KETIKA RINDU BERBALUT DOA

KETIKA RINDU BERBALUT DOA
Episode 58 - Kebakaran


__ADS_3

Farhan menyusul langkah Asma saat menuruni tangga dan berhenti dihadapannya, satu tangga didepan Asma.


“saya ngga bertemu dengan dia. Saya juga tidak memakan bekal dari dia.” Ucap Farhan.


Asma hanya menatap dan tak menanggapi. Kakinya melangkah kesamping untuk mendapat jalan dan melanjutkan langkahnya. Namun Farhan mengikuti untuk menghalangi jalannya lagi.


“apa kamu sedang merasa cemburu ?” Ledek Farhan.


Asma kembali lagi menghindar dan sekali lagi tertahan oleh Farhan.


“hey, ayo jawab. Apa benar kamu sedang cemburu ?” Tanyanya lagi.


“kamu tau ? rasa cemburumu membuatku bahagia. Itu artinya kamu takut kehilanganku, kamu takut ada orang lain yang ingin memilikiku, kamu tidak ingin aku dekat dengan perempuan lain selain dirimu.” Jelasnya.


“apa kamu tau ? tidak ada seorang pun yang mau melihat kekasihnya dekat dengan yang lain. Tidak ada yang mau ditinggalkan oleh orang yang dicintainya. Dan juga tidak ada perempuan yang ingin diduakan.” Balasnya.


“akan ku pastikan cemburuku ada diwaktu dan tempat yang tepat.” Ucap Asma yang langsung meninggalkannya.


Farhan tersenyum melihat Asma yang lanjut menuruni tangga dan semakin menjauh darinya.


Sore harinya Asma dan para pengajar lain kembali pada aktivitas mengajarnya. Selesai mengajar, Asma mengunjungin rumah kedua orang tuanya sambil menunggu Farhan menjemputnya.


Asma menikmati bubur yang dipesannya tadi pagi kepada Syahrul, dimeja makan.


“masih enak buburnya ?” Tanya Bunda Zulfah sambil membawakan segelas air putih hangat.


“masih, bunda.” Jawabnya.


“bunda mau ? takutnya nanti mas farhan kemalaman.”  Tanya Asma.


“ngga apa-apa buat bunda ?” Tanya Bunda.


“ya ngga apa-apa bunda. Nanti aku tinggal beli lagi untuk makan malam mas farhan atau masak dirumah.” Jelas Asma.


“yasudah. Bunda makan ya.” Ucap Bunda.


“ayah tumben belum pulang ?” Tanya Asma.


“sepertinya lagi rapat panitia qurban.” Jawab Bunda.


“iya ya, sebentar lagi hari raya, tadi juga syahrul sudah buat surat edaran libur sih.” Ucap Asma.


“bagaimana hubungan kamu dengan farhan ?” Tanya Bunda.


“Alhamdulillah baik, bunda. Sebenarnya masih sama seperti sebelumnya, asma masih belajar untuk mencintainya. Asma sudah bisa menerima kehadirannya, hanya tinggal membiasakan diri dan menumbuhkan rasa dihati.” Jelas Asma.


“bunda ikut senang. Perlahan rasa cinta akan tumbuh dihati kamu, asalkan kamu mau belajar dan membuka hati untuknya.” Ucap Bunda.


“bunda, asma mau ke kamar dulu ya. Ada barang yang harus diambil.” Ucap Asma sambil membereskan peralatan makannya.


“iya.” Sahut Bunda dengan senyuman.

__ADS_1


Tiba-tiba saja terdengar suara teriakan dari luar rumah. Terdengar suara sandal yang beradu dengan jalan, seperti orang yang sedang berlari. Bunda Zulfah langsung berlari keluar rumah mendekat kearah gerbang. Ia temukan menantunya yang juga ikut serta sedang membantu membawa barang milik warga.


“farhan.” Teriak Bunda, memanggil.


“bunda.” Sahutnya dan menghentikan tugasnya, mundur dan mendekati ibu mertuanya.


“ada apa ?” Tanya Bunda Zulfah.


“kebakaran, bunda. Kebakaran besar, tabung gas meledak katanya.” Jelas Farhan.


“astaghfirullah. Innalillahi wa innailaihi rooji’uun.” Ucap Bunda sambil menutup meulutnya dengan telapak tangan.


Farhan kembali membantu dan berlari mendekat pada lokasi kebakaran. Asma yang datang selepas kepergian Farhan, ikut menyusul sang suami. Banyak warga yang berbaris sambil menyerahkan barang-barang untuk dipindahkan. Lokasinya memang cukup jauh dari rumah Asma, tapi sepertinya ini kebakaran yang serius.


Asma semakin mendekat pada lokasi kebakaran. Tanpa sengaja, menemukan gadis sebaya yang sedang menangis sambil menopang kepala wanita tua ditangannya. Asma berlari mendekat karena merasa tak asing dengan wajah gadis itu.


“liya.” Sapanya.


“mba asma.” Ucap Liya sambil menangis.


