KETIKA RINDU BERBALUT DOA

KETIKA RINDU BERBALUT DOA
Episode 30 - Surat dari Mantan


__ADS_3

Pagi yang cerah, menjadi pembuka hari yang indah. Ihsan dan keluarga telah siap dengan barang-barang yang akan dibawanya untuk menetap sementara di luar negeri. Selama masa pengobatan hingga Ihsan sembuh dan dapat berjalan dengan normal lagi. Dengan berat hati, ia lepas segala harapan dihati. Mengingat kembali senyuman dan suara Asma saat menerima lamarannya di Jogja, mengingat wajahnya saat memesan undangan, mengingat semua hal-hal kegembiraan diwajah Asma.


“Lagi-lagi aku membuatmu bersedih. Aku janji setelah selesai pengobatanku, aku akan menikahimu dan akan membuatmu bahagia, asma.” Batin Ihsan.


Tanpa menunda-nunda, Asyam langsung mengunjungi Syahrul di warungnya. Setelah berdiskusi dengan sang adik kemarin, Asyam memutuskan untuk cepat menyelesaikan dan mengetahui pemilik surat sebenarnya. Tak disangka dia juga bertemu dengan Nadia disana. Baru satu bulan ini Pak Syahdan membuka warung bubur ayam ketika pagi dan melanjutkan membuka warung pecel ayam ketika sore hingga malam hari.


“Assalamuálaikum..”


“wa’alaikumussalam.”


“bang asyam..” Sapa Nadia.


“hai, nad. Beli sarapan ?” Tanya Asyam.


“iya nih, ibu sama bapa minta dibelikan.” Jawabnya.


“oh iya, mmh kalau boleh saya minta waktu sebentar ada yang ingin saya bicarakan.” Ucap Asyam.


“mmh.. boleh. Kalau begitu aku antar pesanan ibu sama bapa dulu ya, nanti aku balik lagi sekalian sarapan disini saja.” Jelas Nadia.


“ngga merepotkan, nad ?” Tanya Asyam.


“ngga ko bang asyam.” Jawab Nadia.


“pak, kalau gitu yang satu di makan disini saja. Ini yang dua saya bawa dulu ya pak.” Ucap Nadia.


“iya, ya silahkan.” Sahut Pak Syahdan sambil menyiapkan bubur untuk pelanggan yang lain.


“rul, buatkan aku satu ya.” Pesan Asyam.


“oke, bang.” Sahut Syahrul yang berada disamping sang ayah.


Pernikahan Asma semakin dekat, sebagian undangan telah tersebar dan semua perlengkapan acara pun telah dipesan. Selain memikirkan pekerjaan, fikirannya banyak bercabang. Pernikahan dan kesembuhan sang anak menjadi perioritasnya saat ini. Ustadz Hasan mencoba berkali-kali berdiskusi dengan sang istri untuk meyakinkan setiap keputusan yang akan diambilnya.


Lagi-lagi Farhan muncul dihadapan ustadz Hasan pagi ini. Ustadz Hasan sedang duduk di sofa bersama dengan Bunda Zulfah sambil menyantap sarapan yang baru dibeli oleh sang istri.


“maaf pak, bu saya izin dokter farhan ingin kunjungan pagi.” Ucap Suster yang mendampingi.


“iya silahkan.” Sahut Bunda Zulfah.


Tatapan Ustadz Hasan beradu dengan Farhan. Farhan merasa ada kesalah fahaman pada ustadz Hasan.


Farhan mengenakan stetoskop dan menempelkan diaphragm pada bagian dada Asma dan berlanjut mengenakan sarung tangan untuk mengecek nadi dibagian tangan. Perlahan diturunkannya tangan Asma. Hingga saat Farhan sampai pada jemari Asma, jemarinya tergenggam.


“dokter..”


Farhan mengisyaratkan dengan menaruh telunjuk dibibirnya, agar suster tetap diam.


“asma, kamu mendengar saya ?” Tanya Farhan.


Bunda Zulfah langsung menoleh kearah Farhan sambil menyentuh lengan Ustadz Hasan.

__ADS_1


“ayah, ayo kita lihat.” Bisik Bunda Zulfah yang pandanganya tak lepas mengarah kepada Farhan dan Asma.


Bunda Zulfah memimpin untuk mendekat kepada dokter Farhan, untuk melihat perkembangan sang putri. Ustadz Hasan pun menyusul dengan perasaan cemas dan bahagia.


“ada perkembangan, tangannya menggenggam tangan saya.” Ucap Farhan sambil menunjukkan kepada orang tua Asma.


“asma…”


Belum saja dokter Farhan menyelesaikan kata-katanya, Asma melepas jemari dokter Farhan. Dokter Farhan melepas sarung tangannya, lalu menghadap ke arah Ustadz Hasan dan Bunda Zulfah.


“kita lihat perkembangan kedepannya. Setidaknya hingga saat ini Asma menunjukkan kemajuan dalam tingkat kesadarannya.” Jelas Farhan.


“terima kasih, dokter.” Ucap Bunda Zulfah yang terlihat bahagia hingga terhias oleh air mata.


“saya permisi keluar, pak, bu.” Ucap Farhan.


