
Asma membawa Farhan ke rumah sakit terdekat. Sesampainya dirumah sakit Asma menunggu Farhan diluar ruangan.
"Asma..." Sapa seorang lelaki.
Asma mengangkat kepalanya dan mengarahkan pandangan kearah suara.
"Dokter... nathan ?" Tebaknya sambil berfikir.
"Benarkan ? Dokter nathan, temannya mas farhan ?" Tanyanya, meyakinkan.
"Iya." Jawabnya.
"Kamu ngapain disini ? Ada yang sakit ?" Tanya Nathan.
"Iya. Mas farhan terluka." Jawabnya.
"Apa ? Farhan?" Ucap Xena yang menyusul dibelakang Nathan.
"Lo bilang apa tadi ? Farhan terluka ?" Tanya Xena yang mendekat pada Asma.
"mas farhan terkena luka bakar saat membantu korban kebakaran didekat rumah." Jelas Asma yang ditujukan kepada Natha.
"lo tu bisa jagain dia ngga sih ? dia tuh ngga pernah ya sampe terluka selama berteman sama gue dan nathan. Kayanya semenjak ketemu sama lo, dia jadi kena sial mulu deh." Bentak Xena.
"xena, lo apa-apan sih. Malu diliatin orang." Bisik Farhan.
"keluarga bapak farhan." Panggil seorang perawat.
Asma melangkah namun didahului oleh Xena dan disusul oleh Nathan yang akan menghentikan jika terjadi keributan yang dibuat oleh sahabatnya.
"Farhan.." Ucapnya di ambang pintu.
"hey, bro. Sorry. Gue bawa dia keluar." Ucap Nathan.
"ih.. lepas."
"xena, lebih baik kita tunggu diluar." Ucap Nathan.
Asma menyelak masuk melewati Xena. Pintu tertutup dan Xena berhasil dibawa keluar oleh Nathan. Xena masih dengan keinginannya menunggu Farhan keluar ruangan.
Tak perlu waktu lama, Farhan keluar didampingi Asma dengan lengan yang diperban.
"Farhan, kamu ngga apa-apa ?" Tanya Xena cemas sambil memegang lengan Farhan yang satunya.
"maaf.." Ucap Asma sambil melepaskan genggaman Xena pada lengan suaminya.
"gimana hasilnya ?" Tanya Nathan.
"ngga apa-apa cuma luka ringan. Lagian kulit gue ngga sampe kekelupas ko. Masih aman." Jelas Farhan dengan senyuman.
"lo lagi tugas disini ?" Tanya Farhan.
"ngga sih, abis nganter pasien darurat. Jadi gue ikut ajah buat penjagaan selama perjalanan." Jelas Nathan.
"Aku anter kamu pulang ya." Ucap Xena.
__ADS_1
"ngga usah, sudah ada asma. Dia bawa mobil." Balas Farhan.
"bro, gue balik dulu ya." Ucap Farhan kepada Nathan.
"udahlah berhenti gangguin farhan, dia udah punya istri." Ucap Nathan dengan lembut.
Asma kembali kerumah setelah melakukan pemerikasaan dirumah sakit. Rumah telah terlihat sepi karena semua telah memasuki kamar dan beristirahat. Begitupun dengan keluarga Asyam yang bermalam dikediaman ustadz Hasan.
Asma menyiapkan tempat tidur untuk sang suami agar beristirahat dengan nyaman. Farhan berbaring sambil menggenggam tangan Asma yang berdiri disampingnya.
"terima kasih, ya."
"sudah menjadi kewajiban saya, mas." Balasnya.
"untuk pertama kalinya saya melihat kamu mengkhawatirkan saya." Ucap Farhan.
"kamu juga pasti akan seperti itu kan ? jika itu terjadi kepada saya." Balas Asma.
"saya jadi tau, kalau kamu sudah cinta kan sama saya?" Ledek Farhan sambil tersenyum.
Asma memalingkan kepalanya. Farhan terus meledek dengan mengayun-ayunkan tangannya.
"saya kedapur dulu ya. Saya buatkan susu, kamu belum makan malam kan tadi." Ucap Asma melepas genggaman Farhan perlahan.
"hati-hati ya istriku." Ucap Farhan dengan senyuman.
Asma membalasnya dengan senyuman dan berjalan keluar kamar.
Ihsan bersandar dikursi kerja, diruang sekretariat. Setelah selesai mengurus kedatangan para pengungsi kebakaran. Ihsan membayangkan percakapannya dengan Asma tadi malam. Hati yang disiapkan untuk kuat dan melupakan, seakan kembali goyah hanya dengan tatapan.
"Andai saat itu tidak terjadi, mungkin saja malam ini kamu adalah milikku. Mungkin saja aku mengantarmu kesebuah rumah yang menjadi tempat tinggal kita. Mungkin saja aku dapat menenangkan dalam kegelisahanmu." Bisiknya dalam hati.
