KETIKA RINDU BERBALUT DOA

KETIKA RINDU BERBALUT DOA
Episode 18 - Jawaban


__ADS_3

Sebab, cinta adalah tindakan. Bukan hanya sekedar kata ataupun janji. Bahkan mengatakan “aku mencintaimu..” itu adalah keputusan besar yang harus disertai dengan pembuktian. Dan bagi perempuan cantik ini, hatinya semakin yakin untuk mencintai lelaki yang telah mencuri hati dan perhatiannya.


Asma dan Salwa, telah menentukan dan memutuskan untuk mencintai lelaki dalam hatinya. Saat waktu mempertemukannya dengan keluarga seseorang yang dicintainya. “aku semakin yakin untuk mencintaimu.” Bisiknya dalam hati.


Salwa Kanisa Ajiba yang kini tengah asik mengenakan hijab dihadapan cermin, sambil membayangkan kejadian semalam. Jadwal hari ini adalah menikmati kota Jogyakarta. Tujuan pertama adalah menjelajahi The World Landmark - Merapi Park Jogja sebelum berakhir di Jogja Airport Resto, Tempat dimana Asma akan memberikan jawaban kepada Ihsan atas lamarannya.


Menikmati keindahan dunia dalam sekejap, itulah yang dirasakan saat berkunjung ke The World Landmark. Brandenburg Gate Berlin menjadi miniatur pertama yang menjadi penyambut kedatangan mereka. Mereka memesan tiket dan menikmati keindahan didalamnya. Berbincang, Berfoto-foto, semua dinikmati dengan bahagia. Menjelang zuhur, Ihsan dan Asyam mencari Masjid bersama.


"jadi siapa lelaki itu ?" Tanyanya lagi.


Rasa penasaran masih menghantui hatinya, ingin tahu seperti apa lelaki yang melamarnya. Jika lelaki itu lebih baik darinya, Asyam dengan ikhlas melepas rasa sukanya terhadap Asma. Karna baginya, memang Asma layak untuk mendapat laki-laki yang lebih baik dari dirinya.


"berjanjilah, untuk tetap berhubungan baik dengan lelaki itu." Ucap Ihsan.


"aku berjanji. Jika lelaki itu memang lelaki yang layak dan terbaik untuk mendampingi Asma." Jelas Asyam.


"Orang tua yang dimaksud Asma adalah ustadz Rehan, ayahku." Jawab Ihsan.


Asyam langsung menoleh dan menatapnya tajam, tepat dihalam masjid yang telah mereka temui.


"san..."


"dengarkan penjelasanku.." Pinta Ihsan.


"Kau tau aku berniat meminangnya." Tegas Asyam.


"Tapi itu bukan kehendakku."


"kau seharusnya menolaknya, san." Tegas Asyam.


"Mereka tidak mengatakan apapun padaku. Aku dan asma sama-sama terkejut mendengarnya." Jelas Ihsan.


"syam, seharusnya kamu mengerti posisi ku dan asma. Asma juga belum memberi keputusan apapun." Lanjut Ihsan.


"bagaimana jika asma menerima lamaran orang tuamu ?" Tanya Asyam yang membuat Ihsan terdiam.


"aku sudah memutuskannya." Ucap seorang gadis yang hadir menghampiri Ihsan dan Asyam.


"asma..." ucap Ihsan.


"asma menerima lamaran ustadz rehan. tolong abang sampaikan itu kepada abi." Ucap asma sambil menatap Ihsan.


"bang asyam, bersikap dewasalah. Jangan memutus persahabatan kalian hanya karena seorang gadis." Tegas Asma.


"kau telah berjanji padaku, syam." Lanjut Ihsan.


Asyam yang sudah terbakar oleh amarahnya, lebih memilih untuk pergi menuju masjid yang ada dihadapannya.


"kita sholat dulu, bang. nanti kita lanjut saat makan siang." Ucap Asma dengan senyuman dan meninggalkan Ihsan.


