
Mentari pagi dikota jakarta kembali menyapa. Menyadarkannya telah kembali kepada kesehariannya. Salwa, yang masih ingin hanyut dalam mimpi harus menerima kenyataan untuk kembali mengingat pernyataan Asyam tempo hari.
Pernyataan yang membuat dirinya gelisah, karena bingung harus bersikap seperti apa jika harus berhadapan dengan Asyam. Kalimat tanya semakin banyak didalam fikirannya. Apa yang akan Asyam tanykan kepada dirinya, harus memberi jawaban seperti apa ketika ditanya, perlakuan apa yang akan Asyam berikan kepadanya, dan lain sebagainya.
Salwa merapihkan diri untuk keluar rumah. Salwa berencana untuk membuat laporan diruang sekretariat, agar bisa mengalihkan fikirannya dari Asyam.
"eh.. mba salwa. Mau kemana ?" Tanya Liya yang sedang menyapu halaman.
"mau ke masjid." Jawabnya.
"dek.. Buku mas yang kamu pinjam ditaruh dimana ya ?" Teriak Asyam sambil berjalan keluar.
"salwa.." Sapanya, kaget saat melihat salwa.
"saya pergi dulu, assalamu'alaikum." Ucap Salwa.
"wa'alaikumussalam."
"mas pasti buat masalah lagi ya dengan mba salwa ?" Tuduh Liya.
"ndak." Jawabnya.
"itu, mba salwa langsung kabur pas mas datang." Ucapnya lagi.
"yaa... mmh.. mas ngga tau." Balasnya.
"jadi buku mas ditaruh dimana ?" Tanya Asyam.
"dikamar liya, dimeja belajar." Jawabnya.
Asyam pun kembali masuk ke dalam rumah dan mengambil bukunya.
"dek, mas berangkat dulu ya." Ucap Asyam tergesah-gesah.
"assalamu'alaikum." Teriak Asyam sambil berlari kecil.
"wa'alaikumussalam." Jawab Liya.
"ada apa sih ? sampe buru-buru begitu." Bisik Liya yang kembali melanjutkan menyapu halaman.
Asyam berusaha menyusul langkah Salwa yang sudah memasuki halaman Masjid. Rasa hati ingin terus dekat dan memperhatikannya. Salwa yang merasa ada suara langkah kaki dibelakangnya, menjadi tak nyaman. Sejak dijalan tadi hingga masuk ke halaman masjid, langkah itu seperti mengikutinya.
Ingin menoleh, tapi rasanya malu. Ingin melanjutkan langkah namun perasaan menjadi gelisah. Meski sudah memasuki halaman masjid, rasa takut tetap muncul didalam dada. Terpaksa, ia hentikan langkahnya dan membiarkan seseorang dibelakangnya untuk mendahuluinya. Namun ternyata, tak ada siapa-siapa yang lewat disampingnya.
"Kenapa ? Ada yang tertinggal ?" Tanya seseorang dari belakang.
Merasa mengenal suaranya, Salwa langsung membalikkan badan.
"kenapa ada di belakang saya ?" Tanya Salwa, kesal.
"mhh.. saya memang mau ke masjid. Kebetulan ketemu kamu dijalan, dan saya ngga enak ngedahuluin kamu." Jelas Asyam.
Untuk pertama kalinya Salwa menunjukkan senyum sinisnya kepada Asyam.
"Ngga ada yang kebetulan, bang."
Salwa menarik nafas dan melepaskan.
__ADS_1
"tolong jangan ganggu saya untuk beberapa hari ini. Jangan dengan sengaja muncul dihadapan saya. Jangan juga mencari-cari sesuatu yang berurusan dengan saya." Jelas Salwa yang langsung meninggalkannya.
Langit cerah milik Asyam seakan mendadak mendung, awan hitam mulai muncul menghalangi cahaya hari ini. Rasa bahagia sepanjang jalan seakan luntur dengan sikap gadis pujaannya.
Baiklah, mungkin dirinya harus lebih bersabar menghadapi Salwa. Perempuan yang pernah terluka karenanya.
"Hey.." Sapa Ihsan sambil menepuk bahu Asyam.
"ngapain diri ditengah jalan ?" Tanya Ihsan.
"ngga."
"yuk masuk." Ajak Asyam.
"Aku ada urusan dengan nadia nanti. Temani aku ya." Ucap Ihsan.
"oke."
Ihsan dan Asyam berbincang dihalaman belakang sambil menunggu Nadia datang. Dan pada akhirnya, tanpa sepengetahuannya dan tanpa sengaja Asyam muncul dihadapan Salwa. Ternyata pertemuan Ihsan bukan hanya dengan Nadia. Di aula Masjid, mereka duduk saling berhadapan.
"san. Maaf, aku lupa ada urusan." Ucap Asyam.
"loh, tiba-tiba ?" Tanya Ihsan.
