KETIKA RINDU BERBALUT DOA

KETIKA RINDU BERBALUT DOA
Episode 57 - Gift


__ADS_3

Syahrul menemukan Salwa dan Nadia yang sedang makan bubur di ruang sekretariat.


“loh, kirain dirumah.” Ucap Syahrul kepada Nadia saat memasuki ruangan.


“ekhemm..” Ledek Salwa.


“ngga. Tadi janjian pagi-pagi disini.” Sahut Nadia.


“itu bubur satu lagi buat siapa ?” Tanya Syahrul.


“yang jelas bukan buat kamu.” Balas Salwa.


“ngga nanya sama kamu.” Ucap Syahrul.


“tadi asma nitip. Kangen bubur bapak katanya.” Jawab Nadia.


“bubur siapa coba ? coba-coba diulangin.” Ledek Salwa.


“apa sih.” Ucap Nadia sambil menepuk lengan Salwa.


“bapak.” Bisiknya sambil tertawa menutupi mulutnya.


“Assalamu’alaikum.” Ucap seorang lelaki yang datang setelah Syahrul.


“wa’alaikumussalam.” Jawab bersama.


Lagi-lagi Salwa menaruh tatapan kepada Asyam. Matanya saling beradu. Nadia yang menemukan keduanya langsung menggenggam tangan Salwa. Sebagai tanda untuk menundukkan pandangannya dan melepas tatapannya.


“sudah pada kumpul.” Ucap Asyam membawa beberapa lembaran dan menaruhnya di meja Asma.


“saya juga baru datang, bang.” Sahut Syahrul.


“ngga bareng bang ihsan, bang ?” Tanya Nadia.


“saya kira sudah duluan.” Jawab Asyam.


“assalamu’alaikum.”


“wa’alaikumussalam.”


“bang ihsan belum datang ?” Tanya Asma yang baru saja tiba.


“sudah. Dibelakangmu.” Sahutnya.


Asma menoleh dan sedikit menjauh.


“baru sampai ko buru-buru sekali. Istirahat saja dulu.” Ucap Ihsan sambil melangkah masuk menuju mejanya.


“nih bubur kamu.” Bisik Nadia sambil menunjukkan sekotak bubur ayam.


“makasih, ya.” Ucapnya.


“abi dan pak hanif sudah datang ?”Tanya Ihsan.


“sudah. Mereka sedang menunggu dirumah.” Jawab Asma.


“abang sudah sarapan ?” Tanya Asma.


“belum.” Jawabnya.

__ADS_1


“mau bubur ayam ?” Tanya Asma mengangkat bungkusan.


“tidak usah, itukan untukmu sarapan.” Jawabnya.


“ngga apa-apa. Asma sudah sarapan dirumah.” Ucapnya sambil mendekati meja Ihsan dan menaruh bubur dimejanya.


“rul, pesankan dua ya kalau masih ada. Pulangnya aku ambil.” Bisik Asma kepada Syahrul.


“ok.” Jawab Syahrul.


Mereka melanjutkan pembicaraan sambil menyiapkan berkas-berkas dan menunggu Ustadz Hasan dan Papa Hanif datang.


Farhan baru saja tiba diruangannya. Alangkah bingungnya dia menemukan sebuah tas kecil berisikan kotak makanan. Fikirnya tidak mungkin dari Asma, dia baru saja berpisah tadi dengannya. Farhan menghampiri dan menemukan selembar kertas kecil didalamnya.


Semoga kamu suka ya, aku masak ini khusus untuk kamu. Semangat…


Dibukanya tutup kotak itu untuk melihat isinya. Nasi putih, salad sayur dan daging panggang. Farhan menutupnya lagi dan menyingkirkannya. Tak lama suster yang mendampinginya masuk keruangan.


“sus, tadi ada orang yang masuk keruangan saya ?” Tanya Farhan sambil menunjukkan kotak makan.


“maaf, dok. Saya yang masuk dan menaruhnya.” Jawabnya.


“siapa yang memberikan ?” Tanya Farhan.


“perempuan, dok. Sepertinya seorang dokter juga. Kalau tidak salah namanya… mmh.. nena.. rena..” Suster masih berfikir mengingat jelas tanda pengenalnya.


“xena.” Tegas Farhan.


“sepertinya sih, dok.” Balasnya.


“untuk kamu saja.” Ucap Farhan memberikan.


“kamu tau saya sudah punya istri kan ?”


“jangan lagi menerima titipan sarapan atau kado apapun dari perempuan untuk saya. Kalau dia mengirim lagi, tolak !” Ucap Farhan.


“baik, dokter.” Jawab Suster tertunduk sambil memegangi kotak makan.


Ustadz Hasan dan Papa Hanif beserta para pengajar lainnya mengunjungi gedung yang akan ditempati untuk mengajar. Gedung minimalis dua tingkat yang menyediakan beberapa ruangan yang dapat ditempatkan untuk kelas.