Para remaja telah berkumpul membentuk shaf yang mengartikan kesiapan mereka untuk melaksanakan sholat. Bukan hanya sekedar berdiri mengikuti gerakan, tapi juga dengan hati yang ikut tunduk patuh menyembah Sang Pencipta. Bukan hanya tentang kewajiban yang harus dilaksanakan, namun juga dengan hati yang penuh dengan keikhlasan. Aku berserah pada-Mu. Semua khusus dalam pintanya masing-masing. Mengangkat dan menundukkan kepala, mengutarakan isi hati dengan pasrah.


Seusai shalat, mereka berkumpul di halaman masjid. Menunggu kesiapan semua untuk petualangan selanjutnya, Jogja Airport Resto. Mereka tidak menggunakan jasa pribadi untuk menghantar mereka pada wisata yang ingin dituju. Dengan berbekal kecangihan tekhnologi, mereka berpetualan ala back packer. Menggunakan angkutan umum kesana -kemari, sambil menikmati keindahan jogja hingga ke transportasinya.

__ADS_1


Sampai, kata yang ditunggu-tunggu. Melihat unik dan mewahnya resto yang kali ini dikunjungi, membuat tingkat kelaparan menjadi tinggi. Lambung terasa kosong tak berpenghuni. Ingin rasanya lansung menyantap makanan, tanpa harus menunggu.


Mereka sudah didalam kabin pesawat, setelah melewati beberapa proses ala penerbangan pada umumnya. Asma dan Ihsan duduk berhadapan, diseberang ada Nadia dan Salwa yang diminta untuk menemani tanpa harus menguping pembicaraan antara Asma dan Ihsan. Asyam, Syahrul, Zidan duduk bersama. Tentu remaja yang lain juga ada didalam lorong yang sama. Asyam masih menyimpan kesedihan dalam hatinya, begitu pula dengan Kirei yang lesuh muncuri-curi pandang kepada Asyam dan Liya yang menangkap kegundahan keduanya. Nuha bahagia menikmati makanan lezat dihadapannya sambil sesekali memberikan senyuman kepada Liya.


"asma..."


"hmm ..?" Sahut Asma yang sedikit terkejut saat menyuap makanan.


"tidakkah ada rasa canggung dalam dirimu setelah kejadian tadi ?" Tanya Ihsan.


"asma menikmati segala prosesnya." Jawabnya sambil menggelengkan kepala.


"asma sudah benar-benar yakin dalam memutuskan ini ? tidakkan terburu-buru karena suatu hal ?" Tanyanya lagi.


"apa abang meragukannya ? boleh jika asma telpon abi rehan dan mengatakan kalau abang menolaknya ?" Candanya sambil mengunyah makanan.


"bagaimana ada seorang lelaki yang menolak gadis sepertimu. Jika sudah didapat pasti takkan dilepasnya." Jelas Ihsan sambil tersenyum.


"habis ini, kita cari cincin yuk." Ajak Ihsan.


"boleh."


"boleh abang minta sesuatu ?" Tanya Ihsan.


"apa ?"


"maukah asma mengatakannya sekali lagi, bahwa asma menerima lamaran abi untukku." Pinta Ihsan.


Asma tersenyum.


"masya allah... asma , kamu seriusss ?" Ucap Salwa yang tiba-tiba terkejut.


Asma mengisyaratkan telunjuk di depan kedua bibirnya. Nadia menutup mulut Salwa dengan tanganya.


"maaf ya bang ihsan." Ucap Nadia yang langsung berdiri menarik Salwa untuk ikut dengannya.


Langkahnya menjauh hingga masuk kedalam toilet.


"kamu nih gimana sih, kita kan udah janji ngga nguping pembicaraan mereka dan ga ikut campur urusan mereka." Tegas Nadia.


"nad, aku shock ! qo bisa-bisanya asma ngga cerita sama aku." Ucap Salwa.


"sal, ngga semua urusannya harus diceritakan pada kamu." Balas Nadia.


"aku jadi malu nih, mau balik ke tempat makan. Mana masi banyak, enak, kan sayang-sayang." Ucap Nadia sambil merapihkan jilbab di cermin.


"yaudah kita pindah ajah." Ceplos Salwa.


"sal, kita diminta asma untuk nemenin dia ketemu bang ihsan. Jadi kita ngga boleh ninggalin mereka berduaan." Jelas Nadia.


"hmmm.." Gumam Salwa berfikir.


Nadia dan Salwa kembali sambil saling senggol-menyenggol bahu.

