KETIKA RINDU BERBALUT DOA

KETIKA RINDU BERBALUT DOA
Episode 71 - Bertamu


__ADS_3

Sejak pertemuan Asma dengan temen-temannya yang berujung sakit, Asma tidak diizinkan beraktifitas diluar rumah. Hari ini memasuki hari ke-4 Asma berada dirumah. Salwa yang terakhir kali menghubunginya, menunda untuk mengajak Asma bertemu. Namun perasaan didalam hatinya semakin menjadi, badai yang pernah ditakhlukkannya kini mengamuk lagi. Salwa merasa bimbang, ingin jauh tapi dihati masi tersisa rasa sayang, ingin dekat tapi takut kecewa lagi.


Bukan hal mudah merelakan suka, bukan tak mungkin untuk menyembuhkan luka. Tapi untuk mengulang sakit yang sama, seperti menanti taburan garam diatas luka. Sudah tau rasa sakit yang akan diterima dan hanya tinggal menunggu waktunya.


Salwa duduk di balkon kamar beralaskan karpet bersama dengan Asma. Asma menyuguhkan minuman segar dengan beberapa cemilan untuk Salwa. Farhan yang sempat menyambut Salwa, kini telah berangkat untuk bekerja. Meninggalkan istrinya dengan kecupan hangat dikeningnya.


"Kedatangan kamu kesini, bukan cuma-cuma kan ? pasti ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan." Ucap Asma sambil mendaratkan tangannya di atas tangan Salwa.


Salwa diam tak menjawab, ia menoleh untuk menatap Asma. Menunjukkan wajah cemasnya sambil berfikir harus memulai cerita darimana.


"meskipun kamu ngga tau seberapa besar aku menyukai bang asyam, tapi setidaknya kamu tau aku menyukainya. Begitupun tentang sakit yang aku rasa, meskipun ngga tau besarnya tapi kamu tau aku merasakannya." Jelas Salwa yang dibalas anggukan oleh Asma.


"kamu.. belum bisa mengatur itu dihatimu ?" Tanyanya.


"entah." Jawabnya.


"semakin aku merasa, aku bisa berdamai dengan rasaku. Tapi, aku juga merasa kalau aku masih berperang dengan hatiku." Jelas Salwa.


"saat aku mendekat, dia menolak. Saat aku menjauh, dia justru mendekat." Lanjutnya.


"kamu percayakan ? saat kamu mendekati pemilik-Nya, dia akan mendekat dengan sendirinya. Tapi semakin kamu mengejarnya, kamu semakin sulit menggapainya." Ucap Asma.


"sekarang, kamu hanya tinggal mengikuti jalan takdirmu. Berjalanlah seperti apa adanya dan pasrahkan urusan hatimu kepada Allah." Jelas Asma.


"jadikan dia teman seperti kami menganggapnya teman tanpa rasa yang lebih dari teman, tanpa harapan yang lebih dari sekedar teman." Lanjut Asma.


"kamu tau kan ? kita ngga bisa mengatur hati seseorang untuk menjadi seperti yang kita inginkan. Tapi kita bisa mengendalikan hati kita sendiri untuk tetap tenang meski ditengah badai." Ucap Asma.


Salwa langsung memeluk Asma.


"Allah memang baik, mempertemukan aku dengan kamu. Mengizinkan aku berteman dengan kamu, Asma." Ucap Salwa.


Asma membalas pelukan Salwa.


"jangan lama-lama ya sakitnya. Kita kangen loh sama kamu disana." Ucap Salwa.


"iya.. iya.. besok aku izin sama mas farhan untuk masuk mengajar." Jawab Asma dengan senyuman.


Malam hari dengan penuh kedamaian, Asma menyiapkan pakaian ganti untuk Farhan saat pulang kerja. Ia gantungkan di kamar mandi dengan rapih. Ia berniat mengistirahatkan tubuhnya yang masih lemas diatas kasur. Baru saja bersandar dan membuka buku, Mama Fara mengetuk pintu kamarnya.


"mama.. " Sapa Asma saat membuka pintu.


"ada tamu yang mencari kamu dibawah. Mama tunggu dibawah ya." Ucap Mama Fara tanpa memberi tahu siapa yang bertamu.


Asma kembali masuk untuk mengganti kerudungnya dengan yang lebih panjang, seperti yang digunakannya sehari-hari. Dengan tenang Asma menuruni tangga dan terkejut menemukan seseorang yang telah lama tak berjumpa.


"raina.. " Ucapnya sambil melanjutkan langkahnya dan memeluknya.


"masya allah, aku kangen banget kamu. Maaf ya aku belum mengunjungi kamu." Ucapnya.

