
Matahari menampakkan sinar redup yang indah, menandakan hari akan segera berganti. Dipenangkaran rusa, para santri asik berkenalan dengan hewan yang dibiarkan bebas bertemu dengan para pengunjung. Keceriaan dan kesenangan para santri dalam berfoto bersama, memberanikan diri memberi makan, berfoto bersama rusa dan tenang menikmati jalan-jalan sore. Ditempat yang berbeda, dibawah langit yang sama. Dengan kesejukan udara yang menyegarkan segala fikiran.
Namun tidak dengan Asma, matanya selalu tertuju kepada Ihsan yang sedang asik bermain dengan santri ikhwan. Farhan yang sejak tadi berdiri bersama dipinggir pagar, memperhatikan kemana arah pandangan istrinya tertuju.
"kenapa kamu memperhatikannya ?" Tanya Farhan sambil memberi makan rusa yang mendekat ke pagar.
Asma langsung tersadar dan menatap kearah Farhan.
"kamu masih memikirkannya ?" Tanya Farhan.
"atau kamu masih manaruh rasa kepadanya ?" Tanyanya lagi.
"mas.."
"aku ngga tau apa yang ada dihatimu, Asma. Tapi tolong hargai aku sebagai suamimu. Terlebih saat aku sedang bersama denganmu." Jelas Farhan.
"mas.. aku tidak menyimpan perasaan apapun terhadap laki-laki lain." Tegasnya.
Asma memegang lengan Farhan dan menarik nafas dalam-dalam.
"beberapa hari lalu, raina meminta bantuanku untuk mencari seseorang. Seseorang itu adalah temanku dan bang ihsan dimasa lalu. Sebelum abi melamarku untuk bang ihsan, bang ihsan telah memiliki pilihannya sendiri dan itu adalah teman bermain kita dimasalalu." Jelas Asma.
"kamu masih ingat, saat aku pingsan saat menerima surat ?" Tanya Asma.
"dia perempuan yang sedang dicarinya. Perempuan itu pindah ke jepang dan takdir Allah mempertemukan aku dengan dia tadi. Kartu nama yang aku pegang, itu adalah kartu namanya." Jelas Asma.
"aku bingung, mas. Apa aku harus kasih tau ke bang ihsan atau aku selesaikan dulu dengan kirei. Aku sampaikan, baru aku bicarakan dengan bang ihsan." Ucapnya.
"beri tahu aku kalau kamu butuh bantuanku untuk bertemu dengan ihsan. Aku akan slalu siap menemanimu." Ucap Farhan sambil merangkul Asma.
"aku berharap semoga usahaku kepada kirei berjalan dengan mudah. Dan semoga dia adalah jodoh terbaik untuk bang ihsan." Ucap Asma.
"yang terpenting adalah bagaimana usaha kita untuk mencapai kepada apa yang kita tuju. Hasilnya, kita serahkan kepada Allah. Allah sebaik-baik perencana." Balas Farhan.
"makasih ya, mas." Ucap Asma.
Semua asik menikmati alam. Keindahannya, kesejukannya, damai dan tenang. Rasa yang pernah mengganggu didalam hati, terasa hilang sekejap, hanyut dalam keindahan Sang Pencipta. Tak ada gelisah, tak lagi resah. Hanya ada bahagia dan ceria yang terlukis diwajah. Menikmati kebersamaan, bermain bersama, bercanda dan tertawa.
__ADS_1
Menikmati kehidupan tak hanya lurus mengikuti jalan. Saat berada dalam kesedihan, tak salah jika mengubah jalan untuk menemukan kebahagiaan agar tak berlama hanyut dalam kesedihan. Berbuat salah pun, pasti ada penyesalan. Namun bukan berarti harus terpuruk pada ketakutan, mencari cahaya untuk melanjutkan kehidupan masih diberikan.
Asyam menghampiri Salwa yang sedang memberi makan rusa sambil merunduk. Sambil berlutut dengan satu kaki, Asyam ikut memberi makan pada rusa yang sama. Salwa menolehkan wajahnya hingga bertatapan dengan Asyam yang juga menatapnya. Tanpa berfikir panjang dan hanyut dalam tatapannya, Salwa berdiri tegak dan melangkah mundur.
"kaya ngeliat hantu ajah." Ucap Asyam.
"abang sepertinya lebih dari itu." Sahutnya ketus.
