
"kamu sudah berdamai dengan hatimu ?" Tanya Asma saat duduk bersama dengan Salwa dihalaman belakang.
"ya. Sepertinya." Jawab Salwa dengan senyuman.
"Syukurlah." Ucap Asma.
"semoga kita semua dapat berdakwah dengan nyaman." Ucap Asma.
Raina langsung mengabari Ihsan setibanya dimasjid. Ihsan yang mendapat kabar tentang Raina yang menunggu dihalaman, langsung turun menemuinya.
"Raina.."
"abang.."
"kamu sendiri ?" Tanya Ihsan.
"ngga, tadi bareng sama asma." Jawab Raina.
"bang, asma mau bantu kita untuk cari kirei." Ungkap Raina.
"alhamdulillah." Ucap Ihsan.
"lalu ?" Tanya Ihsan.
"masih menunggu balasan email yang asma kirim. Satu-satunya yang bisa asma lakukan hanya itu." Jelas Raina.
"baiklah. Tidak apa-apa." Ucap Ihsan dengan senyum yang bahagia.
"apa.. tidak ada seseorang yang lain yang lebih dekat ?" Tanya Riana yang mengundang senyum di bibir Ihsan.
"yang dekat juga belum tentu berjodoh. Dekat atau pun jauh jarak aku dengan dia, jika nama kita telah disandingkan disana, jarak bukanlah halangan. Allah pasti punya cara untuk mempersatukan." Jelas Ihsan.
"kamu tidak menyadarinya bagaimana asma dengan farhan ?" Tanya Ihsan.
"bahkan mereka yang belum pernah kenal saja bisa berjodoh." Ucap Ihsan.
"sudah ya, abang mau lanjut tugas dulu sama temen-temen." Ucap Ihsan sambil menepuk bahu Raina.
"kamu mau ikut atau tunggu dirumah ummi zulfah ?" Tanya Ihsan.
"raina tunggu dirumah ummi saja." Jawabnya.
"yasudah, abang naik lagi ya." Ucap Ihsan, meninggalkan.
"apa mungkin jodohku juga ada disekitarku ? bukan dekat dari rumahku saat ini, tapi ditanah kelahiranku ini ?" Bisik Raina dalam hatinya.
"eh, raina ? nyari bang ihsan ?" Tanya Zidan yang memecah lamunannya.
"mh ? ng.. ngga. Barusan ketemu bang ihsan ko." Jawab Raina.
"saya pamit, ya. Assalamu'alaikum." Ucap Raina yang langsung berjalan menuju gerbang.
"masya allah, semoga aku bisa menjadi penghafal qur'an sepertinya." Bisik Zidan yang telah lama kagum kepada Raina yang sudah menghafal Al Qur'an diusia mudanya.
__ADS_1
"hey.. ngapain melamun ?" Tanya Syahrul sambil menepuk bahu Zidan.
"ah, ngga. Ayo kita ngajar." Ucap Zidan.
Setelah melalui hari-hari tanpa hasil, sore ini Ainun berhasil bertemu dengan Asma dan menyampaikan maksudnya. Diantarapara pengajar yang ada diruangan, Ainun berhadapan di meja kerja Asma. Dengan hati yang penuh harap karena kedekatannya, Asma pasti akan mengabulkan keinginannya.
Nadia, Salwa dan juga Ihsan yang ada diruangan itu fokus pada tugas yang sedang mereka kerjakan. Ihsan duduk dihadapan komputer, Nadia dan Salwa menyiapkan name tag dan absen untuk para santri. Namun telinga tetap menjalankan tugasnya sebagai pendengar. Seberapa fokus mereka mengatur fikiran, perbincangan Asma dan Ainun tetap sampai seperti angin yang berhembus.
"Jadi, bagaimana ? apa aku bisa bergabung untuk mengajar disini ?" Tanya Ainun dengan senyuman yang penuh harapan.
Niat hati yang tak hanya ditujukan untuk berdakwah dan mencari ilmu, melainkan ada maksud lain yang disembunyikannya. Mengajar adalah alasan untuk mencapai keinginannya.
"ainun, sampai saat ini aku belum memikirkan untuk menerima staff baru. Kalau pun, iya. Aku harus mendiskusikannya dengan yang lain." Jawab Asma.
"meskipun aku menyetujuinya, masih banyak suara lain yang harus aku dengar. Dan hal ini harus tetap dimusyawarahkan." Jelas Asma.
"tapi kan kamu yang mendirikan pengajian ini, kamu pasti ada hak untuk menerima pengajar baru, asma." Ucap Ainun.
