
Salwa yang hangat dan ceria telah kembali sejak menerima pertemanan dengan Asyam di sosial media. Hati yang dikuncinya dalam kesedihan kini terbuka dan menatap lebih luas tentang indahnya kehidupan yang tak hanya tentang cinta. Tawanya kini menjadi penghias diruang kerja bersama teman-teman mengajarnya.
Persiapan untuk Tafakur Alam bersama para santri mulai disiapkan, hampir setiap hari diadakan rapat untuk memastikan kelengkapan yang dibutuhkan. Meski hanya sebentar, namun tetap bermanfaat.
Asyam bahagia karena dapat melihat senyum dan tawa Salwa kembali. Sosok yang berbeda yang didapatinya beberapa hari lalu, berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Tanpa disangka, sikapnya telah menyakiti perasaan orang lain. Sepulang mengajar, Asyam berbincang dengan Salwa dihalaman parkir.
"Ekhem.. " Asyam memberi isyarat.
Salwa menoleh kearah Asyam yang sedang memeluk helm sambil menatapnya.
"Maaf." Ucapnya.
Salwa masih terdiam tak mengerti maksud dari perkataan Asyam yang ditujukan kepadanya.
"Maaf kalau sikap saya pernah menyakiti kamu. Maaf karena lama menyadari akan hal itu." Jelas Asyam.
Salwa hanya membalasnya dengan senyuman dan langsung menaiki motornya, bersiap pergi.
"Saya duluan ya, bang asyam." Ucap Salwa.
"hati-hati." Ucap Asyam.
Sepanjang perjalanan Salwa tak melepas senyumnya, meski hanya senyum tipis namun tetap menggambarkan keramahan wajahnya. Senyum yang memiliki arti untuk malam ini, yaitu bahagia. Senyum yang bukan ia lepas untuk menyapa, namun lebih berarti untuk melukiskan hatinya yang sedang berbahagia.
Seperti hadiah yang dikirim Tuhan, tak hentinya membuatnya tersenyum. Seperti inikah yang dinamakan pelangi setelah hujan. Warna-warna yang indah satu persatu datang dalam kanvas kehidupannya, menggantikan air mata kesedihan yang dikeluarkannya.
Begitupun bahagia yang dirasakan Asma dan Farhan setelah menerima kabar kehamilan. Asma yang mendapat perlakuan lebih dari suami dan mertuanya. Hari-harinya berubah layaknya seorang puteri kerajaan. Farhan yang begitu memanjakannya, Mama Fara yang selalu memperhatikan dan Papa Hanif yang selalu baik kepadanya. Dalam rangkulan Farhan, Asma bersandar pada dada bidangnya. Menanti waktu tidur sambil berbincang.
"Mas, kapan aku boleh ngajar lagi ?" Tanyanya.
"nanti, sampai kondisi kamu stabil. Kamu lupa ya ? aku ini suami kamu sekaligus dokter pribadi kamu." Ucap Farhan sambil menyentuh hidung Asma.
"hemmhh.." Keluhnya.
"oh, iya. Semingguan lagi, tpa akan mengadakan tafakur alam. Aku boleh ikut kan ?" Tanya Asma sambil duduk dan menghadap Farhan.
"ngga boleh, sayang." Jawab Farhan yang ikut bangun dari tidurnya.
"sayang, kehamilan kamu masih usia awal. Rentan untuk kamu dalam kondisi lemah." Jelas Farhan sambil memegang kedua pipi Asma.
__ADS_1
"kamu ingat kan ini apa ?" Tanya Farhan sambil memegang perut Asma.
"amanah."
"berarti harus kita jaga sebaik mungkin, meskipun masih dalam kandungan." Lanjut Farhan.
"aku janji ngga akan capek-capek." Ucap Asma.
"ngga."
"aku hanya duduk ajah deh, mantau santri-santri aku." Mohonnya.
"no.. no.." Ucap Farhan sambil menutup kuping.
"kamu ikut juga deh kalo gitu. Ya.. yaa .. aku udah menanti-nanti untuk kegiatan itu, sayang." Jelas Asma.
"nanti ya, sayang. Kita liat perkembangan kamu kedepannya. " Ucap Farhan.
"ayo sekarang kamu tidur." Ucap Farhan sambil membaringkan Asma dan menyelimutinya.
"aku ngga mau tidur.. aku ngga mau tidur.. aku ngga mau tidur.. " Ucap Asma sambil membelakangi Farhan.