__ADS_1


"aku dengar kamu sakit, makanya aku ajak abang untuk menjenguk." Jelas Raina.


Mama Fara, Papa Hanif ikut menemani Asma diruang tamu sambil berbincang dengan Ihsan, keponakannya.


"jadi sudah siap untuk mengajar di gedung baru ?" Tanya Papa Hanif.


"tinggal sedikit lagi, om. Mungkin lebih enak kita buka diawal tahun dan buka penerimaan murid baru di pertengahan tahun." Jelas Ihsan.


"ya.. ya.. om percaya sama kalian. Kalian yang lebih mengerti, om senang kalau semua berjalan dengan lancar." Ucap Papa Hanif.


"bagaimana keadaan ditempat mengajar, bang ?" Tanya Asma.


"alhamdulillah semua terkendali." Jawabnya.


"tadi sempat ada yang mencari kamu." Ucapnya.


"siapa ?" Tanya Asma.


"mhh.. ainun, kalau tidak salah. Dia bilang ada perlu sama kamu." Jelasnya.


"apa tentang mengajar di tpa, ya.." Ucap Asma.


"waktu itu bang asyam sempat bilang dia ingin bergabung untuk mengajar. Tapi asma belum kasih jawaban. Asma juga masih banyak pertimbangan." Jelas Asma.


"Assalamu'alaikum.. "


"wa'alaikumussalam.. "


"ini ihsan sama raina mau jenguk asma." Ucap Mama Fara.


"Papa kekamar duluan ya.." Ucap Papa Hanif saat menemukan Xena yang menyusul dengan Nathan.


"tante, xena bawain sate kesukaan tante. Xena taro didapur ya." Ucap Xena.


Ihsan dan Raina yang baru bertemu dengan Xena dan Nathan nampak bingung dan saling memandang.


"nathan silahkan duduk." Ucap Asma.


"ah.. iya." Ucap Nathan.


"mas.. kamu mau ganti baju dulu ?" Tanya Asma.


"iya." Jawabnya.


"Raina, aku tinggal sebentar ya." Ucap Asma.


Asma mendampingin Farhan menuju kamar untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.


"loh, farhan kemana ?" Tanya Xena yang kembali dari dapur.

__ADS_1


"lagi ganti baju." Jawab Mama Fara.


"tante buatkan minum dulu ya." Ucap Mama Fara.


"ihsan, raina. Tante tinggal sebentar ya." Ucap Mama Fara.


Asma menunggu Farhan yang sedang mandi sambil duduk dikasur.


"kamu kenapa belum tidur ? kan udah aku bilang jangan tidur malem-malem, jangan cape-cape." Ucap Farhan sambil mengeringkan rambut dengan handuk.


"aku kan nunggu kamu pulang, mas. Ada raina juga datang, aku udah lama banget ngga ketemu dia." Jelas Asma.


"kamu udah makan ?" Tanya Asma.


"belum." Jawabnya didepan cermin.


"yuk, kebawah." Ucap Asma mengulurkan tangan.


Farhan diam dibuatnya. Mendapati Asma yang bermanja sejak sakit beberapa hari lalu. Farhan menatap tangan yang masih terulur, menunggu untuk digapai.


"kita temenin tamunya dulu ya. Nanti baru aku makan." Ucap Farhan menggenggam tangan Asma dan dibalasnya dengan senyuman.


Terlihat Nathan yang sedang berbincang dengan Ihsan seperti orang yang telah lama mengenal.


"kenalin, bro. Dia sepupu gue, ihsan dan adiknya, raina." Ucap Farhan.


"ini, Nathan dan xena, teman kuliah." Ucap Farhan kepada Ihsan.


"han, kayanya aku harus pamit pulang. Sudah malam, harus anter raina kembali kerumah." Ucap Ihsan.


"kamu balik ke bogor ?" Tanya Asma.


"iya."


"nginep ajah ya disini. Ada kamar ko untuk kamu. Atau kamu nginep dirumah aku, ada ayah sama bunda." Ucap Asma yang tak ingin berpisah dengan Raina sambil memegangi lengannya.


"ngga bisa asma, besok aku ada kelas hafalan dan.. aku sudah mulai mengajar dipondok. Maaf ya aku baru bilang ke kamu." Jelas Raina.


"lain waktu aku main lagi, atau kamu yang main kerumah ku." Ucap Raina dengan senyuman.


Asma melepas genggamannya, perlahan dengan wajah yang sedih dan mata yang berkaca-kaca. Langkahnya mundur pelan dan berbalik meninggalkan menuju kamar.


.


.


.


.

__ADS_1


...~Bersambung~...


__ADS_2