
Keesokan harinya , Asyam menemui Ihsan diwaktu dhuha dimasjid Ar Rahman. Selepas dhuha, Asyam dan Ihsan melangkah menuju teras masjid untuk duduk sambil menikmati udara pagi. Sekaligus ada yang ingin ditanyakan Asyam kepada Ihsan, selaku orang yang diketahuinya adalah seseorang yang dekat dengan gadis pujaan hatinya.
“kamu tidak kerja , syam ?” Tanya Ihsan.
“meliburkan diri. Aku ingin ikut aktif dalam persiapan kita untuk buka puasa bersama nanti sore.” Jelas Asyam.
“subhanallah.. semangatmu itu bikin aku iri.” Ucap Ihsan sambil menepuk-nepuk bahu Asyam.
“justru aku yang iri padamu, san yang punya banyak waktu untuk beribadah di masjid, aktif dalam banyak kegiatan.”
“ah kamu ini, seperti kamu tidak banyak kegiatan saja. Dan untuk ibadah kan bisa dimana saja, syam. Tidak harus selalu dimasjid. Yang terpenting kamu masih bisa melaksanakan sholat berjama’ah dimasjid.” Jelas Ihsan.
“insya Allah. Oh iya, boleh aku sedikit bertanya ?” Ucapnya.
“silahkan. Perihal apa ?” Tanya Ihsan yang melihat keseriusan pada wajah Asyam.
“seorang gadis.” Jawabnya.
“aku lihat , kamu adalah salah satu ikhwan yang paling dekat dengannya. Meskipun aku tidak tau ada ikatan apa antara kalian.“ lanjut Asyam.
“gadis ? dekat ? apa mungkin , asma gadis yang kamu maksud ?” Tanya Ihsan yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Asyam.
“astaghfirullah.. sama sekali tidak ada ikatan apapun antara aku dengan dia. Hanya saja dia telah aku anggap seperti adikku. Orang tua kami bersahabat, adikku juga bersahabat dengannya. Sejak kecil kami selalu main bersama. Aku selalu bermain bersama dengan adikku dan dia ikut bermain bersama juga karna ada adikku.” Jelas Ihsan.
“tidak ada yang lebih dari pada itu ?” Tanya Asyam.
“wallahi , tidak ada sama sekali. “ Jawabnya menyakinkan.
“apa yang kamu tau tentang dia , baik dan buruknya ?” Tanya Asyam.
“untuk apa kamu menanyakan itu ?” Ihsan balik bertanya.
“aku ingin mengenalnya lebih dari seorang teman.” Jawab Asyam.
“apa kamu berniat menjadikan dia sebagai istrimu ?’ Tanya Ihsan.
“jika Allah mengizinkan. Maka dari itu aku ingin tau lebih dari apa yang aku tau dari penglihatanku.” Jelas Asyam.
“berjanjilah setelah kamu mengetahui, apapun keputusanmu , kamu tidak akan menceritakan hal ini kepada siapapun. Bagaimanapun ini adalah aib saudaramu sendiri yang harus kamu jaga.” Jelas Ihsan.
“aku berjanji akan merahasiakannya , apapun keputusanku nanti.” Ucap Asyam dengan lantang.
Belum saja Ihsan menjelaskan, seorang gadis melangkahkan kakinya melewati gerbang masjid yang terbuka dan masuk kehalamannya. Dengan senyuman , awal sebuah sapaan. Asma menghampiri Ihsan dan Asyam.
“assalamu’alaikum ..” ucap Asma.
“wa’alaikumussalam ..” jawab Ihsan dan Asyam.
“ada apa , asma pagi-pagi sudah kemasjid ?” Tanya Ihsan.
“catatan asma tertinggal di ruang sekretariat. Semua keperluan dan susunan acara buka puasa nanti ada dibuku itu. Kebetulan ketemu sama bang ihsan dan bang asyam. Asma mau minta tolong untuk bantu membeli gelas plastik dan buah-buahan untuk membuat es nanti sore.” Jelas Asma.
“apa kita harus kepasar ?” Tanya Ihsan.
“ya .. Biar asma yang belanja tapi kalian tetap ikut untuk membawa buahannya. Asma ngga bisa kalau harus
mengerjakan sendiri.” Ucap Asma.
__ADS_1
“kapan kita bisa beli buahannya ?” Tanya Asyam.
“setelah asma mengambil catatan.” Jawabnya sambil tersenyum.
“asma permisi dulu mau naik keatas.” Ucapnya dan langsung menaiki tangga disebelah masjid.
“nanti kita bahas lagi di waktu luang.” Bisik Ihsan kepada Asyam selepas Asma pergi.