"maaf, ainun. Aku harus membicarakannya dengan teman-teman yang lain." Jelas Asma.
"sampai kapan aku harus menunggu ?" Tanya Ainun.
"mmhh.. kapan kamu akan memberi keputusan ?" Tanya Ainun.
Asma menoleh kepada Ihsan untuk mendapatkan bantuan. Agar Ihsan juga ikut menjelaskan dan memberi pengertian sebagai pimpinan.
"mhh..."
"dua minggu." Jawab Ihsan sambil bangkit dari duduknya.
"oke. Aku tunggu, ya asma." Ucapnya kepada Asma lalu pergi meninggalkan ruangan.
"bang ihsan ?" Panggil Salwa.
"abang serius mau menerima dia ?" Tanya Salwa.
"apa terdengar seperti itu ?" Ihsan balik bertanya.
"saya hanya bilang akan menyampaikan. Hasilnya ? kita akan lihat suara terbanyaknya." Jelas Ihsan.
Salwa menatap Nadia dengan perasaan cemas dihatinya.
"aku ngga akan setuju dia gabung sama kita." Bisiknya kepada Nadia.
Nadia hanya membalasnya dengan senyuman. Kehadirannya sore ini membuatnya tak tenang. Bukan karena dia pernah menjalin hubungan dengan Syahrul, tapi tindakannya kepada Syahrul beberapa waktu lalu membuatnya ragu kepada Ainun.
Malamnya, Farhan menjemput Asma dimasjid. Sambil menunggu Asma yang masih berada diruangan bersama teman-teman perempuannya, Farhan berbincang dengan Ihsan diteras masjid.
"Aku mau minta izin kepadamu." Ucap Farhan.
"untuk apa ?" Tanya Ihsan.
"mengenai tafakur alam yang akan diadakan, apa boleh aku ikut serta ?" Tanya Farhan.
__ADS_1
"maksud ku, asma ingin sekali ikut. Tapi sampai sekarang aku masih melarangnya." Jelas Farhan.
"silahkan."
"benarkah ?" Tanya Farhan.
"ya."
"ada satu permintaan lagi."
Ihsan diam menunggu.
"mhh.. tolong jangan beri asma tugas apapun. Biar dia ikut serta saja dalam perjalanan kalian. Aku rasa itu juga sudah cukup melelahkan baginya. Aku meminta izin untuk ikut karena ingin menjaga asma, terlebih karena saat ini dia sedang mengandung." Jelas Farhan.
"aku serahkan urusan asma kepadamu. Karena acara ini juga awalnya dia yang memimpin, sebelum kedatanganku. Ikutlah sambil menikmati keindahan alam nanti." Balas Ihsan.
"mas.. "
"asma.. " Ucap Farhan.
"lagi ngobrolin apa ?" Tanya Asma sambil memberi selembar kertas kepada Ihsan.
"kamu boleh ikut acara jalan-jalan dengan santri." Ucap Farhan.
"serius ?" Tanya Asma yang begitu bahagia.
"tadi aku sudah bicarakan dengan ihsan." Ucap Farhan.
Asma melangkah maju dan memeluk Farhan dihadapan Ihsan.
"makasi ya, mas. Aku seneng banget. Aku janji akan jaga diri baik-baik." Ucap Asma dalam pelukan.
"ekhem.."
Asma langsung melepas pelukannya dengan wajah malunya.
"ekhee.. jadi ini yang masih kurang dan belum lengkap ?" Tanya Ihsan sambil menatap selembar kertas yang berisi tulisan.
"iya, bang ihsan." Jawab Asma, gugup karena malu.
"oke, nanti abang urus dengan syahrul dan zidan." Balas Ihsan.
"kita pamit ya, san." Ucap Farhan sambil bersalaman dengan Ihsan.
"asma duluan ya, bang ihsan." Ucap Asma menyusul Farhan yang bergegas membukakan pintu mobil.
Bahagianya malam itu mendapatkan izin dari sang suami terus terlukis diwajah Asma dalam perjalanan pulang hingga sampai dirumah. Sesampainya dikamar Asma langsung memeluk Farhan lagi dengan senyum yang masih merekah.
"seneng sekali isteri aku." Ledek Farhan sambil mengecup kepala Asma.
"makasih ya, mas. Kamu izinin aku ikut kegiatan bersama santri dan teman-teman yang lain." Ucap Asma sambil bersandar didada Farhan.
"hem.." Sahut Farhan.
__ADS_1
"aku mau mandi dulu. Kamu istirahat sana." Ucap Farhan sambil melepas pelukan Asma.