"kenapa bang ihsan ?" Tanya Zidan yang sedang tertidur disofa, sambil sedikit mengangkat kepalanya.
"ah, tidak apa-apa. Maaf mengganggu tidurmu." Jawab Ihsan.
Zidan kembali menempelkan kepalanya pada tangan yang menjadi alasnya.
Salwa masih dengan perasaan takut pasca kebakaran yang terjadi disekitar rumahnya, tidur bersama diruang tamu dengan kedua orang tuanya. Fikirannya tak hanya tentang dirinya, namun juga mengkhawatirkan lelaki pujaan hatinya.
"bagaimana dengan bang asyam ya ? tadi dia dirumah sendiri, liya sama bu'e sepertinya menjauh untuk mengungsi. apa dia ada dirumah sendirian ?" Tanyanya dalam hati.
"kenapa sih ? apa yang dia ngga suka dari aku ? dari sekian banyaknya laki-laki yang aku tolak, cuma dia yang bisa menarik perhatian aku, tapi kenapa dia malah nolak aku ? apa ini yang namanya karma ? karena aku selalu nolak laki-laki yang menyatakan perasaannya sama aku ?" Lanjutnya.
"ko kamu belum tidur ?" Tanya Bu Rana yang mendapati Salwa yang masih bersandar ditembok.
"ngga apa-apa, bu. Salwa masi kebayang yang tadi saja." Jawabnya.
"ngga apa-apa, sudah. Apinya sudah padam. Ayo kamu tidur, istirahat." Ucap Bu Rana.
"iya, bu." Balas Salwa yang mulai membaringkan tubuhnya.
Jarum jam menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Asma membuka matanya kembali untuk melakukan shalat malam. Dengan mata yang masih setengah terbuka dan pandangan yang buram, Asma menuruni tangga sambil mengusap-usap matanya.
"asma." Sapa Asyam yang hendak kedapur.
__ADS_1
"bang asyam." Balasnya.
"mau kemana ?" Tanya Asma.
"mau kedapur. Boleh saya minta air putih hangat ?" Tanya Asyam.
"boleh. Sini asma ambilkan." Ucap Asma sambil menghabiskan tangga terakhirnya.
Asyam duduk menunggu diambilkan segelas air putih hangat.
"biasa minum air putih hangat setelah bangun tidur ?" Tanya Asma sambil memencet dispenser.
"iya." Jawabnya.
"gimana keadaan bu'e ?" Tanya Asma sambil memberikan segelas air hangat untuk Asyam.
"alhamdulillah sudah sadar. Sekarang juga sudah bangun mau shalat malam." Jelas Asyam.
Asma mengeluarkan nampan kecil untuk diberikan kepada Asyam.
"Shalat bareng saja diruang shalat. Nanti juga ada ayah sama bunda." Ucap Asma kembali mengisi segelas air.
Diletakkannya di nampan dan diberikan tutup.
"berikan juga untuk bu'e ya." Ucap Asma.
"terima kasih. Saya kembali ke kamar lagi." Ucap Asyam.
Asma mengambil nampan dan diisikan dua gelas air hangat untuk dirinya dan suami dikamar.
Asma membangunkan Farhan untuk bersiap shalat malam bersama dengan keluarga dilantai bawah.
Ustadz Hasan, Bunda Zulfah, Bu Nurlela, Liya, Asyam, Farhan dan juga Asma melaksanakan shalat bersama dengan diimami oleh ustadz Hasan. Suasana malam yang tenang, damai dan menyejukkan.
Seusai shalat dilanjutkan dengan tilawah sambil menunggu Adzan Subuh. Bunda Zulfah menyiapkan sarapan. Para lelaki bersiap diri untuk pergi ke masjid. Bu Nurlela duduk sambil memperhatikan Bunda Zulfah yang menuangkan susu kental kedalam gelas, Liya duduk menemani Bu'e dan Asma membantu menggoreng telur mata sapi.
"enak'e ngeliat anak perempuan pagi-pagi didapur. Mudah-mudahan nanti mantuku secantik dan serajin asma." Ucap Bu Nurlela dengan senyuman.
"asma ini memang rajin bantu saya didapur. Makanya pas dia nikah, rasanya sepi ngga ada dia dirumah." Balas Bunda Zulfah dengan senyuman.
"semua kan ada masanya, bunda." Ucap Asma.
"bagaimana keadaan ibu ? sudah enakan ?" Tanya Bunda Zulfah.
"sudah, ustadzah. Saya ndak apa-apa, cuma kaget saja semalam. Ya Allah, sukur alhamdulillah Allah masih melindungi saya dan anak-anak." Jelas Bu Nurlela.
"Alhamdulillah." Ucap Bunda Zulfah.
Adzan Subuh berkumandang, Asma dan yang lain bersiap untuk melaksanakan shalat. Liya membangunkan Nuha dan Asma bersiap untuk menjadi imam subuh pagi ini.
.
.
.
__ADS_1
.
...-Bersambung-...