Asyam, Ihsan dan Asma pun berjalan kaki menuju pasar yang sekiranya hanya 5-10 menit waktu yang dibutuhkan untuk sampai kepasar. Sesampainya dipasar, Asma dengan cerdas membelanja -kan keperluan untuk berbuka puasa nanti. Mulai dari yang kecil -kecil Asma kumpulkan, 3 pack gelas plastik berukuran sedang, 3 pack tissue , 5 kaleng susu putih, gula pasir ½ kg. Dan kembali mengitari pasar untuk mencari buah-buahan untuk membuat es buah. Ihsan dan Asyam yang membawa buah-buahan besar. 3 buah labu , 5 buah melon.
“bang asyam dan bang ihsan ke masjid duluan saja. Nanti buahannya taruh di dapur masjid. Sekalian bawa belanjaan ini juga ya. asma mau beli kurma sama agar jelly dulu. Asma lupa.” Jelas Asma.
“sini biar saya yang bawa.” Ucap Asyam.
“terimakasi bang asyam.” Ucap Asma.
“kalau gitu asma lanjut belanja ya , kalian hati-hati. Assalamu’alaikum.” Pamit Asma.
“wa’alaikumussalam.”
“kenapa jadi kita yang dihati-hatikan, san. Kita berdua sedangkan dia berjalan sendiri.” Ucap Asyam.
“mungkin dia mengkhawatirkan buahannya.” Sahut Ihsan yang langsung berjalan dan disusul oleh Asyam.
Menjelang Adzan Ashar, para Remaja Masjid berkumpul untuk sholat berjama’ah dimasjid. Sekaligus untuk mempersiapkan acara yang akan dimulai pukul 16.00 nanti. Asyam dan Zidan mengekeruk melon dan labu yang dikumpul didalam baskom. Silvi dan Salwa membuah kuah untuk es buah. Sedangkan Syahrul dan Ihsan sedang mengambil pesanan nasi box di gang seberang.
“sirupnya mana ?” Tanya Salwa.
“coba tanya sama asma, tadi dia yang belanja.” Sahut Asyam.
“tadi asma beli sirup ndak ?” Tanya Asyam.
“astaghfirullah .. lupa. Yasudah biar asma beli. Tolong pegang, bang asyam.” Ucap Asma sambil memberikan tempat berukuran sedang berisikan agar.
“nadia , tolong tata kurmanya di piring plastik. Ini semuanya ada di kantong plastik ya .” Jelas Asma sambil memberikan plastik hitam pada Nadia.
“hati-hati yaa, asma. Cepat balik kamu juga harus siap-siap untuk pembukaan bersama bang asyam kan.” Ucap Nadia.
“iyah , nad. Terimakasih diingatkan.” Balas Asma dengan senyuman dan langsung keluar dapur untuk membeli sirup.
Satu jam setelah ikut membantu mempersiapkan makanan, Asma dan Asyam mempersiapkan diri di ruang sekretariat.
“kamu sudah siap untuk bercerita nanti ?” tanya Asyam sambil memakai peci didepan cermin.
“insya allah siap.” Jawabnya.
“ini kertas susunan acara abang.” Ucap nya sambil memberikan selembar kertas
“iya , taruh saja dimeja.” Ucap Asyam.
“kalau gitu asma turun ya , bang. Masih ada waktu untuk bantu-bantu dibawah.” Ucap Asma.
“iyaa ..” sahutnya.
Asma pun menuruni tangga. Dilihatnya Ihsan dan Syahrul yang baru saja sampai dengan box-box nasi yang mereka pesan. Terlihat Arul yang kesulitan untuk turun dari motor yang dikendarai oleh Ihsan.
“gimana turunnya nih bang.” Ucap Syahrul.
__ADS_1
“tunggu .. biar asma bantu.” Teriak Asma dari tangga.
“tolong dibawa ke dapur, asma. Abang sama syahrul harus balik lagi ambil nasi boxnya, masih banyak.” Jelas Ihsan.
“iya , bang. Taruh disini dulu nanti asma bawa masuk. Abang dan syahrul hati-hati.” Ucap Asma.
Ihsan dan Syahrul meninggalkan halaman masjid dan kembali mengendarai sepeda motornya menuju rumah makan tempat mereka memesan makanan untuk berbuka.
Jarum jam menunjukkan pukul 16.00 Asyam dan Asma telah siap menemani adik-adik utuk buka puasa bersama. Sesuai dengan susunan acara, Asma akan bercerita untuk memotivasi adik-adik dan para remaja dan membuat kesenangan sambil menanti berbuka.
“asslamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh ..” ucap Asyam dan Asma bersamaan.
“marilah sama-sama kita buka acara kita pada sore hari ini dengan lafadz basmalah.” Ucap Asyam.
“bismillahirrahmanirrohim.” Ucap bersama-sama.
“segala puji bagi Allah yang dengan nikmatnya kita dapat berkumpul sore ini di tempat yang mulia ini, insya allah. Dalam rangka buka puasa bersama yang diadakan oleh kaka-kaka remaja, semoga memberikan suatu hal yang berkesan dan semakin mempererat tali persaudaraan untuk adik-adik, para remaja juga masyarakat sekitar. Yang insya allah akan semakin mengenal kegiatan-kegiatan bermanfaat yang dilakukan oleh kaka-kaka remaja disini untuk pemuda yang akan melanjutkan perjuangan dakwah kami.” Ungkap Asyam.
