KETIKA RINDU BERBALUT DOA

KETIKA RINDU BERBALUT DOA
Episode 55 - Melepas & Menerima


__ADS_3

Asma mengunjungi Salwa setelah Farhan mengantarnya dan menghubungi Nadia untuk bertemu di ruang sekretariat. Asma menunggu Salwa sambil memainkan handphonenya di kursi depan.


Tak ingin hal tentang Xena mengusik fikirannya. Asma berusaha mengalihkan untuk fokus membahas tentang perubahan taman pengajiannya. Satu hari sebelum tiba untuk dibahas tuntas bersama dengan Ihsan dan teman-teman yang lain.


Xena adalah hal kesekian yang ada didaftar kesibukannya, bahkan mungkin saja tidak masuk kedalam hal yang harus difikirkannya. Selagi dia tidak berulah, Asma takkan memperdulikannya.


"maaf ya, lama. Kamu si dadakan." Ucap Salwa yang keluar sambil memrapihkan tas selempangnya.


"ngga apa-apa. Maaf ya mengganggu kamu." Ucap Asma sambil bangkit menyamai Salwa.


"yuk." Ucap Salwa semangat dengan senyumannya.


Saat tiba dimasjid, Asma menemukan Nadia yang sudah menunggu diteras sambil memainkan ponselnya. Nadia langsung bersiap saat mendapati Asma sedang mendekat. Mereka menggunakan aula untuk menghindari para pengajar yang jika tiba-tiba masuk ke ruang sekretaris.


Asma menjelaskan lebih terperinci dan berdiskusi dengan Salwa dan Nadia. Nadia juga memberi pertanyaan dan pendapatnya, begitupun dengan Salwa. Situasi makin mengasikkan dan menemukan titik terang.


Selesainya, Asma berbincang dengan Nadia saat Salwa sedang berada di toilet.


"bagaimana hubunganmu dengan bang ihsan ?" Tanya Nadia sambil menoleh kepada Asma.


"sejujurnya aku sedikit takut saat tau bang ihsan kembali. Ternyata dugaanku benar, dia masih menyimpan harapan padamu." Lanjut Nadia.


"semua hanya butuh waktu. Sama seperti saat aku dulu, butuh waktu untuk menerimanya dan melupakannya. Dan juga butuh waktu untuk menerima kehadiran dokter farhan yang secara tiba-tiba." Jelas Asma secara tenang dengan senyumannya.


"asma, asma.. Sebenarnya terbuat dari apa hatimu itu ? hal spesial apa yang Tuhan kasih untukmu ?" Canda Nadia.


"sama saja seperti yang lainnya." Jawabnya.


Asma melihat kedatangan Asyam bersama Liya. Namun tak lama langkahnya terhenti melihat kearah yang lebih jauh dari titik Asma dan Nadia. Liya yang mengikut dibelakangnya juga berhenti, mengamatinya. Asma berusaha menyadari tatapan Asyam yang seperti menemukan sesuatu dibelakangnya. Ternyata Salwa yang juga sedang berjalan ingin menghampiri ikut terhenti.


"Nad, kamu temani bang asyam dan liya jika ada yang ingin dibicarakan ya. Aku ada perlu dengan salwa." Bisik Asma.


"Ok." Jawabnya singkat.

__ADS_1


Setelah melihat Asma membawa pergi Salwa. Asyam kembali menyadarkan diri dan menghampiri Nadia.


"Datang lebih awal, nad ?" Tanya Asyam.


"Iya nih, bang. Tadi dapat panggilan dari ummi nya anak-anak. Hehe.." Canda Nadia.


"Ada hal mendesak memangnya ?" Tanya Asyam.


"Ngga sih, bang. Yuk kita keruang sekret." Ajak Nadia.


Asma membawa Salwa ke halaman belakang masjid. Terdapat hamparan rumput dan juga beberapa bangku panjang untuk duduk menikmati senja dengan kesejukan.


"Kamu pasti masih belum bisa ya mengatur perasaanmu saat bertemu dia ?" Tanya Asma sambil menggenggam tangan Salwa.


