KETIKA RINDU BERBALUT DOA

KETIKA RINDU BERBALUT DOA
Episode 26 - Langkah Awal


__ADS_3

Asma sedang berdiri di dekat jendela kamar sambil menatap keluar. Dipandangi handphone yang di genggamnya, berharap ada pesan yang masuk mengabarkan. Berulang kali dipandanginya sambil melangkah ke kanan dan kiri.


“aku harus cepat menyelesaikannya, tapi harus dimulai dari mana ?” Bisiknya.


Asma memutuskan untuk keluar rumah. Diambilnya tas selempang untuk menyempurnakan penampilannya. Dilangkahkan kakinya meninggalkan kamar.


“yasudah, aku kerumah mu ya. Maaf merepotkan.” Ucap Asma dalam percakapan di telepon.


Langkah kakinya semakin cepat untuk sampai kerumah teman yang diharap dapat membantunya. Dengan penuh kegelisahan dalam hatinya, hanya satu temen yang dapat dipercayainya.


“assalamu’alaikum.” Ucap Asma ketika sampai di pintu rumah temannya.


“wa’alaikumussalam.” Jawabnya.


“ayo masuk.” Ucap Nadia mempersilahkan masuk.


“di luar saja ya, nad.” Pinta Asma.


“oh, yasudah. Aku ambilkan minum dulu ya.” Balas Nadia.


“tidak usah, nad.” Tolak Asma.


“tidak apa, sudah aku buatkan ko. Tinggal bawa kedepan.” Jelas Nadia sambil berjalan meninggalkan Asma.


Asma pun duduk di kursi untuk menunggu Nadia.


“nah, cepat kan.” Ucap Nadia membawa dua cangkir teh hangat.


“nah sekarang, mulai cerita. Sebenarnya ada apa sih, tumben-tumbenan sampai datang kerumah ?” Tanya Nadia.


“iya, sekali lagi aku minta maaf ya kalau mengganggu waktumu.” Ucap Asma.


“ih apa sih, kaya sama siapa saja deh. Sudah dibilang aku ini ngga ada kegiatan apapun hari ini, selain mengajar nanti sore.” Jelas Nadia.


“seperti yang kamu tahu, aku telah dikhitbah oleh bang ihsan. Saat ini aku sedang ada masalah dengannya.” Ucap Asma.


Asma mulai menjelaskan permasalahannya kepada Nadia. Dari mulai pertengkarannya dengan Ihsan hingga tentang kecelakaan Ihsan dan belum juga mempercayai dirinya.


Sulton dan Syahrul sedang berada di aula masjid. Keduanya sedang merapihkan berkas laporan ujian para santri yang akan di kembalikan kepada masing-masing kaka pengajar untuk dikoreksi. Salwa datang sambil membawa laptop dipelukannya.


“cuma kalian berdua yang datang ?” Tanya Salwa sambil bergerak duduk.


“iya, yang lain belum ada kabar, ka.” Jawab Sulton.


“asma tidak bareng kamu, sal ?” Tanya Syahrul.


“tidak. Aku ngga nyamper si kerumahnya.” Jawab Salwa.


“ka asma sama bang ihsan lama ngga keliatan sepertinya.” Ungkap Sulton.


“mungkin mereka lagi sibuk menyiapkan pernikahan.” Sahut Salwa sambil memainkan laptopnya.


“hah ? pernikahan ? siapa yang mau nikah ?” Tanya Syahrul terkejut.

__ADS_1


“ya mereka berdualah. Ih kalian ketinggalan informasi deh.” Jawab Salwa.


“serius asma dengan bang ihsan ?” Tanyanya lagi yang masih tak percaya.


“iihh.. iya. Tanya sendiri sana sama bang ihsan.” Balas Salwa.


Nadia mendengarkan cerita Asma dan berusaha memahami permasalahannya.


“aku juga ngga tau dia mendapatkan surat itu dimana dan kenapa aku yang jadi tersangka.” Ucap Asma.


“yasudah, bagaimana kalau nanti malam saja kita ketemuan dengan bang asyam ? sehabis mengajar.” Usul Nadia.


“kamu bener ya mau temenin aku ?” Ucap Asma.


“Iya, aku temenin.” Sahut Nadia.


“yasudah kita ke masjid yuk. Tadi kayanya di grup ada info mau koreksi hasil ulangan para santri.” Ucap Nadia.


“oh ya ?”


“iya.” Sahut Nadia.


“aku  ngga baca grup dari kemarin, astaghfirullah.” Ucap Asma.


“yah, dimaklum si namanya juga lagi sibuk urusin pernikahan.” Ledek Nadia.


“mulai ya, ngeledek.” Balas Asma.


“aku beresin ini dulu, terus siap-siap.” Ucap Nadia sambil membawa cangkir-cangkir ke dalam.


“iya, sama-sama.” Balas Nadia.


Untuk pertama kalinya Asyam menginjakkan kaki dirumah kepala pimpinan kerjanya. Dengan sikap yang santai, Asyam berbincang dengan Pak Renda. Ainun yang telah selesai membuatkan minuman, membawanya ke ruang tamu. Tiga gelas sirup orange disuguhkannya.


