
"assalamu'alaikum..."
"wa'alaikumussalam.."
"masya allah... dokter tampan disini..." Ucap seorang gadis yang datang setelah Nadia.
"Salwa... astaghfirullahal'adzim." Ucap Nadia.
"ini teman masa kecil ku namanya salwa dan itu Syahrul." Ucap Asma memperkenalkan.
"dokter.. saya salwa." Ucap Salwa yang langsung duduk menatap Farhan.
"astaghfirullah. Mohon dimaafkan ya, dok kelakuannya emang seperti itu." Ucap Syahrul.
"saya syahrul, temannya asma." Ucap syahrul sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.
"saya farhan." Balas Farhan dengan senyuman.
Kegiatan belajar mengajar telah dimulai. Farhan mulai memperhatikan Asma dari luar jendela. Asyam, Salwa, Nadia dan liya, Asma, Syahrul dan Zidan. Dengan wajah yang ceria dan penuh ketenangan Asma menyampaikan. Farhan tersadar, disinilah kebahagiaan Asma berada. Bersama mereka sahabat-sahabat sesyurga, bersama adik-adik yang sangat membutuhkan kehadirannya. Disinilah kebahagiaan Asma, saat ia dapat menjadi diri yang bermanfaat bagi yang lainnya. Tiba-tiba saja seseorang menepuk bahu Farhan.
"kamu disini ?" Tanya Ustadz Hasan yang sedang berkunjung ke masjid sambil menunggu adzan maghrib.
"ayah..." Ucapnya sambil menyalami.
"saya... nemenin asma mengajar. Maaf ya ayah saya tidak mampir kerumah." Ucap Farhan.
"tidak apa-apa. Kita ke atas yuk. Tilawah sambil menunggu maghrib." Ajak Ustadz Hasan.
Farhan mengakrabkan diri dengan Ustadz Hasan. Tak ada yang lebih indah dari memanfaatkan waktu luang untuk mengenal keluarga pasangan. Ditengah kesibukannya, ditengah lelahnya, mendapat kesempatan tanpa harus mencari-cari adalah hal yang berharga saat mendapatkannya.
Asma telah masuk kedalam keluarganya dan akan lebih sering berinteraksi dan mengenal keluarga Farhan. Jarak rumah yang cukup jauh dari rumah Asma membuat Farhan jarang mendapat banyak waktu untuk dihabiskan bersama dengan keluarga Asma.
Asma kembali menyibukkan diri setelah mengajar, ditemani Syahrul dan juga Nadia. Tangannya aktif menulis diselembar kertas beralaskan map, segala agenda dicatatnya untuk segera direncanakan. Mulai dari pembagian raport, hari libur dan juga liburan untuk para santri.
"kamu yakin mau mengurusnya sendiri ?" Tanya Nadia.
"siapa bilang aku sendiri ? kan ada kalian." Jawab Asma, tersenyum sambil menulis.
"aku hanya mencatat inti-intinya saja, nanti tetap akan kita diskusikan bersama." Jelasnya.
"dah.. selesai..." Ucapnya saat tulisan terakhir dan menyuimpannya di dalam map.
__ADS_1
"asma ? kamu benar bahagia dengan pernikahan mu ini ?" Tanya Syahrul.
"aku benar-benar minta maaf, sepertinya pertengkaranmu dengan bang ihsan hingga batalnya pernikahan disebabkan karena surat itu." Ucap Syahrul.
Asma tersenyum dan ikut duduk bersama Nadia dan Syahrul.
"rul, aku sudah bilang ini semua sudah qodarullah. Itu artinya aku bukan jodohnya dan dia bukan jodohku. Bahagia atau tidaknya aku dengan pernikahan ini, itu tergantung pada diriku. Jika ingin bahagia, maka aku harus menerimanya dengan lapang dada. Kamu tidak bersalah syahrul." Jelasnya dengan senyuman yang membuat ketenangan.
"dokter farhan itu baik banget, dia pasti tulus mencintai asma dan akan menyayangi asma. Dia bisa menerima asma saat asma dalam keadaan koma. Jangan larut dalam menyalahkan diri, jangan buat itu menggganggu fikiran kamu, asma sudah memaafkan apapun yang telah terjadi." Ucap Nadia.
"aku bahagia, aku bangga punya sahabat sepertimu asma." Ucap syahrul.
"Terima kasih, rul. Aku pun pasti masih banyak kurang dan pasti pernah melakukan salah. Tetap semangat ya dan selalu mengingatkan dalam kebaikan." Ucap Asma kepada Syahrul dan Nadia.
"pasti..." Balas Nadia.