Disepertiga malamnya, Ihsan memohon petunjuk tentang satu nama yang berada didaftar calon isterinya sejak lama. Gadis cantik yang menjadi incarannya jauh sebelum Asma masuk karena permintaan kedua orang tuanya. Ketika Allah datangkan ia, disaat hati telah pasrah untuk mencari. Belum sempat langkah mengayun kearahnya, Ihsan kembali kehilangan jejaknya lagi. Kini hanya tangga doa yang setia ia susun agar sampai kepadanya. Jika Takdir cinta berpihak kepadanya.
"saat rindu itu telah kukunci, dia hadir tanpa permisi. Saat hati kubuka lagi, dia pergi tanpa pamit. Satu nama yang selalu kupinta saat itu, kini ingin ku teruskan lagi. Sejauh apapun dia pergi, kembalikan jika aku adalah tempatnya untuk pulang. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui dan sebaik-baiknya perencana." Ihsan.
Pukul 04.00 telah menghias jam dinding menandakan pagi. Asma membangunkan Farhan untuk bersiap shalat subuh. Farhan bersiap untuk subuh dimasjid bersama dengan sang ayah. Asma menghampiri Mama Fara untuk subuh berjama'ah dirumah.
Setelahnya Asma membantu Mama Fara aktif didapur untuk menyiapkan sarapan.
"nanti kamu belanja ya sama farhan. Kamu beli susu untuk ibu hamil dan buah-buahan, beli juga vitamin yang kamu butuhkan semasa hamil." Ucap Mama Fara sambil mengaduk susu.
"iya, ma." Ucap Asma sambil memeluk Mama Fara.
"makasi ya, ma. Makasih karena sayang sama asma. Mama selalu baik sama asma." Ucap Asma.
"duh, pagi-pagi udah peluk-peluk. Suaminya ajah belum dipeluk." Ucap Farhan yang tiba-tiba muncul bersama Papa Hanif.
"Ma, papa mau nasi goreng telor ceplok dong. Cape makan roti mulu kaya orang bule." Ledek Papa sambil mengunyah roti bakar yang telah siap dimeja.
__ADS_1
Mama Fara hanya tersenyum menanggapi.
"sayang, ke belakang yuk." Pinta Farhan sambil membawa susu.
"ma, pa, asma ikut mas farhan dulu ya." Ucap Asma sambil membawa roti bakar.
Farhan menunggu Asma disaung dekat kolam renang, sambil menikmati sejuknya udara pagi.
"kenapa ajak aku kesini ?" Tanya Asma.
"biar ngga ganggu mama sama papa." Jawab Farhan.
Asma tersenyum mendengar jawabannya.
"sayang, nanti kita belanja yuk. Belanja kebutuhan untuk masa hamil kamu." Jelas Farhan.
"tadi mama juga bilang begitu." Ucap Asma.
"oh, ya ? wah aku sehati nih sama mama." Ucap Farhan.
"mas.. "
"hem..?"
"aku boleh ikut jalan-jalan kan ?"
Farhan langsung menatapnya.
"no.. no.. no.. aku akan bilang ke ihsan supaya dia juga ngga izinin kamu pergi. Aku juga akan bilang ke yang lain supaya ngga ada yang bolehin kamu pergi." Teriak Farhan sambil berjalan meninggalkan Asma.
Asma hanya tersenyum melihat tingkah suaminya. Sambil melihat air dikolam, Asma menikmati sarapan roti dan segelas susu.
Entah ucapan seperti apa yang harus dikatakannya sebagai ungkapan terima kasih atas segala kebaikan yang diterimanya disetiap hari. Setiap kesulitan, kesedihan yang dirasanya selalu Allah ganti dengan kebahagiaan yang tak ternilai. Dipertemukan dengan laki-laki yang memiliki cinta yang luar biasa ditengah dirinya yang menyimpan luka. Berada ditengah keluarga yang menyayanginya sebagai orang baru yang masuk kedalam rumahnya. Diberikan amanah yang dinanti-nantikan banyak orang diluaran sana.
Saat semua keajaiban ini datang diluar pemikiran, bersyukur adalah jawaban yang tepat untuk semua. Dan tindakan adalah pelengkap dari semua rasa syukur yang ada. Menjaga dan menikmati semua dengan bahagia.
.
.
__ADS_1
...~Bersambung~...