"Aku sedang berusaha. Tapi setiap kali melihatnya rasanya sakit, bahkan terasa sedih, kenapa aku ngga bisa memiliki dia ? Kenapa dia ngga bisa menerima aku ?" Jelasnya sambil merubah duduknya untuk menghadap kepada Asma.


"Apa yang terbaik menurutmu belum tentu baik menurut Allah, dan Apa yang tidak kamu inginkan belum tentu buruk menurut Allah. Allah sebaik-baik pemberi, Dia lebih tau yang terbaik untuk kita, salwa." Ucap Asma.


"Belajar untuk berserah dan pasrah terhadap ketentuan Allah. Menerima dengan lapang dada, ikhlas akan segala takdirNya. Tidak semua kesedihan dan rasa sakitmu adalah suatu hal yang buruk, jika kamu dapat melihat dari sisi yang lainnya." Lanjutnya.


"Andai aku bisa menjadi sepertimu. Aku bahagia kamu kembali asma, aku bahagia kamu berada diantara kita lagi. Aku sangat takut kehilangan kamu saat itu. Kita semua sangat membutuhkan teman seperti dirimu." Ucap Salwa sambil memeluk Asma.


"Jangan lagi membuang waktumu untuk hal yang merugikanmu, ya. Buka lembaran baru untuk melukis senyummu lagi, dimanapun." Ucap Asma, tersenyum sambil menatapnya.


"Asma.." Teriak perempuan yang memanggilnya.


"Dicari bang ihsan diruangan." Ucap Nadia.


Asma melangkah bersama menuju ruang sekretariat dan menemukan beberapa pengajar telah berada diruangan. Suasana terlihat tegang namun terlukis kebahagiaan. Asma bingung dengan semua yang menatapnya.


"Ada apa bang ihsan ?" Tanya Asma yang masih berdiri lurus dari meja Ihsan.


"Sepertinya kita tidak usah melakukan rapat pada malam ini." Jawab Ihsan.

__ADS_1


"Kenapa ? Ada apa ? Apa alasannya ?" Tanya Asma yang mulai bingung.


"Semua menyetujui rencana ustadz Hasan dan bapak Hanif."


"Allahu akbar." Bisik Asma sambil menutup setengah wajahnya dengan kedua tangannya.


"Kabari saya kapan pak hanif akan mengajak kita melihat lokasinya. Beberapa pengajar akan ikut melihatnya juga." Jelas Ihsan.


"Alhamdulillah." Ucap Asma.


"Makasih ya, teman-teman." Ucap Asma sambil memeluk Salwa dan Nadia yang masih berada disisinya.


Malamnya, Asma duduk dikasur menunggu Farhan sambil membaca buku. Waktu luang yang tenang, dikamar yang nyaman dalam kesendirian. Buku adalah sahabat terbaiknya sejak dulu, darinya ia banyak mengetahui sesuatu dan banyak mengajarnya sesuatu.


Sampai tiba-tiba ia mengantuk, menjatuhkan bukunya dikasur. Kepala yang juga tiba-tiba terus bergeser kesamping kanan. Asma gagal menguatkan matanya untuk menunggu suaminya datang.


Hingga pagi pukul 3 pagi, Asma terbangun dan mendapati tubuhnya yang tidur dalam keadaan rapih. Ada hangat yang terasa ditangannya. Genggaman dari sang suami yang sedang tertidur pulas.


Asma melepasnya dengan pelan untuk melaksanakan shalat malam. Ia tak tega membangunkan suaminya yang mungkin baru istirahat sebentar. Biar saja hingga nanti mendekati waktu subuh baru akan dibangunkannya.


Dalam sujudnya Asma meminta keselamatan hidupnya, meminta ketetapan imannya hingga akhir hayatnya. Dalam ketenangan malam Asma merangkai kata, mengirimkan surat kepada Sang Pencipta agar dikokohkan rumah tangganya.


Selepas shalat malam, Asma menyiapkan susu dan roti didapur untuk suami tercinta.


.


.


.


.


...-Bersambung-...

__ADS_1


__ADS_2