
“hai..” Sapa Asyam kepada gadis yang sedang duduk disalah satu cafe.
“maaf menunggu lama.” Ucap Asyam.
“boleh saya duduk ?” Tanyanya dengan senyuman yang ramah.
“ya silahkan.” Ucap Gadis itu bingung.
“jadi kamu yang namanya ainun anaknya pak renda ?” Tanya Asyam.
“iya. “ Jawabnya singkat.
“kalau tidak salah, abang … yang … pernah bertemu dimasjid ya ?” Tanya Ainun canggung.
“ya, tidak salah. Saya Asyam, partner kerja papa mu, sekaligus temannya asma. Yaa, tidak disangka ya kita sama-sama berteman dengan asma.” Jelas Asyam dengan senyuman.
“ya.” Balas Ainun, tersenyum.
“apa yang papa bilang ke abang tentang saya ?” Tanya Ainun.
“mmh.. beliau hanya bilang, beliau punya anak gadis yang sudah cukup umur untuk menikah dan beliau menawarkan saya untuk mengenal putrinya jika bersedia.” Jelas Asyam.
“lalu, abang bersedia mengenal saya ?” Tanya Ainun.
“kenapa tidak, kita hanya berkenalan, menambah pertemanan, menyambung tali silaturrahmi. Untuk kedepannya kita serahkan semua pada Allah.” Jawabnya.
“abang tidak memaksa saya untuk menikah dengan abang kan ?” Tanya Ainun.
“tentu tidak, ainun.” Jawabnya dengan senyuman.
“ternyata kamu aktif juga ya, saya merasa diintrogasi dari tadi ditanya-tanya terus.” Candanya.
“maaf.” Balas Ainun sambil tertawa kecil.
“yasudah, kita ngobrol yang ringan-ringan saja diawal perkenalan kita.” Ucap Asyam.
Ainun dan Asyam larut dalam perbincangannya. Tawa juga mulai terselip ditengah-tengah obrolannya, bahkan malah semakin asik mengenal satu sama lain. Bertukar cerita dan hal-hal menarik lainnya.
Satu minggu sudah Ihsan berbaring di ranjang rumah sakit, hanya menatap atap yang berhiaskan lampu. Berbicarapun masih jarang. Hanya fikiran yang terus terbang melayang, hinggap dari fikiran satu ke fikiran yang lainnya. Tentang kerjanya, tentang pernikahannya, tentang organisasi masyarakat, dan lain-lain. Hanya baru bisa menyapa dalam fikirannya, belum dapat langsung terjun menyapa secara nyata. Hanya harapan dalam doa yang terus menjulang menuju langit Sang Kuasa.
“assalamuálaikum..” ucap seorang gadis membuka pintu ruang rawat Ihsan.
“wa’alaikumussalam.” Jawab Ihsan.
“Ummi..”
Ummi Asyha menaruh tas diatas kasur Ihsan.
“gimana keadaanmu, nak ?” Tanya Ummi Asyha.
“Alhamdulillah, insya allah semakin membaik.” Jawab Ihsan.
__ADS_1
“raina tidak ikut ummi ?” Tanyanya.
“raina ada didepan bersama sahabatnya.” Jawab Ummi Asyha.
“siapa ummi ?” Tanyanya lagi.
“ummi panggilkan raina ya.” Ucap Ummi Asyha.
Ummi Asyha memainkan handphone-nya, memberikan panggilan untuk Raina sebagai tanda untuk dirinya masuk.
“asslamuálaikum..” Ucap Raina.
“wa’alaikumussalam.”
Ihsan terkejut melihat gadis selanjutnya yang masuk membuntuti sang adik. Wajahnya yang tertunduk mulai terangkat. Tatapan saling bertemu antara Ihsan dan Asma.
“ihsan, ummi sama raina tunggu disofa ya. Kalian bicaralah.” Ucap Ummi Asyha yang kemudian merangkul Raina menuju sofa yang ada diruangan tersebut.
Asma menaruh keranjang buah diatas meja. Buah tangan yang disiapkannya untuk Ihsan. Asma pun duduk dikursi yang tersedia disamping kasur.
“maaf, asma baru berkunjung. Asma baru tahu kemarin kabar tentang abang dari ummi.” Jelas Asma.
“tidak apa, maaf merepotkan.” Balas Ihsan.
“kenapa bisa, abang sampai kecelakaan seperti ini ?” Tanya Asma.
“takdir.” Jawabnya singkat dan masih enggan menatap Asma.
“abang masih ingat permintaan abang pada asma hari itu ?” Tanya Asma.
Ihsan tak membalas sepatah katapun.
“sebelum asma menjawabnya. Boleh asma tahu, apa yang sebenarnya terjadi ? dari mana cerita itu abang dapat ? dan siapa orang yang menceritakan itu ?” Tanya Asma.
“kamu tidak perlu tahu.” Ucap Ihsan.
“kalau begitu, abang juga tidak perlu tahu jawabannya. Jalankanlah seperti tidak terjadi apapun.” Tegas Asma yang masih terdengar lembut.
“kamu tidak perlu memaksakan hatimu, asma.” Ucap Ihsan.
“baru pertama ini asma lihat … ketidakdewasaan abang.” Tegas Asma yang mendapat tatapan tajam dari mata Ihsan.