“terima kasih dokter.” Ucap Ustadz Hasan.


Asyam, Syahrul dan Nadia telah berkumpul dalam meja yang sama. Mereka masih asik menyantap sarapan masing-masing. Terkecuali Syahrul yang hanya menyeruput teh manis hangat.


“aku tidak mengganggumu kan, rul ?” Tanya Asyam sambil melihat sekeliling.


“ngga, bang. Lagi ngga ada pelanggan juga, sudah dilayani semua.” Jawab Syahrul.


Asyam menyelesaikan sarapannya. Tinggal Nadia yang masih asik memainkan sendok di mangkuknya.


“saya mulai tidak apa-apa ya.” Ucap Asyam yang disusul dengan menengguk air mineral.


“jadi begini. Saya mengalami masalah dengan asma karena suatu hal. Dan itu semua terjadi karena suatu benda yang saya temukan diruang sekretariat saat kita membereskan oleh-oleh dari ka silvi.” Jelas Asyam.


“iya. Kamu tahu ? itu surat kamu ?” Asyam balik  bertanya.


“bukan.” Jawab Nadia sambil menyuap sesendok bubur.


“berarti punya kamu, rul ?” Tanya Asyam.


“boleh saya lihat suratnya, bang ?” Pinta Syahrul.


“itu dia, rul. Suratnya ada di asma.” Ungkap Asyam.


“jadi kemarin asma sudah membicarakannya dengan abang ?” Tanya Nadia.


“iya, sebelum dia angkat telepon itu kita sempat membahas surat itu dan asma memintanya.” Jelas Asyam.


“aku ngga nyangka abang bisa seceroboh itu.” Ucap Nadia dengan ketus.


“bang, bagaimana isi suratnya ? atau mungkin ada tanda khusus ?” Tanya Syahrul, mengalihkan.


“iya, ada. Ada huruf A sambung dibagian bawah surat.” Jawab Asyam.


“sepertinya itu memang surat saya bang. Saya belum sempat membacanya dan surat itu sudah hilang.” Jelas Syahrul yang membuat Nadia menurunkan sendoknya ke mangkuk.

__ADS_1


“benar itu milik kamu, rul ?” Tanya Asyam.


“iya, bang. Surat itu dari mantan saya.” Jawab Syahrul yang membuat Nadia tersedak  saat baru saja meneguk air.


“nad..” Ucap Syahrul yang terlihat panik.


“it’s okey.” Ucap Nadia yang masih sedikit batuk dan mengelap mulut dengan tissue.


“menurut kalian saya harus berbuat apa dan memulai dari mana ?” Tanya Asyam.


“mungkin temuin asma dulu baru kita ketemu bang ihsan. Soalnya bang ihsan juga udah lama ngga muncul di masjid.” Jelas Syahrul.


“Asma koma dirumah sakit.” Ungkap Nadia.


“apa ?” Ucap Syahrul dan Asyam bersamaan.


“kamu serius, nad ? asma koma ?” Tanya Syahrul yang masih tidak percaya.


“menurut kamu aku bercanda ?” Nadia balik bertanya dengan ketus.


“rumah sakit mana, nad ?” Tanya Asyam.


“rumah sakit ayana syifa.” Jawab Nadia.


“ayo kita jenguk sama-sama.” Usul Syahrul.


“aku ngga yakin dia boleh dijenguk banyak orang.” Ucap Nadia.


“perwakilan atau mungkin bergantian.” Sahut Asyam.


“atur saja bang, nanti saya coba izin sama bunda zulfah.” Ucap Nadia.


“saya duluan ya. Assalamu’alaikum.” Lanjut Nadia yang langsung pergi meninggalkan.


“wa’alaikumussalam.”


“oh, iya bang asyam.” Nadia kembali.


"ya.."


“terima kasih sarapannya.” Ucap Nadia.


“iya sama-sama, nad.” Jawab Asyam.


Entah mengapa suasana hatinya jadi berubah tak menentu. Perasaan kesal dan sesak didada, ini pertama kali dirasakannya. Sepertinya ledekan teman-teman yang menjodoh-jodohkan dirinya dengan Syahrul telah masuk kedalam hatinya. Setiap kata-kata yang dulu tak dipedulikannya, kini telah meracuni hatinya tanpa sengaja.


“perasaan ini lebih sesak dari pada saat ainun mencarinya. Berarti surat berinisial A itu… ainun.” Bisik Nadia dalam hatinya saat sampai didalam kamarnya.


Nadia memandangi foto yang dipajangnya di atas meja. Foto kebersamaan dengan para anggota ReMas. Dipandanginya foto Syahrul lebih dalam lagi hingga akhirnya beralih pada gadis berkrudung biru dalam foto itu.


“asma, cepatlah sadar dan bantu aku menyadarkan hatiku.” Ucap Nadia yang langsung memeluk foto itu hingga meneteskan air mata.

__ADS_1


“Ya Allah jika ada rindu dihati ini maka juga ada rindu dihati lainnya. Maka bangunkanlah asma karena aku merindukannya. Karena kami merindukannya, karena kami membutuhkannya.” Pintanya dalam hati.


Bersambung......


__ADS_2