“sebelum kita lanjutkan keacara berikutnya. Alangkah baiknya kita mendengarkan lantunan ayat suci al-qur’an yang akan dibacakan oleh saudari kita, Rainan habibah safaraz. Selaku adik dari ketua remaja kita, Muhammad ihsan safaraz. Kepadanya kami persilahkan.” Ucap Asma , mempersilahkan.
Raina Habibah Safaraz , anak kedua dari Bp. Abdullah Rehan Safaraz dan Ibu Asyha Hariza. Raina adalah seorang hafidzah yang kini berusia 22th. Gadis lembut dan pemalu. Semasa sekolah, kedua orang tuanya selalu mendaftarkan dirinya di pondok pesantren, sama seperti kakaknya dulu.
Kini Raina membacakan surat Al Baqarah ayat 183 – 185 yang berkaitan dengan puasa dibulan ramadhan.
Sampailah pada waktu dimana Asma akan bercerita. Sore ini Asma akan berbagi cerita kepada adik-adik , para remaja juga teman -teman sebayanya yang mendengarkan. Ihsan, Asyam dan teman yang lainnya memperhatikan. Dengan semangat dan keceriaan menyapa adik-adik yang ada didepannya, Asma pun mulai bercerita.
*************************************************************************
...KALIMAT PENGUSIR MAKSIAT...
...Seorang Ulama terkemuka, Imam Sahl bin Abdullah Al-Tastari mengisahkan tentang dirinya : “ketika aku berumur tiga tahun , aku ikut bersama dengan paman ku untuk melakukan sholat qiyamullail. Aku melihat cara sholat pamanku dan aku menirukan gerakannya. Suatu hari paman berkata kepadaku : “apakah kau mengingat Allah yang menciptakanmu ?”...
...Imam Sahl bin Abdullah Al-Tastari pun bertanya : “bagaimana cara ku mengingatNya ?”...
...Paman pun menjawab : “anakku , jika kau berganti pakaian dan ketika hendak tidur, katakanlah tiga kali dalam hatimu, tanpa menggerakkan lisanmu (lidahmu), ‘Allahu ma’I .. Allahu naadhiri .. Allahu syahidi’ (artinya, Allah bersamaku ,Allah melihatku, Allah menyaksikan aku.)...
...Imam Sahl bin Abdullah Al-Tastari pun menghafal kalimat itu, lalu mengucapnya bermalam-malam. Kemudian Ia menceritakan kepada pamannya. Lalu pamannya pun berkata : “mulai sekarang ucapkanlah zikir itu sepuluh kali setiap malam.” Imam Sahl bin Abdullah Al-Tastari pun melakukannya, Ia resapi maknanya dan Ia merasakan ada kenikmatan dalam hatinya, pikirannya terasa tenang dan Ia merasa senantiasa bersama Allah SWT. Satu tahun...
...setelah itu pamannya berkata : “jagalah apa yang aku ajarkan kepadamu dan langgengkanlah sampai kau masuk kubur. Zikir itu akan bermanfaat bagimu didunia dan diakhirat.”...
...Lalu pamanku berkata : “hai Sahl, orang yang merasa selalu disertai Allah, dilihat Allah dan disaksikan Allah akankah dia melakukan maksiat ?”...
...Pada akhirnya, rasa ini akan menimbulkan takwa yang tinggi kepada Allah. Kalau sudah begitu, apakah orang yang merasa selalu disertai , dilihat dan disaksikan Allah akan melakukan maksiat ???...
*************************************************************************
“subhanallah ..” ucap para sahabatnya.
“semoga apa yang ka asma sampaikan dalam cerita ini, bermanfaat untuk semua dan bisa semakin menguatkan keimanan kita. Sekian dari kaka, wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.”
“wa’alaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh.”
Asma pun menghilang dari hadapan adik-adik dan para remaja. Dan Asyam kembali untuk memberitahukan bahwa 10 menit lagi adzan akan berkumandang. Para jama’ah pun diminta untuk menempati barisan box yang telah tertata rapih. “Alhamdulillah” adzan telah berkumandang. Semuapun berbuka puasa dan setelahnya melangsungkan sholat maghrib berjama’ah yang di imami oleh Muhammad Ihsan Safaraz.
Waktu penutupan tiba, setelah adzan isya berkumandang. Dengan beberapa kata yang disampaikan dan pembagian santunan kepada beberapa anak yatim di sekitar masjid. Asyam dan Asma selaku penanggung jawab kegiatan buka puasa bersama pun mengakhiri acara dengan ucapan terima kasih dan salam.
Bersambung .....
__ADS_1