“silahkan diminum bang asyam.” Ucap Ainun.


“tak salahkan papa pilihkan laki-laki ini. Buktinya dia berteman dengan orang yang papa percaya.” Ucapnya kepada Ainun.


“pa, ainun hanya berteman dengan bang asyam.” Selak Ainun.


“asma itu gadis yang baik. Semenjak berteman dengan asma, ainun banyak berubah. Makanya papa seneng kalau dia tetap berteman dengan asma sampai sekarang. Beberapa hari lalu dia juga baru mengantar ainun pulang, karena ainun menginap dirumahnya.” Jelas Pak Renda.


“Alhamdulillah. Saya juga belum lama mengenalnya. Tapi memang dia gadis yang baik dan banyak disayangi oleh teman-temannya.” Balas Asyam.


“kamu bergabunglah di masjid, biar cepat sadar.” Ledek Pak Renda.


“emang ainun ngga waras apa, pah.” Sahut Ainun yang membuat Asyam tertawa.


Asma dan Nadia telah berkumpul bersama teman yang lainnya diaula masjid. Adzan Ashar memecah keseriusan mereka dalam bertugas. Hamdalah terucap dari masing-masing bibir mereka. Semua melangkah menuju tempat wudhu dan melaksanakan shalat berjama’ah dilantai atas.


Selesai shalat, Asma berbincang dengan Syahrul di pintu masuk aula. Hingga akhirnya pembicaraan Asma terhenti saat seorang lelaki mendekat kepadanya.


“assalamu’alaikum.” Ucapnya sambil membaca helm.

__ADS_1


“wa’alaikumussalam. Wah darimana saja bang asyam nih baru datang.” Ucap Syahrul.


“ah, ya. Maaf saya ada urusan.” Balas Asyam.


“bang asyam, boleh saya bicara sebentar.” Pinta Asma.


“oh, ya. Silahkan.” Ucap Asyam.


“saya tinggal kedalam ya.” Pamit Syahrul.


Asma dan Asyam berpindah tempat dan duduk berjarak, saling berhadapan.


“maaf asma, saya belum mengirim pesan untuk menentukan tempat pertemuan.” Ucap Asyam.


“tidak apa-apa.” Sahut Asma tertunduk.


“saya hanya ingin menanyakan. Apa yang abang bicarakan dengan bang ihsan saat itu ? tentang saya dan tentang surat yang abang beritahukan kepada bang ihsan.” Tanya Asma.


“saya.. saya hanya berpesan untuk tidak saling memaksakan atas kehendak atau keinginan orang tua kalian.”


“itu bukan sebuah paksaan, itu adalah keputusan ku.” Tegas Asma, sambil mengadukan jari telunjuknya dilantai beberapa kali.


“lalu kenapa kamu meninggalkan surat itu ?” Tanya Asyam yang membuat Asma mengangkat pandangannya.


“maka dari itu, asma juga penasaran dengan surat yang abang maksud.” Ucap Asma.


“boleh perlihatkan surat itu ?” Tanya Asma.


Asyam merogoh kantongnya untuk mengeluarkan dompet, tempat surat itu disimpan. Dikeluarkannya kertas yang masih terlipat rapih dan diberikan kepada Asma. Asma membuka dan membacanya.


“ini bukan tulisanku.” Tegasnya sambil meletakkan surat itu dilantai.


“atas dasar apa abang begitu yakin surat ini datangnya dari ku ?” Tanya Asma.


“abang tau, karena masalah ini, pernikahanku akan dibatalkan oleh bang ihsan. Abang merusak rencana pernikahanku.” Ucap Asma dengan wajah yang kesal namun tetap dengan suara yang pelan.


“karena tidak ada lagi yang berinisial A selain dirimu.” Jawabnya gugup.


“dimana abang dapatkan ini ?” Tanya Asma.


“diruang sekretariat saat membereskan oleh-oleh dari ka silvi.” Jawabnya.


“ada siapa saja diruangan saat itu ?” Tanyanya lagi.


“aku, kamu … nadia dan .. syahrul.” Jawab Asyam.


Asma tahu jawabannya, siapa pemilik surat itu. Tiba-tiba ponsel Asma bordering menandakan panggilan masuk.


“abang, suratnya asma simpan. Pembicaraan kita cukup sampai sini dulu. Maaf asma harus angkat telepon.” Jelas Asma.


Asyam hanya membalasnya dengan anggukan dan senyuman. Dipandanginya Gadis yang berjalan menuju teras.


“astaghfirullahal’adziim .. apa aku telah berbuat kesalahan yang besar ya Allah.” Ucapnya dalam hati.

__ADS_1


Asyam terkejut melihat Asma menjatuhkan handphonenya dan tersungkur, menenggelamkan wajahnya. Dirinya hendak berdiri, namun seorang perempuan berkerudung merah lebih dulu lari menghampiri Asma.


Bersambung .....


__ADS_2