“bu’e kenapa ?” Tanya Asma.


“bu’e pingsan, mba.” Jawabnya.


“mas asyam mana ?” Tanya Asma.


“mas asyam lagi ngangkut barang-barang dirumah.” Jawab Liya, masih dengan isak tangisnya.


“pak.. pak.. tolong angkat ibu ini kerumah saya, pak.” Ucap Asma kepada bapak-bapak yang berlalu-lalang.


“bunda, asma titip mereka ya.” Ucap Asma saat telah sampai dirumahnya dan membaringkan Bu Nurlela disofa tamu.


“kalian tunggu disini ya, saya mau lihat keadaan dilokasi.” Jelas Asma.


Asma berpapasan dengan sang ayah diteras rumah.


“ayah.” Ucap Asma.


“kamu tolong cek aula masjid untuk para pengungsi. Kamu urus dengan ihsan disana ya.” Ucap Ustadz Hasan yang terburu-buru ingin masuk kedalam rumah.


“baik, ayah.” Sahutnya yang langsung bergegas menuju masjid.


Farhan berada dibaris terdepan bersama orang-orang yang memadamkan api sambil menunggu pemadam kebakaran datang.


Asma yang menemukan Ihsan yang berdiri dipintu gudang sambil memimpin remaja menggelar karpet untuk para pengungsi.


“apa yang bisa asma bantu, bang ?” Tanya Asma.


“kamu siapkan kertas dan alat tulis saja. Jaga dimeja depan untuk mendata pengungsi. Data perkepala dan per-KK (kartu keluarga).” Jelas Ihsan.


“baik.” Sahut Asma yang telah siap dan menyanggupi.

__ADS_1


“bang ? kalau boleh tau, rumah siapa yang kebakaran ?” Tanya Asma.


“belum tau pastinya. Setau abang, bagian belakang rumah asyam dan salwa.” Jelasnya.


“innalillahi.” Ucap Asma.


Asma mulai mendata beberapa pengungsi yang sudah tiba dihalaman masjid. Nama kepala keluarga dan anggota keluarganya, guna  memastikan jumlah untuk pembagian makanan harian dan bantuan yang akan datang.


Tak terasa waktu menunjukkan pukul 23.35. Asma membereskan kertas yang digunakannya dan menyerahkan kepada Ihsan yang akan berjaga dimasjid hingga pagi. Asma kembali menuju rumah untuk menemui sang suami.


“mau abang antar ?’ Tanya Ihsan saat Asma mengenakan sandal.


Asma terdiam mendengar ucapannya.


“mhh.. maaf. Abang ngga bermaksud. Hanya… sudah malam… tidak baik perempuan berjalan sendiri tanpa ditemani mahramnya.” Jelas Ihsan.


“apa abang termasuk dalam mahram untuk asma ?” Tanya Asma.


“ah.. ya.. bukan itu juga maksudku. Mmh…” Ucap Ihsan sambil berfikir.


“abang akan temani kamu sampai rumah. Abang  dengan syahrul akan berjalan dibelakangmu. Hanya untuk berjaga dan melihat kamu sampai masuk kerumah.” Jelas Ihsan.


“baik.” Balas Asma.


Asma pulang dengan dikawal oleh Ihsan dan Syahrul dari jauh. Sesampainya dirumah, ruang tamu ramai dengan keluarga Asyam dan juga ada Farhan yang duduk luka bakar ditangan kirinya.


“astaghfirullah, mas farhan.” Ucap Asma gemetar sambil mendekat dan berlutut dihadapan Farhan.


“ya ampun.. kamu.. kenapa ? ini kenapa ?” Ucap Asma yang tak kuasa menahan air mata dan sesak didadanya sambil membenamkan kepala dipaha Farhan.


“asma.” Bisik Bunda sambil mengangkat Asma.


Asyam dan Liya menatap Asma yang begitu mengkhawatirkan suaminya. Sosok Asma yang jarang diperlihatkan diluaran. Sosok Asma yang kuat dan ceria yang selama ini dikenal oleh teman-temannya.


“sudah bunda oleskan salep. Saya ngga apa-apa.” Ucap Farhan sambil menggenggam tangan sang istri.


“kita kerumah sakit ya ?  kamu bawa mobil kan ? kita periksa kerumah sakit ya ? kamu tunggu sini aku ambil tas dulu. Kita kerumah sakit!.” Ucap Asma yang berlari menuju kamar untuk mengambil tasnya, sambil menghapus air matanya.


Liya dan Asyam saling bertatapan. Bu Nurlela telah dipindahkan dikamar tamu sambil menunggu kesadarannya kembali.


“Masya Allah, liya baru pertama kali melihat mba asma yang penuh khawatir seperti itu. Biasanya dalam kondisi apapun, dia sosok yang paling tenang dan menenangkan.” Bisik Liya dalam hatinya.


“Yaa Allah, beri aku satu wanita yang seperti dirinya untuk menemani sisa perjalanan hidupku.” Pinta Asyam dalam hatinya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


-Bersambung-


__ADS_2