Malam semakin larut, namun mata tak kunjung menutup. Banyak tugas yang terlantar, lantaran diri beristirahat dari dunia yang melelahkan. Dikamarnya, Asma masih asik dengan laptop dan catatan yang dibuatnya saat di sekretariat. Malam ini, Asma dan Farhan menginap dirumah ayah dan bunda. Sama seperti halnya Asma, Farhan juga belum menutup harinya. Entah apa yang mengganggu fikiran hingga sulit rasanya untuk tenang dan memejamkan mata. Farhan memberanikan diri mengunjungi Asma dikamarnya. Berharap kehadirannya takkan ditolak.
Tok.. tok..
Farhan mengetuk tanpa mengirim suara kepada pemilik kamar. Asma bingung, siapa yang mengganggunya selarut ini.
"mas farhan.. ada apa ?" Tanya Asma saat menemukan suaminya dibalik pintu.
"mmh... maaf, saya ngga bisa tidur, saya bingung mau ngapain lagi." Jelasnya.
"silahkan masuk." Asma mempersilahkan Farhan untuk masuk kedalam kamarnya.
Seperti halnya Farhan yang mengizinkannya masuk kedalam kamarnya, melihat seisi kamar. Asma pun berlaku sama. Sekarang ataupun nanti, Farhan akan tetap masuk dan melihatnya. Hanya tentang perbedaan waktu. Asma mempersilahkan Farhan duduk dikasur, sedangkan ia kembali duduk dimeja kerjanya. Meja yang dulu menemaninya dalam belajar dan mengerjakan tugas-tugas.
"sudah malam, masih mengerjakan tugas ?" Tanyanya.
"iseng saja, sambil menunggu ngantuk." Jawabnya.
"mau saya bikinkan susu ?" Tanya Asma yang menoleh kepada Farhan.
"Tidak usah, kamu lanjutkan saja." Jawabnya.
Farhan melangkahkan kakinya melihat-lihat seisi kamar Asma. Foto-foto yang terpajang didinding, meja rias, dan rak buku yang ada dikamar Asma.
"apa saya perlu menyediakan rak buku khusus untukmu dirumah ?" Tanyanya saat berhadapan dengan buku-buku milik Asma yang tersusun rapih.
__ADS_1
"tidak usah. Bukankah ruang kerja dokter farhan cukup luas untuk menyimpan buku-bukuku yang kecil." Ungkapnya.
"saya boleh pinjam bukunya untuk dibaca ?" Tanyanya.
"silahkan." Balas Asma.
Farhan membaca buku yang diambilnya sambil bersandar dikasur. Hingga datang kantuk, dan sedikit demi sedikit menurunkan tubuhnya hingga berbaring dan terlelap dengan buku yang tergeletak diatas dada.
Asma juga mulai kehabisan energi untuk melanjutkan tugasnya malam ini, mata yang segar telah layu mengajaknya beristirahat. Saat dibalikkan tubuhnya, dilihatnya Farhan yang telah terlelap. Entah apa yang menariknya untuk tersenyum melihat lelaki itu tergeletak diranjangnya. Dilangkahkan kakinya untuk mendekat kepada laki-laki yang telah berstatus menjadi suaminya. Diambilnya buku yang tergeletak didadanya, menarikkan selimut untuk menghangatkan tubuhnya. Perasaan tenang saat menatap wajahnya yang teduh dan tampan.
"*ya Allah hadirkanlah cinta dalam hatiku untuknya. Agar kami menjadi pasangan yang saling mencinta*i." Bisiknya dalam hati.
Asma kembali membuka matanya tepat pukul tiga pagi untuk melaksanakan shalat malam. Kini dia yang pertama dilihatnya saat membuka mata. Dengan ragu disentuhnya lengan Farhan untuk membangunkannya.
"saya mau shalat malam. Maukah kamu menjadi imamku ?" Tanya Asma saat Farhan membuka mata.
"ya.. saya akan siap-siap." Jawabnya yang masih setengah sadar, namun perkataan Asma membuatnya bersemangat untuk membuka mata.
Selesai melaksanakan shalat, Asma mengutarakan keinginanya. Duduk berdua dan saling berhadapan.
"saya ingin menyampaikan tentang keinginan saya." Ucapnya.
"kamu ingin apa ?" Tanya Farhan dengan senyuman.
"saya ingin... keridhoanmu. Saya ingin kamu ridho atas segala sikap dan perlakuan saya terhadapmu saat saya sedang belajar untuk menerima kehadiranmu." Jelasnya dengan ragu.
Farhan tersenyum sambil mengelus kepala Asma.
"kamu sudah mendapatkannya sejak janji itu terucap." Ucap Farhan.
Saat pagi, Asma mendapat surat yang ditujukan untuknya.
"asma, aku tuliskan surat ini karena tak sempat berjumpa denganmu. Terima kasih atas waktu dan hal berharga yang pernah kamu berikan dalam hidupku."
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.....