KETIKA RINDU BERBALUT DOA

KETIKA RINDU BERBALUT DOA
Episode 49 - Waktu yang Merubahku


__ADS_3

Asma kembali bertugas diruang sekretariat. Membereskan perlengkapannya untuk mengajar. Tiba-tiba saja, Ihsan masuk tanpa memberi salam. Mata yang mengarah pada Asma saat pertama kali membuka pintu ruangan. Lalu melanjutkan langkah tanpa memperdulikan keberadaannya.


Ihsan mengambil map yang tadi pagi dibereskannya bersama dengan Asyam yang ingin ia bicarakan dengan Asma. Ihsan mengarah ke sofa dan duduk sambil meletakkan map diatas meja.


"asma, abang mau tanyakan tentang kegiatan liburan santri yang akan diadakan." Ucap Ihsan.


Asma terdiam, seolah berfikir. Ia letakkan berkas yang sedang dipegangnya dan berjalan menuju Ihsan.


"apa ada yang salah, bang ?" Tanya Asma yang ikut duduk, berjauhan.


"kenapa kamu ambil tugas ini ? kenapa kamu ambil tanggung jawab sebesar ini ?" Tanya Ihsan.


"ini belum seberapa dibandingkan dengan tanggung jawab kita sebagai pengajar, bang. Tanggung jawab bang ihsan sebagai pimpinan dan asma sebagai wakilnya. Itu jauh lebih besar dibandingkan ini, bang." Jelas Asma.


"kenapa harus dipermasalahkan ?" Tanya Asma.


"serahkan ini kepada abang. Biar abang yang menjadi ketua pelaksananya. Kamu isi dibagian acara bersama dengan Asyam dan yang lain." Jelas Ihsan.


"asma serahkan kepada teman-teman yang lain. Silahkan abang musyawarahkan lagi." Ucap Asma.


"baik, nanti malam aku adakan rapat sebentar. Kamu ada waktu." Tanya Ihsan.


"insya allah, asma bisa." Ucap Asma.


"Asma, boleh abang bertanya ?" Tanya Ihsan.


"bagaimana keadaanmu selama abang menjalani pengobatan ?" Tanya Ihsan.


"alhamdulillah, asma baik-baik saja, bang." Jawab Asma.


"raina, ummi sama abi, bagaimana keadaannya, bang ?" Tanya Asma yang mulai dapat mengendalikan hatinya.


"alhamdulillah mereka sehat. Kapan-kapan abang ajak raina main kerumahmu." Ucap Ihsan dengan senyuman.


"biar nanti asma sendiri yang buat janji temu dengan raina." Ucap Asma, menolak.


"apa hanya abang yang merasa kalau kamu banyak berubah pada abang, asma ?" Ungkap Ihsan.


"setiap orang pasti akan berubah bersama dengan waktu, bang."


"tapi ini terlalu cepat." Ucap Ihsan yang mulai terbawa emosi.


"bahkan sedetikpun, itu tetap saja mungkin, bang. Apalagi dengan hitungan bulan." Balas Asma.


"abang yang salah, abang minta maaf karena tidak mempercayai asma." Ucap Ihsan.

__ADS_1


"asma sudah tidak ingin membahas permasalahan ini lagi, bang. Asma sudah menguburnya dalam-dalam." Tegas Asma.


"apa kamu benar-benar melepasnya, asma ? apa sudah tidak ada lagi kesempatan untuk abang ?" Tanya Ihsan.


Nadia yang sedari tadi menemukan Asma dan Ihsan yang sedang berbincang diluar kepentingan kerja, menahan diri untuk masuk. Nadia yang mengetahui keseluruhan cerita Asma, ikut merasakan sesak. Membayangkan jika dirinya yang ada diposisi Asma saat ini, Menikah tanpa rasa cinta dengan orang yang tak dikenal. Bertemu dengan masa lalu setelah memiliki kisah hidup yang baru.


"semua sudah terlambat, bang. Tepat disaat abang memutuskan pilihan abang saat itu. Asma sudah menyiapkan hati untuk kehilangan kebahagiaan itu, bang." Ucap Asma.


Nadia terkejut melihat keberadaan Farhan teras masjid. Nadia menyiapkan diri untuk mengetuk pintu dan memecah ketegangan diantara keduanya, sebelum keadaan semakin memanas saat Farhan berhasil masuk dan bertemu dengan Ihsan.


Tok ... tok ... tok ...


"assalamu'alaikum." Ucapnya.


"wa'alaikumussalam."