Papa Hanif menjelaskan dan memperlihatkan seluruh ruangan yang ada. Dia telah menyiapkan satu ruangan yang bersih dan menyiapkan makanan ringan didalamnya. Mereka mendengarkan Papa Hanif yang masih menjelaskan design yang akan digunakan untuk gedung tersebut melalui proyektor.


“papa membeli gedung ini, papa hadiahkan khusus untuk asma.” Ucap Papa Hanif.


Asma sungguh terkejut, terlebih ketika dia diminta untuk tanda tangan surat kepemilikan gedung itu.


“ayo, nak. Jangan takut, papa yang akan urus semuanya. Kamu terima bersih untuk menjadi pemilik gedung ini.” Ucap Papa Hanif meminta Asma maju.


Telah ada seseorang yang mendampingi Papa Hanif untuk mengurus surat-surat. Asma tak kuasa menahan air mata dan memeluk sang ayah yang berada disampingnya.


“semoga jodohku seperti dokter farhan dan memiliki mertua yang baik seperti pak hanif.” Bisik Salwa kepada Nadia.


“hus.. sempet-sempetnya mikirin jodoh. Habis ini tugas kita menumpuk. Amanah kita besar utnuk memajukan kegiatan digedung ini.” Balas Nadia.


Hingga tiba waktu makan siang, semua sedang berpencar menikmati kue-kue yang disediakan Papa Hanif. Farhan datang dan langsung menghampiri Papa dan mertuanya yang sedang berbincang. Farhan menanyakan keberadaan Asma dan ditunjuki oleh Papa. Asma sedang asik menikmati buah dan berbincang dengan teman yang lain.


Asma menoleh saat menyadari ada tatapan yang menuju padanya. Ia dapati juga Farhan disana. Dengan senyum bahagianya dia menyapa.


“aku tinggal sebentar ya.” Ucap Asma.

__ADS_1


Asma menghampiri Farhan dan menyalaminya.


“kamu lagi istirahat ?” Tanya Asma.


“iya.”


“mau kue ? saya ambilkan.” Tanyanya lagi.


Farhan menarik lembut lengan Asma untuk merunduk.


“saya mau kamu.” Bisiknya tepat ditelinga Asma.


“saya ambilkan buah saja ya.” Ucap Asma yang salah tingkah, tak dapat mengontrol debaran hatinya.


Farhan tersenyum kecil melihat istri yang menjauh darinya. Ustadz Hasan dan Papa Hanif berpamitan, Asma dan Farhan mengantar hingga ke parkiran.


“pa, makasih ya. Asma ngga tau harus bilang apa lagi ke papa.” Ucap Asma.


“sama-sama, sayang. Tidak usah dengan kata-kata untuk berterima kasih kepada papa dan juga ayahmu. Kelola dan kembangkanlah ilmu didalam gedung ini. Kesuksesanmu, itu yang membuat kami bangga dan senang telah menyerahkan kepada tangan yang tepat.” Jelas Papa  Hanif.


“ini amanah yang besar untuk kami, terutama asma.”


“jangan dibebankan. Lakukan saja yang terbaik. Kami tau tidak semudah itu. Jadi jangan takut, ayah, papa dan juga farhan akan ada untuk kamu, asma.” Ucap Ustadz Hasan.


“kami pulang dulu ya. Kalian lanjut saja.” Ucap Papa Hanif sambil memanggutkan kepala menyauti ucapan Ustadz Hasan.


Tatapan Ihsan mengarah kepada Farhan dan Asma saat mereka kembali memasuki ruangan. Semua telah kembali kepada posisi semula, berkumpul di meja. Asma dan Farhan ikut bergabung bersama.


“ada yang mau dibahas lagi bang ihsan ?” Tanya Asma.


“banyak. Sangat banyak. Sistem mengajar kita ditempat ini, target, peresmian. Kita akan bahas satu per satu dirapat nanti.” Jelas Ihsan.


“baik. Nanti asma juga akan fikirkan lagi.” Ucap Asma.


“hari ini kita ngobrol santai saja ya, nanti sore juga kita masih harus mengajar. Lagi pula makanan juga masih banyak. Dinikmati lagi ya.” Ucap Asma.


Asma mengobrol berdua dengan Farhan diluar sambil melihat-lihat kembali ruangan yang ada.


“boleh saya cerita ?” Tanya Farhan.


Asma menganggukan kepalanya sambil melihat ruangan dari jendela.


“tadi ada yang mengirimi saya makanan.” Ucap Farhan yang membuat Asma menghentikan langkahnya.


“makanan ? siapa ?” Tanya Asma.


“xena.” Jawabnya.


“kamu ketemu dia ?” Tanya Asma.


“kamu cemburu kalau saya ketemu dia ?” Farhan balik bertanya.


Asma melanjutkan langkahnya dan meninggalkan Farhan. Farhan hanya tersenyum dan menyusulnya.


.


.


.

__ADS_1


.


-Bersambung-


__ADS_2