
Mendengar pernyataan Ainun saat itu. Tak hanya Asma dan teman-teman, namun para tamu yang ada diruangan itu ikut terkejut. Isak tangis yang sejak tadi mengalir, sekejap berhenti hanya karena perkataannya.
"abang ingatkan ? tujuan papa mengenalkan abang ke saya ? papa ingin abang menjadi menantunya." Ucap Ainun.
"abang.. saya mohon."
"ainun. Kita sudah membicarakan ini. Kita juga sudah sepakat untuk menjadi teman." Ucap Asyam.
"abang, saya mohon." Ucapnya sambil menangis dan memegang lengan Asyam.
"abang. Untuk papa. Demi papa. Supaya papa tenang karena ada yang jaga saya dan mama." Ucap Ainun.
"ainun.." Ucap Asyam, lembut.
"menikahlah dengan saya.. Jadikan saya istri abang." Pinta Ainun.
"ainun.. " Ucap Asma menghampiri.
"diam." Tegas Ainun melepas tangan Asma dan mendorongnya dengan lengan.
"astaghfirullah.." Asma.
"astaghfirullah.. Asma." ucap teman-temannya.
Farhan langsung menghampiri dan membantunya berdiri.
"aku ngga apa-apa, mas." Ucap Asma menenangkan Farhan saat menemukan wajahnya yang siap untuk marah.
"aku mohon. Didepan papa, untuk terakhir kalinya. Wujudkan keinginan papa. Papa menjodohkan abang dengan saya. Papa ingin abang yang mendampingi saya." Pintanya.
"ainun. Hari ini adalah hari papa kamu berpulang. Semua keluarga sedang bersedih. Tidak baik kamu membicarakan pernikahan saat ini." Ucap Asyam.
"oke. Lain waktu." Ucap Ainun.
"tapi abang janji, abang akan menikahi saya ? seperti keinginan papa." Tanyanya.
"maaf ainun, pernikahan tak semudah mengulurkan tanganmu untuk berteman." Balas Asyam.
"Saya tidak akan menjanjikan apapun kepadamu, ainun!" Tegasnya.
Ainun pun terdiam, tak ingin menyerah dan memikirkan cara lainnya lagi.
"syahrul.." Panggilnya sambil menatap Syahrul.
"kita bisa sama-sama lagi kan ? aku butuh kamu." Ucapnya.
"sekarang papa udah ngga ada, ngga ada yang ngelarang kita untuk bersama lagi kan. Syahrul, aku mohon." Pintanya sambil menangis.
"pleas... aku butuh laki-laki pengganti papa, untuk menjaga mama dan aku." Teriaknya sambil terjatuh dan menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya.
Mama wida langsung membawanya menjauh dari orang-orang. Cukup memalukan, didepan para tamu dan keluarga, bahkan didepan jenazah sang ayah.
__ADS_1
"bang ihsan, sebaiknya kita pamit pulang." Bisik Asma yang berada dibelakang Ihsan.
"Yasudah, ayuk kita pamit pulang." Bisik Ihsan kepada yang lainnya.
Sesampainya dimasjid Nadia dan Salwa langsung berjalan cepat kedalam sekretariat dan mengunci pintu.
"Aku benar-benar ngga setuju kalau sampai dia bergabung disini. Lihat saja kelakuannya, bisa-bisanya didepan semua orang dia minta dinikahin." Kesal Salwa.
"Pantas saja sejak tadi perasaanku tidak enak sepanjang perjalanan." Ungkap Nadia.
"Aku ngga sampai kepikiran, kalau dia akan bertindak seperti itu." Lanjut Nadia.
"Aku bener-bener ngga ngerti kenapa asma bisa punya temen kaya dia." Ucap Salwa.
"Kamu pasti kaget banget yaa saat dia ngomong begitu ke syahrul ?" Tanya Salwa.
"Yaa.. jangankan ke syahrul, ke bang asyam juga aku kaget banget." Jawab Nadia.
cklek..
Suara gagang pintu terdengar. Namun pintu tak berhasil terbuka, karena Salwa menguncinya dari dalam.
"salwa.. nadia.. " Panggil Asma dari luar.
Salwa membukakan pintu dan membiarkan Asma untuk masuk. Melihat raut wajah dikedua temannya, Asma yakin mereka kesal atas kejadian dirumah duka tadi.
"kalian pasti kesal dengan sikap ainun tadi, ya ?" Ucap Asma.
"biasanya juga ngeselin. Kayanya memang sudah bawaannya seperti itu." Ceplos Salwa.