"bukan. Aku lupa." Jawabnya.
"maaf, ya." Ucapnya langsung meninggalkan.
Untuk saat ini saja, Asyam mengalah untuk menenangkan hati Salwa agar kembali bersahabat lagi dengannya.
"itu, tolong siapkan agenda rapat tiga hari lagi. Kita akan adakan evaluasi sekaligus membahas tentang ainun yang ingin bergabung." Jelas Ihsan.
"itu saja ?" Tanya Nadia.
"iya."
"bang ihsan kan bisa kasih tau lewat pesan. Kenapa harus minta aku datang kesini sih ?" Ucap Nadia.
"masalah itu... "
"bang ihsan ? kenapa sih masalah ainun masih harus dibahas. Kita ngga ada yang setuju kalau dia bergabung disini." Tegas Salwa.
"salwa. Bagaimanapun kita tetap harus bermusyawarah. Apapun hasilnya." Ucap Ihsan.
"awas saja kalau sampe ada yang setuju dia bergabung. Aku benar-benar ngga suka sama sikapnya." Gumam Salwa.
"Assalamu'alaikum." Ucap Perempuan yang datang.
"Asma." Ucap Salwa.
"wa'alaikumussalam."
"kamu habis nangis ?" Tanya Nadia merangkul saat Asma duduk disampingnya.
"aku ngga apa-apa." Ucap Asma.
"om renda.."
__ADS_1
"maksud aku, papanya ainun."
"papanya ainun, meninggal. Hari ini." Ucap Asma yang lagi-lagi tangisnya pecah.
"innalillahi wa innailaihi rooji'uun"
"yasudah. Aku kabarkan yang lain dulu, siapa saja yang bisa ikut takziyah." Ucap Ihsan yang langsung mengeluarkan ponsel dan meninggalkan.
Setelah menunggu beberapa menit. Zidan, Syahrul, Liya dan juga Asyam datang kembali. Ihsan, Asma, Salwa dan Nadia telah menunggu dihalaman Masjid.
"yang lain ngga bisa ikut ?" Tanya Ihsan.
"sepertinya, bang." Jawab Syahrul.
"Asma bawa mobil ?" Tanya Ihsan.
"iya. Ada mas farhan yang menyetir." Jawab Asma.
"yasudah. Salwa, Nadia dan Liya ikut mobilnya asma." Ucap Ihsan.
"kamu bawa motor, syam." Tanya Ihsan.
"tidak."
"kamu sama aku. Zidan dengan syahrul." Jelas Ihsan.
Mereka pun menuju rumah Ainun. Perasaan Asma saat itu hancur, sangat sedih. Om Renda, adalah sosok papah yang baik yang pernah dekat dengannya. Sosok yang ramah dan bersahabat saat dia bertamu kerumahnya. Sosok ayah yang banyak berpesan untuk menjadi teman baik putrinya dan membimbing putrinya agar tidak kembali kembali kemasa yang kelam.
"sayang, udah dong jangan nangis terus." Ucap Farhan sambil menggenggam tangan Asma.
"aku masih ngga nyangka, mas. Aku ngga pernah dapat kabar apapun dari ainun tentang papanya. Lalu tiba-tiba, sekalinya dapat kabar. Itu berita duka." Jelas Asma.
"gimana aku ngga kaget ? beliau orang yang baik, selalu ceria setiap kali aku ketemu sama beliau." Ucap Asma menghapus air mata.
"ko perasaan aku ngga enak ya. Semoga ngga terjadi apa-apa." Bisik Nadia dalam hatinya.
Sesampainya dirumah duka. Asma langsung memimpin untuk masuk menemui Ainun dan keluarga. Ainun yang melihat Asma langsung berlari dan memeluknya. Isak tangis semakin menjadi saat keduanya bertemu.
"asma.. papa.. papa.. pergi. Aku salah.." Ucap Ainun.
Untuk pertama kalinya Asma tak dapat berkata-kata. Karena diapun merasakan sakitnya kehilangan. Ingin bersabar, namun hati pasti belum siap. Menguatkan pun, tentu pasti saat ini sedang sangat lemah.
Tak ada yang mudah menerima kepergian seseorang yang telah lama hidup bersama. Bahkan ketika harus dipaksa untuk mengikhlaskan. Kata ikhlas yang terlontar dari mulut tak sejalan dengan keikhlasan dihatinya. Butuh waktu dan kejernihan fikiran untuk menyelaraskan keihklasan yang ada dihatinya. Demi kepulangannya yang nyaman.
Ditengah doa bersama dan hendak berpamit, didepan jenazah sang ayah, Ainun melaksanakan hatinya untuk mendapatkan salah satu dari seseorang yang ada dihatinya.
"bang asyam." Panggil ainun, mendekat.
"abang mau kan menikah dengan saya ?" Ucap Ainun.
.
.
.
...~Bersambung~...
__ADS_1