dia kebahagiaan dalam pernikahannya, ya allah.” (Bunda Zulfah).
“ya allah, perempuan dihadapanku ini adalah sosok perempuan yang banyak memberi manfaat kepada umat. Kami membutuhkannya, ya Allah. Izinkan dia berkumpul lagi bersama kami sebagai penyemangat diantara kami.” (Syahrul).
“izinkan aku meminta maaf kepadanya, ya Rabb. Sadarkan dia kembali, kami rindu senyum dan tawanya, juga semangat dalam dirinya.” (Asyam).
Tok.. Tok.. Tok..
“Permisi. Selamat sore, ibu. Dokter farhan akan melakukan pemeriksaan pada pasien.” Ucap Suster.
__ADS_1
“baik suster.” Sahut Bunda Zulfah.
“kalian tunggu di sofa dulu ya.” Perintah Bunda Zulfah kepada teman-teman Asma.
“lagi pada jenguk ya. Saya izin mau check up dulu ya.” Ucap Dokter Farhan dengan Ramah.
Dokter Farhan melakukan pengecekan seperti biasanya. Lagi–lagi keberuntungan memihak kepadanya. Jemari Asma kembali merespon genggamannya, kali ini menggenggam lebih erat. Bunda Zulfah merasa takjub kepada dokter tampan satu ini yang dapat menyalurkan energi positif kepada sang putri.
“asma.. kamu mendengar saya ?” Ucap dokter Farhan.
“asma, sayang.. sadar nak, ini bunda, nak.” Ucap Bunda Zulfah menggenggami tangan Asma yang satunya.
Asyam dan teman-teman yang lain mengarahkan pandangan kepada Asma yang sedang dalam pemeriksaan. Mereka berharap Asma akan segera sadar. Tidak banyak untuk saat ini, mereka ingin Asma dapat membuka mata dan kembali sadar meskipun kondiisnya belum membaik.
“asma..” Ucap Dokter Farhan yang terkejut mendapati Asma dengan kelopak mata yang terbuka.
Asma menarik nafas panjang dan membuka matanya, tak lama dan kembali memejamkan mata lagi.
“Asma..” Ucap Bunda Zulfah histeris.
“maaf ibu, tolong tenang.” Ucap Suster.
“detak jantungnya kembali normal. Kita akan lakukan terapi untuk mengembalikan kesadarannya.” Perintah dokter Farhan.
“minta untuk keluarga pasien keruangan saya nanti.” Lanjut dokter Farhan.
“baik dokter.” Sahut Suster.
Dokter Farhan meninggalkan ruangan lebih dulu untuk kembali ke ruang kerjanya. Suster menjelaskan kepada Bunda Zulfah untuk konsultasi seperti sebelumnya pada jam delapan malam.
“bunda yang sabar ya, kita yakin ko asma pasti kuat dan asma pasti akan kembali lagi sama kita.” Ucap Nadia.
“iya, bunda. Saat ini yang bisa kita lakuin hanya shalat, sabar dan terus memanjatkan doa untuk kesembuhan asma.” Lanjut Salwa.
“kita juga mengharapkan kehadiran asma kembali, bunda. Bukan hanya dari keluarga yang menginginkan asma, tapi juga orang-orang yang mengenal asma pasti ingin asma kembali.” Ucap Asyam.
“terima kasih, ya. Kehadiran kalian membuat bunda kuat, bunda bersyukur karna banyak teman-teman yang menyayangi asma.” Ucap Bunda Zulfah.
__ADS_1
“bunda juga bersyukur karena beberapa hari lalu pun asma sudah ada perkembangan. Mungkin bunda kurang bersabar, karena menginginkan asma sadar, bunda sangat rindu.” Lanjut Bunda Zulfah yang berakhir tangis dalam pelukan Nadia.
Semua menanti Bunda Zulfah sampai hatinya tenang. Meskipun kesedihan juga dirasakan oleh Nadia dan teman-teman yang lain, Bunda Zulfah adalah orang yang paling merasa sedih dan kehilangan sebagai seorang ibu. Hatinya sakit melihat anaknya hanya terbaring kaku tanpa gerak dan suara. Keceriaan, suara, senyum dan tawa yang ingin dilihatnya hilang untuk beberapa saat. Pernikahan yang dirasa akan membuat sang putri bahagia malah bertukar dengan air mata. Hati yang dulu selalu terjaga, mungkin kini tergores luka. Meski tak terlihat adanya, pasti tetap sakit dirasa.
“bunda, maaf kita harus pamit pulang. Sudah mau jam lima, kita harus siap-siap untuk ngajar.” Ucap Syahrul dengan hati-hati.
Bunda Zulfah lepas dari bahu Nadia dan menghapus air mata.
“maaf ya, nad bahu kamu jadi basah.” Ucap Bunda Zulfah sambil mengusap bahu Nadia.
“ngga apa-apa bunda.” Sahut Nadia.
“syahrul, kamu teman baik asma. Apa asma tidak pernah cerita sesuatu sama kamu, apa yang membebani dia ?” Tanya Bunda Zulfah.
“tidak ada, bunda. Asma tidak menceritakan apapun tentang persiapan atau masalah pernikahannya.” Jawab Syahrul.
“yasudah kalau begitu.” Sahut Bunda Zulfah.
“yasudah, bunda berterima kasih sama kalian karena sudah menjenguk dan menemani bunda. Bunda tiitip doa ya, tolong selalu doakan untuk kesadaran dan kesembuhan asma.” Ucap Bunda Zulfah.
“insya Allah, bunda. Kita akan lakukan yang terbaik. Kalau bunda butuh sesuatu, bunda bisa hubungin kita, kalau kita mampu kita akan bantu.” Jelas Asyam.
“terima kasih, ya.” Ucap Bunda Zulfah.
Syahrul dan teman-teman meninggalkan rumah sakit dan kembali ke masjid untuk mengajar mengaji. Mereka melangkah dengan hati yang penuh harap agar Asma dapat secepatnya sadar. Kehilangan sosoknya dan Ihsan membuat suasana berbeda, seperti ada yang kurang meski semua berjalan seperti hari-hari biasanya.
Sesampainya dihalaman masjid, seorang perempuan dengan menggunakan jeans dan hoodie dengan kupluk yang menutupi kepala duduk ditangga sambil memainkan handphonenya. Kepalanya mulai terangkat saat menyadari beberapa orang mulai memasuki aula masjid.
“ngapain dia disini.. “ (Nadia).
“ko dia disini.. “ (Syahrul).
Sambil melirik, Nadia melanjutkan langkahnya memasuki aula untuk menemui para santri yang sedang bermain. Disusul dengan Salwa dan Liya yang berjalan dengan bahagia.
“bang asyam..” Panggilnya sambil mendekat.
Syahrul yang berada didekat Asyam langsung pergi meninggalkan.
__ADS_1
Bersambung.....