__ADS_1


"kalian kenapa ?" Tanya Asma.


"begini asma. Bang Ihsan, tanpa mengurangi rasa hormat.. mohon maaf bangeet, boleh ngga kita ajak asma pindah tempat sama kita." Ucap Nadia sambil mengernyitkan dahi dan menampilkan deretan gigi putihnya.


Asma tertawa sambil tertunduk.


"yasudah, kalau kalian ingin makan bersama, silahkan. biar saya yang pindah." Ucap Ihsan sambil tersenyum dan membawa makanannya menuju meja Asyam.


"aku benar-benar tidak tau harus bersikap bagaimana karna ulahnya. aku jadi tidak enak dengan bang ihsan." ucap Nadia.


"masih saja aku disalahkan." Sahut Salwa.


"sudah, sudah. tidak apa-apa, tapi aku minta tolong rahasiakan ini ya. jangan dijadikan perbincangan publik." Ucap Asma.


Hari semakin larut, tubuh tak kunjung lelah berada di kota orang. Menikmati hal-hal baru dan suasana yang tak ditemukan di malamnya kota jakarta. Asyam memilih untuk jalan-jalan di sekitar penginapan bersama  dengan kedua adiknya, sambil menikmati jajanan pinggir jalan.


Asma dan Kirei mencoba merajut kembali tali pertemanan mereka yang lama terpisah. Ihsan menikmati langit malam diatas balkon, dengan perasaan hati yang senang. mengulang-ngulang kembali ingatannya pada suara Asma yang menerima lamarannya. Senyum yang tak dapat disimpannya sendiri, dibagikannya pada langit. Sambil mengucap syukur yang tak terbatas, atas segala nikmat dan bahagia yang dirasa.


"Asma.." Ucap Kirei sambil memegangi gelas kopi yang dingin.


"aku.. minta maaf atas kejadian ditaman pagi itu." Jelas Kirei.


"(tersenyum) tak apa, kirei. Sudah menjadi jalan-Nya kita bertemu pagi itu untuk memperjelas semua." Balas Asma.


"Asma, bagaimana agar ka asyam bisa menerima ku ?" Tanya Kirei.


"aku baru mengenalnya kirei. tentu kamu lebih tau tentang dia." Jawab Asma.


"sebenarnya apa yang dia suka darimu ? aku ingin menjadi sepertimu agar dia bisa menerimaku." Tegas Kirei.


"kirei, sudah aku katakan jangan pernah kamu niatkan berubahmu untuk orang lain, kamu akan mendapatkan sesuai dengan apa yang kamu niatkan. Itu sia-sia kirei. Carilah keridhoan Allah, jika bukan dia, Allah pasti gantikan yang lebih baik untukmu." Jelas Asma.


"aku tidak bisa, asma. sudah bertahun-tahun aku jauh darinya, tapi hatiku tetap menyimpan namanya." Balas Kirei.


"kamu bukan tidak bisa, hanya saja kamu tidak mau dia digantikan oleh yang lain. Padahal Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik untukmu, kirei." Jelas Asma.


"ka asyam.." Teriak Kirei dan bangkit dari duduknya saat melihat Asyam berjalan dengan kedua adiknya menuju lift.


"Liya, mas duluan ya." Ucap Asyam menuju Lift saat didapatai keberadaan Asma.


"kita kesana yu, dek." perintah Liya kepada Nuha.


"Assalamu'alaikum, mba."


"wa'alaikumussalam." Jawab Asma.


"kenapa ka asyam pergi ?" Tanya Kirei.


"mungkin mas capek, mba. Karena dari tadi kita abis jalan-jalan." Jawab Liya.


"Liya, Nuha, ayo duduk. Mba pesankan minum ya. Nuha, mba pesankan susu saja ya. Liya mau apa ?" Tanya Asma.


"terserah mba asma saja, mba. yang enak menurut mba, hehe." Jawab Liya.

__ADS_1


"masya allah. pantas saja mas asyam sesakit itu saat harapannya hilang untuk memiliki mba asma. dia gadis yang baik, lembut, penyayang. lelaki mana yang tidak ingin memilikinya." Batin Liya saat menatap langkah Asma memesan minuman.


Bersambung .....


__ADS_2