"wah.. baru ada asma sama bang ihsan, aku kira sudah ramai, hehe." Ucap Nadia, ragu sambil melangkah menuju loker dengan jantung yang berdetak kencang.


"nadia, tolong nanti atur jadwal untuk perubahan kepanitiaan. Kalau bisa malam ini, kita laksanakan. Kalau tidak bisa, usahakan dalam waktu dekat." Jelas Asma.


"oke." Sahut Nadia sambil memunculkan kepala dari balik pintu loker dan kembali menariknya sambil memejamkan mata.


Semakin hari, hati tak dapat menahan keakraban dan rasa baru yang menyapa. Pertemuan yang semakin rutin dilakukan membuat hati semakin berdebar. Rasa yang dulu hanya sekedar teman, kini berubah menjadi harapan.


Sekali pun hati menahan, perasaan kagum yang berubah menjadi cinta itu terus mengetuk pintu hati seakan ingin memaksa untuk membukanya. Penolakan yang dulu selalu dikobarkan, kini memadam dan ingin sekali menerima kehadirannya. Tanpa harus dipaksa, hanya dengan keinginannya saja, dia ingin selalu menemuinya.


"nanti saya coba tanyakan ke asma ya, ada tempat yang cocok ngga buat kamu untuk gabung mengajar." Ucap Asyam menanggapi permintaan ainun untuk bergabung diorganisasinya.


"Harus ya tanya asma dulu ?" Tanya Ainun dengan senyuman sambil menutup buku.


"Harus dong, kan dia yang memimpin disana. Ada ihsan juga si, nanti deh saya bicarakan dengan ihsan dan asma." Jelasnya.


"Yang penting saat ini, kamu harus tetap dan lebih semangat lagi belajarnya. Kamu harus mempersiapkan diri untuk bergabung dengan orang-orang hebat disana" Ucap Asyam, menyemangati.


"Siap pak ustadz." Ledeknya.


Membuat mereka saling melempar tawa. Asyam membereskan barang-barangnya untuk bersiap menuju masjid dan mengajar.


Nadia memutuskan untuk mengadakan rapat malam ini dengan mempertimbangkan para pengajar yang dapat meluangkan waktu di malam minggu ini. Pertemuan diadakan dengan santai malam ini sambil menyantap nasi goreng di aula masjid.


Semua membentuk lingkaran dengan memberi jarak antara perempuan dan laki-laki. Ihsan membuka pembicaraan dan yang lain mendengarkan sambil menimati nasi goreng yang masi hangat.


Kepada : Dokter Farhan


Isi pesan : saya ada pertemuan dengan pengajar malam ini, maaf saya makan duluan. Selamat makan

__ADS_1


Asma mengirim pesan kepada Farhan. Farhan yang sedang berbincang dengan Ustadz Hasan, tersenyum membaca pesan dari sang istri.


"Kenapa ? Apa asma sudah pulang ?" Tanya Ustadz Hasan.


"Maaf, ayah. Belum. Asma sedang ada pertemuan dan makan dengan para pengajar." Jelas Farhan.


"yasudah, berarti ayah masih punya waktu untuk ngobrol sama kamu dong." Ucap Ustadz Hasan.


"boleh, ayah. Kapan pun, insya allah farhan siap." Sahut Farhan dengan senyuman.


Tiba waktu pulang, Farhan menjemput Asma dengan menunggu didalam mobil. Sambil memandangi jam tangan yang masih terus berputar, membuat hari semakin malam.


"Asma." Ucap Ihsan.


"ada perlu lagi, bang ?" Tanya Asma.


"boleh saya mampir kerumahmu ? kapan pun kamu ada waktu." Tanya Ihsan.


"silahkan jika ingin bersilaturrahmi." Jawab Asma.


"lalu..."


"asma.." Panggilnya tepat dibelakang Asma.


"sudah malam, waktunya pulang." Ucapnya.


Ihsan terkejut mendapatinya, Nadia dan para pengajar lain yang masih berada disekeliling mereka ikut berhenti dan memandangi dari jarak masing-masing.


Pertemuan yang selama ini dihindari, kini terjadi. Takdir telah bekerja sama dengan waktu untuk mempertemukan keduanya, Ihsan dan Farhan yang diketahui memiliki hubungan sepupu.


"farhan." Ucap Ihsan.


"kamu kenal dengan Asma ?" Tanya Ihsan.


"ya." Jawabnya.


"salam untuk om dan tante, ya. Saya pamit dulu." Ucap Farhan.


.


.


.


.... . . Bersambung . . ....

__ADS_1


__ADS_2