"kalau lebih dari itu, berarti apa dong ?" Tanya Asyam yang juga ikut berdiri.
"terserah abang mau mengartikannya apa." Jawabnya Salwa yang langsung melangkah untuk meninggalkan.
Tiba-tiba Asyam muncul dihadapannya, menghalangi langkahnya.
"ada yang ingin saya bicarakan." Ucap Asyam.
"apa ?"
"apa.. boleh.. saya lebih mengenal kamu lebih dari sekedar rekan kerja ?" Tanya Asyam.
"abang ngga ingat, abang telah menolak saya dengan sikap abang ?" Tanya Salwa.
"silahkan saja abang coba meluluhkan hati saya." Tegas Salwa, berbisik saat berdiri sejajar di samping Asyam, lalu pergi meninggalkan.
"itu.. itu artinya dia mengizinkan kan ? artinya saya boleh berusaha mendekatinya bukan?" Bisik Asyam dengan bahagia.
Salwa menemui Asma ditenda Akhwat. Duduk dan langang memeluk lengan Asma sambil bersandar dibahunya.
"ada apa ?" Tanya Asma.
"mba asma." Sapa Liya yang baru datang.
"eh, iya. Ada apa liya ?"
"eh.. ada mba salwa juga." Sapa Liya.
"ngga apa-apa, mba. Liya cuma lagi nyari temen ngobrol ajah, pengen ditemenin sama mba asma." Ucap Liya.
__ADS_1
"yasudah, sini kita ngobrol sama-sama saja." Ucap Asma.
Keinginan Salwa berkeluh kesah dengan sahabatnya, gagal. Kehadiran Liya membuatnya enggan mengungkap isi hatinya yang berkaitan dengan sang kaka. Perasaan yang berusaha ia tahan, kini berdebar lagi. Rasa hati ingin tenang, namun tetap terganggu lagi. Masa dimana Salwa ingin mengobati hatinya dengan kembali mengingat Allah, mengutamakan rasa cintanya kepada Allah, sedang diuji dengan lelaki yang pernah mencuri perhatiannya.
Seperti yang pernah Asma katakan, tentang kisah Nabi yusuf. Ketika mengejar cinta makhluk, maka Allah semakin jauhkan ia darinya. Namun saat dia kembali kepada Allah, maka Allah datangnya dia untuknya.
Saat Salwa tersadar, ia takkan goyah hanya dengan rayuan Asyam yang meminta izin untuk mengenalnya lebih. Semakin ingin Salwa menguatkan hatinya dan memohon lindungan dan petunjuk dari Allah untuk perjalanan cintanya.
"jadi, apa liya sedang menyukai seseorang ?" Tanya Asma.
"bukan suka sih, liya hanya kagum saja. Tidak sampai kearah sana untuk perasaan liya." Jelas Liya.
"saran mba, alangkah baiknya kamu tidak selalu memperhatikan dia karena perasaan kagummu itu. Karena dari situlah awal mula cinta bersemi dihatimu." Ucap Asma.
"kamu ngga akan bisa membedakan perasaan kagummu itu nanti dengan perasaan suka yang lebih dari itu. Karena pasti rasanya hampir sama dan akan sulit membedakannya." Jelasnya lagi.
"iya, mba asma. Liya akan berusaha fokus seperti biasanya."
"memangnya siapa sih ? aku jadi penasaran." Tanya Salwa.
"rahasia toh, mba. Nanti kalau banyak yang tau, semakin liya diledekin dan dijodoh-jodohkan. Malah liya semakin berharap." Jawab Liya.
"biar liya saja yang tau siapa orangnya."Lanjutnya, malu.
" betul itu." Balas Asma.
"mba, boleh liya bertanya ?"
"apa tuh ?"
"kenapa mba asma bisa menerima dokter farhan ? padahal mba asma sama sekali belum mengenalnya. Apa mudah menjalani pernikahan tanpa perasaan cinta ?" Tanya Liya.
Asma tersenyum mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Liya. Memang jika mata orang melihat, rasanya akan sangat sulit menjalani pernikahan yang tanpa didasari dengan cinta. Tanpa keinginan dari masing-masing pasangan. Jangankan menjalankannya, membayangkannya saja rasanya sulit. Apalagi pernikahan bukan hanya sekedar saya terima nikahnya. Namun ada hak dan kewajiban didalamnya.
.
.
__ADS_1
.
...~Bersambung~...