"Asma. Ini bukan pertama kalinya dia berulah. Hari-hari biasapun dia sering datang untuk bertemu bang asyam atau syahrul dengan alasan ingin bertemu dengan kamu." Jelas Nadia.
"bahkan dia masih mengejar-ngejar syahrul. Dia juga sempat menarik tangan syahrul di teras masjid." Ungkap Nadia.
"yasudah, yang terpenting keputusan dari dua lelaki yang diharapkannya. Semoga bang asyam atau pun syahrul bisa dengan tegas menyikapi ainun." Ucap Asma.
"tapi kita juga ngga bisa biarin dia gabung disini. Asma, tolong jangan terima dia." Pinta Salwa.
"kita akan tau nanti saat rapat evaluasi. Mana suara terbanyak, menerima atau menolak." Jelas Asma.
"Aku benar-benar ngga sanggup kalau harus bertemu dia setiap hari." Ucap Salwa.
"Aku pamit pulang dulu ya." Ucap Asma.
"hati-hati, ya." Pesan Nadia.
Dalam perjalanan, Asma masih memikirkan permasalahan teman-temannya. Ainun yang kehilangan sang ayah, Salwa yang galau karena pernyataan cinta seseorang, Nadia yang menunggu kepastian dari seseorang yang diharapkannya. Ihsan yang mencari cinta lamanya yang hilang.
"sayang.." Panggil Farhan sambil melirik kearah Asma.
"hem ?"
__ADS_1
"kamu kenapa ? apa yang sedang kamu fikirkan ?" Tanya Farhan.
"banyak." Jawabnya sambil tertawa ringan.
"coba ceritakan, aku siap mendengarnya." Ucap Farhan.
"mas.. kalau ainun bergabung untuk mengajar dimasjid. Menurut mas, bagaimana ?" Tanya Asma.
"mhh.. gimana ya ?" Ucap Farhan, berfikir sambil fokus menyetir.
"Kalau aku perhatikan para pengajar yang pernah aku temui. Mereka pandai bersikap, mereka tau aturan kepada sesama pengajar, mereka tau batasan untuk pengajar laki-laki dan perempuan." Jelas Farhan.
"baik di jam mengajar maupun diluar jam mengajar." Lanjutnya.
"Justru asma ingin, mengenalkan ainun terhadap hal itu, mas." Ungkapnya.
"ainun kan sudah belajar berhijab, dia juga belajar mengaji dengan bang asyam dirumahnya." Ucap Asma.
"asma juga bingung, banyak kabar kurang baik yang asma dengar tentang dia. Asma juga tidak bisa membiarkan dia mengajar adik-adik dengan apa yang baru dipelajarinya." Lanjut Asma.
"tapi asma ngga mau, menutup jalan kebaikan yang ingin ditempuh oleh dia." Ucap Asma.
"sayang. Kamu bukan menutup, hanya saja belum waktunya. Kamu kan masih bisa mengajaknya dia untuk ikut kalau sedang ada acara atau kegiatan outdoor seperti waktu itu." Jelas Farhan.
"Asma ingin merekrut dia untuk jadi staff di gedung nanti kalau sudah diresmikan. Paling tidak, dia dikelilingi dan bertemu dengan orang-orang yang shaleh, insya Allah." Ucap Asma.
"wah, bagus itu. Masya Allah istriku." Ucap Farhan sambil menggenggam tangan Asma.
"mas. Boleh ya, nanti aku bertemu dengan ainun." Izin Asma.
"kamu mau ngapain lagi ?" Tanya Farhan.
"ya, aku mau tau kabarnya. Ngga sekarang ini, beberapa hari kedepan mungkin. Kalau sekiranya suasana sudah tenang." Jelas Asma.
"aku temenin ya ?" Pinta Farhan.
"jangan, mas. Nanti yang ada ngga akan nyaman." Ucap Asma.
"kamu ngga ingat tadi, dia dorong kamu. Aku ngga mau kalau hal buruk sampai terulang lagi." Tegas Farhan.
"yasudah. Nanti kita bicarakan lagi." Ucap Asma.
Biar waktu yang memulihkan semua. Luka, keadaan dan emosi yang ada. Tanpa harus memikirkan bagaimana untuk kembali menatanya. Jika telah berdamai, hari-hari yang indah akan kembali datang menyapa. Tanpa paksa dan sandiwara. Tanpa harus membuat skenario terlihat nyata. Cukup waktu yang akan menuntun hati berdamai untuk menenangkan setiap jiwa.
.
.
.
...~Bersambung~...
__ADS_1