“beritahu asma dari mana abang tahu tentang surat itu ? asma akan buktikan surat itu bukan milik asma.” Tegasnya.
Ihsan terdiam seakan apa yang Asma ucapkan adalah kebenarannya, bahwa surat itu memang bukan miliknya.
“lupakan.” Ucap Ihsan mengalihkan pandangan dari Asma.
“maaf, bang. Asma tidak bisa, sesuatu yang telah dimulai harus segera diselesaikan. Abang beritahu atau tidak, asma akan tetap menyelidikinya, asma akan buktikan asma tidak bersalah.” Tegasnya dan langsung meninggalkan Ihsan.
“asma..” panggil Raina, yang tak dapat balasan dari Asma.
__ADS_1
“abang, gimana sih…” Bentak Raina yang ikut meninggalkan ruangan dan mengejar Asma.
Kirei dan Salwa sedang berada di rumah Liya, sekedar berkunjung untuk bersilaturahmi. Namun tujuan kedua gadis ini untuk dapat bertemu dengan Asyam, tak terpenuhi. Salwa mulai menyadari kehadiran Kirei menjadi penghalang baginya untuk bisa dekat dengan Asyam. Begitupun dengan Kirei yang menyadari tak hanya dirinya yang tertarik dengan sosok Asyam dimasa itu. Asyam masih memiliki daya tarik dimata para gadis. Ketampanannya, sikap lembut dan bersahabat, hati siapa yang tak luluh berhadapan dengannya. Salwa merasa telah menang beberapa langkah dari Kirei. Rumah yang berdekatan dengan Asyam, Liya dan Bu’e yang juga bersikap ramah terhadapnya. Dan juga Nuha yang menyukainya, yang kini duduk dipangkuannya.
“hey, nuha ko duduk dipangkuan mba salwa, berat nak.” Ucap Bu Nurlela sambil membawa setoples makanan.
“ngga apa-apa, bu.” Jawab Salwa.
“kamu ku kemana saja, baru berkunjung lagi ?” Tanya Bu Nurlela.
“saya belum lama ini singgah di Jakarta, bu. Mudah-mudahan si menetap. Waktu itu saya ke masjid untuk bertemu dengan teman, eh ngga tahunya ka asyam juga ada disana. Terus juga ketemu sama liya pas lagi kumpul sama temen. Saya juga baru tau saat itu kalau ka asyam dan keluarga tinggal di Jakarta.” Jelas Kirei.
“iya, asyam ndak mau kalau bu’e tidak ada yang jaga di kampung jadi dia minta untuk tinggal dijakarta saja sama-sama.” Lanjut Bu Nurlela.
“bu’e senang tingga dijakarta ?” Tanya Kirei.
“yah senang ndak senang tetap harus di jalani. Bu’e senang karena bisa tinggal bersama anak-anak bu’e.” Jelas Bu Nurlela.
Kirei meminum secangkir teh yang disediakan. Mereka larut dalam perbincangan, mengenal satu sama lain dan berbagi cerita dimasa lalu. Hingga tiba waktu sore yang mempertemukan Asyam dengan kedua gadis yang sedari tadi menantikannya.
Orang yang pertama kali ingin ditemui Asma saat tiba di Jakarta adalah Asyam. Laki-laki yang dimaksud Ihsan yang ada didalam hati Asma. Tampa kembali kerumah, Asma langsung melangkahkan kakinya menuju rumah Asyam. Berharap dapat langsung ditemuinya untuk mempercepat kejelasan masalahnya dengan Ihsan.
“assalamuálaikum.” Ucap Asma yang mengalihkan semua pandangan kepadanya.
Asyam yang melihatnya langsung berdiri dan menjawab salam darinya.
“wah hari ini banyak yang nyariin anak bu’e ya ternyata.” Ucap Bu Nurlela.
“maaf bu saya mengganggu.” Ucap Asma dengan senyuman.
“masuk mba asma.” Ucap Liya mempersilahkan.
“boleh saya ngobrol dengan bang asyam diluar ?” Tanya Asma.
“oh, ya. Silahkan.” Asyam langsung menanggapi dan menghampiri Asma.
Asma dan Asyam berdiri diteras rumah Asyam.
“ada perlu apa asma ?” Tanya Asyam.
“saya mau buat janji temu dengan bang asyam. Tempat dan waktu boleh abang yang menentukan. Saya butuh secepatnya. Tolong beritahu tahu saya melalu pesan.” Ucap Asma.
“baiklah.” Asyam menyetujui dengan hati yang senang.
“kalau begitu, saya pamit. Assalamu’alaikum.” Ucapnya.
“wa’alaikumussalam.” Jawab Asyam.
Sesampainya dirumah, asma langsung masuk kedalam kamar dan membaringkan tubuhnya diatas kasur. Bunda dan Ayah sepertinya sedang ada urusan diluar rumah, hanya ada dirinya sendiri dirumah. Setidaknya Asma
bisa lebih tenang sebentar tanpa harus menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Ayah dan Bunda.
__ADS_1
“abang, semoga tidak kurang sedikitpun rasa percaya abang kepada asma. Asma akan buktikan kebenaran cerita yang abang dapatkan. Asma berharap semua proses dan persiapan akan berjalab lancar hingga hari pernikahan nanti.” Ucap Asma dalam hatinya.
Bersambung.....